None (1)

1075 Kata
Andin terengah-engah menuju ruang kelasnya, kertas karton dan sekotak krayon warna memenuhi kedua tangan Andin. Andin tidak peduli di sekelilingnya ada yang menegur atau tidak. Yang terpenting, Andin harus sampai di dalam kelas sebelum Bu Della tiba. Keringat di dahi Andin mulai mengucur membahasahi sebagian wajahnya. Itu tandanya, Andin mengerahkan seluruh tenaganya untuk memasuki kelas pagi ini. "Pagi!" Andin berhasil menggapai pintu kelasnya. Seruan Andin yang menggema disela keheningan, membuat seluruh murid dan Bu Della menatapnya dengan tajam. "Sudah jam berapa ini?" Tanya Bu Della, menghentikan sejenak proses belajar pagi itu. "Jam 09.00 WIB, Bu. Maaf saya telat," ucap Andin menundukkan kepalanya. "Kenapa gak sekalian gak usah masuk saja? Kalau kayak gini kamu mengganggu saya waktu menerangkan materi," ujar Bu Della dengan nada tinggi. "Sekali lagi, maaf, Bu. Apakah saya boleh mengikuti pelajaran hari ini?" Tanya Della, mengusap keringat yang masih bertengger di dahinya. Bu Della menggelengkan kepala, Bu Della yang terkenal tegas dan ketat peraturan itu tidak mengijinkan Andin untuk masuk ke kelasnya. Wajah Andin tampak lesu, spontan ia menurunkan karton dan krayon warna yang ada di kedua tangannya. "Baiklah, tapi saya mau menitipkan bahan TAP ini kepada Fahri dan Tisya," ucap Andin. "Silahkan," balas Bu Della. Andin menghampiri meja Fahri dan menyerahkan seluruh bahan TAP. Raut wajah kesal masing tertanam di wajah Andin akibat gagal masuk kelas hari ini, "sialan! Pecuma aja tadi cepat-cepat, toh ditolak juga untuk masuk kelas! Geram Andin dalam hati. "Duh, duh. Si cantik telat. Tumben amat, sekarang gak jadi anak rajin dan carper lagi," ledek Fahri, sambil mengambil barang yang ada di Andin. "Gak usah banyak omong, diam kamu!" Bisik Andin sambil mengepalkan tangannya di balik meja. *** "Eh, Din. Sini!" Suara ajakan perempuan terdengar di telinga Andin. Andin mulai mencari asal suara itu, dan ternyata Tisya. "Loh? Ngapain kamu disini?" Tanya Andin heran. "Bolos pelajaran, lah. Hahahaha, aku bosan aja di kelas," jawab Tisya nyengir. "Tumben-tumbennya kamu bolos, aneh aja anak peringkat 1 seangkatan kok bisa bolos juga," toel Andin. "Ya bisa aja, karena tiap orang punya titik kejenuhan masing-masing," balas Tisya. Andin mengangguk. Tisya memesan dua porsi mi instan goreng untuk dirinya dan Andin. Jam pelajaran pagi itu tidak menarik bagi Tisya. Malahan, kantin yang rindang dikeliling pepohonan itu menjadi tempat pelarian Tisya untuk menghilangkan kebosanan. "Eh, ngomong-ngomong gimana kerjaan baru kamu? Menyenangkan?" Tanya Tisya ketika rampung mengabiskan mi nya. "Ah! Lumayan ribet, aku jadi kayak orang b**o disana," jawab Andin seadanya. "Apa?! Seorang Andin yang tulisannya viral di media sosial tiba-tiba jadi b**o di media Antasari? Gak percaya banget!" Terang Tisya. "Ya habisnya mau wawancara lapangan aja susah amat. Harus ijin ke pemimpin redaksi segala. Aku kan pengen langsung ke lapangan aja gitu, pemimpin redaksi harusnya bertugas ngedit aja," jelas Andin jengkel mengingat kemarin. "Mau gak mau, kamu harus ikutin budaya mereka disana. Ingat Din, kamu hanya butiran debu yang baru menginjak panggung drama!" Ucap Tisya dengan sengaja memberatkan suaranya. "Hahahaha, panggung drama? Semua jalan hidup penuh dengan drama, kok. Aku tau," Andin dan Tisya pun tertawa bersama. Tidak lama kemudian, ponsel Tisya berdering menandakan ada pesan yang masuk ke nomornya. "Kak, kalau sudah pulang sekolah beliin tali rafia, kertas padi, sama pisang satu sisir, ya," bunyi pesan singkat itu dari kakaknya, Masha. Setelah mengecek ponselnya, wajah Tisya yang awalnya semangat melihat pesannya, tiba-tiba berubah menjadi bete. "Yah, aku kira dari pacarku, ternyata Masha." Tisya memasukkan lagi ponselnya ke tas. Tidak ada satupun kata untuk membalas pesan Masha. "Pacarmu lagi sibuk kali, wajarin dong," sindir Andin. "Mungkin. Maklum aja, dia kan habis terpilih jadi ketua BEM dan sebentar lagi akan ada ospek kampus. Dia pasti harus menyiapkan segala keperluan," tebak Tisya sambil mengaduk segelas es teh manis di hadapannya. Merasa mendapatkan suatu informasi penting, Andin mulai kepo perihal kegiatan pacarnya Tisya. "Aku baru tau kalau pacar kamu ketua BEM. Di kampus mana?" Kepo Andin. "Di kampus Prasasti. Dan kebetulan tahun ini kakakku kuliah disana. Sempit banget dunia ini!" Tisya mengangkat kedua bahunya. "Tepat sekali!" Teriak Andin hingga mengagetkan Tisya dan ibu kantin. "Heh! Ada apa? Aku sampai kaget nih!" Tisya memukul pelan paha kiri Andin. "Begini, aku ada tugas meliput di kampus Prasasti dan salah satu narasumberku itu ketua BEM. Bisa kah aku meminta kontak pacarmu untuk mendapatkan informasi dan menyelesaikan tugas kerjaku?" Terang Andin sekaligus memohon. "Hmm, apa yang mau kamu liput?" Balas Andin. "Tentang pungutan liar saat ospek kuliah," ungkap Andin. "Dan kamu mau nuduh pacarku menjadi dalang dibalik pungutan liar itu?" Seketika Tisya cuek. "Ya tidak, aku hanya ingin mencari informasi saja. Semua akan terungkap ketika aku dapat data yang cukup. Kalau tidak ada bukti pacarmu yang melakukan, ya tidak masalah," jelas Andin. Tisya pun mangut-mangut dan wajahnya kembali menyeringai. "Hehe sebenarnya aku gak mau kasih kontak pacarku ke teman dekat sendiri. Nanti dianya naksir kamu lagi!" Andin tertawa pelan, "ya gak mungkin! Aku bukan penghancur hubungan orang, ya!" "Ya ya ya, nih! Semoga berhasil! Aku dukung kamu!" Tisya langsung mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan nomor kontak yang bernama, "Jungkook." d**a Andin tergelitik mengetahui Tisya menulis nama artis korea untuk kontak pacarnya. "Dasar bucinnya Jungkook!" Ucap Andin dalam hati. Andin tanpa basa-basi menyalin nomor kontak tersebut dan disimpan dengan nama, "Narasumber pertama." "Terima kasih, loh. Aku gak nyangka, kegiatan bolos mata pelajaran ini membawa keberuntungan buatku!" Tutur Andin yang senang mendapat informasi baru. "Iya, tapi syaratnya jangan ambil pacarku loh ya!" Perintah Tisya dengan menatap tajam mata Andin. Andin mengacungkan jempolnya. "Jangan khawatir, aku profesional kok!" *** Jam 14.00 WIB, Andin sudah tiba di depan kantor media Antasari. Siang ini Andin sudah janjian dengan Beni untuk mempersiapkan pertanyaan liputan esok hari. Namun, sudah tiga puluh menit Andin duduk di ruang tunggu, batang hidung Beni belum juga nampak. Andin kembali mengecek pesan dari Beni yang masuk ke ponselnya tadi malam. "Jam 14.00 WIB sudah harus di kantor ya, kalau aku belum datang, tunggu saja," bunyi pesannya begitu. Andin terus mengecek jam yang berputar di tangan kanannya. Sesekali menatap tempat parkir, berharap motor Jupiter biru milik Beni sudah sampai. Tidak lama, Kinan masuk ke kantor dan melihat Andin di ruang tunggu. "Ngapain disini?" Tanya Kinan cuek. "Nunggu Kak Beni, Mbak," jawab Andin ramah. "Ngapain nungguin dia? Bukannya kamu harus berada di ruang redaksi siang ini?" Balas Kinan. "Iya, Mbak. Tapi saya sudah janjian untuk mempersiapkan liputan besok dengan Kak Beni," jelas Andin. "Ya tunggu saja di ruang redaksi, gak usah disini. Kalau tidak mau, absen kamu hari ini saya coret!" Ancam Kinan, langsung mempercepat kakinya menuju ruang redaksi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN