Resign atau Tidak?

1031 Kata
Tok.. tok.. tok.. “Andin?” panggil Bu Ranti dari balik pintu. Akan tetapi, hingga lima belas menit kemudian tidak ada tanggapan dari Andin. “Andin, buka Andin!” kali ini suaranya lebih keras. Andin yang masih terlena dengan aktivitas tidurnya tidak terlalu menggubris, “mimpi aja kali ya,” batinnya dan kembali memeluk mimpinya. Brakkkk! Bu Andin mencoba mendobrak pintu kamar Andin, dan tidak berhasil lantaran tubuh Bu Ranti terlalu lemah. Dobrakan yang berjumlah tiga kali itu mengganggu tidur Andin dan mau tidak mau ia harus bangun, “duh Mama!” ucap Andin. Krek.. Andin membuka pintu dan sudah melihat raut wajah Bu Ranti yang geram. “Sudah tidurnya?” tanya Bu Ranti singkat. Andin mengangguk. “Ayo cepat! Jangan banyak alasan, kita ke sekolah kamu sekarang!” ucap Bu Ranti dan langsung menuju ruang makan tanpa menerima balasan kata dari Andin. “Huft, kenapa cepat sekali? Kan baru jam 06.00 WIB, masuk sekolah jam 08.00 WIB,” tanya Andin dalam hatinya. *** “Bu, saya sebagai walikelas Andin, ingin menyampaikan sesuatu perihal akademik Andin di sekolah,” kata Bu Della. Bu Ranti dan Andin sudah duduk manis di depan Bu Della untuk mendengarkan beberapa kalimat informasi. “Begini, Andin adalah anak murid saya yang tergolong cerdas. Andin mudah memahami materi, dan menjawab pertanyaan dengan cepat dan teliti. Hal itu tampak dari hasil Ujian Tengah Semester (UTS) yang nilainya paling tinggi dari yang lain,” jelas Bu Della. “Namun, memasuki masa Ujian Semester Akhir (UAS) dan TAP, nilai Andin turut drastis bahkan dibawah rata-rata. Ada apa sebenarnya dengan Andin, Bu? Apakah ada masalah dengan belajarnya atau seperti apa?” sambung Bu Della. “Sebelumnya terima kasih sudah memberi saya informasi perihal akademik Andin, dan jujur akhir-akhir Andin lebih banyak menghabiskan waktu di luar ketimbang istirahat di rumah,” tutur Bu Ranti. “Maaf Bu, akhir-akhir ini saya juga sibuk kerja,” Andin menunduk. “Andin, usahakan kerja dan belajar kamu seimbang ya. Jangan menimpang, Ibu tau kamu orang yang bijak mengatur waktu,” kata Bu Della. “Baik Bu, saya akan mengusahakan Andin untuk memperbaiki nilainya,” ucap Bu Ranti. “Saya akan memberikan waktu kepada Andin untuk memperbaiki semua nilainya,” Bu Della mengeluarkan beberapa lembar kertas yang penuh dengan pertanyaan. Andin menggapai kertas tersebut dan membaca soalnya satu per satu, “kapan terakhir di kumpul, Bu?” tanyanya. “Besok pagi jam 08.00 WIB,” jawab Bu Della. Andin termenung dalam hati, bagaimana bisa dia menyelesaikan seratus soal ini dalam sehari? “Hmm, ngerjain dua puluh soal saja aku sudah malas,” ujar Andin dalam hati. Andin memasukkan lembaran itu ke tasnya, berharap besok pagi sudah terisi dengan jawaban yang benar. *** “Ma, aku senang sekali deh. Pak Leon suka sama kinerjaku,” lapor Andin. “Suka? Kamu tau dari mana? Jangan kepedean, deh,” ledek Bu Ranti. “Buktinya Pak Leon ngajak seluruh awak redaksi makan mewah tadi siang. Dan itu jarang sekali Pak Leon melakukan itu,” sambung Andin. “Baguslah. Berita kamu viral semua tuh, temen-temen kantor Mama pada kagum sama kamu,” kata Bu Ranti. “Serius? Syukurlah. Tau gak Ma, narasumbernya susah sekali ditemui, selalu saja menghindar,” “Oh ya? Artinya kamu menakutkan!” celetuk Bu Ranti. Bu Ranti membawakan sepiring ayam goreng yang baru saja ia angkat dari penggorengan. Bu Ranti duduk di samping Andin, jam menunjukkan pukul 19.00 WIB dan mereka memutuskan untuk makan malam. “Andin, kamu sudah tau sendiri kan nilai akademikmu semakin turun akhir-akhir ini. Apa kamu gak mau mengurangi kegiatanmu di kantor?” tanya Bu Ranti menuangkan es jeruk ke gelas Andin. “Tidak, Ma. Nilai akademik bisa dinaikkan lagi kok, lagian gak masalah juga sih kalau nilainya turun,” Andin meneguk es jeruk manisnya. “Dengar ya, Mama bener-bener gak mau masa mudamu kamu habiskan dengan hal yang kurang bermanfaat. Pendidikan itu penting, Nak, jangan kamu sepelekan!” ucap Bu Ranti intens. “Di tempat kerjaku itu diajari untuk berpikir, Ma, melatih mental dan pikiran kritis. Jangan Mama kira dikerjaanku cuma senang-senang aja,” balas Andin. Andin mengambil nasi dan ayam goreng kesukaannya. Aromanya menusuk hidung Andin dan mendorong hasrat untuk melahapnya. “Mama kecewa ya sama aku?” tanya Andin. “Nilai akademik kamu menurun, di tambah waktu kamu ngobrol sama Mama semakin berkurang, gimana Mama gak kecewa?” Bu Ranti balik tanya. “Kamu tau? Hal yang membuat Mama semangat jalani hari-hari itu adalah kamu. Ketika Mama lelah, lihat kamu saja sudah semangat lagi. Apalagi ngobrol sama kamu, nyawa Mama seperti ditambah lagi,” tatapan Bu Ranti mulai nanar. Andin menunda menyuapkan nasi ke mulutnya, “tenang, Ma. Aku selalu ingat Mama kok, Andin janji bakal selalu ada untuk Mama,” ucap Andin. “Semenjak Mama dan Papamu cerai, Mama jadi merasa bersalah karena gagal membina rumah tangga. Dan sekarang, Mama gagal membuatmu betah untuk berlama-lama bersama Mama,” air mata Bu Ranti tiba-tiba menetes, di pipinya sudah mengalir air mata yang sulit dibendung. “Ma, Mama jangan menangis, dong,” Andin mengelus punggung tangan Bu Ranti. “Mama cuma ingin menghabiskan waktu bersamamu di rumah, Nak,” Bu Randi tersedu-sedu. “Iya, Ma. Maafkan Andin sudah kecewain Mama,” Andin memeluk erat-erat Bu Ranti. Tangisan Bu Ranti semakin keras seiring eratnya pelukan yang diberikan Andin. Andin mengusap air mata Bu Ranti yang semakin deras itu, “jadi mau Mama kayak gimana?” tanya Andin. “Kamu bisa berhenti dari kerjaanmu?” jawab Bu Ranti. Andin terdiam sejenak, jawaban Bu Ranti dirasa sebagai larangan untuk Andin belajar tentang jurnalistik lagi. “Aku ingin menggapai cita-citaku menjadi wartawan professional,” batin Andin. “Bagaimana, Andin?” tanya Bu Ranti lagi. “Maaf Ma, untuk permintaan Mama yang itu Andin tidak bisa memenuhi,” jawab Andin melemah. “Kenapa? Kamu masih akan terus meninggalkan Mama sendiri di rumah? Pergi pagi pulang malam lalu tidur?” ucap Bu Ranti. “Ma, aku sudah menandatangani kontrak dengan Pak Leon untuk menjalankan kerja part time dan itu berlangsung paling sebentar tiga bulan,” jelas Andin. “Apa tidak bisa kamu batalkan?” tawar Bu Ranti. Andin pun menggeleng. Merasa permintaannya gagal terpenuhi, wajah Bu Ranti semakin lesu. “Ma, begini saja. Aku akan tetap bekerja di media Antasari dengan syarat sebelum magrib sudah harus tiba di rumah,” Andin memberi perjanjian. Bu Ranti pun mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Andin. “Mama punya pesan buat kamu, jangan mau menjadi wartawan yang suka memprovokasi tanpa informasi yang sah. Mama gak mau anak Mama menjadi wartawan pembohong!” kata Bu Ranti. “Iya lah Ma, aku juga sudah diajari tentang etika jurnalistik kok. Pastinya tau, dong!” Andin tersenyum. “Bagus. Ayo sekarang cepat kerjain tugas yang diberikan Bu Della, biar kamu naik kelas,” Bu Ranti mengelus rambut Andin. “Siap komandan!” Andin hormat ke Bu Ranti, Bu Ranti menyeringai dan tangisannya sudah usai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN