(15/09) Rezvan, selaku ketua BEM kampus Prasasti mengaku melakukan pungutan liar dalam penugasan ospek kampus. Hal itu terungkap ketika sejumlah peserta ospek meminta pengembalikan uang karena dirasa terlalu tinggi............(cont).
Ting.. ting.. ting..
Notifikasi pembaca di kanal media Antasari semakin membludak. Komentar untuk berita Andin kali ini memberi dampak positif netizen. Tak heran, berita viral itu terdengar sampai telinga Pak Leon dan Kinan. Sontak, seluruh karyawan yang ada di media Antasari turut memberi ucapan kepada Andin.
"Selamat siang, Andin. Selamat ya, kamu baru aja memecahkan rekor lagi!" Ucap Naira, mengelus pundak Andin. Andin tersenyum.
"Wah, gak nyangka ada yang mau meliput isu yang sering diabaikan orang-orang," tambah Wendi.
"Sebentar lagi, pasti Pak Leon akan merayakan kemenangan nih. Langganan kita makin banyak sejak berita pertama Andin naik," celetuk Beni.
Andin yang merasa cukup puas dengan perjuangannya itu, hanya bisa tersenyum senang. Andin tidak menyangka tulisannya viral lagi untuk kesekian kalinya.
"Wah, padahal masih tulisan receh gitu loh, kok bisa viral ya," ucap Andin.
"Ya bisa, artinya tulisanmu mudah dipahami dan dianggap penting bagi pembaca," balas Naira.
Perbincangan itu tidak membuat Kinan berhenti dari kegiatannya di depan laptop. Padahal, obrolan tadi sengaja dibuat Beni dan kawan-kawan agar Kinan memperhatikan sedikit kinerja anggota barunya.
"Sama sekali gak bereaksi, guys!" Bisik Naira ke Beni dan Wendi.
"Udah gak punya hati kali ya," bisik balik Beni.
Klek..
Pak Leon datang dari balik pintu, menyeringai dengan raut wajah berbeda 180 derajat ketika menemui Kinan tempo hari.
Prok.. prok.. prok.. Pak Leon menepuk kedua tangannya dengan raut wajah yang masih berbinar, "tulisan yang ciamik, Andin! Saya sangat berterima kasih, kamu sudah membawa citra baik untuk media Antasari akhir-akhir ini," Pak Leon mengacungkan jempol ke Andin. Tak lama, Naira, Wendi dan Beni ikut bertepuk tangan atas keberhasilan yang dicapai Andin.
"Kinan, beri selamat kepada rekan kerja barumu ini!" Ucap Pak Leon, melihat Kinan yang sedari tadi tidak ikut merayakan suasana.
"Belakangan aja ngucapinnya, nanti tambah besar kepala tuh," nyinyir Kinan.
"Baiklah baiklah. Andin, siapa yang membantu kamu meliput semua ini?" tanya Pak Leon.
"Kak Beni!" Andin menunjuk Beni. Beni tampak malu-malu.
"Keren-keren! Rupanya kamu bisa membawa aura positif bagi rekan kerja barumu. Oh ya, ini bukan ada udang di balik batu, kan?" Ledek Pak Leon.
"Ya enggaklah, Pak! Percayalah," balas Beni.
"Kita akan merayakan kemenangan sekarang, segera rapikan barang kalian, habis ini saya traktir makan kepiting sepuasnya!" Ujar Pak Leon.
"Yeeeeey!" Koor Naira dan Beni yang maniak sekali dengan makanan kepiting.
Pak Leon pun melanjutkan perkataannya, "saya tunggu 30 menit di parkiran, telat akan ditinggal!"
Pak Leon sudah menghilang dari balik pintu, Naira, Wendi, Beni dan Andin bergegas merapikan barangnya yang masih berserakan di atas meja. Tiba-tiba Kinan nyeletuk, "kampungan banget sih," namun semuanya mengabaikan omongan Kinan.
***
Pak Leon mentraktir seluruh awak redaksi di sebuah restoran yang letaknya satu kilo meter dari kantor media Antasari. Mereka memasuki restoran yang penuh dengan lukisan-lukisan hewan laut. Tak heran jika restoran bernama, "Seafood World," memiliki desain yang kaya dengan ornamen hewan laut.
Pak Leon sudah memesan meja persegi dengan nomor satu di atas mejanya. "Meja nomor satu, semoga media kita tetap menjadi nomor satu dalam menyebarkan berita penting!" canda Pak Leon sambil mempersilahkan Andin, Beni, Kinan, Naira, dan Wendi.
Pak Leon duduk diantara Beni dan Wendi, sedangkan di samping Beni ada Kinan. Sementara Andin dan Naira, duduk di depan Pak Leon dan Beni. Di sela-sela menunggu makanan datang, Pak Leon membuka pembicaraan ke Beni.
"Ben, seriusan kamu yang membantu Kinan menyelesaikan semua beritanya?" tanya Pak Leon berbisik.
"Gak semuanya, Pak. Saya cuman bantu temanin liputan sama pinjemin laptop," balas Beni.
"Oke, gimana menurutmu kerjanya dia? Kan kamu paling tau selama ini," tanya Pak Leon lebih seduktif.
"Anaknya pantang menyerah, berani, dan pastinya jujur, Pak." jawab Beni dengan nada pelan.
Pak Leon mengangguk, "lebih bagus mana dengan Kinan? Kamu juga awak redaksi yang paling lama bekerja bersama Kinan," ucap Pak Leon.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Pak Leon, Beni memastikan bahwa Kinan tidak akan mendengar. Beni melirik Kinan yang duduk di sampingnya dan masih sibuk mengutak-atik keyboard ponselnya.
"Jelas Andin lebih baik dari Kinan, Pak. Dia menulis berita dengan memperhatikan fakta langsung dari narasumber. Tidak seperti Kinan, nulis pernyataan narasumber seadanya saja, bahkan tak sesuai apa yang dibahas," bisik Deni. "Kinan juga gak pernah mau menunggu narasumber. Kalau narasumbernya telat, malah dia yang marah. Aneh kan?" sambung Beni.
"Hah? Jadi selama ini dia sering marah dengan narasumber yang tidak menempati janji wawancara? Duh, wartawan profesional kan harus menunggu kapanpun narasumber bisa," balas Pak Leon.
"Itulah perbedaan Andin dan Kinan, Andin loh rela menunggu narasumber berjam-jam bahkan berhari-hari! Kalau Kinan, jangan harap!" tambah Beni.
"Andin benar-benar paham etika jurnalis ya, kerja dia disini cukup membanggakan!" Terang Pak Leon. Beni mengangguk setuju.
Pak Leon seperti ingin melanjutkan perkataannya lagi, namun melirik ke Kinan dulu, "semoga dia gak dengar," batin Pak Leon. "Ben, saya berjanji, ketika Andin berhasil menyelesaikan beritanya satu kali lagi dengan hasil sama seperti kedua berita lainnya, saya akan memecat Kinan dan menggantikan posisinya dengan Andin," kali ini ucapan Pak Leon lebih halus, namun jelas terekam dalam ingatan Beni.
Beni yang sepakat dengan pernyataan Pak Leon, langsung berseru pelan di telinga Pak Leon, "keputusan yang tepat, Pak! Saya dukung penuh," sambil menepuk pundak Pak Leon.
***
Andin senang sekali hari ini bisa mendapatkan apresiasi dari Pak Leon dan awak redaksi lainnya. Andin tidak menyangka, jika kedua beritanya mampu menarik perhatian pembaca. Tok.. tok.. tok..
"Ada surat lagi untukmu," Bu Ranti menyerahkan surat beramplop merah kepada Andin.
Dalam hati Andin menerka ada pengirim lain yang akan menghantuinya beberapa hari ke depan, "amplop oranye, amplop kuning, dan kali ini amplop merah!" batin Andin dan berdecik mengambil surat beramplop merah dari tangan Bu Ranti.
"Oh ya, baru saja Bu Della menelpon Mama, ulangan akhir semestermu turun drastis," ucap Bu Ranti.
Andin menghela napasnya, "ya gakpapa, nanti belajar lebih giat lagi," balas Andin santai.
"Malam ini bisa kita berbicara sebentar, Nak?" Ajak Bu Ranti dengan tatapan nanar.
Andin tak langsung menerima ajakan itu, ia melirik jam dindingnya, "udah jam 21.00 WIB Ma, aku mau istirahat dulu seharian capek banget," jawab Andin.
Bu Ranti berdecik, ia langsung menutup kembali pintu kamar Andin. Lalu, Andin naik ke atas tempat tidurnya. Menutup perut hingga telapak kakinya dengan selimut putih bermotif polkadot. Sebelum Andin menjelajahi alam bawah sadarnya, ia membaca dulu surat beramplop merah yang baru saja diberi Bu Ranti.
"Saya akan menyingkirkan kamu, secepatnya!" Di bawah pojok kanan tulisan itu tertera inisial KO. Spontan Andin teringat Kinan, satu-satunya awak redaksi yang memiliki inisial KO, Kinan Olivia.