Bel sudah berbunyi tanda pulang sekolah, semua berbondong-bondong untuk segera pulang atau nongkrong karena waktu pulang jika sedang berlangsung ulangan akan dipercepat.
Tapi tujuan Arsya kini berbeda, dia sudah berada di dalam taxi, ketika keluar lebih dulu dari dalam kelas, ia langsung mencari taxi dan mengamati motor yang sedang ia cari.
Sampai akhirnya ia menangkap motor vespa keluar dari pekarangan sekolah. Motor tersebut melaju ke luar gerbang sekolah. Arsya berteriak histeris Sambil memukul kursi supir. "Pak... itu orangnya ayo jalan!" serunya heboh.
Tapi mobil yang ia tumpangi tak kunjung jalan, ia baru sadar jika supir taxi sedang asik makan gorengan di sebrang jalan karena sudah lama menunggu motor itu untuk keluar. Ia membuka kaca mobil dan melongokkan kepalanya keluar tapi ia tak punya waktu untuk memanggil supir dan akhirnya dengan nekat ia membuka pintu mobilnya dan berjalan cepat masuk ke dalam dan duduk di kursi pengemudi.
Nasib baik sekarang sedang mengarah ke arahnya kunci sudah di depan mata, dan untungnya ia lumayan bisa mengendarai mobil walaupun masih ngadet-ngadet. Dengan segera ia melajukan mobil tersebut hingga supir yang baru berbalik setelah bayar tersedak gorengan yang masih ia kunyah.
"Woyy mobil gue!!" Teriaknya sambil mengejar dan tak lupa jika banyak yang menyaksikan kejadian barusan.
Arsya gelisah karena motornya melaju cepat, sedangkan ia masih takut jika bawa mobil ngebut-ngebut. Dan ia mengerem mendadak ketika motor vespa itu berhenti di depan Cafe.
Lalu Arsya memerhatikan gerak gerik cowok tersebut. Dengan segera ia mengikuti cowok tersebut hingga masuk ke dalam cafe.
Arsya mengendap-ngendap dengan berjalan yang sedikit membungkuk juga bersembunyi dibalik-balik meja agar tidak ketahuan. Sedangkan dirinya sudah diketahui oleh banyak pengunjung yang ada di sana bahkan pelayan di sana yang sedang lewat dan melayani.
Tapi seolah tidak peduli, matanya hanya fokus melihat cowok itu yang menghampiri seorang manager cafe yang sedang berada di kasir.
Manager lelaki itu menoleh dan tersenyum ke arahnya, lantas ia langsung menepuk bahu dan memeluk lelaki tersebut.
"Hai Askhal apa kabar lo, bro?" Askhal tersenyum dan melepaskan pelukan mereka.
"Baik gue sehat. Gimana kerjaan lo, Bram?" Manager yang bernama Bram yang sekaligus adalah temannya tersenyum senang.
"Baik lah, oiya lo kesini jangan bilang kalo lo udah setuju untuk bergabung lagi di cafe ini?"
Askhal tersenyum lebar dan senyuman itu sudah dianggap sebagai jawabannya.
Dan baru saja Bram ingin bicara, seseorang pelayan yang lainnya berteriak hingga semuanya langsung menoleh termasuk mereka berdua.
"Heh siapa kamu? Kamu mau maling yah?!" Sontak Arsya langsung berdiri karena tertangkap basah. Dan akhirnya semuanya ikut berdiri di dalam suasana yang tidak Arsya sukai.
Mata Askhal melotot ia pun sama halnya terkejut setengah mati. Arsya menoleh dan berdiri berhadapan dengan Askhal yang hanya berjarak 3 meter saja.
"Lo?!"
Dengan perasaan kesal, Askhal segera berjalan menghampiri Arsya walau tadi sang maneger tersebut ingin memanggil Askhal karena heran dengan sikapnya yang mendadak berubah aneh.
"Lo ngapain dateng kesini, sih?" tanyanya dengan nada pelan tapi raut wajahnya begitu terlihat ia sedang menahan amarah.
"Aku cuma ngikutin kakak aja," jawabnya terlalu jujur. Askhal mengusap wajahnya kasar. Lalu ia segera menarik kuat lengan Arsya hingga sang empunya meringis kesakitan. Tak peduli dengan semua pandangan di dalam cafe atau orang yang berlalu lalang dan juga berniat masuk ke dalam cafe.
Askhal tetap menarik tangan Arsya dan berdiri mendekat ke arah pohon dan menatap tajam gadis yang tubuhnya hanya sebatas dadanya saja.
"Coba lo ulang lagi? Lo ngomong apa tadi?" tanya Ashal minta diulang.
Arsya menundukan wajahnya. Takut karena tatapan Askhal yang begitu tajam dan menusuk retinanya. Ia benar-benar takut sungguh takut jika ia menatap mata Askhal nanti rasa sukanya bisa bertambah.
"Sekarang tatap gue," pinta Askhal tegas. Arsya menggeleng.
"Muka gue ada di depan bukan di bawah," katanya sinis. "Tatap muka gue sekarang!" tandasnya dengan menaikkan nadanya.
Arsya mendongak, sesaat pandangan mereka bertemu tapi Askhal kembali lagi fokus dengan pikirannya.
"Kenapa lo ngikutin gue?"
Ya alasannya karena Arsya lagi jadi secret admirenya Askhal tapi nggak mungkin, kan Arsya jawab sejujurnya sama Askhal.
"Anu..."
"Jawab!"
"Itu---"
"Bisa ngomong gak sih jawab yang bener!"
Arsya gugup. "Aku---itu, aduh..aku..."
"ARSYA!"
"IYA KAK AKU NGIKUTIN KAKAK KARENA AKU SUKA SAMA KAKAK!" jawabnya lugas. Arsya membulatkan matanya, sadar kalau ia salah bicara dan kembali lagi. Ia meralat kalimatnya.
"Ah, maksudnya itu aku ... penasaran sama apa yang kakak lakuin jadi aku ngikutin kakak aja." Dan kayaknya Arsya salah bicara lagi. Ia masih mengatakan hal yang menyangkut kejujuran. Beginilah dirinya yang sulit sekali untuk berbohong.
"Lo suka sama gue?" Askhal bertanya sembari menaikkan satu alisnya.
Arsya yang tidak bisa membohongi diri sendiri, mengangguk.
"Karena itu aku ngikutin kakak, aku penasaran sama kakak karena itu aku mau tau tentang kakak." Jawabnya sekali lagi bicara jujur.
Jujur atau kepolosan atau terlalu bodoh? Entahlah.
Askhal melipat kedua tangannya di depan dadanya ia memandangi serius penampilan Arsya dari bawah hingga ke atas. Membuat Arsya merasa tak nyaman diperhatikan. Jari-jarinya juga tidak tinggal diam karena ia selalu meremas ujung roknya.
"Lo suka sama gue, ya?" nadanya seperti dibuat untuk menantang Arsya.
Arsya mengangguk.
"Lo mau tau tentang gue?"
Mau sejauh apa dia ingin mengenal dirinya.
Dua anggukan Arsya lakukan.
"Kalo gitu lo tinggal sama gue."
"Hah?"
Askhal mendekatkan wajahnya ke arah Arsya, jaraknya dekat hembusan napas Askhal pun bisa dirasakan oleh Arsya. Membuat jantung Arsya berdetak tak karuan dengan kaki yang bergemetar dan siap kapan saja ia akan jatuh nantinya jika ia tak bisa bertahan.
"Lo gak denger?"
Arsya menggeleng, "aku gak ngerti," balasnya.
Askhal menyeringai, sepertinya ia tau hal apa yang akan ia lakukan kepada gadis yang sudah berani menganggu harinya.
"Lo harus tinggal dirumah gue. SE-KA-RANG!" titahnya.
* * * *
"Kak, kenapa aku harus tinggal dirumah kaka?" Sudah berkali-kali pertanyaan itu Askhal dengar, sudah berkali-kali juga Arsya mengembuskan napasnya, gusar. Karena tak mendapatkan jawabannya sama sekali.
Motor milik Askhal berhenti di depan pekarang rumah miliknya. Sangat besar dan terlalu besar jika mungkin Askhal hanya tinggal sendirian disini, pikir Arsya.
"Turun," titahnya, Arsya tersentak tapi ia tetap menuruti perintahnya dan turun. Askhal berjalan lebih dulu dari Arsya, dengan masih penasaran dengan pertanyaan yang sejak tadi belum terjawab. Ia berlari kecil di belakang Askhal.
Setelah sampai di depan pintu, ketika Askhal sudah memegang handle pintunya dengan cepat Arsya menahannya. Membuat Askhal menoleh dan menggeram.
Arsya memandanginya dengan bertanya-tanya, "kak kenapa aku har---"
"Banyak tanya yah lo," cetusnya. "Kesalahan lo karena lo udah buat malu-maluin gue di depan semua orang tadi."
"Tapi 'kan aku cuma---"
"Dan karena kesalahan lo juga ..." Askhal menunjuk dengan telunjuknya yang tajam. "... Lo harus tinggal di rumah gue sebagai pembantu."
Mata Arsya membulat, "pembantu!?" Ulangnya lagi tak bisa dipungkiri kalau dia syok berat!
"Sampai hari dimana ulangan terakhir selesai," katanya. "Dan malam ini lo harus ikut gue." Setelah itu Askhal melangkah masuk, tak pedulikan Arsya yang berdiam diri mematung.
Entah apa yang harus Arsya rasakan, senang kah atau takut kah? Senang karena mungkin dengan dia tinggal di sini ia bisa makin dekat dengan Askhal. Tak masalah dengan rumahnya karena di sana yang menjaga adalah pembantu lamanya yang sudah lama mengabdi di keluarganya selama 16 tahun lamanya, mulai dari dia masih bayi. Sementara orang tuanya juga tinggal di bandung karena memang tinggal di sana dan Arsya hanya ingin tinggal di rumah Omanya. Terlalu banyak aturan tinggal di rumah orang tuanya sementara bersama Omanya, ya Arsya lebih suka dimanja.
Sementara alasan dari Askhal menjadikan Arsya sebagai pembantu ya jelas hanya dia tidak punya waktu untuk mengurusi rumah karena pembantu pulang kampung. Lebih baik Askhal memanfaatkan apa yang memang bisa dimanfaatkan olehnya. Lagipula ini hanya dalam waktu seminggu sampai ulangannya selesai.
Tapi perasaan takut untuk Arsya, mendadak membuatnya kepikiran, bertanya-tanya apakah Askhal tinggal sendirian? Kalau iya, Arsya tak habis pikir tiap harinya ia akan tinggal bersama dengan Askhal. Hanya berdua catat itu, HA-NYA BER-DU-A.
Terlalu lama bergelut dengan pikirannya hingga ia sampai tak sadar jika Askhal keluar lagi dan mendapati gadis yang dia bawa masih berdiam diri di depan rumahnya.
"Lo mau sampe kapan ngelamun terus?!" Arsya tersentak halus dari lamunannya, "masuk!" Dan sekali perintah Arsya mengikuti jalan Askhal, mengekorinya dari belakang.
Mata Arsya menjelajah ke setiap ruangan. Rumahnya sama besarnya dengan rumah miliknya, tapi yang ini jauh lebih besar kelihatannya.
Tapi ketika ia berjalan, langkahnya berhenti tepat di belakang Askhal. Askhal berbalik, "lo tunggu disini," katanya lalu ia melengos pergi begitu saja. Arsya memandang punggung itu dengan tatapan heran.
Ia melirik ke sampingnya terdapat sofa di sana, tanpa menunggu lama ia mendudukan pantatnya ke atas sofa. Selang dua detik suara melengking dari anak tangga menggema di ruangan tamu itu.
"HAI!" Suara yang berasal dari seorang berjenis perempuan itu begitu cempreng sampai telinganya berdenyut. Gadis itu menyeret koper masuk ke dalam rumah.
Arsya mengernyit menciptakan garis lurus di dahinya ketika perempuan itu menghampirinya. Pikirnya, Askhal ternyata punya saudara? Jadi, dirinya tidak tinggal berdua?
"Kenalin nama gue, Anya. Kakaknya Askhal." Cewek itu memperkenalkan diri, menjulurkan tangannya yang disambut oleh Arsya.
"Kawan Askhal yah?" tanyanya. Arsya mengangguk dan tiba-tiba suara derap langkah masuk kependengaran keduanya. Mereka sama-sama menoleh melihat Askhal yang sudah berpakaian rapi.
"Oh, Lo udah sampe. Bagus, deh," seru Askhal karena memang kedatangan Anya dari Malang adalah permintaan dari orang tuanya untuk segera pulang demi menemani dirinya di sini.
"Rumah lo di mana?"
"Hah?"
Askhal berdecak, "rumah lo dimana?" Arsya menjawab. "Di jalan melati... blok A kak." Gugup. Askhal mengangguk dan mengetikan sebuah pesan diponselnya. Lalu ia mendongak menatap Anya.
"Urus tuh pembantu baru kita."
Hah? Pembantu?
Selepas mengatakan kata itu, Askhal melengos pergi, menciptakan keheranan dibenak kedua perempuan itu. Selanjutnya, Anya mendengus kesal.
"Orang cantik gini kok dibilang pembantu, sinting apa ya?"
[]