Part 3
Bagaimana ini bisa terjadi padaku?
Semua orang berteriak, aku berusaha bersuara tapi tidak ada yang mendengarku.
~Untitled_Simple Plan
.
.
.
.
.
Berita kehamilan Nara tersebar begitu cepat di kalangan sekolah. Nara sendiri hanya terduduk sedih dibelakang sekolah. Air matanya tak kunjung berhenti setelah ia keluar dari ruang kepala sekolah.
Nara masih beruntung karena tidak dikeluarkan, entah apa alasannya. Tapi mungkin setelah ini, semua orang akan makin membencinya.
Dari dulu, cita-citanya adalah menjadi seorang pengajar. sejak keluar dari panti asuhan Nara berusaha keras untuk bisa diterima disekolah elit tempatnya sekarang dengan mengandalkan jalur beasiswa. Tapi, saat ini semua yang ia impikan itu tidak jelas akhirnya. Ia mungkin tidak bisa melanjutkan sekolah jika lembaga pendidikan ini memutus beasiswa yang diberikan padanya.
"Apa kalian sudah tau kalau ada junior kita yang hamil?" Kim Ryeon bertanya pada empat temannya yang saat ini -hanya tiga saja- terlihat kaget dengan pertanyaan darinya.
"Hamil?" Ulang Lee tak yakin.
"Ia, aku juga baru mendengar beritanya dari pacarku. Dia bilang perempuan itu bekerja sebagai p*****r dan mungkin anak yang dikandungnya adalah anak dari pelanggannya yang kaya raya."
Lee , Yongi, dan Hyunsik terlihat antusias mendengarkan cerita Kim Ryeon. Berbeda dengan Devian yang cuek dan asyik dengan ponsel di tangannya.
"Wah ... aku jadi penasaran dengan perempuan itu," Ujar Yongi diikuti anggukan teman-temannya yang lain.
"Apa kita mengenal perempuan itu?" Tanya Hyunsik.
"Kurasa tidak, dari namanya ia pasti bukan murid terkenal di sekolah ini, tapi pacarku bilang kalau perempuan itu murid yang pintar."
Kim ryeon menoleh pada Devian, "Dev ... pacarku bilang, perempuan itu sekelas dengan tunanganmu."
Devian menoleh. Perempuan hamil itu sekelas dengan tunangannya, Lalu?
*****
Nara mencoba menahan tangis sambil memeluk perutnya mendengar semua cacian yang dilontarkan padanya.
Nara berusaha berjalan melewati lorong kelas tanpa memperdulikan cacian menyakitkan itu.
Jika biasanya ada Min Hari yang akan membelanya, saat ini dan sampai kapanpun gadis brown itu tak akan sudi untuk membela atau bahkan hanya sekedar menatap wajahnya.
Ditahannya perasaan sesak yang menusuk hati dengan sekuat tenaga. Saat ini ia merasa sangat mual dan kata-kata menyakitkan yang di dengarnya tadi memperparah keadaannya.
"Hiks ... hiks ... kenapa mereka mengataiku seperti itu? Padahal mereka tidak tau yang sebenarnya. Ya tuhan ... aku harus bagaimana?" Nara terus berjalan hingga tidak sadar bahwa ia berjalan ke arah yang salah. tepat di ujung lorong sana, ada beberapa siswa laki-laki yang juga berjalan ke arahnya.
Nara terpaku. Wajah itu ... adalah wajah orang yang membuat hidupnya yang hancur ini semakin hancur hingga tak bersisa lagi. Laki-laki yang membuat sesuatu hidup didalam rahimnya tanpa diketahui oleh orang itu sendiri. Nara dengan cepat berbalik arah dan berjalan dengan terburu-buru. Ia tak ingin bertemu dan melihat wajah itu lagi.
"Ada apa dengan gadis itu?" Tanya Hyunsik bingung.
"Mungkin dia salah arah." Tebak Lee.
Devian diam-diam memperhatikan perempuan itu.
Kenapa rambut dan postur tubuhnya mirip sekali dengan perempuan itu?
*****
Hari ini ... entah untuk keberapa kalinya nara menangis. Ia tidak bisa pura-pura tuli dengan apa yang di ucapkan oleh siswa disekolah tentang dirinya. Meskipun di depan mereka ia mencoba tak perduli, namun tetap saja sesungguhnya ia tak kuat. Nara menangkup wajahnya sambil terus terisak tak takut ada yang mendengar karena saat ini ia berada dibelakang sekolah. Nara masih terisak saat tiba-tiba perutnya berdenyut sakit dan yang ia tau semuanya gelap.
.
.
.
Sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh seorang Devian Arthur kalau wanita yang menghantui pikirannya akhir-akhir ini, berada sangat dekat dengannya. Dan yang paling membuat lelaki blasteran Amerika-Korea itu terkejut adalah status wanita itu juga seperti dirinya, pelajar!
Berbeda dengan pengakuan Hwan saat menjual wanita ini padanya. Saat itu Hwan hanya bilang kalau ia memiliki 'pekerja' baru dan belum disentuh siapapun.
Bagaimana mungkin, wanita yang membuat sekolah heboh dengan berita kehamilannya adalah wanita yang sedang Devian cari? Dan sialnya wanita itu benar-benar dalam keadaan yang tidak bisa Devian terima. Hamil!
Devian masih memperhatikan Nara yang duduk ketakutan di atas ranjang ruang kesehatan sekolah. Sebelumnya, Nara pingsan tepat saat Devian bermaksud mengikuti Nara ke belakang sekolah.
"Bagaimana mungkin kau satu sekolah denganku?"
Nara memilih diam dari pada menjawab pertanyaan Devian, rasanya ia masih shock karena tiba-tiba saat ia sadar wajah yang ia lihat milik Devian. Orang yang tak ingin ia temui.
Rahang Devian mengeras mendapati Nara hanya tertunduk dan mulai terisak.
"Bukankah kau bekerja pada Hwan?" Tanya Devian yang lebih terdengar seperti bentakan.
"be-bekerja?" lirih Nara mengeluarkan suaranya setelah itu ia menggeleng, "Hwan, dia ... kakak kandungku."
Devian menatap tak percaya pada Nara. Apa dia bilang? Kakak kandung? Jadi sudah berapa kali ia ditipu Hwan? Lalu jika wanita ini tak bekerja pada Hwan berarti gadis ini bukan p*****r?
"Lalu, dengan siapa terakhir kali kau tidur?" Tanya Devian langsung. Ia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Nara mendongak dan ketika itu juga mata mereka bertemu. Ia mengerti betul "tidur" yang Devian maksud. Devian dapat melihat tatapan sedih dan tajam dalam waktu bersamaan. Terlihat jelas wajah mungil wanita yang pernah ada dalam malam indahnya beberapa bulan lalu.
Air mata Nara kembali jatuh walau kedua matanya masih menatap tajam Devian.
"Aku memang pernah tidur dengan seorang laki-laki kaya raya, angkuh dan berkuasa di sekolah ini. Tapi aku bukanlah seorang p*****r seperti yang ada difikiran mu." Ucap Nara tajam.
Devian mendecih mendengar sindiran itu, "jika kau bukan p*****r mengapa malam itu kau tak menolak?!"
"Aku sudah memberontak bahkan memohon padamu untuk tak melakukannya, tapi kau tidak perduli!" Nara memandang tajam Devian dengan air mata yang terus mengalir. Ia benci mengingat tindakan Devian padanya.
Devian memejamkan mata. Ingatannya kembali pada saat malam itu. Ia tau Nara memohon padanya untuk tak di sentuh, tapi ia seakan terhipnotis dengan keindahan Nara yang membuatnya kalap dan menidurinya tanpa pengaman. Pantas saja malam itu Nara sempat beberapa kali menyebut namanya. Rupanya, karna gadis itu mengenal dirinya.
Berbanding terbalik dengan dirinya yang sama sekali tak mengenal Nara walau mereka satu sekolah. Namanya pun baru ia tau dari nametag yang tertempel di seragam Nara.
"Perempuan hamil itu satu kelas dengan tunanganmu"
Tiba-tiba Devian mengingat perkataan Ryeon, itu berarti perempuan ini satu kelas bersama Min Hari, tunangan nya. Tidak! Min Hari tidak boleh tau hal ini, bukan karena ia sangat mencintai Min Hari, tapi ia tak mau Min Hari membatalkan perjodohan mereka dan membuat ayah dan kakek Devian murka.
"Kau harus menggugurkannya!"
Nara menatap Devian dalam diam. Kenapa kata kata Devian tadi terdengar sangat menyakitkan?
"Ke-kenapa? A-aku tidak akan memintamu bertanggung jawab."
"Apa kau lupa siapa keluargaku nona? Aku tidak sudi merelakan sebagian darahku mengalir dalam tubuh janin itu. Kau tidak perlu takut, aku akan memberimu uang yang banyak jika kau bersedia menggugurkanya. Tapi jika tidak, jangan harap kau bisa hidup dengan tenang dan bersekolah di sini lagi!"
Air mata Nara jatuh mendengar kata-kata itu. Ia tau dengan sangat siapa keluarga seorang Devian Arthur, selain penyumbang dana terbesar disekolah ini. Keluarganya adalah pemilik keyshan group, sebuah perusahaan e-commerce terbesar di Korea.
Tapi, sehina itukah dirinya sehingga Devian tak sudi mengakui bayi hasil perbuatannya sendiri. Bukankah seharusnya Nara juga marah karena Devian telah mengambil harta paling berharganya sebagai perempuan, juga menanamkan benihnya di rahim Nara. Menjadikan Nara sebagai satu-satunya tersangka dalam masalah ini.
"Aku harap kau memilih pilihan yang tepat!"
Lalu Devian keluar dari ruangan itu meninggalkan Nara yang terisak parah. Nara bahkan sampai terbatuk karena nafasnya yang tersengal. Apa yang harus ia lakukan?
.
.
.
.
//Trust//