Bagian Pertama

3432 Kata
Orang itu, kan, ada yang terlahir dengan berbagai karakter dan prinsip yang berbeda-beda dalam hidupnya. Hal kecil aja deh yang diomongin. Kayak ... Em ... Semacam tentang waktu. Ada orang yang memang benar-benar sangat menghargai waktunya. Artinya dia kayak disiplin waktu banget. Gak suka yang namanya ngaret. Tapi ada lagi orang yang sukanya nunda-nunda waktu. Kayak udah jadi kebiasaan aja dan paling enjoy dalam hidup deh kalo udah urusan ngaret itu. Gak suka diburu-buruin. Dateng telat juga ya gak masalah beda sama yang suka dateng tepat waktu seperti Askhal Nero Ardiaz. Uh! Cowok yang memiliki tubuh jangkung dengan kulitnya yang putih dan dia selalu memakai kacamata ini. Kalo bisa dibilang, cupu, sih, nggak. Tapi, dia keren aja walau gitu. Keliatan banget pintarnya dan orangnya yang tenang, cuek, sih, nggak ramah iya. Tapi lumayan pendiam ini bisa dikategorikan pada opsi yang pertama. Pukul lima pagi. Dia udah segar abis mandi yang orang lain aja enggan buat nyentuh air kalo gak mau merasakan tubuh membiru sangking dinginnya. Tapi Askhal beda. Dia mandi pagi itu biar kepalanya fresh. Otak juga bisa fokus dengan buku-buku yang ia baca setelah selesai dengan memakai seragamnya walau masih belum ia kancing kan dan masih terlihat kaos hitam oblongnya. Yang namanya udah urusan belajar, Askhal gak bakal melewatkannya. Apalagi sekarang dia tengah menghadapi ujian semesteran. Keren itu bukan cuma tentang penampilan aja. Bagi Askhal cowok keren itu mesti pintar dan berwawasan tinggi. Fisik. Ya, okelah dia gak seganteng kayak anak-anak basket tapi dia di atas standar juga dan yah baginya itu bonus. Yang paling penting adalah isi kepala. Askhal itu lebih baik memilih yang beda dari cowok lainnya. Beberapa saat ia menghabiskan waktu buat belajar, dia pun sarapan. Kedua orang tuanya itu yang mendidik Askhal untuk menjadi anak yang disiplin. Meskipun Askhal anak yang sangat berkecukupan tapi Askhal tidak terlalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya pun Askhal juga tidak menginginkan hal itu juga. Dia bersyukur dengan apa yang dia miliki. Papi yang pekerja keras dan mami ibu yang baik dan penyayang untuknya. "Oh... Ya, Khal. Nanti Papi, hari ini mau ke luar kota karena ada pekerjaan yang penting di Lombok. Mami juga bakal nemenin Papi. Kamu gak masalah, kan, kalo kita tinggal?" "Askhal bukan anak manja, Pi. Gak masalah. Papi fokus aja dengan pekerjaan Papi," ucap Askhal penuh wibawa dan bijaksana bagi anak lelaki yang berumur masih 18 tahun itu. Papi dan maminya jelas tidak perlu khawatir lagi meninggalkan Askhal seorang diri karena dia dapat mandiri. Sehabis itu Askhal pamitan pergi ke sekolah. Hal yang menonjol pada diri Askhal. Yang paling terlihat dan dapat dinilai oleh orang lain tentang dirinya iyaaa seperti.... Gak suka ngaret. Dateng tepat waktu banget. Perfectionist. Gak suka sama orang yang lelet. Bisa kena serangan emosi kalo ngeliat orang yang suka telat. Gak suka menghargai waktu. Kelewat serius cuma gara-gara soal waktu yang sebetulnya orang lain terutama teman-temannya ya menganggapnya hanya sebuah hal sepele tapi gak untuk Askhal. Dia sangat gak suka! Titik. Jaraknya dari rumah ke sekolah ya gak jauh. Macet juga tidak terlalu. Masih pagi banget. Tapi ya itulah Askhal. Dia gak mau datang di jam-jam yang mendekati bel berbunyi. Pagi ini cuaca cukup dingin, lingkungan sekolah SMA N 8 masih terlihat sepi dan bel masuk juga masih lama untuk berbunyi. Sampah yang berserakan disapu bersih oleh penjaga sekolah. Askhal turun dari motor Vespa putihnya. Vespa kesukaannya. Ia melihat jam di pergelangan tangannya. Pukul 06.00 dia sudah sampai. Dia langsung mengeluarkan buku catatan kimianya dari tas. Lanjut belajar mumpung masih ada waktu. Sambil berjalan dan baru beberapa langkah ia dipanggil oleh seseorang. "Nak Askhal," sapa penjaga sekolah itu yang sedang menyapu halaman ketika melihat cowok dengan seragam yang dikeluarkan berjalan hampir melewati dia, mungkin karena tidak sadar dan Askhal terlalu fokus dengan yang ia baca. Askhal sempat kaget sedikit tapi ia tersenyum ramah setelahnya pada penjaga itu yang bernama Anto. "Pagi Pak," balasnya sambil menutup buku yang ia baca. "Rajin amat udah dateng jam segini," ucap pak Anto sambil tetap menyapu halaman. "Hari ini kan ulangan semester, jadi saya mau memanfaatkan waktu aja." Pak Anto hanya berdecak kagum. Askhal memanglah murid teladan di SMA N 8. Dia duduk di kelas 11 Ipa 2. Anak yang paling rajin datang ke sekolah. Dia selalu memecahkan rekor sekolah yang selalu datang pertama. Dia hobynya membaca, bermain gitar dan semua orang banyak yang mengagumi suaranya yang begitu terdengar merdu. Dia orangnya tidak banyak gaya seperti anak-anak jaman, diam dan duduk tenang di depan buku itu sudah cukup menyenangkan baginya. "Yaudah kalo gitu saya ke kelas dulu yah, Pak. Selamat beraktivitas," katanya kemudian berlalu dari pak Anto yang hanya mengangguk dan kembali menyapu dengan bersandung ria. Dan Askhal kembali berjalan sambil membuka kembali bukunya, mengamati dan mengingat setiap deretan huruf kecil yang tersusun rapi dilembaran catatannya itu. Dia hanya berharap hari ini, semuanya dapat berjalan dengan lancar dan ia tidak merasakan adanya gangguan dari adik kelas yang akan duduk bersamanya nanti saat ulangan berlangsung. Karena yang dia tahu, ujiannya dicampur dengan adik kelas. Ya sesuai sistem di sekolahnya saja. Mengingat hal itu pun Askhal berdoa agar tidak dapat halangan nantinya. Semoga aja cowok yang duduk sama gue. * * * * "Hei kalian cepetan masuk, kalian gak mau ikut ulangan hah?!" teriak seorang guru berbadan tinggi, tegap, kulitnya hitam, matanya tajam bagaikan elang dan siapa saja yang melihatnya seakan dia akan dimakan hidup-hidup olehnya. Namanya Bambang Hermanto, guru tersangar yang ada di SMA N 8. Dia berdiri di depan pagar meneriaki anak-anak yang terlambat. Padahal sudah bunyi bel masuk mereka semua malah santai berjalan. "Mampus gue," gumam seorang gadis yang menepuk dahinya. "Bisa mati gue kalo telat." Dia pun mempercepat langkahnya, berlari bersama kerumunan siswa yang hampir terlambat. Wajahnya dia tundukan agar tidak kentara oleh guru sangar itu. Postur tubuhnya yang mungil setidaknya mendukungnya saat melewati guru itu yang sedang melambaikan tangannya, memberi isyarat agar cepat masuk. Bisa dibilang, untuk opsi kedua. Arsya adalah orang yang bisa dikategorikan manusia yang suka datang terlambat. Pemalas dan mana suka datang ke sekolah lebih awal seperti Ashkal. Arsya paling suka menunda-nunda waktu. Contohnya, sementang dia tinggal hanya bersama dengan Omanya saja, dia berleha-leha. Menunda-nunda waktunya. Orang tuanya memang jarang di rumah. Anak manja ini memang paling sulit diatur padahal orang tuanya telah mengajarinya yang namanya untuk bisa menghargai waktu. Saat sudah masuk ke sekolah, sebetulnya anak-anak yang terlambat tadi dikumpulkan di depan ruang Tata Usaha untuk diberikan sanksi tapi Arsya itu cerdik. Dia bisa kabur tanpa ketahuan. Buktinya dia bisa bernapas lega setidaknya hari ini dia tidak perlu memunguti sampah karena terlambat masuk. Dia pun berjalan dengan cepat menuju kelasnya yang ada di lantai 2. Keadaan di koridor sudah sepi, mungkin karena semuanya sudah masuk kelas karena bel sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Dia pun bergegas memperbesar langkahnya menuju kelasnya. Dilihat dari balik jendela semua anak-anak sudah mulai fokus mengerjakan soal ujiannya masing-masing. Arsya sedikit heran kenapa cepat sekali murid-murid yang ada di kelas itu sudah bertatap pasang dengan lembaran kertas ujiannya. Dia menghentikan langkahnya. Matanya menyapu ke sekeliling kelas dan ternyata pandangannya fokus ke Ibu Guru bernama Ibu Darma yang memiliki postur tubuh gendut, matanya yang agak sedikit merah dengan lipstick merahnya yang tebal dan juga cepolnya yanh tinggi membuat kesan seram dan tak kalah sangar dari Pak Bambang. "Nah ujian hidup gue udah mau dimulai ini mah," gumamnya. Dengan sekuat tenaga dia berjalan dan memberanikan diri mengetuk pintu. "Assalamualaikum," cicitnya pelan. Seketika semua mata memandangi sosok yang berdiri di ambang pintu dengan wajahnya yang pucat. Bu Darma pun yang sedang keliling mengawasi siswa-siswi yang sedang ujian itu seketika berhenti dan menatap intens anak murid yang paling dia benci. Bukan benci dengan diri Arsya melainkan ibu Darma paling tidak suka dengan siswa yang datang terlambat apalagi hari ini, kan, sedang diadakannya ujian. Bisa-bisanya masih ada saja yang telat datang. Apa siswa di sekolahan ini tidak tahu apa jikalau ibu Darma ini lebih suka menjunjung tinggi nilai kedisiplinan. "Siapa nama kamu? Kamu dari kelas berapa?" tanyanya sambil berjalan dan berhenti di depan mejanya dengan melipat kedua tangannya di depan perut buncitnya. "Saya... Arsya Arabella, dari kelas 10 Mipa 1," jawabnya pelan. "Kamu dari mana aja?" tanyanya lagi. "Anu---saya tadi kesiangan--" "Alasan. Sudah cari tempat duduk kamu sana," selanya sambil mengambil kertas ujian dan memberikannya pada Arsya tanpa melepas pandangannya. Masih berbaik hati itu guru, kalau nggak... Udah habis Arsya sama dia. Arsya mengangguk kecil dan berjalan menunduk mencari tempatnya. Tapi masalahnya sekarang dia tidak tau dimana mejanya terlebih dia merasa risih dengan tatapan kakak kelasnya yang meliriknya terus menerus. Ketika dia mengeluarkan kartu ujiannya dan melihat nomornya, dia pun menyusuri barisan pojok dekat dan langkahnya berhenti di meja paling belakang ketika matanya mendapati nomor ujian miliknya. "164," katanya menyebut nomor ujiannya sambil menyunggingakan senyumannya karena sudah menemukan tempat duduknya dan saat ia mendongak. Dengan lebaynya mulutnya terbuka, matanya terbuka lebar juga ketika melihat Askhal itu sedang fokus menatapi ujian soalnya. "Anjir, ganteng banget," ucapnya keceplosan. Gede lagi suaranya. Beruntungnya ia, suara dia hanya terdengar oleh beberapa siswa yang dekat posisinya dengan dia dan mereka hanya mengabaikannya saja. Duh kok deg-degan gini si, yaampun. Batinnya. Arsya mencoba menahan rasa debaran jantungnya yang perlahan-lahan ingin membunuhnya. Langkahnya untuk duduk di sampingnya saja lambat sekali, dia engap-engap mengatur napasnya yang terasa sesak. Matanya terus memandangi cowok yang ada di sampingnya ini, sayangnya cowok ini selalu fokus menatap soal yang ada di hadapannya. Senyuman terus terukir di wajahnya, bahkan soalnya saja tidak dia pedulikan. Matanya terus memandangi tiap ukiran yang telah Tuhan ciptakan di hadapannya. Dia menopang dagunya, kepalanya ia tengokan ke sebelah kiri, sudut bibirnya selalu terangkat, dia bahkan sepertinya tidak rela jika senyumannya ia hentikan. Menyadari jika Askhal diperhatikan, dia pun melirik sedikit lewat ujung matanya. Dia menangkap seorang cewek yang sedang menatap dirinya, secara terang-terangan. Walaupun terkejut, dia bisa mengatur ekspresinya menjadi datar kembali. Sial, pake duduk sama anak cewek segala lagi. Dan ya, Askhal baru menyadarinya setelah lama ia tenggelam dengan angka matematika. Jujur, ada perasaan kesal yang ia rasakan di sini. Dia tidak menyukai jika ada anak perempuan yang selalu memerhatikannya. Risih. Perlahan Perlahan Arsya memindahkan pandangannya, mencari-cari siapa nama kakak kelas yang duduk di sampingnya ini. Lelaki itu memincingkan matanya, dia melihat cewek itu melirik ke arah lembaran kertas ujiannya. Lebih tepatnya di kotak-kotak yang bertuliskan namanya. Sontak dia pun menggeser tubuhnya dan menutupi nama yang ada di kertas ujian dan juga nomor ujian yang ia jepit di papan alasnya dengan kedua tangannya. Bukannya tersinggung Arsya malah tersenyum lebar ketika sudah tau siapa nama kakak kelas yang ada di sampingnya ini. Kelambatan kamu nutupin namanya mas. Arsya terkikik geli. Kegenitan amat sih nih cewek. Askhal memutar bola matanya, jengkel. Dia pun menegakan tubuhnya dan memutar tubuhnya jadi menghadap Askhal. "Kak Askhal kenalan yuk?!" Suaranya besar. Gesture ia menjulurkan tangan untuk bersalaman pun benar-benar menarik perhatian seisi ruangan termasuk guru yang sedang menjadi pengawas. Tiba-tiba suasana yang tadinya hening berubah menjadi tegang, tapi hanya berlaku untuk Askhal saja. Mata mereka yang tadinya fokus pada kertas masing-masing berubah pandangan ke meja belakang, begitu juga mata pengawas itu yang sedang berjalan mengawasi murid-murid yang ingin menyontek pastinya. Senyuman dan tawa yang mati-matian di tahan akhirnya pecah. "Cieeee Askhal diajak kenalan...." "Kiw! Bentar lagi ada yang gak jomblo lagi, nih." "Dek jangan diajak kenalan langsung diajak kawin aja. Gerak cepet sebelum diembat orang, kalo perlu karungin tah abis tu buang ke kali. Hahaha." Semua ledekan dan tawa memenuhi kelas tersebut. Askhal menahan emosi, tangannya terkepal dan memejamkan matanya. Sial. "Jangan berisik! Ini lagi ulangan! Kalian mau saya catet namanya diker---" Tok... tok... tok.. Kalimatnya terpotong ketika Pak Bambang datang masuk ke dalam kelas sambil memberikan tatapan tajam pada seluruh isi kelas di dalamnya. Tatapan seramnya dari pak Bambang itu pun sekejap langsung membuat para penghuni kelas bergidik ngeri. Tidak ada yang berisik melainkan mereka hanya tertunduk diam. Berpura-pura sedang mengejarkan soal, padahal di dalam hati mereka sedang membatin, mengutuki kedatangan guru killer itu. Jelas ada dia tangan yang biasa berada di kolong laci harus berada di atas meja agar tidak dicurigai bila mereka sedang melakukan tradisi yang biasa turun temurun dalam menghadapi ujian. Menyontek. Hal yang sudah biasa dilakukan. Belum bisa dibilang anak pelajar katanya kalau belum pernah menyontek. Astajim. Berbeda dengan Arsya yang sama sekali tidak menyadari adanya Pak Bambang. Dia masih sibuk menatap kakak kelas yang bahkan sudah menampilkan eksperesi kesalnya dari tadi. Risih. "Maaf Bu, saya mengganggu, saya mau manggil anak murid yang Ibu laporkan tadi." Bu Darma mengangguk mengerti, karena tadi dia sempat keluar memberi tahu anak yang tadi telat masuk kelas. Thea. Gadis yang mendongak sedikit, untuk melirik ke depan melihat raut wajah seram dari guru couple ini. Dia kaget, karena mendengar pembicaraan guru-guru itu. Dia lalu menoleh ke belakang, melihat barisan di sebelahnya ini. Dia mendengus kesal karena Arsya bahkan masih sibuk tersenyum ke arah Askhal. Dah sakit nih anak. Kembali lagi ke depan, Pak Bambang kemudian berjalan dan berdiri di tengah-tengah papan tulis. Diikuti Bu Darma yang berdiri di sampingnya. Mata elang itu menyapu seluruh wajah yang ada di kelas itu. Dan kejadian selanjutnya matanya menangkap satu gadis di belakang yang membuatnya kesal. Tentu saja, kehadirannya bahkan tidak disadari olehnya. "Arsya Arabella!" Suara itu menggema, Arsya langsung menoleh ke depan. Dia gelagapan, kaget, dan juga bingung. Itu yang dirasakannya sekarang. Jantungnya berpacu cepat hingga iramanya sulit untuk ia kendalikan. "I-iya... Pak, ada apa?" Tanyanya gugup. Tangannya yang memegang pensil bergemetar, di atas meja. Ekspresinya langsung ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Dan tiba-tiba saja tenggorokannya kering. "Istirahat nanti punguti sampah di halaman sekolah. Mengerti." Perintahnya yang langsung mendapatkan anggukan dari Arsya. Padahal anggukan itu hanya lah karena dia refleks. "Terima kasih Bu," ucapnya dan mendapatkan senyuman lebar dari Bu Darma. Setelah itu Pak Bambang menatap sekilas pada mereka semua lalu kembali berjalan ke luar. "Itu akibatnya karena kamu terlambat." Semuanya memandangi Arsya, kakak kelas dan bahkan yang seangkatan dengannya. Perasaan yang dia rasakan adalah malu. Tentu saja di hukum di depan doi walaupun baru hukumannya saja yang baru diberi tahu terus diliatin satu kelas. Arsya melirik sedikit lewat ujung matanya, dan dia mendapati Askhal yang tersenyum, senyuman ledekan untuk Arsya. Malu banget gue, sumpah! Dasar guru sialan. Umpatnya dalam hati. * * * * Askhal sangat tidak menyukai adik kelas itu. Begitu kecentilan, ganjen dan bahkan Askhal bisa menilai jika perempuan tadi tidak bisa menghargai waktu. Bagaimana jika nantinya dia bekerja dan waktu yang dia miliki tidak bisa ia manfaatkan. Apa jadinya Perempuan itu yang pastinya tidak akan bisa bersikap profesional. Askhal geleng-geleng kepala melihat tingkah lakunya yang terlalu bar-bar. Sungguh memalukan dirinya. Askhal mendorong kacamata yang menurun itu dan kembali fokus mengerjakan soal sampai selesai. Bel sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu, semua murid-murid diharuskan untuk keluar kelas dan tidak ada yang diijinkan berada di dalam kelas karena satu alasan guru tidak ingin ada murid yang sibuk mencari tempat untuk menyembunyikan contekannya atau diam-diam menaruh buku di dalam lacinya. Waktu istirahat dimaanfaatkan sangat baik oleh setiap siswa. Ada yang belajar di depan kelas sambil duduk merentet, ada yang bergosip, ada yang mencari kesempatan cari gebetan dikalangan kakak kelas atau pun adik kelas. Tapi tidak semua hal itu dirasakan oleh Arsya, di hari yang panas, matahari pagi sudah menyengat kulitnya. Keringat sudah berkujuran di bajunya, rambutnya sudah lepek dan menempel dilehernya, tangannya sudah kotor karena harus rela memungut sampah di tanah yang basah dan pastinya menempel ditanah atau pun batu apalagi benda kertas yang kecil atau plastik yang merepotkan, menurutnya. "Itu, di situ masih ada sampah kecil, plastik pungut cepetan," tunjuk guru piket yang sekarang sedang mengawasi Arsya, bukan hanya Arsya tapi juga anak murid lainnya karena juga datang terlambat. Semua murid yang datang terlambat masuk kelas, diam-diam dilaporkan oleh pengawas. Dan sialnya dikelas Arsya hanyalah Arsya yang datang terlambat dan dia tidak punya teman seperjuangan untuk saat ini. Lebih sialnya dia dan anak murid yang lainnya harus membersihkan taman depan kelas Arsya, ada sekitar 5 orang disuruh mencabut rumput dan memunguti sampah. Di dekat taman itu lebih parahnya ada rombongan kakak kelasnya yang sekelas dengannya sedang duduk di bawah pohon yang depannya ada lapangan yang terhampar luas. Angkatannya tidak ada yang bergabung dengan mereka. Tentu saja, tidak ada yang nyaman dengan kakak kelas itu karena mereka kalau bicara terkadang judes atau sombong. Tidak nyaman pokoknya. Arsya yang dari tadi menjongkok akhirnya berdiri karena kakinya terasa nyeri dan sedikit keram. Ia melihat jamnya yang melingkari tangannya dan tangan satunya menyibakan rambutnya ke belakang, gerah. Dia menghembuskan napasnya berat, jarum jam sudah menunjukan pukul 10. Baru jam segini matahari sudah ada di atas kepalanya. Panas banget. Tau gitu mending gue kabur bareng kakak kelas tadi.... Dia menggerutu di dalam hati, ada rasa menyesal yah karena dia tidak mengikuti ajakan dari kakak kelasnya yang mengajaknya untuk bolos, dan katanya kalau soal ulangan itu gampang bisa nyusul. Oh my God! "Arsya bersihkan taman yang di sebelah sana juga," kata guru piket itu yang menunjuk ke arah rombongan kelas yang sekarang sedang duduk di sana. Arsya menatap sekilas ke arah guru itu dengan wajah yang ditekuk, lalu selanjutnya dia menoleh ke belakang. Matanya membulat dan mulutnya menganga setelah dia melihat rombongan kakak kelas yang baru dia sadari jika sekarang sedang duduk berkumpul di sana. Bukan pandangannya yang fokus ke arah kakak kelas cewek dan cowok yang sekarang sedang berbaur melainkan kakak kelas yang duduk sebangku bersamanya yang sekarang berada di tengah-tengah mereka sambil memainkan petikan gitar berwarna putih. Kemudian Askhal mendongakkan kepalanya ketika lagu yang dimainkannya selesai seiring dengan tepukan tangan dan sorakan yang diberikan oleh teman-temamnya untuknya. Detik berikutnya dia bertemu dengan pandangan Arsya, Arsya menyadari sesuatu ketika Askhal sedang melihatnya buru-buru dia membalikkan badannya. Sambil berucap di dalam hati mampus gue, ada kak Askhal.... Dengan memberanikan diri Arsya berjalan dengan kaki gemetar ke arah taman yang akan ia bersihkan. Semua mata memandangi dirinya saat jaraknya tinggal beberapa meter saja. Dan kemudian cibiran, ledekan, godaan bahkan siulan telah datang menyambut dirinya. Ia hanya bisa tertunduk malu, tak berani menatap wajah kakak kelasnya itu. Baru hari pertama udah sial gini. Umpatnya dalam hati. "Eh, ini yang namanya Arsya itu bukan, sih?" seru si cewek yang sedang menggulung rambutnya ke atas dengan jedainya. "Oh, kamu Arsya adek kelas yang mau ngajak kenalan, sih, Askhal, yah?" "Hahahha aduh adek kamu berani banget sih, kamu suka ya sama Askhal?" "Eh, udah woy! Kasian, adek kelasnya digodain mulu," sahut anak cowok yang duduk di samping kiri Askhal. "Dek kalo Askhal gak mau sama kamu, sama gue aja yok, mau gak?" Dan Arsya tetap dengan pendiriannya. Ia masih terus menyapu daun-daun yang bertebaran di sana. Ini itu perintah dari guru piket. Kalau tau gitu dia juga ogah nyapu di tempat yang ada merekanya. "Najis lu anak dugong!" cibir anak cewek yang ada di depannya. Arsya hanya diam, sesekali dia melirik Askhal lewat ujung matanya. Betapa terkejutnya, ternyata Askhal sedang menatap dirinya. Dengan kedua tangannya yang ia tumpukan ke belakang bersama dengan punggungnya agak condong ke belakang juga. Arsya menghembuskan napasnya dengan kasar. Berharap ingin segera mengakhiri hari sialnya ini. "Kal, tuh anak lumayan juga, cakep. Lo yakin gak mau---" "Gue cabut," selanya seraya bangkit dari duduknya. Bersamaan dengan niatnya yang ingin pergi, teman-temannya pun menatap heran juga ke arah Askhal, tapi mereka juga berpikir mungkin saja karena Askhal tak nyaman karena mereka selalu menggoda adik kelasnya itu sambil membawa namanya. Ya memang jelas. Askhal tidak suka dirinya disangkut pautkan dengan orang yang dia tidak sukai itu. Kan sudah tahu, Askhal nggak suka dengan orang yang tidak bisa menghargai waktu. Dan cewek itu tidak akan bisa mengimbanginya seandainya mereka bersama. Askhal membayangkannya bergidik ngeri. Emosi iya dia menghadapi cewek kek gitu. Tapi, lagian buat apa juga dia memikirkan hal yang tidak penting. Dia lebih baik mencari tempat untuknya bisa belajar saja setelah bersenang-senang dengan teman-temannya. Dan saat langkahnya ingin melewati Arsya, bertepatan itu juga Arsya membalikkan tubuhnya dengan serokan yang ia pegang dan sampah yang ada ada di dalamnya. Tak sengaja saat tubuhnya berbalik dia menabrak d**a bidang Askhal, wajar saja menabraknya karena ia selalu menunduk. Aneh, saat di kelas dia berani sekali mengajak Askhal untuk berkenalan, sekarang untuk menatapnya saja ia sudah tak ada keberanian. Malu? Mungkin itu yang dirasakannya saat ini. Arsya mendongakkan kepalanya. Betapa kagetnya ketika yang ia tabrak adalah Askhal. Tanpa dia sadari sapu lidi dan serokan sudah terjatuh dan menimbulkan sampahnya kembali berantakan. "Ma---maaf kak, aku gak senga---" Pergi. Askhal pergi tanpa mendengarkan kalimat selanjutnya. Arsya mengikuti arah pandangnya begitu juga dengan tubuhnya yang ikut berbalik ke posisi sebelumnya. Askhal pergi begitu saja tanpa ingin mendengar kata maaf darinya. Kembali lagi suara dari kakak kelasnya ini menggema telinganya, tapi ini benar-benar membuat matanya membulat besar bersamaan rasa malu yang ia tahan dari tadi. "Dek kamu modus, ya, nabrak Askhal?" Ish, nyebelin. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN