Bagian Kedua

1926 Kata
Arsya keluar dari ruangan guru di mana ia habis mengerjakan ulangan yang belum ia selesaikan tadi karena harus menyelesaikan hukumannya. Entahlah, Arsya tidak maksimal dalam mengerjakannya pun karena waktu yang diberikan terbatas. Ia langsung ke kantin untuk mencari Thea. Thea melambaikan tangannya ketika melihat Arsya muncul dari pintu kantin. Arsya datang sambil mengomel gak jelas. "Ihhhh! Sumpah gue malu bangettt, Thea. Bayangin gua dihukum di depan doi gue," racaunya menjadi-jadi. Thea menunggu di kantin itu untuk menemani Arsya makan karena itu permintaan dari sahabatnya. Tapi menurutnya ia bukan menemani Arsya makan, tapi menemani dia untuk mendengarkan semua keluh kesahnya hari ini. Sudah lima menit lamanya Arsya menggerutu tidak jelas dan Thea hanya bisa menganga dan hanya bengong, tak tau harus meresponnya seperti apa. "Thea gue mesti gimana? Jawab dong. Jangan diem aja, gue takut nanti kak Askhal bakal ilfeel sama gue." Arsya begitu panik, sejak Askhal meninggalkannya begitu saja tadi, pikiran jadi negatif melulu. Hal yang ditanyakan itulah yang selalu menganggu pikirannya. Sedangkan Thea masih setia menggigiti ujung sedotannya dengan bola mata melirik ke kanan ke kiri baru ke Arsya yang ada di hadapannya dengan kedua tangan sudah menutupi wajahnya. Ia pun jadi bingung sendiri. "Gimana apanya?" tanyanya. Arsya mengacak rambutnya, frustasi. "Ih, Thea lo dengerin gak, sih, cerita gue tadi." gerutunya kesal. "Ish, apa banget, sih, lo Sya, lo itu jangan mikir negatif dulu kenapa, lo juga belum tau dia, 'kan?" Thea menggeser gelas minumnya kemudian melipat kedua tangannya di atas meja dan kembali ia berkata, "Lo aja belum kenal sama dia, gimana bisa lo langsung nyimpulin begitu aja." "I-iya bisa aja. Gue secara terang-terangan ngajak dia kenalan, terus dia diceng-cengin gara-gara gue. Udahnya gue dihukum di depan dia. Bisa, kan, dia ilfeel sama gue?" serunya heboh. Kemudian ia menopang dagunya dengan kedua tangan yang ia tumpukan di atas meja. "Iya... bisa aja, sih, abis Lo nya lebay banget jadi cewek." Arsya menghembuskan napas berat. Ia jadi sebal sendiri mendengar pendapat Thea walau ia akui, emang Arsya itu orangnya kelewat lebay jadi manusia. "Tapi lagian menurut gue juga kak Askhal itu tipe-tipe cowok dingin, cuek, pendiem yah pokoknya anak-anak yang gak suka banyak omong gitu lah," tuturnya dalam menilai kepribadian Askhal. "Iya, sih, keliat dari muka juga. Gue jadi nambah penasaran sama dia." "Penasaran?" tanya Thea. "Iya, penasaran ngomong-ngomong kak Askhal yang tipe cowok dingin kayak gitu udah punya pacar belum, yah?" "Ya mana gue tau," balasnya agak ogah-ogahan. "Coba lo tanya sendiri." Sarannya membuat Arsya memutar bola matanya. Gila! Ya kali dia yang nggak kenal gitu sama kak Askhal tiba-tiba nanya; kak udah punya pacar belum? Atau kak lo jomblo gak, jadian yuk. Kan nggak lucu. Thea ini sahabatnya suka kadang-kadang sarannya nggak masuk di akal manusia. "Eh, tapi kak Askhal menurut gue biasa aja, deh, Sya. Emang ganteng, sih, cuma ya biasa aja, sih, menurut gue." "Selera orang itu beda-beda," seloroh Arsya mendengus. Tiba-tiba saja satu ide terlintas di otaknya karena memikirkan perkataan dan hal mustahil yang terbilang tidak akan bisa ia lakukan. Wajahnya jadi semringah senang, kepalanya mengangkat dan menatap lurus ke arah Thea yang sedang kebingungan. Matanya berbinar, dan sudut bibirnya terangkat. Ia menjentikkan jarinya ke atas udara. "Thea Gue tau," sahutnya heboh lagi. "Apa?" Thea bertanya kesal. Suara Arsya itu kenapa susah sekali dikontrolnya. "Kayaknya gue harus nyusun rencana." "Rencana?" "Kayaknya gue harus jadi secret admirer-nya kak Askhal dulu, nih." Thea memutar bola matanya, jengah. Dan ingin sekali Thea mengatakan kalimat ini. Sekarang juga. Yain nggak nih? Dan sesuai dengan rencana yang Arsya pikirkan sebelumnya. Ia mencari tahu tentang Askhal. Lebih soal makanan favoritnya. Namanya juga pengagum rahasia. Iya, pengagum rahasia harus bisa juga menjadi stalker. Belajar buat men-stalk orang yang disuka. Ini yang baru dinamakan usaha. Gak cuma diam doang. "Lo yakin Sya sama cara lo ini?" tanya Thea sedikit ragu, Arsya kini sedang mengaduk mie tek-tek yang baru ia beli dari warung emak erot. Iya, itu panggilan dari warung langganan Arsya yang sering ia datangi. Satu kali lagi ia memasukkan sambal ijo yang .... uh pasti sangat pedas. Ia kembali mengaduknya dan siap ia pun menepuk telapak tangannya. Ia lalu mengangkat piringnya dengan senyuman terlebarnya dan saat ingin melangkah, langkahnya dihentikan oleh Thea. Thea masih menatap ragu dan raut wajahnya penuh kecemasan. Ia tak yakin jika rencana Arsya akan berhasil. Dan sebaliknya ia takut bahwa nani Arsya hanya akan mendapatkan rasa malu yang tak tertahankan. "Sya lo emang yakin mau ngasih beginian? Emang bakal diterima, gitu?" Arsya memutar bola matanya, jengah. Berulang kali ia beristigfar. Mencoba sabar dan sekarang ia mulai membenci Thea dan ingin sekali membinasakan cewek itu dari hadapannya. "Yakin seyakin yakinnya! Puas lo!?" tukasnya begitu tegas dngan intonasi agak berteriak. Arsya memang sudah yakin dengan apa yang akan ia lakukan sekarang, ia diam-diam mencari tau makanan apa yang Askhal sukai, dan pas sekali saat ia sedang bicara tentang makanan kesukaan Askhal dengan Thea di depan warung emak erot, tak sengaja emak erot yang sudah terlihat akrab dengan mereka berdua mengatakan sesuatu yang membuat senyuman lebar bersinar diwajah Arsya. Nak Askhal itu suka banget sama mie tek-tek emak, katanya sih mie buatan emak makanan favoritnya. Apalagi kalau mienya pedes uhh... bisa nambah 5 kali nak Askhal itu. Soalnya gitu-gitu nak Askhal demen makan katanya. Dan dari setelah kata itu selesai Arsya langsung memesan mie tek-tek buatan emak erot. Kebetulan juga Arsya memang menyukai dan mengakui kalau mie tek-tek buatan emak erot itu memang warbyasah rasanya. Salah satu makanan yang Arsya sukai dan disukai oleh Askhal juga, membuat Arsya berpikiran... Apa ini yang namanya jodoh? "Tapi ... kalo ditolak gimana?" Thea nampak ragu. "Tau sendiri sifat anak itu yang ...," "Sshhhtttt diem! Udah lo tenang aja yah, gue pasti bakalan bisa ngedeketin kak Askhal. Dan lo jangan panggil gue si Arsya namanya kalo kak Askhal aja gak bisa gue taklukin hatinya," katanya sangat percaya diri. Lalu ia segera lenyap dari hadapan Thea. Thea membalikkan badannya, seraya menghembuskan napasnya dengan kasar. "Good luck, deh buat lo Sya." Doanya supaya dikabulin. * * * * Waktu jam istirahat masih ada 10 menit lagi, dan dalam waktu itu Arsya mencari-cari keberadaan sang pujangga hatinya. Dengan langkah cepat, matanya yang melirik kesana kemari sambil celingak celingukan, dan sesekali ia menghindari para murid-murid yang melintas di sekilingnya. Arsya berhati-hati agar makanan yang dia bawa di atas piring itu tidak pecah, meskipun ia rela dengan tangannya yang harus menahan panasnya dari piring putih dengan corak bunga merah yang berisikan mie tek-tek emak erot. Lalu di tengah perjalanannya di koridor, ia memberanikan diri untuk bertanya kepada dua orang gadis yang rambutnya di gerai ke belakang dengan poni depannya yang tertata rapi dan satu gadis lagi yang memakai kerudung putih. Keduanya sedang asyik berbincang sampai langkah mereka berhenti ketika Arsya berdiri di depan menahan mereka. "Liat kak Askhal enggak?" Arsya bertanya langsung to the point, ia berpikir mereka berdua pasti mengenal Askhal karena mereka sepertinya seangkatan dengan Askhal. Iya benar nggaknya berani-beraniin ajalah buat bertanya. Arsya kan gak malu bertanya ketimbang nanti tersesat di jalan. Mereka berdua saling berpandangan, heran kenapa Arsya menanyakan keberadaan Askhal? "Kok diem, sih? Liat kak Askhal enggak?" tanyanya lagi sedikit kesal. Mereka berdua pun tersadar, gadis yang berponi mengangguk cepat dan langsung memiringkan badannya dan mengangkat tangan kanannya menunjuk ke arah belakang tanpa membuang pandangan lurusnya ke makhluk yang ada dihadapannya ini. "Di sana ... di taman lagi belajar kayaknya," jawab salah satu dari mereka. Mendengar jawabannya Arsya melangkah cepat ke arah depan berjalan ke di tengah-tengah mereka yang refleks mereka berdua menggeser tubuhnya. Arsya meneliti pandangannya, ia menyipitkan matanya dan mendapati seseorang yang sudah dari tadi ia cari sedang duduk di atas batu dengan kaki satunya sedikit ia angkat dan menapakan kakinya ke bawah sisi pohon yang ada di hadapannya. Sikutnya ia tumpu di lututnya dengan tangannya memegang dagunya hingga bibirnya sedikit maju dan matanya lurus menatap serius jajaran huruf-huruf kecil yang terlukis di kertas-kertas yang berkumpul menjadi satu paragraf di dalam buku tebal yang akan menjadi alatnya untuk membantu menjawab pertanyaan saat ulangan nanti. Melihat wajahnya dari kejauhan dan tempat teduh itu yang ditempatinya membuat darah Arsya berdesir dengan mata yang sama sekali tidak berkedip, memandangi pahatan Tuhan di setiap lekukan wajah Askhal. Arsya menghembuskan napasnya dan tersenyum lebar, meyakinkan dirinya ketika melangkah. Langkah yang sudah ia yakini akan membawanya semakin dekat dengan lelaki yang sudah berhasil menyentuh hatinya walaupun rintangan dan tantangan akan menghampirinya, tapi demi apapun Arsya akan selalu melewatinya dengan harapan ia akan berhasil masuk ke dalam kehidupannya Askhal. Ah!!! Tidak-tidak. Arsya nggak mau mikir yang terlalu jauh. Yang sederhana saja, kayak... bisa saling tuker nomor hp aja udah syukur banget. Ia berjalan mendekat dan Askhal yang sedang serius membaca merasa sedang diperhatikan dan merasakan adanya kehadiran seseorang pun kemudian mengangkat pandangannya dan ia baru mengetahui jika Arsya sekarang sudah berhenti di hadapannya. Askhal sama sekali tidak menggubris keberadaan dari gadis pengacau harinya ini, ia menurunkan kembali pandangannya dan menatap lurus ke arah buku yang sedang ia baca. Sesekali ia mendesah berat ketika Arsya memanggilnya. "Kak Askhal." Askhal masih diam, ia kembali mengubah posisi duduknya menghadap ke arah lain dengan punggungnya yang agak membungkuk dengan kedua kaki yang ia pijak di atas tanah dan sikut yang bertumpu di atas sikut sambil memegang dagunya sama seperti posisi tadi. Arsya menghembuskan napasnya, jantungnya berdetak kuat benar-benar membuatnya jadi tak karuan sekarang terlebih ia sekarang sedang menahan panasnya dari piring yang ia sentuh ini. Dengan cepat ia berdiri di hadapan Askhal dan duduk di atas kakinya yang ia lipat dan menempel di atas tanah, tak peduli jika kakinya nanti akan kotor. "Kak Askhal." Askhal diam, ia membalikkan kembali lembaran berikutnya, seolah menganggap bahwa makhluk yang ada di hadapannya ini tidak ada. "Kak Askhal!" panggil Arsya untuk kesekian kali dengan nada sedikit meninggi. Hampir berteriak. "Apa sih!" balas Askhal galak. Ia mulai risih dengan kejengilan Arsya ini. "Kak aku datang ke sini mau bawain makanan kesukaan kakak," ujarnya sambil menyodorkan piring yang ia bawa ke hadapan Askhal. Ia tersenyum lebar dan semanis mungkin siapa tahu dengan begini Askhal mau menerimanya. Masih dengan fungsinya, indra penciuman Askhal mencium bau aroma dari mie tek-tek tersebut yang ia sudah yakin jika itu dibeli di tempat emak erot. Tiba-tiba saja perutnya terasa lapar dan tapi tidak mungkin kan jika Askhal harus menerima makanan tersebut? "Di makan yah kak," tawarnya sedikit menurunkan tangannya karena sudah pegal rasanya. Mata Arsya makin berbinar ketika Askhal mendekati wajahnya dan mengendus-mengendus aroma yang menyeruak di hidungnya. Tapi senyuman Arsya dan pandangannya berubah menjadi kebingungan ketika Askhal malah mendekat ke arahnya dia bukan mengendus makanannya melainkan tubuh Arsya. "Kak..." refleks Arsya menjauhkan tubuhnya, Askhal berhenti di jarak yang sangat dekat dengan Arsya membuat jantungnya makin berdebar. "Lo kok bau?" Mata Arsya membulat. Ia terkejut. "Lo enggak mandi yah tadi pagi?" tuduhnya. Arsya masih memandangi Askhal dengan mulut menganga lebar. Bola matanya bergerak menatap punggung Askhal yang setelah mengatakan hal itu mulai menjauh dan meninggalkannya. Arsya bangun dan menghentakan kakinya ketika Askhal berjalan dengan sangat santai tanpa menoleh ke arahnya meskipun ia memanggilnya. "Kak Askhal ihhhh!!!!!!" gerutu Arsya kembali melihat piring yang masih ia pegang, tanpa ia sadari jika Askhal menoleh sambil tersenyum menang karena berhasil sudah membuat Arsya malu. Tanpa pikir panjang lagi Arsya langsung saja menyantap mienya dengan wajah yang ditekuk. Tapi setelah itu matanya mengeluarkan air mata dan menumpahkan kembali makanannya ke atas piring. Tangannya yang bebas mengibas ke arah mulutnya, lidahnya terjulur ke luar, ia merasa panas di sekitarnya dan rasa pedas mulai menyiksa tenggorokannya. Ia lupa sesuatu jika makanannya ia kasih sambal banyak, ia juga tidak menyukai makanan pedas dan lebih parahnya ia melupakan sesuatu yang akan menghilangkan rasa pedas ini. "Gue butuh minum!!!!!" []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN