I DON'T CARE

1775 Kata
Aku ingin mencabiknya.  Krys, jika aku adalah monster di dalam mimpimu maka dia adalah pria berparas malaikat yang akan menjadi mimpi buruk dalam hidupmu. Kau tidak bisa menepisnya karena itu takdirmu, kau harus melewatinya langkah demi langkah, tanpa terburu.  Hidup ini penuh kejutan, siapa yang akan tahu jika dia bisa saja menjungkirbalikkan hidupmu? Pembuat kekacauan sedang mengintaimu karena itu kau diharuskan untuk selalu berhati-hati. Hidupmu adalah milikmu, jangan biarkan dia masuk dan merusak tanpa izin darimu.  Krys, dia juga memiliki aura itu. Terlalu mencintai seseorang sampai kau mengupayakan segala cara untuk membuatnya tersenyum bahkan meskipun dengan cara membunuh, bukankah itu buruk? -Monster in My Dream- ***  Seperti yang sudah diketahui, namaku Kystal El Dearni, seorang guru sekolah dasar yang suka menyendiri dengan segelas kopi dan novel romansa yang menemani. Saat ini aku masih seperti biasa, menyendiri karena memikirkan banyak hal yang berkelebat di dalam kepala.   Daniel Alfarazi namanya, adik dari Aprilia Jivanna yang mana merupakan sahabat dari Oleander Kai, orang yang belakangan ini mencuri hatiku. Ada hal-hal yang terasa aneh, aku merasa hidupku baik-baik saja selama dua puluh lima tahun, aku selalu diam meskipun banyak orang yang melontarkan kebencian padaku. Lalu diumurku yang menginjak usia dua puluh enam tahun ini aku mulai melewati banyak hal.  Seharusnya aku tidak mengharapkan apapun karena sejak awal kemunculan Oliver Kei sudah salah. Aku tidak tahu apakah pertemuan pertamaku dengan Kai di pesta pernikahan sepupuku adalah benar, aku tidak tahu akan kemana takdir menuntunku kali ini. Sekarang hidupku mulai berubah sedikit demi sedikit, aku mulai kesulitan mengontrol emosi dan hari ini aku tiba-tiba menginginkan Oleander Kai untukku.  “Ini salah,” gumamku pelan. “Dia hanya menganggapku teman, perasaannya kepada April lebih kuat daripada perasaannya untukku. Ayolah, Krys, ada apa denganmu?”  Saat melihat April bercanda dengan Kai, aku sudah tahu jika dokter anak itu menyukai Kai lebih dari seorang sahabat. Pancaran matanya lain dan dia tampak percaya diri saat menatapku, dia tahu aku tidak akan mampu menggantikan posisinya dan dia bangga sehingga dia tidak merasa terancam.  Tetapi itulah yang membuatku ingin mengejarnya. Tiba-tiba aku ingin membuktikan kepada April bahwa dia tidak bisa meremehkanku, lalu aku teringat akan tatapan mata Daniel. Sudah pasti tatapan matanya tidak menyenangkan meskipun bibirnya tersenyum lebar.  “Lalu apa mau Daniel? Apa dia tidak menyukai aku dekat dengan Kai?” aku mulai menebak-nebak sendiri. “Benar, besar kemungkinan dia mendukung hubungan Kakaknya dengan Oleander.. atau ada hal lainnya?”  Seperti biasa, Oliver Kei tidak pernah datang ketika aku membutuhkannya. Dia pergi entah kemana dan aku harus menyelesaikan puzzle yang dibuatnya. Dia selalu membuatku penasaran, kenapa dia datang padaku dan bukan Aprilia yang sudah lama bersama Kai masih membuatku bingung. Aku tidak percaya dengan alasannya yang menyatakan jika dia tertarik dengan emosiku.  “Daniel Alfarazi dan Aprilia Jivanna,” aku menghela napas. “Apa yang dilakukan orang-orang baru ini sehingga membuat hidupku lebih sulit dari sebelumnya?”  Mencoba menyingkirkan segala kemungkinan buruk, aku berdiri dari dudukku dan membaringkan tubuhku di atas kasur. Aku mencoba untuk memejamkan mata, aku ingin melihat Oliver Kei di dalam mimpi dan meminta penjelasannya. Bagaimana mungkin dia membuatku sengsara setelah semua ini? Bukankah dia bersyukur karena aku mempercayai eksistensinya di dunia ini?  Drttt.. Drrtt.. Drrrtt..  Aku berdecak ketika ponselku bergetar dan menggagalkan acara tidurku. Menghela napas, aku mengambil ponselku dan ternyata ada banyak pesan masuk ke dalam grup khusus guru-guru di sekolah. Apa yang mereka perdebatkan?  Mataku langsung melebar begitu aku melihat foto yang dikirim oleh Bu Ida ke grup. Disana ada foto Kinan bersama seorang laki-laki yang bukan tunangannya dan mereka berciuman, aku tidak tahu siapa laki-laki itu tetapi Kinan tidak menolak dan terlihat mengalungkan lengannya di leher laki-laki itu. Aku menutup mulutku karena terkejut. Apa yang sudah aku lihat?  Robi: Bukankah laki-laki itu adik dari tunangan Bu Kinan?  Yuni: Apa ini editan? Tidak mungkin itu Ibu Kinan, bukan?  Dengan cepat aku menggerakkan jariku dan mencari kontak Kinan untuk menelponnya. Aku memang tidak bisa memahami orang satu per satu atau menilai mereka dengan berpatokan pada sifat yang dia tunjukkan padaku. Tetapi jika Kinan benar-benar melakukan sesuatu yang salah di belakang tunangannya, dia pasti memiliki alasannya.  “Halo?”  Helaan napas terdengar, aku tahu Kinan sudah membaca semua pesan yang ada di grup dan sekarang aku bisa mendengar suaranya yang bergetar.  “Itu bukan aku, mbak,” katanya pelan, suaranya serak. “Tidak ada yang percaya kalau itu bukan aku, kenapa hal ini terjadi padaku, mbak?”  “Kau ada dimana?” tanyaku langsung.  “Di rumah,” jawabnya. “Mbak, bagaimana ini? Papa marah besar padaku, semua keluargaku percaya kalau orang yang ada di foto itu adalah aku dan adik dari tunanganku yang masih duduk di bangku SMA.”  “Bagaimana dengan tunanganmu?”  “Mas sedang pergi, dia mengatakan padaku bahwa dia akan mencari bukti apakah foto itu editan atau bukan. Mas bilang jika itu foto editan, dia akan mencari tahu siapa yang pertama kali menyebarkan foto itu.”  Aku mengangguk, lega karena setidaknya tunangan Kinan tidak termakan oleh foto yang beredar itu.  “Bukankah tempat foto itu terlihat familiar, Nan?” tanyaku padanya. “Kau tahu pasti dimana foto itu diambil, bukan?”  “Ya, tempatnya tidak jauh dari sekolah adik iparku.”  “Apa kata adik iparmu?” tanyaku.  “Itu dia, mbak,” katanya. “Adik iparku sedang menghadiri turnamen futsal di luar kota, dia berangkat kemarin malam dan belum bisa dihubungi sampai sekarang.”  “Lebih baik sekarang kau tenang, oke?” aku menghela napas, ikut khawatir. “Jangan membuat kesimpulan apapun, jika kau benar-benar tidak melakukannya, maka jangan takut.”  “Tetapi Papa marah besar, mbak,” katanya dengan suara serak, dia mulai menangis lagi. “Aku baru pulang berkencan dengan tunanganku tetapi tiba-tiba foto itu sudah tersebar dimana-mana. Aku takut menatap banyak orang, mbak.”  “Kenapa harus takut jika kau tidak melakukannya?”  “Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, mbak,” dia menangis. “Aku takut.”  “Kau perlu aku datang kesana?” tawarku. “Setidaknya kau tidak perlu sendiri di dalam kamar.”  Kinan hanya menangis, dia mengucapkan terima kasih padaku dan aku langsung mengambil jaket sebelum berangkat. Hah, sebenarnya apa yang terjadi?  Beruntunglah jalanan tidak macet, aku sampai di rumah Kinan secepat yang aku bisa dan melihat banyak orang di dalam rumahnya. Aku menghubungi Kinan karena sepertinya tidak ada yang menyadari kedatanganku, mereka semua sibuk dengan ponsel dan sebagian menenangkan orangtua Kinan yang tampak marah besar.  Kinan membuka jendela dan aku masuk lewat sana. Dia tampak sangat kacau dan terihat terpukul sekali, matanya sembab dan hidungnya merah. Dia benar-benar banyak menangis sepertinya.  “Mbak,” panggilnya, dia langsung memelukku. “Aku takut. Aku takut kalau Mas tidak bisa membuktikan foto itu palsu, aku akan segera menikah, tetapi kenapa ini terjadi? Bagaimana nasibku ke depannya, mbak?”  Karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi, aku hanya mengusap-usap punggung Kinan. Aku menenangkannya, tetapi beberapa menit kemudian pintu kamar Kinan diketuk dari luar. Dia menatapku, terlihat enggan dan takut untuk membuka pintu tetapi aku menepuk tangannya dan berjalan ke arah pintu dan membukanya.  “Kina-“  Bukan hanya aku yang terkejut, tetapi orang yang berada di pintu tampaknya juga terkejut tetapi dia menutupi keterkejutannya dengan baik seperti seorang profesional. Dia berdehem dan menatapku dari atas sampai bawah.  “Kak Daniel..”  Aku menoleh pada Kinan yang sekarang berdiri di sampingku, dia menatap adik April itu dengan harapan.  “Aku sudah lihat fotonya,” kata Daniel. “Kau bisa tenang, sekarang semua orang bisa tahu kalau foto ini palsu. Perempuan ini memang mirip denganmu, tetapi sudah Kakak pastikan jika dia bukan kau.”  “Oh Tuhan,” Kinan langsung berjongkok, dia memegang dadanya, lega. “Bagaimana dengan Mas?”  “Dia sedang dalam perjalanan kesini, aku juga sudah memberitahu semua orang tetapi ada satu hal yang harus kalian tahu tentang siapa yang sengaja menyebarkan foto tidak benar ini.”  Mataku menatap Daniel, laki-laki itu ikut berjongkok dan mengusap bahu Kinan. Sejak awal aku tahu jika April memiliki hubungan keluarga dengan Kinan, maka jelas Daniel juga keluarganya. Hah, kenapa aku selalu bertemu dengan orang-orang yang tidak terduga setiap masalah seperti ini terjadi? Pertama adalah saat meninggalnya Kakek dan aku bertemu Kai, lalu sekarang aku bertemu dengan Daniel. Sepertinya aku berbakat melemparkan diriku ke dalam masalah baru.  “Kau ingin meneruskan hubunganmu dengan dia, Nan?” tanyanya pada Kinan dan bisa aku dengar.  “Apa maksud Kakak?”  “Apa kau bisa menjalin hubungan ketika ada salah satu dari keluarga mereka yang membencimu bahkan melakukan hal-hal seperti ini hanya untuk mempermalukanmu?”  Aku mengangkat sebelah alisku ketika mendengarnya mengatakan hal itu. Apa maksudnya?  “Adik iparmu,” katanya. “Dia adalah orang yang menyebarkan foto seperti ini, alasan dia tidak bisa dihubungi pasti hanya untuk memperkuat tuduhan jika kau dan dia benar-benar melakukannya.”  Mengernyitkan kening, aku tidak mengerti kenapa aku bisa tidak percaya dengan perkataan Daniel ini. Maksudku.. adik ipar Kinan yang melakukannya? Karena benci? Kenapa tiba-tiba setelah mereka mengenal dan akrab selama bertahun-tahun dan sekarang tiba-tiba dia membenci Kinan?  “Apa maksudmu dengan adikku yang melakukan semua ini?”  Mendongak, aku melihat tunangan Kinan datang.  Daniel berdiri, dia memberikan foto yang dia pegang kepada tunangan Kinan. Dari tempatku, aku bisa melihat jika adik ipar Kinan itu mencium seorang gadis yang wajahnya tidak bisa terlihat jelas. Lalu kemudian Daniel mengeluarkan ponselnya, dia memperlihatkan sebuah rekaman cctv dan sangat jelas disana bahwa foto itu sengaja diambil dan perempuan itu memakai wig sebelum berciuman dengan adik ipar Kinan.  “Wanita itu memakai pakaian yang sangat mirip dengan Kinan, bahkan sengaja memakai wig untuk menyamakan gaya rambutnya,” kata Daniel. “Apa alasan adikmu melakukan semua itu?”  “Sial!”  Aku hanya berdiri sementara Kinan terlihat syok dan tunangannya mengumpat sambil terus mencoba untuk menghubungi adiknya. Saat keluarga Kinan sudah mulai mendekat, Daniel menarik tanganku untuk menjauh dari kerumunan yang mulai terbentuk.  Sepanjang jalan dia menarik tanganku, aku hanya memperhatikan pergelangan tanganku dan menghitung dalam hati. aku terus menghitung sampai kami berdua berada di luar tetapi dia belum juga melepaskan tanganku.  “Tanganmu,” ucapku, memperingatkan.  “Ah, sorry.”  Setelah itu tidak ada yang berbicara. Aku mengeluarkan ponselku dan mengirimkan pesan kepada Kinan bahwa aku akan pulang terlebih dahulu dan dia bisa menghubungiku lagi jika dia membutuhkanku.  “Kau teman Kinan?”  Aku melirik. “Ya.”  “Apa hubunganmu dengan Oleander Kai?”  Menyimpan ponselku di dalam saku, aku menatap Daniel sepenuhnya. “Kau butuh jawabanku?”  Dia tersenyum. “Tidak juga, tetapi aku yakin apapun itu kau dan dia bukanlah sepasang kekasih atau pasangan yang sedang melakukan pendekatan.”  “Kau terlalu percaya diri,” aku terkekeh. “Memangnya siapa yang tahu hubungan orang lain lebih dari orang yang menjalaninya sendiri?”  “Karena Kai hanya milik Kakakku, kau adalah orang baru yang tidak begitu penting dan akan segera tersingkir.”  Aku menatapnya tepat di mata. “Kau pikir ucapanmu menakutiku? Berapa umurmu- ah, aku lupa jika kedewasaan tidak ditentukan oleh umur.”  “Apa kau baru saja mengatakan bahwa aku tidak dewasa?”  “Baguslah kalau kau menyadarinya,” aku melangkah menjauh meninggalkan Daniel di belakang.  “Kau ingin apa yang terjadi pada Kinan juga terjadi padamu?”  Tawaku menyembur keluar. “Oh ya? Mari kita lihat.”  Karena aku bukan orang yang mudah terintimidasi, aku tidak akan termakan oleh ucapannya terlepas dia sedang serius atau tidak, aku benar-benar tidak peduli. Jika dia ingin menyebarkan rumor buruk tentangku, maka sebarkan saja.   “Kau benar-benar berani, Krys.”  Gerakanku memakai helm terhenti. Ah, Oliver Kei.. dia datang lagi sekarang?  “Dia bisa melakukan apapun, dia dan Aprilia Jivanna. Apa tidak masalah jika mereka membuatmu menjauh dari Oleander Kai?”  “Lalu?” aku naik ke atas sepeda motor. “Aku bisa hidup tanpa Oleander Kai selama dua puluh enam tahun, kenapa aku harus mempermasalahkan hal seperti itu?”  “Ingin bertaruh, Krys?”  Aku mendengus geli dan tidak manjawab lagi. Dari kaca spion, aku melihat Daniel yang masih berdiri dan menatapku dengan wajah datar. Biar saja dia kesal, aku tidak peduli. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN