Part 2

1001 Kata
Part 2 Orang bilang kebohongan tidak akan menyakiti kita, kecuali kebohongan itu di ucapkan oleh orang yang kita percaya . . . . . Montblanc yang melingkari pergelangan tangan Devian baru saja menunjukan pukul 7 pagi. Devian memasuki rumah mewahnya dengan penampilan yang berantakan namun sama sekali tidak membuat ketampanannya berkurang. Sesekali tersenyum mengingat kejadian malam tadi. Saat ia meniduri seorang perempuan yang 'sedikit' memberontak. Ada yang berbeda dari perempuan itu, selain karena perempuan itu masih perawan, ada hal lain yang tak bisa ia ungkapakan. Nyaman atau ... ketagihan? Devian mendengus geli memikirkan kata terakhir itu. jika memang begitu, mungkin ia harus menghubungi Hwan untuk dipertemukan dengan perempuan itu kembali. Tentunya dipertemukan dalam arti berbeda. "Dev ... dari mana saja kau?" suara lembut itu berasal dari ibu Devian. "Ibu." Devian menatap wajah wanita yang paling ia sayang itu. "Berhentilah Dev, jika Kakek dan Ayahmu tau kebiasaanmu ini, kau bisa saja di coret dari daftar pewaris keyshan group" "Dia terlalu sibuk untuk mengetahui tentangku." Elak Devian. Tatapan ibu Devian menyendu setelah menangkap nada sedih dan rindu dari ucapan Devian. "Tidak Dev, Ayahmu memiliki banyak suruhan untuk memantau keseharianmu. Kau harus berhenti berkencan dan meniduri gadis-gadis jalang di luar sana kalau kau tak mau semua kekayaan Kakekmu jatuh ke sepupumu yang lain." Devian menghela nafas lalu memilih untuk pergi ke kamarnya di lantai dua meninggalkan ibunya yang masih menatap sendu. Ia sebenarnya tak perduli jika semua kekayaan itu jatuh ke tangan sepupunya yang lain, hanya saja jika itu terjadi mungkin orang yang ia panggil Ayah tidak akan pernah mau menatapnya lagi. Dan Devian akan melakukan apapun untuk membuat laki-laki itu mau menatap bangga kearahnya. Tidak memiliki apapun yang dapat dibanggakan. . . . Dua bulan berlalu setelah kejadian buruk itu ... dan hal yang paling di takutkan Nara benar-benar terjadi. Ia HAMIL di usia yang masih sangat muda dan lebih parahnya tanpa ikatan pernikahan. Padahal pagi harinya setelah kejadian itu nara memaksakan diri ke apotek untuk membeli pil pencegah kehamilan. Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain. Kenapa tak di gugurkan? Nara belum siap dengan segala resiko yang akan terjadi padanya jika melakukan aborsi. Dan walaupun janin yang tumbuh di rahimnya berasal dari perbuatan rendah. Bagi Nara Janin ini berhak hidup meskipun ia tak tau akan bahagia atau tidak saat anak ini tau bahwa ia lahir dari rahim seorang perempuan seperti dirinya. Ia sudah pernah merasakan hidup tanpa orang tua, jadi ia berusaha untuk tidak membiarkan anaknya merasakan hal itu. "Hai ... Nara? Halloo?!" Nara tersentak saat menyadari ada seseorang yang melambaikan tangan di depan wajahnya. Baru ia ingat bahwa saat ini adalah jam pelajaran olahraga, ia memilih izin untuk tak mengikutinya karena keadaannya saat ini dan duduk di pinggir lapangan. "Ah, Min Hari. Ada apa?" Ternyata Min Hari, si gadis brown. Min Hari tersenyum mendengar nada bicara Nara yang terkesan kaku, padahal mereka sudah sering satu kelompok. "Kenapa akhir-akhir ini kau tidak pernah mengikuti pelajaran olahraga?" Tanya Min Hari setelah duduk di samping Nara. Nara dengan cepat menutupi keterkejutannya. "A-aku ... ingin belajar untuk olympiade sains nanti." Nara memang terpilih untuk mewakili sekolahnya dalam olympiade sains yang di adakan bulan depan. Dahi Min Hari mengerut."Tapi sepertinya dari tadi kau hanya melamun." Nara hanya tersenyum kikuk mengetahui Min Hari memperhatikannya dari tadi. "Kau sendiri kenapa tak ikut dengan yang lain?" Tanya Nara brusaha mengalihkan topik. Min Hari mengalihkan pandangannya pada teman-teman kelas mereka yang sedang berolahraga di tengah lapangan. "Aku minta izin pada guru kalau kakiku sakit." "Sakit? Benarkah? Di bagian mana?" Tanya Nara khawatir. Namun itu justru membuat Min Hari tertawa. "Kenapa tertawa?" Tanya Nara bingung. "Tentu saja aku tertawa, ini hanya pura-pura. Kemarin aku baru saja melakukan perawatan kulit dan aku tidak mau berada dibawah terik matahari terlalu lama. Kau ini, selain polos ternyata mudah sekali percaya pada orang lain." kemudian Nara ikut tertawa- tawa miris- menyadari kalau kalimat Min Hari sangat benar. Dan dia benci sifatnya itu. . . . Nara mencoba menghirup nafas dalam-dalam setelah hampir setengah jam menunduk di kloset toilet sekolah. Hari ini entah mengapa rasanya ia lebih mual dari biasanya. Nara lalu melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu sebelum pelajaran di mulai. "Sayang ... jangan nakal ya, Ibu ingin belajar sebentar." Nara mengusap pelan perut ratanya. Berharap mahluk hidup di perutnya dapat mengerti. . . . Jika biasanya sebelum guru datang kelas Nara sangat ribut dan berisik, berbeda dengan hari ini. Kelas itu sangat sunyi sampai gesekan sepatu Nara dengan lantai sangat terdengar. "Jadi, apa benar gadis ini memiliki dua nyawa?" Pertanyaan aneh itu terlontar dari orang yang menghalangi langkah Nara. Jong Hyun. Nara menatap tidak mengerti pada ketua kelasnya itu. "Aku kira ... kau gadis polos sungguhan, tapi ternyata-"  Nara menoleh pada teman lain yang menggantungkan kalimatnya itu. "Aku tidak mengerti maksud kalian." "Tak usah sok polos, murahan! Kami tau saat ini kau sedang mengandung hasil dari pekerjaanmu sebagai p*****r, kan?" Mata Nara membulat mendengar makian itu. Dari mana mereka tau kalau ia hamil? "Ternyata dugaanku selama ini benar. Dia bisa bersekolah di sini pasti karena uang dari melacurkan dirinya sangat banyak." Nara menatap teman-teman yang memakinya dengan mata berkaca-kaca. " Tidak. Itu tidak benar. Aku bukan pelacur." Bela Nara sedih. Mereka tidak disana saat itu terjadi. tapi, kenapa mereka bercerita seakan-akan tahu segalanya? Mereka tidak tau hidupnya, mereka juga tak pernah mengenal Nara yang sesungguhnya. Tapi, kenapa mereka begitu membenci Nara. bahkan sejak pertama kali ia masuk ke sekolah ini. Ia memang gadis miskin dan tak secantik teman-temannya tapi bukan berarti karena adanya perbedaan itu ia bisa dijadikan bahan lelucon dan dibully seenaknya, mereka harusnya menyadari bahwa semua orang memiliki hak untuk merasa aman. Bukan dilecehkan terus menerus seperti selama ini, hanya karena kekurangan yang ia miliki. Membuat mental dan perasaan Nara tertekan meskipun ia mencoba untuk sabar dan berusaha memaafkan mereka di dalam hati. Apa mereka -orang yang membully- hanya akan berhenti saat Nara mati? "Bukan p*****r, tapi wanita sewaan." Celetuk seseorang hingga membuat seisi kelas mentertawakan sindiran untuk Nara itu. Tak sengaja Nara menatap mata si gadis brown. Walau dari tadi ia tak mengeluarkan suara sama sekali namun Nara tau mulai saat ini gadis itu tak akan mau berteman dengannnya lagi, sampai kapanpun. Seorang pria paruh baya masuk kedalam kelas, "hey... ada apa ini? Kenapa kalian menatap Nara seperti itu? Lee Jong Hyun! Kau ini ketua kelas tapi tidak memberi contoh yang baik untuk teman-temanmu." "Maaf Pak. Kami baru mendapat berita mengejutkan. Kalau siswi pintar ini-" Nara memejamkan matanya erat. Ia~ Ketakutan . . . . . //Trust// vote for next part^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN