“Kemarin itu pertama kali Pak Leon traktir awak redaksi makan di restoran mewah. Habis berapa juta kemarin itu ya? Harga di menunya mahal banget,” ucap Beni ditengah-tengah heningnya suasana ruang redaksi.
“Ya elah, mau berapapun habisnya pasti bakal balik lah, lewat iklan di media kita,” balas Naira.
“Iya juga ya, tumben kamu pinter Nai,” ledek Beni.
Naira melemparkan pensil ke Beni, “dari dulu aku pintar kali, kamu aja yang gak pernah sadar,” ucap Naira.
Andin sedari tadi menatap ke arah papan program kerja yang telah ditulis awak redaksi lainnya. Papan yang terletak tepat di depan Andin, tertulis beberapa visi misi yang harus awak redaksi selesaikan. Program kerja menulis berita minimal tiga kali dalam seminggu untuk seluruh awak redaksi, membuat hati Andin terguncang, “hmm, satu berita lagi nih. Kalau aku gagal, artinya aku tidak bisa bertanggungjawab,” batinnya.
“Din? Kamu gakpapa?” Wendi menepuk bahu Andin, Andin refleks menoleh ke arah Wendi.
“Oh, gakpapa Mas,” Andin tersenyum.
“Sudah ada pikiran mau nulis berita apa lagi setelah ini?” tanya Wendi.
Andin menggeleng. “Aku belum dapat info apa-apa, Mas. Kalau Mas mau membantu, silahkan,” tutur Andin.
“Hmm, biasanya kamu sama Beni sering barengan tuh. Gak minta bantuan sama dia? Dia juga lebih berpengalaman,” balas Wendi.
“Hehehe, aku gak enak sama Kak Beni, ngerepotin terus,” bisik Andin.
“Ehem,” Kinan berdehem yang dari tadi terus melihat Andin dan Wendi bercakap. “Iya, ada apa?” tanya Wendi.
“Kalau diskusi jangan ribut ya, gak bisa konsentrasi,” sambungnya.
“Gak bisa konsentrasi atau cemburu nih?” Beni melirik ke arah Kinan.
“Apaan sih,” balas Kinan. Wajah kuning langsat Kinan tiba-tiba sedikit memerah di bagian pipinya.
“Ah bohong, tuh pipinya berubah jadi merah kan,” Beni belum berhenti menyindir.
Kinan mengalihkan wajahnya fokus ke layar laptop agar Beni tidak bisa melihat wajahnya yang memerah. “Sialan!” Kinan geram.
Kring.. kring.. kring..
Ponsel Andin berdering, Andin segera mencari ponselnya yang tenggelam dalam tumpukan buku di tasnya. Untungnya, sang penelpon tidak cepat-cepat mematikan teleponnya karena Andin lama mengangkat, “Astaga! Aku lupa info ke Bu Della tentang pengumpulan tugas perbaikan,” Andin menepok jidatnya.
“Hallo, Bu? Tugas perbaikan saya sudah dikumpul di meja Ibu tadi pagi. Maaf kalau saya tidak mengabari Ibu,” kata Andin.
“Oh iya, sudah saya koreksi, kok. Tetapi maksud Ibu menelpon kamu bukan karena itu, Din,” balas Bu Della.
“Oh maaf Bu, jadi ada apa ya, Bu? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Andin penasaran.
“Kamu masih ingat Anggi, kan? Semalem Ibu mimpiin Anggi, dan sekarang Ibu ingin sekali menjenguknya. Kamu bisa temanin Ibu ke RSJ Seraya?” ajak Bu Della.
Andin melirik seluruh kesibukan yang ada di ruang redaksi. Hasrat Andin ingin menemani Bu Della kian besar. “Bentar ya Bu, saya coba izin sama pimpinan devisi di kantor dulu, boleh atau tidak,” bisik Andin. Bu Della pun mengakhiri teleponnya, “jangan lupa kabarin Ibu, ya!” tut……
Andin berjalan mendekati Kinan yang masih stand by di depan laptopnya. Andin menatap paras Kinan yang tajam dan menyimpan keseriusan mendalam, “aku izin sekarang gak ya? Apa Mbak Kinan gak ngamuk kalau aku ganggu?” batin Andin. Badannya mulai gemetaran, ia, kaki dan tangannya semakin dingin.
“Kamu kenapa?” tanya Naira yang melihat Andin berdiam diri saja. “Duduk aja sini,” tambah Naira.
Andin nyengir, “hehehe, gak kok Mbak. Aku mau izin keluar sama Mbak Kinan siang ini,” ucap Andin.
Seketika Kinan memberhentikan aktivitasnya, ia menatap Andin dengan tajam. “Apa? Berani-beraninya kamu izin, awak redaksi aja gak ada yang izin loh selama mereka kerja disini,” Kinan sinis.
Andin menelan ludahnya, Kinan tidak mengizinkannya, “sudah kuduga, kenapa sulit sekali minta izin ke Mbak Kinan?” ucap Andin dalam hati.
Andin kembali ke tempat duduk semulanya, wajahnya lesu karena gagal menemani Bu Della menemui Anggi siang ini. Andin mengetukan jari-jarinya ke permukaan meja, ketukan pelan terdengar sembari Andin menopang dagunya.
“Ada apa?” tanya Wendi tiba-tiba.
“Mbak Kinan gak memperbolehkan aku izin keluar untuk siang ini,” Andin menunduk.
“Keluar? Emangnya ada keperluan apa?” Wendi bertanya lagi.
“Guru sekolahku memintaku menemaninya siang ini ke RSJ Seraya, menjenguk Anggi Hanifah,” jawab Andin.
“Anggi Hanifah yang sempat kamu tulis itu?” tanya Wendi, Andin mengangguk.
***
Andin masih menunjukkan wajah murung, pesan permintaan maaf tidak bisa menemani ke RSJ Seraya sudah dikirim ke Bu Della. Dan Bu Della tidak membalas, “sepertinya Bu Della kecewa deh, aku kan sudah janji sama dia bakal menemani kapanpun untuk bertemu Anggi,” ucap Andin sambil melirik layar ponselnya, berharap Bu Della membalas.
“Andin, kamu masih murung? Aku ajak bicara soal isu, berminat gak?” tanya Wendi.
“Isu tentang apa? Ya tidak masalah selama bisa membantuku menyelesaikan tugas minggu ini,” balas Andin.
“Bicara soal Anggi Hanifah, aku pernah dapat kabar dari teman angkatanku yang mendapat perlakuan sama seperti Anggi,” jelas Wendi. Andin spontan menajamkan pendengarannya karena Andin memang tertarik dengan isu perempuan.
“Sampai hamil juga?” tanya Andin.
Wendi menggeleng, “gak sih, pelecehan berupa ajakan nonton video tidak senonoh gitu,” jawab Wendi.
“Lalu, bagaimana penyintas sekarang?”
“Jelas masih trauma, dan masih akan terus berlanjut. Nah, menurutku isu seperti ini bisa kamu angkat minggu ini,” saran Wendi.
“Media Antasari juga boleh menulis berita sensitif seperti itu?” Andin memastikan.
“Boleh dong, selama itu benar.” Andin mengangguk, “oke, aku terima saran itu. Tapi, tolong bantuannya,” pinta Andin.
Wendi tersenyum, “jadi kamu tertarik meliput isu ini?” tanya Wendi. Andin mengangguk antusias. “Bisa kita mulai sekarang?” ucap Wendi. Andin mengangguk lagi.
Andin kembali mendekat ke Kinan untuk izin keluar liputan siang ini. Kali ini, Kinan sudah selesai dengan kesibukan di depan laptopnya.
“Mbak, aku boleh minta izin keluar untuk meliput sekarang?” izin Andin kepada Kinan.
“Sama siapa?” balas Kinan.
Andin menunjuk Wendi, “Mas Wendi, Mbak. Boleh kan?”
Kinan melirik ke Wendi, Wendi tampak sudah bergegas dengan merapikan laptop dan bukunya yang berserakan di atas meja. “Kamu rekap berita dulu deh, nih!” Kinan menyodorkan tumpukan kertas yang diatasnya sudah memiliki judul masing-masing.
“Oh oke, Mbak.” Andin menerima perintah Kinan. Andin memasukkan judul dan nama penulis ke database Kinan perihal administrasi berita bulan ini. Tiga puluh menit kemudian, Andin kembali meminta izin.
“Mbak, rekap beritanya sudah selesai. Apa boleh saya izin?” tanya Andin.
“Hmm, bersihin ruangan ini dulu deh, sapu yang kotor-kotor,” Kinan menunjuk bawah meja dan kursi yang penuh debu.
Andin merasa perintah itu enteng, Andin segera mengerjakan. Kinan tersenyum sinis melihat Andin mau menyetujui perintahnya, “enak aja kamu mau liputan bareng Wendi, aku aja ngajak dia berkali-kali ditolak kok!” batin Kinan.
Wendi yang sedari tadi menunggu, Wendi melirik jam tangannya, “Udah satu jam lebih kok Andin gak balik-balik, ya?” kata Wendi.
Wendi yang merasa ada yang tidak beres, langsung mendatangi Andin. “Loh kok kamu nyapu? Udah izin belum?” tanya Wendi.
“Sudah, Mas. Tetapi kata Mbak Kinan aku harus rekap berita dan bersihin ruang redaksi dulu,” jawab Andin polos.
“Apa?! Dia nyuruh kamu begitu? Wah parah!” mengetahui Kinan melakukan perintah yang harusnya tidak dikerjakan Andin, Wendi langsung mendatangi Kinan.
Brak! Wendi menggebrak meja Kinan dan membuyarkan keasyikan Kinan yang sedang bermain media sosial, “bisa-bisanya kamu menghalangi Andin untuk liputan siang ini?!” bentak Wendi.
“Loh, kenapa? Toh aku minta tolong kok. Lagian gak susah-susah amat,” Kinan balas santai.
“Rekap data itu tugas kamu sebagai pemimpin redaksi! Tugas membersihkan ruangan sudah diwajibkan kepada cleaning service, tiap sore juga bakal dibersihin kok! Kenapa kamu suruh Andin?!” tegas Wendi.
“Dia juga gak keberatan kok, gak masalah,” ucap Kinan.
“Gak masuk akal! Kamu kayak gini bikin Andin telat nulis berita!”
“Santai aja kali,”
Wendi mengambil sapu yang digenggam Andin, dilemparkan sapu itu ke depan Kinan. Wendi menarik tangan Andin, “ayo kita langsung keluar saja, gak usah takut Kinan marah.” Andin mengikuti arah gerakan tangan Wendi dengan wajah bingung. “Hah?!”