Truth (3)

1183 Kata
Viralnya berita waktu itu tidak membuat Andin puas, Andin ingin meneruskan liputannya sesuai arahan Pak Leon. Seperti biasa, Andin mengajak Beni untuk melakukan liputan. Mereka sudah menunggu di pinggir lapangan kampus Prasasti untuk menemui narasumber utamanya, Rezvan. “Hmm, kira-kira Rezvan bakal menghindar lagi gak ya?” tanya Beni.   “Kalau menghindar ya mungkin dia takut alias pengecut!” ledek Andin. Tak lama kemudian, suara Rezvan menggema di balik pengeras suara, “terima kasih atas partisipasinya dalam mengikuti ospek di kampus Prasasti. Saya perwakilan dari seluruh panitia meminta maaf apabila ada kesalahan. Selamat menjadi mahasiswa, hidup mahasiswa!” Riuh tepuk tangan seluruh peserta yang hadir terdengar ramai mengelilingi atmosfer kampus Prasasti. Rupanya kegiatan ospek kampus telah usai. Peserta ospek saling bersalaman, berpelukan, bahkan berfoto ria merayakan selesainya ospek tersebut. Andin mencoba mewawancarai beberapa peserta ospek yang turut merayakan itu. “Selamat siang, saya Andin dari media Antasari. Bolehkah saya mewawancarai kalian berdua sebagai narasumber perihal kegiatan ospek ini?” tanya Andin dengan ramah kepada dua lelaki yang masih berseragam hitam—putih itu. “Oh, boleh, Kak!” ucap kedua lelaki tersebut. “Kalau boleh tau, nama kalian siapa, ya?” tanya Andin, yang mulai mengeluarkan buku catatan dan pulpennya. “Saya Andre dan teman saya Riko,” balas mereka. “Saya mau bertanya perihal tugas ospek kemarin, menurut kalian bagaimana?” tanya Andin. “Menurut saya asik-asik aja sih, Kak. Mengasah daya pikir kita,” jawab Andre. “Kalau saya sejauh ini biasa saja. Cuma tugas yang harus membeli buku karangan Kak Rezvan itu yang mahal sekali, saya sampai ngutang ke Andre,” sambung Riko. “Apakah menurut kamu itu mahal sekali? Sampai-sampai pinjam uang,” tanya Andin ke Riko. “Ya jelas, Kak! Untuk buku tebalnya 150 halaman dengan genre puisi cinta-cintaan yang gak seberapa bagus, menurut aku itu kemahalan,” tegas Riko. “Hah? Jadi buku itu berisi puisi cinta-cintaan?” Andin terkejut. Selama ini yang Andin ketahui, buku puisi itu harganya tidak lebih dari dua ratus ribu. Kecuali kalau memang puisi terjemahan dari penulis profesional.  “Iya, Kak. Saya yang gak suka genre begituan malas banget ngerjain tugasnya. Tapi mau gimana lagi, daripada dihukum,” ucap Riko. Andin mangut-mangut dan segera menulis di buku catatannya. Andin pun tidak lupa menyalakan aplikasi rekaman agar tidak terjadi fitnah dan ada buktinya. “Saya juga baru tau kalau tugas itu tugas tambahan yang tidak ada di surat edaran rektor,” beri tahu Riko. Andin tersenyum dalam hati, rupanya ada juga peserta ospek yang meluangkan waktunya untuk membaca surat edaran itu. “Lalu tanggapanmu perihal tugas tambahan itu, bagaimana Riko?” tanya Andin lagi. “Memberatkan, Kak. Disamping itu konteks tugasnya juga tidak sesuai dengan tema ospek kampus,” jawab Riko. “Kalau boleh tau, ada gak temanmu yang lain yang merasa keberatan dengan tugas ini selain kamu?” tanya Andin. “Ada kak! Semua teman sekamar asramaku berpendapat demikian. Sekitar enam anak, Kak. Mereka juga ada yang ngutang juga,” “Lalu kenapa kalian tidak melaporkan hal ini kepada panitia?” “Sudah ada yang melaporkan kok Kak, lewat panitia keamanan namanya Kak Cintia. Tapi entahlah didengar atau tidak,” Riko menjelaskan. Dari situ Andin sudah berpikiran bahwa tugas ospek membeli buku karya Rezvan ini sudah menyalahi aturan yang kampus tetapkan. “Jelas ini pungutan liar, gak ada himbauan dari kampus kok!” batin Andin. Andin pun berterima kasih kepada Andre dan Riko atas informasi yang mereka ucapkan. Andin kembali menghampiri Beni. “Yap! Aku ada informasi baru, ternyata banyak peserta ospek yang merasa keberatan membeli buku karangan Rezvan itu!” info Andin berbisik. “Jelas lah! Harganya Rp300.000 kok, aku aja beli buku paling mahal Rp250.000 itupun terjemahan,” balas Beni. “Kita gak boleh diam, harus dapatin klarifikasi langsung dari Rezvan!” “Eh, eh, coba lihat ke sana!” Beni menunjuk suatu gerombolan peserta ospek yang berada di depan ruang panitia. Gerombolan peserta ospek tersebut tampak berteriak dan melemparkan sejumlah batu ke jendela ruang panitia. “Ada apa ya? Ayo samperin!” ajak Andin. Andin dan Beni cukup kesulitan menebak apa yang sebenarnya terjadi. Andin dan Beni hanya mendengar kata, “kembalikan uang kami,” yang beberapa kali diucapkan oleh segerombolan orang-orang itu. Di depan ruang panitia tampak Cintia sedang menghalangi orang yang akan masuk ke dalam ruang panitia. “Tenang, tenang! Rezvan akan segera datang!” ucap Cintia ditengah gemuruh riuh. “Ada apa, ini?” tanya Rezvan, massa mulai hening. “Kembalikan uang kami! Buku ini terlalu mahal untuk dijadikan tugas!” tegas perempuan berkerudung itu, Intan. Intan pun mengangkat buku itu di udara. “Loh tidak bisa, kalian sudah membeli buku itu dan wajib tugas!” ucap Rezvan. “Hello! Tugas itu tidak ada di surat edaran rektor, ini termasuk pungutan liar!” Intan lebih meninggikan suaranya. Massa kemudian riuh kembali dan bersorak, “sepakat!” atas pernyataan Intan. “Kembalikan uang kami!” koor seluruh massa. Andin segera mengabadikan momen itu dengan merekam situasi yang ada. Tak lupa mencatat hal penting untuk keperluan tulisannya. Cintia yang makin pusing dengan massa yang semakin banyak melempari batu, menegaskan Rezvan untuk cepat menangani. “Tangani cepat! Aku gak sanggup sumpah!” ucap Cintia yang melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. “Baik, semua harap diam. Saya akan memberi klarifikasi perihal tugas tersebut. Saya meminta satu orang perwakilan untuk melakukan audiensi di dalam ruang panitia,” pinta Rezvan. Intan memposisikan dirinya paling depan, “saya!” tegasnya. Di dalam ruang panitia, telah ada seluruh panitia ospek dan satu perwakilan peserta ospek, Intan. Mereka membentuk lingkaran dan Rezvan akan mengklarifikasi apa yang diperbuatnya. “Baik, sebelumnya saya mohon maaf atas tugas yang saya pribadi berikan untuk peserta ospek perihal pembelian buku karangan saya,” buka Rezvan. Seluruh audien yang ada, menyimak Rezvan. “Jujur, saya mengaku salah telah mewajibkan tugas yang diluar kesepakatan antara rektor dan saya sendiri. Namun, hal itu saya lakukan karena satu sebab yang membuat saya tepaksa melakukan itu,” jelas Rezvan. “Cepetan napa! Bertele-tele amat, banyak drama!” celetuk Intan di tengah keheningan. Cinta segera menenangkan Intan. “Begini, kalian semua tau sendiri kan saya sudah semester 14 dan terancam drop out. Disamping itu, orangtua saya sudah tidak mampu membayar kuliah saya. Jadi, saya terpaksa….” Rezvan berhenti sebentar. Seluruh audien masih memperhatian dan menunggu ucapan selanjutnya. “Saya terpaksa melakukan pungutan liar supaya bisa membiayai kuliah saya, yang mana penutupan UKT akan ditutup besok,” lanjutnya. Suasana tambah hening, beberapa audien menatap nanar kedua mata Rezvan. Mereka tidak menyangka Rezvan melakukan ini, “harusnya kamu bisa ngomong baik-baik, Van, biar gak salah paham, kami bakal bantu kok,” ucap Cintia. “Kalau boleh tau, berapa biaya UKT, Kak Rezvan?” tanya Intan dengan pelan. “20 juta. Itu sudah standar jurusan kedokteran, mahal sekali,” Rezvan menunduk. “Berkali-kali aku meminta permohonan UKT, tidak ada tanggapan. Padahal, aku berasal dari keluarga menengah ke bawah. Kedua orangtuaku sebagai buruh cuci yang sebulan hanya dapat upah satu juta,” jelas Rezvan, air matanya mulai membasahi di sekitar kantung matanya. Cintia dan seluruh panitia lainnya memeluk Rezvan, air mata Rezvan sudah tidak terbendung lagi. Akhirnya jatuh juga, untuk pertama kalinya Rezvan menangis di hadapan anggotanya. “Maaf ya, aku minta maaf sekali lagi. Aku akan kembalikan seluruh uang itu,” tegas Rezvan tersedu-sedu. Intan yang tidak sampai hati, juga meneteskan air mata yang kemudian ia usap menggunakan kerudungnya. “Monopoli pendidikan,” batinnya. “Bagaimana teman-teman, apakah kita bisa galang dana seiklasnya untuk membantu meringankan biaya UKT Rezvan?” ucap Cintia. Sontak, seluruh panitia ospek berseru, “Ayo!” Cintia menghapus air mata Rezvan, pelukan panitia ospek lainnya menghangatkan tubuh Rezvan yang sedang bersedih. “Kami selalu ada untuk kamu, Van, cerita aja kalau ada masalah,” kata Cinta. Sedikit demi sedikit, tangisan itu usai dan timbullah senyuman manis dari seorang Rezvan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN