Liputan Lapangan (1)

1521 Kata
“Gimana, sudah dapat narasumber utamanya?” tanya Beni dengan napasnya yang masih terengah-engah memasuki ruang redaksi. Pertanyaan itu membuat Andin kaget ditengah seriusnya Andin merangkai pertanyaan untuk liputan. “Eh, Kak Beni. Istirahat dulu, Kak. Jangan tergesa-gesa gini perjalanan kita hari ini masih panjang!” Andin menepuk kursi merah yang ada di sebelahnya. Mengetahui maksud Andin, Beni langsung duduk di kursi itu. Andin memberikan segelas air putih yang sudah tersedia di atas meja. “Glek! Nikmatnya lolos dari kemacetan,” ucap Beni sayup-sayup matanya menikmati segelas air putih. “Lolosnya gak karena ngendarain di atas trotoar zebra itu, kan?” balas Andin. “Hehehehe,” Beni menyeringai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kok tau?” sambungnya. “Ye! Itu mah namanya maksa!” celetuk Andin. Kinan yang saat itu sedang sibuk menyunting berita awak redaksi yang lain, tiba-tiba menghentikan kegiatannya dan menatap sinis ke Andin dan Beni. “Bisa diem? Apa kalian gak lihat kalau aku lagi edit tulisan?”   Andin dan Beni saling menatap satu sama lain, mereka berdua seperti paham maksud dari ucapan Kinan. Tanpa melontarkan satu kata pun, Andin dan Beni meninggalkan kursi yang mereka duduki dan keluar lewat pintu. Beni menarik tangan Andin dan mempercepat langkahnya menuju ruang tunggu. “Aku ya paling malas lihat Kinan sok-sok serius gitu,” ucap Beni kesal. “Kenapa, Kak? Ya mungkin mbak Kinan beneran sibuk dan gak bisa diganggu,” balas Andin. “Lebay! Kerjaan dia aja gak bener, kok. Buktinya Pak Leon sampai marah-marah gitu kemarin,” ungkap Beni. “Entahlah,” Andin mengangkat kedua bahunya, lalu menyodorkan catatannya yang sudah terpampang beberapa pertanyaan disana. Daftar pertanyaan untuk narasumber pertama, Rezvan (ketua BEM kampus Prasasti) 1.      Apa saja tugas yang diberikan untuk peserta ospek? Perlihatkan surat edarannya.  “Loh, kok cuma segini saja?” tanya Beni usai membaca pertanyaan tersebut. “Otakku hanya mampu menemukan satu saja, Kak. Apa Kakak punya saran lain?” jawab Andin sekaligus meminta saran. “Kamu harus belajar lagi cara me-list pertanyaan. Yaudah nanti saja dipikirkan, kalau sudah dapat beberapa informasi tuh, nanti kamu bisa mengembangkan sendiri saat proses wawancara,” Beni mengembalikan buku catatan Andin. Andin mengangguk pertanda paham apa yang dimaksud Beni. Beni menengok jam tangan yang terpasang di pergelangan tangannya, “Eh, tiga puluh menit lagi acara ospeknya akan dimulai. Kita berangkat sekarang, gimana?” ajak Beni. “Gak kecepatan? Pasti ngaret juga tuh acaranya, lebih baik kita siapin pertanyaan lagi, Kak,” balas Andin. “Hey! Sebagai wartawan harus bisa menggunakan waktu dengan bijak loh. Kamu tau sendiri jalanan kea rah kampus Prasasti sering macet. Kalau gak sekarang, bisa-bisa kita terjebak macet dan telat. Terus, kamu gagal nemuin narasumbermu,” jelas Beni yang sudah memutar-mutarkan kunci motor di telunjuknya. Andin mangut-mangut dan langsung memasukkan buku catatan ke tasnya. Tas merah muda dislempangkan oleh Andin, “siap berangkat dan mencari berita!” tegas Andin. Beni tersenyum kecil dan mereka berdua segera menuju kampus Prasasti. *** “Selamat datang para mahasiswa baru kampus Prasasti, selamat menuju gerbang masa depan.” Spanduk sebesar 3 meter itu tergelar lebar tepat di atas gerbang kampus Prasasti. Masuk ke gerbang kampus, sudah banyak mahasiswa yang mempercepat langkahnya menuju lapangan kampus untuk mengikuti acara ospek. Antusias peserta ospek sangat terlihat dari raut wajahnya yang melengkungkan senyum. “Ayo adik-adik, langkah kakinya dipercepat!” suara laki-laki menggema lewat microphone. Laki-laki berpostur tinggi 170 cm dan berkulit sawo matang itu, sudah berdiri di atas panggung mini yang berada di lapangan kampus. Kedua tatapan matanya menelik seluruh peserta ospek yang sedang berlarian mengisi barisan yang sudah diatur oleh panitia. Selain laki-laki di atas panggung tadi, panitia lainnya sudah siap berbaris mengarahkan para peserta ospek. “Apa bisa kita langsung cari ketua BEMnya?” tanya Andin yang ragu karena riuhnya acara yang berlangsung. “Emang kamu tau yang mana orangnya?” balas Beni. Beni menoleh kiri dan kanan berusaha mencari petunjuk, “dimana ruang panitianya? Biar kita gak kayak orang hilang.” “Bentar, bentar,” Andin mengobrak-abrik tasnya dan mengambil ponselnya. “Nih ketua BEMnya, namanya Rezvan,” ucap Andin memperlihatkan foto laki-laki dari ponselnya. “Pacar kamu?” balas Beni. “Bukan! Pacarnya teman aku, lagian aku nyimpan fotonya buat kebutuhan liputan aja. Susah tau kalau cari orang di kondisi ramai gini!” Andin langsung memasukkan foto dan dompetnya lagi ke tas. Beni mengangguk dan menarik tangan Andin menuju lapangan kampus. Beni menyipitkan kedua matanya, samar-samar laki-laki yang sedari tadi cuap-cuap di atas panggung memiliki paras persis seperti dalam foto. “Kayaknya yang di atas panggung itu Rezvan deh!” Beni menunjuk ke arah Rezvan yang ada di atas panggung. Andin berusaha memastikan, Andin yang kebetulan membawa teropong, mencoba melihat laki-laki di atas panggung itu. “Eh iya benar! Itu Rezvan!” Andin menjentikkan jarinya. “Hey kamu yang berdiri di sana, cepat masuk barisan!” suara perempuan terdengar nyaring melintasi telinga Andin dan Beni. Andin dan Beni yang tidak merasa dipanggil, terus memperhatikan Rezvan, berharap ada celah untuk bisa mewawancarai. “Woi! Ayo cepat, jangan sok-sok gak dengar!” suara perempuan itu terdengar lagi, kali ini lebih kencang. Andin dan Beni menatap perempuan itu, tampak ia sedang berkacak pinggang dengan wajah kesal. “Ngomong sama saya?” tanya Andin polos. “Siapa lagi kalau bukan kamu, mau kena hukuman kah?” ucap perempuan itu. Andin berjalan mendekati perempuan itu, “maaf Mbak, saya ingin bertemu dengan Rezvan, bisa?” tanya Andin pelan. “Dasar genit! Ngapain kamu cari Rezvan? Bukannya kamu harus ikut acara ini sampai akhir?” “Maaf Mbak,….” Omongan Andin langsung diputus. “Gak usah cari perhatian sama kakak tingkat, kamu masih terlalu polos untuk dekat ke mereka!” “Maaf, Mbak. Perkenalkan saya Andin dari media Antasari. Saya ingin menemui Rezvan untuk menjadi narasumber perihal berita ospek di kampus ini, Mbak,” jelas Andin. Perempuan yang sedari tadi meneriaki Andin, kini mengerutkan dahinya, “jadi kamu wartawan dari media Antasari? Mana surat izin liputannya?” Perempuan itu menyodorkan tangannya. Andin yang bingung pun menggelengkan kepala, perempuan tadi spontan meninggalkan Andin dan menuju lapangan ketika Rezvan mengumumkan, “bagi seluruh panitia keamanan, diharapkan berkumpul di lapangan pembukaan kegiatan ospek kampus Prasasti akan segera dimulai!” *** “Gimana, berhasil?” tanya Beni ketika Andin balik menemui Beni. Andin menggeleng. “Aku dimintai surat izin liputan, apakah itu ada?” jawab Andin. Beni berdecik, “surat izin itu dikeluarkan langsung oleh Kinan, untuk mendapatkan surat izin itu pun ribet banget, kamu harus konsultasi narasumber dulu.” Jelas Beni. “Jadi, sekarang harus ke  Mbak Kinan? Yaudah ayo balik ke kantor dulu,” ajak Andin yang sudah siap. “Gak usah! Makin panjang urusannya kalau sama Kinan, kamu gak bakal selesai. Sekarang ayo aku bantuin buat nemuin Rezvan,” ujar Beni. “Okelah, aku ikutin apa kata Kak Beni aja,” Andin mengacungkan jempolnya. Andin dan Beni duduk di belakang panggung. Kali ini, orasi Rezvan telah menggema ke seluruh ruang kampus Prasasti. Suara lantang Rezvan bak menyakinkan peserta ospek lainnya, cukup serius. “Ngantuk banget aku dengerinnya,” celetuk Beni yang sedari tadi menguap. “Akhir kata, semoga kalian semua bisa menjadi penerus bangsa yang berkualitas, bisa menjadi pemimpin yang terbaik dan selalu menolong orang-orang di sekitar. Hidup mahasiswa!” ucap Rezvan. “Hidup!” Koor seluruh peserta ospek sambil mengepalkan tangan kanan mengikuti panduan Rezvan. “Baik, saya minta panitia keamanan segera memeriksa seluruh perlengkapan peserta ospek,” tutup Rezvan dan turun ke belakang panggung. Andin dan Beni refleks berdiri mengetahui Rezvan sudah usai membuka acara dan sambutan. “Selamat pagi, Kak Rezvan,” ucap Andin. “Selamat pagi, siapa ya?” balas Rezvan. “Saya Andin dari media Antasari, bermaksud ingin mewawancarai Kak Rezvan sebagai narasumber kami perihal kegiatan ospek di kampus ini. Apakah bisa, Kak?” tutur Andin, yang sudah mengeluarkan buku catatan dan pulpen untuk mencatat hal penting. Rezvan terdiam sejenak, Rezvan seperti tidak asing mendengar nama Andin. Seketika ingatannya muncul, Tisya pernah cerita soal teman sekolahnya yang jago membuat berita. “Ah, jangan-jangan dia teman Tisya yang bisa bikin berita jadi viral? Wah, aku gak mau!” batin Rezvan. “Hmm, maaf, sekarang saya lagi sibuk acara ini. Setelah acara ospek, gimana?” ujar Rezvan. “Jam berapa kira-kira, Kak?” tanya Andin. “Enam jam dari sekarang,” Rezvan langsung meninggalkan Andin dan Beni. “Bagaimana, mau menunggu?” tanya Beni. “Siap! Karena tugas memang harus diselesaikan!” Beni pun tersenyum mendengar ucapan Kinan ini. *** “Kak Beni! Kayaknya acara sudah selesai deh!” ucap Andin yang melihat sebagian mahasiswa baru sudah keluar menuju gerbang. “Yuk cari Rezvan lagi!” ajak Beni. Andin mengikuti Beni mencari ruang panitia. Dan ruang panitia mudah sekali di temukan, terletak di sebelah kanan panggung. Andin dan Beni mengintip ruang panitia, ternyata hanya ada Rezvan sedang memainkan ponselnya sambil rebahan. “Selamat siang!” ucap Andin dan Beni serentak. Rezvan auto duduk dan menjawab, “siang!” “Maaf, Kak. Apakah saya sudah bisa mewawancarai Kakak?” tanya Andin. “Hmm, kalau boleh tau mau meliput acara dari sisi mana, ya?” balas Rezvan. “Mau bertanya soal penugasan dari panitia saja, Kak. Dan tentunya saya juga ingin melihat surat edaran dari kampus perihal penugasan.” Jawab Andin. Rezvan pun menelan ludahnya dalam-dalam mendengar kata penugasan. Tahun ini, Rezvan sengaja memberikan tugas untuk membeli buku karangannya dan harus dirangkum. Padahal, tugas tersebut tidak ada dalam surat edaran rektor, “duh mampus! Bisa ketahuan nih kalau bawa-bawa surat rektor,” batin Rezvan. “Nanti aja kali ya wawancaranya, saya ada rapat evaluasi dulu. Mungkin bisa besok?” ujar Rezvan. Andin menghela napasnya panjang, enam jam menunggu harus tertunda lagi esok hari. “Baiklah, jam berapa dan dimana, Kak?” tanya Andin. “Besok pagi, disini saja, maaf ya.” Jawab Rezvan. Andin dan Beni membalikkan langkah dan berniat kembali ke rumah masing-masing. Tiba-tiba, suara perempuan yang tadi meneriaki Andin berkata, “hari ini gak ada rapat evaluasi kan? Yaudah aku pulang duluan.” Samar-samar terdengar ditelinga Andin, tapi Andin gagal menangkap maksud perkataan itu. Rezvan pun segera menutup mulut perempuan itu dengan dasinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN