Keesokan harinya, Beni dan Naira tidak masuk kerja lantaran lembur semalam yang membuatnya suntuk. Demi menghilangkan kesuntukan itu, Beni dan Naira sepakat tidak masuk kerja untuk bermesraan dengan waktu istirahatnya.
"Malas masuk, Wen. Lagian lemburanku belum kelar, aku malas berurusan sama Kinan kalau kayak gini," ujar Beni lewat telepon.
"Kamu suka lari dari masalah, ya? Dasar gak gentle!" balas Wendi.
"Bukan gitu, biarpun aku bikin penjelasan ke Kinan, dia pasti gak bakal nerima. Ngerti sendiri kan sifatnya Kinan kayak apa," jelas Beni.
"Hahaha, santai Ben! Aku paham kok. Sepi aja suasananya, cuma ada aku, Andin dan Kinan nih," kata Wendi.
"Jangan sampai cinta segitiga loh!" ledek Beni. Wendi menyeringai mendengar perkataan itu. Wendi memutuskan menutup teleponnya karena gangguan lapar di perutnya, "udah dulu, ya. Lapar nih, aku kasihan sama Andin dari tadi udah nunggu aku di kantin," pungkas Wendi.
Wendi segera menuju kantin, diliriknya seluruh sisi kantin yang serba putih itu. Wendi mencari paras Andin yang ia janjikan untuk makan siang bersama. Dan ya! Andin sudah menunggu Wendi dengan menyediakan satu kursi kosong di hadapannya.
"Andin, maaf ya sudah menunggu lama. Tadi nelpon Beni sebentar," Wendi langsung duduk di depan Andin.
"Iya gakpapa, Mas. Aku dapat meja yang kursinya berdua aja, yang berempat kosong semua. Maaf ya,"
"Gak masalah, cuman kalau Kinan mau nimbrung, gak bisa,"
"Loh, Mbak Kinan mau gabung? Yaudah ayo kita cari kursi kosong lagi," ajak Andin yang langsung beranjak dari kursinya, dan menelik kursi yang kosong.
"Kayaknya gak ada, gak usah deh paling dia bawa bekal sendiri," Wendi menyuruh Andin mengurungkan niatnya.
Andin kembali duduk di kursi awalnya. Duduk berdua dengan Wendi membuat Andin canggung. Pasalnya, baru kali ini Andin makan siang bersama hanya bersama Wendi. Biasanya ditemani Beni dan Naira. Lima belas menit kemudian, Wendi dan Andin sibuk dengan ponselnya. Andin yang merasa gak enak karena hanya berdiam, langsung membuka pembicaraan.
"Sehari gak ada Kak Beni itu sepi ya. Biasanya dia yang paling ribut," sahut Andin.
"Betul! Maka dari itu aku menelpon dia, hehe. Kamu sudah pesan makan? Dari tadi kita diam saja," lanjut Wendi.
"Sudah, Mas. Aku pesan dua siomay dan dua es jeruk," terang Andin.
"Ah good! Kamu kok bisa membaca pikiranku sih? Punya ilmu indigo ya?" ucap Wendi. Andin dan Wendi tertawa bersama. Ditengah-tengah tawaan mereka, Kinan melewati meja Wendi dan Andin.
"Mereka kencan?" batin Kinan yang melihat Andin dan Wendi satu meja. Jantung Kinan berdetak lebih kencang, menatap pemandangan Andin dan Wendi yang tertawa lepas bersama. Sepertinya Kinan didatangi api cemburu.
Kinan tidak jadi menyantap makan siang di kantin siang ini. Napsu makan Kinan tiba-tiba menghilang begitu saja. Kinan segera meninggalkan kantin dan keluar kantor untuk mengembalikan lagi semangatnya.
***
Kedua piring yang berada di atas meja Andin dan Wendi sudah bersih. Siomay lezat yang permisi masuk ke perutnya seolah-olah memberikan kekenyangan yang luas biasa. Ditambah lagi es jeruk sebagai pelengkap yang bisa menyejukan tenggorokan Andin dan Wendi.
"Habis ini langsung pergi liputan, ya? Aku temenin, aku kan udah janji," ucap Wendi.
"Oke, Mas. Udah izin ke narasumber, kan?" balas Andin. Wendi pun mengangguk.
"Perlu minta surat izin liputan ke Mbak Kinan gak? Sesuai kesepakatan kan harus minta izin ke dia," kata Andin.
Wendi yang sedang meneguk tetesan es jeruk terakhir, langsung tersedak tidak sengaja, "hahaha, apaan? Gak perlu. Itu cuma akal-akalan Kinan supaya liputanmu gak selesai hahaha," kata Wendi.
"Yaudah aku ikutin Mas Wendi aja, kalau Mbak Kinan marah ke aku, tanggungjawab loh!" tutur Andin.
"Siap lah!" Andin dan Wendi langsung mengajak Andin ke tempat parkir. Wendi membukakan pintu mobil depan untuk Andin. Andin tersenyum kecil, baru kali ini Andin mengetahui kalau Wendi sopan sekali.
Sama seperti di kantin, Andin dan Wendi masih saling berdiam. Memang benar, salah satu diantara mereka harus ada yang membuka pembicaraan.
"Mas, gak ngantuk kan?" Andin pembukaan.
"Eh, gak lah. Bisa bahaya kalau aku ngantuk," balas Wendi.
"Aku ajak ngobrol ya, biasanya kalau diam-diaman gitu bakal ngantuk. Kayak di kelas," celetuk Andin.
Wendi melebarkan bibirnya, tampak lesung pipinya jelas berada di pinggir pipinya. "Oh, Mas Wendi ternyata punya lesung pipi, ya," ungkap Andin dalam hati.
"Mas, kita ketemu narasumber dimana?" tanya Andin.
"Di restoran aja, biar sambil nyantai gak terlalu tegang," jawab Wendi.
"Tapi aku gak pesan makan loh ya," ucap Andin setelah melihat isi dompetnya.
"Tenang, aku bayarin kok," balas Wendi.
Lima belas menit kemudian, Wendi memarkirkan mobil Alphardnya di depan restoran dengan ikon burung merpati itu. Dari depan, restoran ini cukup sepi. Hanya ada tiga meja dari dua puluh meja yang terisi.
"Yuk!" ajak Wendi. Andin mengikuti langkah kaki Wendi. Wendi memilih duduk di meja pojok yang satu-satunya meja yang berada di bawah AC.
"Mas, sini deh," Wendi melambaikan tangan kepada lelaki yang memakai clemek bertuliskan, "Kafe Merpati."
"Tolong beri tahu ke Loli, kalau Wendi sudah tiba di tempat. Terima kasih loh!" Bisik Wendi kepada laki-laki itu. Laki-laki berclemek itu mengacungkan jempol dan berujar, "baik, Mas akan saya sampaikan. Kebetulan Mbak Loli sudah tiba di sini dari tadi. Beliau ada di ruang administrasi, saya panggilkan dulu, ya," laki-laki berclemek itu sergap menuju lantai dua untuk memanggil Loli.
Selang sepuluh menit kemudian, perempuan berkulit putih bersih dengan rambut lurus sepinggang itu melambaikan tangan ke arah Wendi, "Wen?! Apa kabar?" sontak perempuan itu menjabat tangan Wendi.
"Baik, Lol. Kamu gimana? Eh kenalin, ini Andin. Kamu sudah pasti tahu dia, kan?" Wendi mengarahkan pandangannya ke Andin. Andin tersenyum, "halo Mbak Loli, aku Andin," sapanya.
"Hai, Andin. Senang bertemu denganmu. Wartawan muda berbakat yang beritanya selalu di atas rata-rata," kata Loli. Andin tersipu malu.
"Yaps! Berkat kehebatannya itu, direktur mediaku sampai lamar dia kerja di media Antasari," Wendi bertepuk tangan.
"Baik, baik. Jadi, gimana Wen? Apa yang bisa aku bantu?" Loli mulai duduk di depan Andin dan Wendi, namun mereka masih satu meja.
"Begini, Lol. Kebetulan Andin sedang dapat tugas membuat berita untuk minggu ini. Nah, Andin adalah anak yang konsen banget mengenai isu perempuan. Andin sepakat akan meliput isu pelecehan yang dilakukan oknum dosen," jelas Wendi dengan runtut.
Loli mangut-mangut, "lalu? Apa yang harus aku lakukan? Kamu belum menjawab pertanyaanku," balas Loli.
"Kami ingin meminta bantuanmu untuk menjadi narasumber kami, tentang isu pelecehan itu. Apakah kamu tidak keberatan?" tanya Wendi lebih fokus.
Raut wajah Loli yang awalnya ceria menyambut mereka berdua, kini terlihat pucat. Bibir mungilnya pun memutih walaupun sudah ditimpa lipbalm. Tatapan matanya sayu, lingkaran hitam di dalam matanya mulai tertutupi kelopak matanya.
"Lol? Bagaimana?" tanya Wendi lagi.
"Sebenarnya, menceritakan cerita lama itu sama artinya membuka bekas luka yang parah. Sama-sama sakit," ucap Loli.
"Justru itu, penyintas yang bertahun-tahun lalu mengalaminya pun masih terngiang. Aku ingin mengobati lukamu. Dengan apa? Menginformasikan berita itu dan pelaku mendapatkan hukuman setimpal," runtut Wendi.
"Dan, sama seperti berita pelecehan lainnya, ditulis agar tidak ada korban lain yang berjatuhan," sambung Andin.
"Benar juga, aku gak mau ada korban lainnya!" balas Loli.
"Terima kasih, Loli. Kita bakal pakai nama samaran kok, kamu tenang saja. Yang terpenting, apa yang kamu katakan ke kami adalah fakta," ucap Wendi. Loli mengangguk paham.
Andin mengeluarkan buku catatan yang biasa ia coret untuk kebutuhan liputan. Tak lupa, bolpoin yang siap Andin gunakan untuk menuliskan fakta.
"Baik, Mbak Loli. Bisa dijelaskan bagaimana kronologi kejadiannya?" tanya Andin.
Loli menghela napas, air mineral yang sudah ia kantongi, dileburkan mengalir ke tenggorokannya sebelum menceritakan semua. Rekaman lewat ponsel Andin sudah bertanda merah dan siap untuk merekam segalanya.
"Tepat tiga tahun yang lalu, aku semester 8 dan sedang mengerjakan skripsi. Kebetulan, oknum itu dosen pembimbingku. Aku sangat intens konsultasi ke dia, bahkan sampai jam 12 malam ia siap menerima konsulanku," mulai Loli.
"Lalu?"
"Entah konsultasi ke berapa kalinya, oknum itu membalas pesanku berupa video. Ya waktu itu karena aku kurang paham maksudnya secara tertulis. Makanya aku minta berupa video. Aku tak memiliki pikiran negatif apapun, aku buka video itu dengan antusias. Dan ternyata...," Loli berhenti sejenak, menghela napasnya lagi dan meminum air mineralnya lagi. Andin terus mencatat hal-hal penting, ia tak ingin ada yang tertinggal.
"Dia mengirimkan video tidak senonoh, p********i gitulah," Loli langsung menghentikan ceritanya. "Begitulah."
"Baik, Mbak. Saya menanyakan ke Mbak Loli sekali lagi, apakah Mbak tidak keberatan kami tulis isu ini?" Andin memastikan. Loli menggeleng dan tersenyum, "masih ada satu korban lagi, tapi bukan anak bimbingan dia. Aku tau wajahnya, tapi lupa namanya," info Loli.
"Serius?! Angkatan kita, Lol?" Wendi tercengang. "Wah parah! b***t!" Loli mengangguk.
"Yang pasti aku ingat, perempuan itu memiliki t**i lalat di hidungnya. Aku liat dia gak sengaja, menangis gitu saat keluar dari ruangan si dosen gila itu," sambung Loli.
"Baik, kalau boleh tau, nama dosen tersebut siapa Mbak?" tanya Andin.
"Ah kalau itu kamu cari tau sendiri saja, saya malas menyebut nama manusia biadap itu!" Loli menutup ceritanya.