Liputan Lapangan (2)

1417 Kata
“Din, tolong ke rumahku dong. Ambil peralatan TAP tadi dititipin Fahri kesini,” bunyi pesan w******p dari Tisya membuyarkan lamunan Andin. “Kenapa Fahri gak antar ke rumahku aja?” balas Andin. “Katanya takut sama kamu, hahaha. Buruan ya, aku mau keluar nih,” tutup Tisya. Andin menghela napas panjang, kesekian kalinya Fahri membuatnya kesal. Andin beranjak dari tempat tidurnya dan harus pergi ke rumah Tisya untuk mengambil peralatan, “mau gak mau harus kesana, daripada ilang kan malah repot,” ucapnya. Andin melaju menggunakan motor kesayangannya, mata Andin sayu dan terkantuk akibat kegiatan hari ini. Saat sedang lampu merah, Andin bersampingan dengan laki-laki yang membawa tas gunung itu. Andin yang merasa tidak asing, segera membuka kaca penutup helmnya dan menajamkan kedua matanya ke laki-laki itu, “Kak Rezvan?”. Laki-laki di sampingnya menatap balik Andin, merasa kaget dan langsung tancap gas yang kebetulan sudah lampu hijau. “Rapat evaluasi kayaknya sudah selesai, aku kejar ah demi dapat informasi!” ujar Andin. Andin ikut-ikutan menaikkan kecepatan motornya agar bisa mengejar Rezvan. Rezvan melirik Andin dari kaca spionnya, mempercepat motornya kembali. “Aku harus dapat!” kata Andin. Rezvan melajukan motornya ke jalan yang sering Andin lewati, otomatis Andin mampu mengejar dengan motornya karena sudah hapal kondisi jalannya. Ciiiiiiit! Motor Andin berdecit karena mengerem mendadak. Rezvan yang juga berhenti mendadak, memberhentikan motornya di depan rumah Tisya. “Oalah, mau ngebucin toh!” ungkap Andin. Andin turun dari motor dan ikut memasuki pagar rumah Tisya. “Kamu ikutin aku ya?” todong Rezvan. Andin mengangguk sambil tersenyum. Rezvan langsung teriak, “Tisya, ayo cepetan nanti kita ketinggalan rombongan loh!” “Eh Kak, sebentarrrr aja saya minta waktunya untuk wawancara,” mohon Andin. “Gak ada, gak ada!” balas Rezvan. Keringat di pelipis Rezvan tergambar jelas siang ini. Entah karena kepanasan akibat menyetir di jalan, atau karena gemetaran dikejar Andin. Tisya pun keluar dari dalam rumahnya karena mendengar keributan yang jelas. “Ada apa ini? Eh ternyata Andin dan Kak Rezvan datang bersamaan,” tutur Tisya dan memberikan kertas karton titipan Fahri. Andin segera menggapai kertas karton itu, “kamu mau kemana, Tis? Buru-buru gak?” tanya Andin. “Gak juga sih, tapi katanya Kak Rezvan sudah ditunggu rombongan sejak sejam yang lalu,” jawab Tisya yang sedang memasukkan hammock ke dalam tas gunung Rezvan. “Emang mau kemana?” tanya Andin lagi. “Mau muncak ke Bromo nih sama rombongan dan Kak Rezvan juga,” jawab Tisya. “Pulangnya hari ini juga?” sahut Andin. “Enggak lah, nanti aku lelah di jalan. Mau bermalam juga disana selama dua hari. Ini loh Kak Rezvan ngajakin terus,” Tisya menoel Rezvan yang wajahnya langsung panik. Andin terdiam, ia ingat kalau Rezvan sudah berjanji akan di wawancarai besok pagi di kampus. Namun, Tisya berkata kalau mereka akan bermalam dua hari di Bromo. “Apa jangan-jangan Kak Rezvan mau kabur, ya?” terka Andin dalam hati. “Udah semua ya Din peralatannya, aku pergi dulu,” kata Tisya yang sedang mengikat tali sepatunya. “Eh bentar, Kak Rezvan besok janjian wawancara kita bagaimana?” tanya Andin sebelum Rezvan menaiki motornya. “Setelah saya pulang dari Bromo ya, sibuk,” balas Rezvan. “Sibuk apaan, disana kan cuma senang-senang. Kak Rezvan tuh habis nulis buku yang bikin kepalanya mumet dan sekarang mau rekreasi,” celetuk Tisya. “Wah! Kak Rezvan ternyata penulis buku ya, mau dong lihat bukunya!” Andin antusias. “Beli aja di ruang panitia, cepetan loh nanti keburu habis!” bisik Tisya. Rezvan yang sedari tadi mendengar perbincangan Tisya dan Andin, memberi isyarat ke Tisya untuk diam dengan menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya. Namun, Tisya sama sekali tidak paham. “Bakal kehabisan? Berarti emang bagus banget tuh bukunya. Dan, penggemar Kak Rezvan pasti banyak banget karena bukunya cepat habis.” “Hahahaha, dia baru pertama kali nulis buku. Buku pertamanya itu wajib dibeli oleh peserta ospek yang nantinya akan dirangkum dan menjadi tugas ospek,” jelas Tisya. Andin diam sejenak, dalam batinnya bertanya-tanya, “kenapa diwajibkan untuk membeli ya? Emangnya buku itu memiliki dampak apa untuk peserta ospek?”. Rezvan langsung menarik tangan Tisya untuk naik ke atas motornya. Tanpa berkata apapun, Rezvan melajukan motornya meninggalkan Andin. Di jalan, Rezvan sama sekali tidak membuka pembicaraan pada Tisya. Tisya memeluk pinggang kekasihnya itu dan bertanya, “kok diam aja, Kak? Biasanya kalau habis kegiatan, kamu selalu cerita apapun.” Namun, Rezvan tetap tidak membalas walaupun lirikan mata Rezvan terus menerus memperhatikan Tisya lewat kaca spion. “Kak, ngomong dong, aku gak enak diem-dieman gini,” ucap Tisya menepuk pelan bahu Rezvan. “Kamu sama Andin deket kah? Sampai cerita panjang lebar tentang kesibukan kita ke dia,” tanya Rezvan. “Iya, deket banget,” jawab Tisya. “Terus kenapa kamu ngomongin tentang penugasan beli buku karanganku itu? Gak penting!” ujar Rezvan sedikit menaikkan nadanya. “Emangnya kenapa? Andin itu mau wawancarai kamu sebagai narasumber ya sekalian aja aku ceritain tentang kamu,” balas Tisya dengan polosnya. “Oh ya, Andin juga sudah aku kasih nomor kontakmu,” sambung Tisya. “Apa?!” motor Rezvan tiba-tiba ngerem mendadak setelah mendengar perkataan Tisya. “Parah lah! Bisa-bisa aku diterror nih!” batin Rezvan. “Eh, ada apa?” Tisya kaget. Rezvan menggelengkan kepala. “Oh yaudah, aku nonton live streaming BTS dulu ya, nyetirnya jangan laju-laju nanti ponsel aku terbang,” perintah Tisya. *** “Kak Beni! Aku dapat informasi kalau Rezvan mewajibkan seluruh peserta ospek membeli buku karangannya sebagai tugas,” lapor Tisya yang baru saja datang, membuyarkan konsentrasi Beni dan awak redaksi lainnya. “Bisa diem?” pinta Kinan. Naira dan Wendi turut meletakkan telunjuknya di depan mulut mereka masing-masing. “Pelan-pelan ngomongnya,” bisik Beni ke Andin. “Maaf, maaf,” bisik Andin balik. “Terus kenapa kalau seluruh peserta ospek harus beli bukunya?” tanya Beni. “Gak tau, Kak. Aku juga penasaran bukunya gimana sih kok diwajibkan untuk membeli,” jawab Andin. “Tapi kalau di surat edaran rektor buku itu memang wajib dibeli ya gak masalah,” balas Beni. “Nah, masalahnya aku belum dapat surat edarannya. Paham sendiri kan kemarin kita di PHP-in,” ucap Andin dan Beni tertawa kecil. “Oh ya, kemarin aku ketemu Rezvan dan pacarnya, ternyata hari ini mereka ke Bromo dan nginep!” lapor Andin lagi. “Loh, bukannya dia ada janjian sama kita ya? Terus batal dong?” ujar Beni. “Sepertinya gitu,” Andin manyun. Mengetahui hal tersebut, Beni menggelengkan kepala, “ketua BEM begitu kok bisa kepilih ya, mau diwawancarai aja susahnya minta ampun,” kesal Beni. Andin menyodorkan buku catatannya, rupanya Andin sudah me-list apa saja yang akan ia lakukan selanjutnya untuk menulis pungutan liar itu. “Kak, lihat deh!” ujar Andin. “Mewawancarai mahasiswa baru untuk mengklarifikasi tentang pungutan liar, mencari surat edaran rektor perihal tugas ospek.” “Perencanaan yang bagus! Mau pergi sekarang? Ayo aku temenin!” ajak Beni yang sudah menggenggam kunci motornya. “Siap!” Andin mengiyakan. *** Suasana kampus Prasasti masih sama seperti kemarin, ramai dipenuhi peserta ospek dan panitia yang memakai seragam batik. Andin dan Beni kembali mengamati jalannya ospek, banyak peserta yang sudah berbaris rapi di lapangan. Namun, jauh dari kerumunan barisan, terdapat barisan lagi sebanyak sepuluh peserta ospek yang sedang hormat ke bendera. “Maaf, kalau boleh tau ini kenapa, ya?” tanya Andin ke salah satu peserta yang sedang hormat. “Kami dihukum karena tidak mengerjakan tugas,” jawab seorang perempuan lainnya. Andin bergegas mengeluarkan catatan dan pensilnya, “maaf sebelumnya, nama kamu siapa?” tanya Andin. “Nama saya Intan,” jawab perempuan itu, Intan. “Bisa dijelaskan kah kenapa kalian dihukum seperti ini?” tanya Andin. “Ya kami tidak mengerjakan tugas merangkum buku karangan Kak Rezvan,” Andin mulai mencatat apapun yang keluar dari mulut Intan. “Kenapa tidak dikerjakan?” “Kami tidak bisa membeli buku itu karena terlalu mahal Rp300.000,” “Hah?!” Andin terkejut. “Buku apa kalau boleh tau?” “Puisi gitu sih, isinya juga cinta-cintaan. Dan menurut saya, gak nyambung sama tujuan dari ospek ini yang mengangkat tema Kepemimpinan,” Andin mangut-mangut. “Selain tugas itu, ada lagi kah kesalahan yang kalian buat?” “Tidak ada, Kak.” Intan menggeleng. Beni pun berbisik, “coba tanyain punya surat edaran rektor nggak.” “Oh iya, apakah kamu punya surat edaran rektor perihal penugasan ospek?” tanya Andin. “Punya,” Intan langsung mengeluarkan ponselnya, mencatat nomor Andin dan dikirimkannya. “Hey! Yang dihukum disana jangan main-main!” teriak perempuan yang kemarin menegur Andin. Spontan, Intan kembali memposisikan dirinya seperti awal. Perempuan tadi menghampiri Andin dan Beni. “Loh, kalian kesini lagi? Ada apa ya?” “Maaf sebelumnya apakah boleh saya tau nama Kakak?” mohon Andin. “Saya Cintia, panitia keamanan.” Balas Cintia. “Oh ya, apakah hari ini Kak Rezvan ada?” tanya Andin. “Kebetulan dia lagi sakit, jadi gak bisa hadir,” balas Cintia. Andin tertegun, setahu Andin itu Rezvan sedang rekreasi bersama Tisya. Namun, menurut pernyataan panitia itu Rezvan sedang sakit. “Oh iya, terima kasih,” Andin dan Beni pun meninggalkan Cintia. *** “Ah sudahlah! Orang kayak gitu pecat aja jadi ketua BEM. Pembohong!” kesal Beni untuk kedua kalinya. “Hmm, padahal Tisya sendiri yang bilang Rezvan akan rekreasi ke Bromo. Dan, aku juga melihat langsung mereka pergi,” sambung Andin. “Orasi aja digembor-gemborkan eh ternyata pembohong.” Ucap Beni. “Oh iya, Kak. Ayo kita cek surat edaran rektornya, kali aja ada informasi lebih lanjut,” Andin mengeluarkan ponselnya dan mengecek pesan yang dikirim Intan beberapa jam lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN