“Kak! Ternyata tugas membeli buku itu gak ada!” Andin menepuk pundak Beni.
“Sumpah? Coba lihat!” Beni mendekatkan wajahnya ke layar ponsel Andin. Beni pun seketika terbelalak, “iya bener ih! Wah, ini benar-benar pungutan liar! Sikat sikat!” ucap Beni.
“Sikat apanya, Kak? Kak Rezvan aja sulit untuk diwawancarai,” Andin menopang dagunya, berpikir bagaimana cara liputannya tetap berjalan. “Gimana ya caranya?”
Beni berkacak pinggang, laki-laki yang jago desain itu sengaja tidak melanjutkan desain di laptopnya karena ingin membantu Andin. “Yaudah, kita ubah sudut pandang beritanya saja, gimana kalau kita meliput ketua BEM yang selalu menghindar dari media untuk diliput?” saran Beni.
“Apakah boleh seperti itu? Apa tidak terlalu menyudutkan?” tanya Andin.
“Ya gakpapa, narasumber utama sulit untuk diwawancarai karena kencan di Bromo, hahaha,” ledek Beni.
“Wah, itu berita bagus! Belum ada yang menulis begituan disini,” bisik Wendi. Naira yang berada disitu juga mengacungkan jempol ke Andin. Andin kembali tersenyum, dan mengiyakan saran Beni.
“Nih, pakai aja,” Beni menyilahkan Andin menggunakan laptopnya, aplikasi Ms. Word untuk menulis telah terbuka. “Tau aja kalau aku mau nulis, hehe,” Andin nyengir.
“Good luck!” ucap Beni.
***
“Ma, aku pulang!” Andin membuka pintu dan melepas sepatunya. Andin duduk di sofanya dan memijat-mijat kedua kakinya sendiri.
“Anak perawan kok baru pulang jam segini?” Bu Ranti menghampiri Andin dan kemudian duduk di sampingnya.
“Baru juga jam 19.00 WIB, Ma, belum jam satu malam,” balas Andin santai.
“Hmm, ngapain aja seharian ini?” tanya Bu Ranti.
“Cari berita dan nulis berita, Ma. Tunggu beritaku update lagi, ya!” jawab Andin.
“Kalau terus-terusan kamu seperti ini, Mama gak izinin kamu kerja lagi, lho!” ucap Bu Ranti.
“Loh Ma, aku gak macam-macam kok, cuma kerja aja gak ada yang lain,” Andin menjelaskan.
“Kesehatanmu loh Nak, pergi sekolah pagi sampai siang, siang sampai malam kerja. Kapan kamu istirahat?”
“Ketika akhir pekan, beres, kan?”
“Berarti kamu nemanin Mama tiap hari pekan aja, nih?” ucap Bu Ranti.
“Hari-hari biasa kan bisa, Ma, kalau mau ngobrol ya ke kamar aku aja,” balas Andin yang langsung menuju kamarnya untuk ganti baju.
Kring… kring.. kring… Ponsel Andin tiba-tiba berdering dan bergetar tanpa jeda sekitar 30 menit. Andin sengaja tidak membuka dulu, “ah, pasti anak-anak ngoceh di grup kelas doang!”
Diselingi dering ponsel dari pesan, rupanya Tisya telah menelpon Andin lima kali. Andin pun langsung menelpon balik.
“Halo, Tisya, ada apa? Maaf ya, aku kira bunyi pesan, ternyata telepon,” tanya Andin.
“Apa maksud kamu nulis berita seperti itu?” jawab Tisya.
“Oh yang barusan ada di kanal media Antasari, iya aku nulis itu karena Kak Rezvan sulit diwawancarai,”
“Kamu itu gak punya etika atau gimana sih? Kan bisa ngomong baik-baik untuk wawancara. Gak usah besar-besarin masalah cuman karena sulit diwawancara!” tegas Tisya. Nada Tisya yang meninggi membuat Andin terkejut. “Tumben amat dia begini,” batin Andin.
“Tisya, dalam tulisanku kan sudah disebutkan kalau aku sudah janjian, tapi Kak Rezvan malah mengingkari. Dan parahnya, dia berbohong loh kepada panitia ospek lainnya sewaktu dia kencan bersamamu di Bromo,” rinci Andin.
“Ya kamu bisa nutup-nutupin dong! Gak perlu seluruh kegiatan narasumber ditulis semua!” bentak Tisya.
“Tapi aku kasihan dengan panitia yang sudah dibohongi!” tegas Andin.
“Ah kamu itu! Tau gini aku gak bakal kasih kamu kontak narasumber lagi!” Tisya langsung menutup teleponnya dan tidak menyilahkan Andin memberi feedback.
“Hufftttt,” Andin menarik dan menghembuskan napasnya panjang, merebahkan tubuhnya yang dianggap Tisya penuh kesalahan. Kedua bola mata Andin menatap seluruh isi di kamarnya dan mencari jalan untuk menjelaskan maksudnya ke Tisya. Andin memejamkan kedua matanya, “ketenangan, berdamailah bersamaku.”
***
Bel pulang sekolah berbunyi, Andin merapikan seluruh bukunya ke dalam tas dan bersiap menuju kantor. Hari ini, satu liputan sudah berhasil Andin kerjakan dengan baik. Namun, rasa bersalah Andin ke Tisya kian menghantui. “Apakah Tisya memiliki dendam terhadapku ya?” batin Andin.
Demi memastikan itu, Andin sengaja menunggu Tisya di tempat parkir dan mengajaknya pulang bareng. Ternyata, Tisya sudah sedari tadi turun ke parkiran. Dan benar, ia sedang menunggu Ayahnya menjemput.
Tin.. tin.. tin..
“Mau pulang bareng?” ajak Andin.
“Gak perlu! Aku dijemput!” Balas Tisya cuek.
“Gakpapa, telepon saja Ayahmu bilang aku yang antar pulang,” ucap Andin.
“Gak!”
“Beneran? Aku traktir kamu kimchi deh!” rayu Andin.
“Gak! Kamu itu gak usah sok baik, gara-gara kamu, aku sama Kak Rezvan jadi putus!” bentak Tisya.
“Hmm, Tisya, aku minta maaf ya,” Andin menyodorkan tangannya. Wajah Andin seketika lesu.
“Alah telat! Dengar ya, kamu gak usah panjat sosial lewat tulisanmu ya!” tegas Tisya. Tak lama kemudian, Ayah Tisya datang menjemut dengan mobil Avanza hitamnya. Andin pun ditinggalkan tanpa penerimaan kata maaf sedikitpun.
***
(17/09) Rezvan, ketua BEM kampus Prasasti telah menghindari wawancara dari media Antasari. Saat ditemui di acara ospek, Rezvan sudah membuat janji untuk diwawancarai sebanyak tiga kali, namun diingkari dengan alasan yang berbeda-beda. Keesokan harinya ketika ingin diwawancarai kembali, Cintia selaku panitia keamanan mengabarkan kalau Rezvan tidak hadir dalam acara dikarenakan sakit. Padahal, pada saat itu Rezvan sedang berekreasi bersama rekannya……
Begitulah penggalan berita yang berhasil di tulis Andin dalam waktu tiga jam tanpa sunting. Tanpa disangka, pembaca kanal media Antasari banjir pembaca karena berita itu. Hebatnya lagi, Andin mendapat banyak komentar positif. Pak Leon tidak menyangka, pembacanya naik sekitar 10.000.
“Hebat sekali Andin! Kamu bisa memecahkan rekor pembaca untuk bulan ini!” Pak Leon terkesima dengan kerja Andin.
“Benar, Pak. Andin memang cukup memumpuni sebagai reporter, saya lihat sendiri bagaimana kerja kerasnya,” balas Beni.
“Padahal ini belum inti masalahnya, loh. Gimana kalau sudah inti? Makin bagus! Andin, saya suka tulisanmu,” kagum Pak Leon.
Andin yang hanya mengamati bincangan itu hanya bisa tersenyum mengetahui Pak Leon sangat suka dengan tulisannya.
“Oke, lanjutkan Andin! Saya ada rapat sebentar sama klien. Semangat terus anak muda!” Pak Leon memberi semangat ke Andin.
Pak Leon pun keluar pintu dan melanjutkan kegiatan rapatnya.
“Hmm, tulisan gak penting aja kok viral, pembacanya kurang edukasi,” sahut Kinan santai.
“Maksud kamu apa?” Beni yang mendengar itu, langsung menodong.
“Jelas, inti masalahnya tidak ada, gak penting untuk dibaca,” balas Kinan.
“Hey! Narasumber yang selalu menghindari media itu adalah sebuah masalah! Apalagi dengan alasan gak jelas kayak gini,” Beni menaikkan nada bicaranya.
“Masalah apanya? Ya ditunggu saja sampai narasumber bisa,” Kinan cuek.
“Gak bisa! Ini berita akan basi kalau tidak segera ditulis. Sekaligus sebagai gertakan bagi narasumber yang selalu menghindar tanpa alasan yang jelas!”
“Ya tetap aja sih gak bisa, belum masuk tahap sunting juga. Gak sesuai program kerja aku,” Kinan menunjuk papan program kerja di depannya.
“Eh Kinan! Kamu coba baca deh dimana letak kesalahan Andin dalam menulis? Aku rasa sudah tidak ada kesalahan lagi. Harusnya kamu bersyukur punya karyawan yang tulisannya tanpa sunting menjadi viral!” ucap Beni lebih menajamkan tatapannya ke Kinan. Kini Kinan tidak dapat berkata apapun.
“Kenapa diam? Mana apresiasimu sebagai pimpinan redaksi? Bukannya program kerjamu akan memberi apresiasi reporter jika tulisannya mencapai 5.000 pembaca?” tagih Beni kesal.
“Tulisan dia tidak masuk dalam hitungan karena tidak melalui proses penyuntingan,” balas Kinan sambil mengemas barang-barangnya.
“Omong kosong!” bentak Beni.
Beni lalu menarik Andin dan keluar meninggalkan ruang redaksi. “Dia orang yang plin-plan, gak usah dengerin apa maunya!” bisik Beni ke Andin.