Kau tidak bisa menghalangi orang lain untuk datang ke dalam hidupmu karena sebab dan akibat itu berlaku.
Kedatangannya hanya akan mengalihkanmu sejenak, menjebakmu ke dalam lubang yang cukup dalam sehingga kau kesulitan memanjat untuk kembali melihat cahaya. Aku berjanji akan membantumu dan aku memang harus membantumu.
Tetapi ada batasan-batasan yang tidak bisa aku lampaui karena aku bukan kau, aku tidak diciptakan dari persatuan dua orang. Aku tidak memiliki jantung untuk berdetak, darah untuk mengalir karena aku hanya memiliki emosi dan kemampuan melihat apa yang akan terjadi.
Berhati-hatilah.
-Monster in My Dream-
***
Apa aku terlalu agresif? Apa aku terlalu terburu-buru?
Aku melirik Kai yang tidak berhenti tersenyum. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tetapi sekarang aku ingin menghilang saja, bagaimana aku bisa meminta untuk ikut ketika dia akan bertemu dengan sahabatnya?
“Kai,” panggilku.
“Hm?”
“Sepertinya aku pulang saja, kau bisa menurunkanku di depan sana.”
“Tiba-tiba saja? Kenapa? Kau sakit?”
“Huh? Tidak.”
Kai benar-benar menepikan mobilnya, aku sudah menghela napas lega karena mengira dia akan membiarkanku turun dan pergi tetapi ternyata aku salah karena ternyata aku melihat April sedang berdiri di pinggir jalan, sepertinya dia memang menunggu Kai.
Tanpa perlu diminta, aku langsung membuka sabuk pengaman tetapi Kai menahanku dan mungkin April mengerti jadi dia membuka pintu belakang dan duduk di sana dengan tenang. Aish, apa aku membuat situasi menjadi tidak nyaman?
Aku menoleh ke belakang dan tersenyum kecil sebagai sapaan, April juga menatapku dan memberiku senyuman yang lebih lebar.
“Kau datang dari mana?” tanyanya pada Kai.
“Panti asuhan, seperti biasa.”
“Kenapa tidak mengajakku?” tanyanya, sedikit merajuk. “Kau tahu aku pulang sekitar jam sembilan pagi hari ini tetapi kau tidak mengajakku ke sana, padahal aku juga rindu Caca. Kira-kira sekarang dia sudah mau aku gendong belum, ya?”
“Dia takut padamu,” sahut Kai. “Buktinya dia tadi langsung memeluk Krystal.”
“Oh, ya?” April terdengar sangat takjub, dia menatapku dengan mata melebar karena terkejut. “Kau berhasil menggendongnya? Tanpa menangis?”
“Caca tidur digendongannya.”
“Uwah,” April menutup mulutnya. “Ini gila, kau hebat sekali. Padahal aku sudah mengobati anak kecil sejak lama tetapi ternyata pengalamanku tidak bisa membuatku dekat dengan semua anak-anak. Apa mungkin karena kau seorang guru, ya? Mungkin dia melihat sosok keibuan darimu.”
“Ah, tidak juga,” sahutku, merespon.
“Anak kecil takut dengan dokter, mungkin wajahmu menakutkan,” kata Kai dan April mulai membalas perkataan pria itu dengan sama-sama sarkas.
Aku diam saja dan lebih memilih untuk memperhatikan mereka berdua berbicara. Sebenarny aku menyesal dan ingin pulang saja, apalagi setelah mendengar suara Oliver di dalam kepalaku, dia terus mengejekku. Hah, ini buruk.
“Apa anak-anak tidak merindukanku?” tanyanya pada Kai.
“Tidak, mereka tidak menyebut namamu sama sekali,” jawab Kai.
“Sungguh? Kau pasti berbohong,” April memanggilku dan menanyakan hal yang sama. “Apa dia berbohong? Apa anak-anak bertanya tentangku?”
“Mereka memang menyebut namamu,” jawabku. “Sekitar dua atau tiga kali.”
“Dengar!” rajuk April lagi, dia memukul bahu Kai. “Kau berbohong padaku!”
“Mereka toh tidak menanyakan kabarmu, mereka hanya menyebut namamu,” Kai membela diri. “Sudahlah, ini rumahnya dimana?”
Mendengar Kai mengatakan itu, aku kembali fokus ke depan dan ternyata aku juga tidak tahu dimana posisi kami sekarang. Sebenarnya mereka ini akan pergi kemana?
“Ah, aku tidak percaya harus datang ke pesta pernikahan jam segini,” kata April, dia melepas jaketnya sehingga aku bisa melihat dia memakai dress berwarna biru tanpa lengan dan aku baru sadar bahwa dia membawa kantong kertas yang berisi sepatu hak tinggi berwarna senada.
“Minta Daniel untuk menjemputmu,” ucap Kai sebelum April turun.
“Aku tahu, aku tidak akan merepotkanmu.”
“Kau sudah merepotkanku.”
Menggelengkan kepalanya, April melambaikan tangannya padaku sebelum turun dari mobil. Dia menutup pintu, tetapi kemudian dia mengetuk kaca mobil Kai dan meminta laki-laki ini untuk menurunkan kaca mobilnya.
“Ada apa?” tanya Kai..
“Aku akan mengambil jaket dan sepatuku besok di rumah sakit.”
“Terserah kau saja.”
“Jangan buang sepatu dan jaketku.”
Kai tersenyum, dia kembali menaikkan jendela mobilnya. “Aku tidak bisa berjanji.”
Aku memperhatikan saja dan sepertinya Kai sadar jika aku tidak banyak bicara sejak tadi jadi dia menatapku dan memberiku senyum lebarnya.
“Maaf, aku mengabaikanmu, ya?”
“Tidak juga,” aku tersenyum kecil dan menggelengkan kepala. “Aku hanya takjub karena kau memiliki sahabat yang sangat dekat denganmu seperti itu, kau pasti sangat bersyukur karena memilikinya.”
“Tentu, aku harus bersyukur karena dia sudah mau menjadi temanku sejak aku kecil.”
“Sejak kecil?” ulangku.
“Ya,” Kai tertawa. “Aku anak angkat di keluargaku tetapi aku tidak bisa mengingat apapun dan April adalah teman pertamaku saat aku masuk sekolah dasar.”
“Oh,” aku menganggukkan kepalaku. “Tidak apa-apa kau menceritakan hal ini padaku?”
“Apa kau akan membocorkannya kepada orang lain atau mengunggahnya di suatu tempat?”
Aku tertawa. “Apa aku terlihat seperti orang yang tidak memiliki pekerjaan?”
Kai tersenyum, dia membelokkan mobil. “Ah, sepertinya aku harus pergi ke rumah sakit sebentar, tidak apa-apa, kan?”
“Ya,” jawabku.
Aku tidak mengerti kenapa dia banyak tersenyum, apakah pipinya tidak sakit atau semacamnya?
Sepanjang jalan, aku melirik Kai beberapa kali. Alasannya? Karena dia bersenandung sekaligus tersenyum. Apa menurut kalian dia sedikit aneh? Maksudku, dia terus bersenandung dan tersenyum. Sifat waspadaku mulai menyalakan sinyal tidak nyaman.
Apa ada sesuatu yang dia pikirkan? Dia terlihat sangat senang sekaligus sedikit menakutkan. Auranya seperti bercampur, dia hangat tetapi jika semakin didekati rasa hangat yang awalnya sangat nyaman dan terasa seperti penyelamat di musim dingin, sekarang hangatnya mulai berbeda. Atau hanya perasaanku saja?
“Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?” tanyaku.
“Ya,” jawabnya langsung. “Kau.”
“Aku?”
Kai memarkirkan mobilnya dengan sempurna, dia membuka sabuk pengamannya dan menatapku, lagi-lagi dengan sebuah senyuman. “Ayo,” ajaknya.
Menghela napas, aku juga melepas sabuk pengamanku dan turun dari mobil, mengikutinya yang berjalan cukup cepat sambil terus melihat jam di pergelangan tangannya.
“Krys,” dia berhenti mendadak sampai aku hampir menabrak dadanya. “Kau bisa menungguku di sana? Aku harus melihat keadaan pasien di ruangan itu.”
“Ah, ya.”
Kai merogoh sakunya, awalnya saku sebelah kirinya tetapi sepertinya yang dia cari tidak ada di sana jadi dia merogoh saku sebelah kanannya.
Aku menunggunya dan ketika dia mengeluarkan permen dari saku celananya dan memberikannya padaku sebegai permintaan maaf karena aku harus menunggu, aku menerimanya dengan senyuman kecil di wajahku.
“Thank you.”
Kai mengedipkan sebelah matanya. “Jangan buang sampah sembarangan!” dia memberi peringatan sambil berjalan mundur.
Mengangguk, aku memberi isyarat dengan tanganku agar dia tidak berjalan mundur dan dia langsung berlari ke arah ruangan yang dia tunjuk tadi. Aku melihat sekeliling dan menghela napas, ada yang tersenyum karena keluarganya sembuh atau penyakit yang diderita tidak terlalu parah, ada yang merenung dan ada yang menangis dalam diam.
Dari kecil aku tidak suka suasana di rumah sakit, mungkin karena itulah cita-citaku yang awalnya ingin menjadi dokter berubah menjadi tentara dan berakhir menjadi seorang guru sekolah dasar.
Tiba-tiba saat aku berbalik, aku melihat dia yang seharusnya tidak aku lihat di dunia ini, Oliver Kei sedang berdiri sambil menatapku dengan tatapan tajam. Aku tidak akan menunjuknya atau berbicara karena melihat dari bagaimana banyak orang menembus badannya aku sudah yakin kalau aku akan langsung dianggap gila jika itu terjadi.
“Bagaimana April?” tanyanya, dia mendekat padaku. “Bukankah mereka sangat dekat? Tetapi aku merasakan keraguan di dalam hatimu untuknya, apa kau melihat persamaan kami sekarang?”
Aku mematung karena aku memang tidak bisa mengatakan apapun padanya sekarang, dia mengejekku dan terus memberikan petunjuk-petunjuk yang kurang memuaskan. Tapi apa yang dia lakukan sekarang juga membuatku ragu, apa aku harus menepisnya?
“Daniel,” katanya. “Dia akan segera datang. Berhati-hatilah.”
Lalu aku melihatnya berlari menembus tubuhku dan menghilang tepat di depan mataku. Aku menghela napas, kenapa dia melakukan ini sekarang?
“Krys?”
Aku segera menoleh ke asal suara dan melihat Kai mendekat.
“Kau melamun?” tanyanya.
“Tidak,” aku menggeleng kecil dan tersenyum. “Kenapa cepat sekali, sudah selesai?”
“Ya, tetapi aku menghubungi Daniel untuk mengambil sepatu dan jaket Kakaknya di mobil. Ayo kita tunggu dia di luar.”
“Daniel?”
“Adik April, dia bekerja di sekitar sini jadi dia akan cepat sampai. Kau ingin makan sebelum pulang?”
“Tidak, kita makan kapan-kapan saja.”
Menarik napas, aku menggigit bibir bawahku. Namanya Daniel, ya? Tetapi kenapa aku harus berhati-hati dengannya daripada pada orang yang berjalan berdampingan denganku ini?
Saat menunggu bersama Kai, dia terus memperhatikan jalanan dan aku juga melakukan hal yang sama. Kami berdua menunggu kurang lebih selama lima menit dan seseorang mengetuk kaca mobil di sampingku.
“Itu Daniel,” kata Kai, dia menurunkan kaca mobil sepenuhnya sehingga aku bisa langsung bertatapan dengan mata seseorang yang menurut Oliver Kei aku harus berhati-hati padanya dan benar saja, aku bisa melihat gejolak di matanya.
“Buka pintu belakang,” kata Kai dan pria bernama Daniel itu menurut, dia mengambil jaket dan sepatu April di sana. Setelah itu dia menutup pintu dan ketika aku berpikir dia akan langsung pergi, ternyata dia kembali menunduk dan menampakkan wajahnya di sampingku.
“Kau jemput Kakakmu nanti, katanya dia akan menghubungimu.”
“Oke,” jawabnya dengan sangat ramah tetapi matanya berbanding terbalik dengan senyuman di wajahnya. “Sampai jumpa.”
“Ya, sampai jumpa.”
Dia mengatakan kalimat itu kepada Kai tetapi matanya tidak berhenti menatapku, dan lagi aku bisa mendengar suara Kei di kepalaku dan dia memintaku untuk berhati-hati. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa aku dikelilingi oleh orang-orang seperti ini?
***