Jatuh cinta itu berat, Krys, karena kau tidak bisa melepas perasaan itu begitu saja. Kau bisa dengan mudah membenci sesuatu, kau bisa dengan mudah memaafkan tetapi tidak semudah itu untuk melupakan. Itu juga berlaku untuk cinta, bagaimanapun kau akan mengingatnya, apalagi ketika dia merupakan cinta pertama.
Aku tidak akan menghalangimu karena bagaimanapun itu urusan hatimu, tetapi tetap ingat kalau aku sudah memberi lampu kuning padamu. Kita bukan orang yang sangat mampu mengubah takdir, kau dan aku maupun dia tidak memiliki hak untuk itu. Tetapi rintanganmu cukup besar dan aku harus mengawasimu supaya tidak tertelan sebab terjebak dalam gemilangnya cahaya tidak semenyenangkan kelihatannya.
Keberadaanku membingungkan, tetapi kau akan mensyukurinya. Mungkin tidak sekarang, tetapi segera.
-Monster in My Dream-
***
Minggu pagi. Aku tidak tahu kenapa aku harus menyetujui ajakan Oleander Kai di hari yang tenang ini, satu-satunya hari di mana aku tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu dan sendirian di rumah karena biasanya Ayah dan Ibu akan mengunjungi rumah Nenek.
Aku berpakaian cukup santai, hanya striped shirt, ripped boyfriend jeans dan all white sneakers. Oleander mengatakan bahwa dia akan menjemputku dan aku mengiyakan saja karena Ayah akan memarahiku jika aku ketahuan memakai sepeda motor sendiri, bahkan saat aku pulang setelah acara pemakaman Kakek Yuna dua hari yang lalu, Ayah memarahiku karena dia takut aku tiba-tiba pingsan.
Dari jauh aku bisa melihat mobil putih mendekat, aku tidak memperlihatkan ekspresi apapun karena meskipun aku senang aku tidak bisa tersenyum begitu saja- ah, kecuali jika aku bertemu dengan anak kecil, senyumku akan otomatis mengembang dan itu memuaskan untuk diriku sendiri.
“Hei,” sapanya begitu aku masuk ke dalam mobil.
“Hei,” sapaku balik.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Kai basa-basi sebelum kemudian kembali melajukan mobilnya.
Aku mengangguk sekali. “Baik. Kita akan pergi kemana?”
Kai tersenyum. “Tempat yang bagus untuk pergi berkencan?” katanya.
Mengangkat satu alisku, aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Aku mengamati jalan untuk mengetahui kemana Kai akan membawaku pergi, lalu tanpa aku tahu sebuah lagu sudah terputar dan memenuhi mobil. Menoleh ke arah Kai, dia tampak sangat menikmati lagu yang diputarnya.
“Kau pernah pergi ke daerah sini?” tanya Kai padaku, dia mengecilkan volume lagu.
“Belum,” jawabku. “Ada apa di sini?”
“Orang-orang yang kau sukai.”
Awalnya aku memang tidak mengerti, tetapi ketika melihat mobil Kai masuk ke halaman sebuah yayasan panti asuhan, aku mengerti apa yang dia maksud dengan ‘orang-orang yang aku sukai’.
Kai melepas sabuk pengamannya. “Ayo!” ajaknya padaku disertai senyuman.
Melihat Kai turun dari mobil, aku juga melakukan hal yang sama. Aku tidak tahu alasan kenapa dia mengajakku ke sini, aku benar-benar kebingungan sampai Kai membuka bagasi mobil dan meminta bantuanku untuk membawa kantong kertas yang cukup banyak.
“Langsung saja masuk ke dalam,” katanya padaku dan aku menurutinya.
“Caca jangan lari, nak, nanti jatuh!”
Aku berdiri diam saat seorang anak kecil yang mungkin saja baru bisa berjalan mendekat ke arahku dan memeluk kakiku.
“Cac- oh?”
Melihat seorang ibu-ibu keluar, aku tersenyum kecil dan mengangguk sebagai salam.
“Aduh, neng.. aduh Caca sini dulu,” Ibu itu terlihat kebingungan dan berniat menggendong anak kecil yang memeluk kakiku dengan sangat erat.
“Tidak apa-apa, Bu,” aku meletakkan kantong kertas yang aku pegang di lantai dan membungkuk untuk menggendong anak kecil bernama Caca itu. “Namanya Caca, ya?”
“Iya, neng,” jawab Ibu tadi. “Aduh Ibu tidak tahu kalau baka ada tamu, duduk dulu, neng.”
“Dia datang bersama saya, Bu.”
Aku menoleh kepada Kai yang berjalan mendekat, dia membawa satu kardus berukuran besar dan meletakkannya di lantai.
“Aden? Ya Allah.. sudah lama sekali, anak-anak pasti senang.”
Sambl menggendong Caca yang tampak mulai mengantuk, aku memperhatikan interaksi Ibu itu dengan Kai, mereka terlihat sangat akrab jadi aku bisa mengambil kesimpulan bahwa Kai sering datang ke panti asuhan ini.
“Duduk dulu, Neng, Aden,” kata Ibu itu mempersilahkan.
“Anak-anak sedang apa, Bu?” tanya Kai.
“Sedang bermain di halaman belakang, Ibu panggil mereka dulu,” ucap Ibu itu, tetapi baru selangkah Ibu itu kembali dan menatapku. “Titip Caca dulu, ya, Neng.”
“Iya, Bu,” jawabku sambil tersenyum.
Aku tetap berdiri karena aku takut Caca akan langsung terbangun. Tangan kecilnya memegang bajuku dengan erat seakan-akan dia takut aku pergi.
“Caca baru tiga bulan di sini,” Kai memainkan tangan kecil Caca, tetapi ucapannya menarik perhatianku.
“Tiga bulan?”
“Orangtuanya meninggal karena kecelakaan mobil dan hanya dia yang selamat,” jelasnya sambil mengusap-usap kepala Caca.
“Lalu kenapa dia berada di sini? Maksudku, dia masih memiliki keluarga Ayah dan Ibunya.”
“Ibunya yatim piatu yang juga besar di panti asuhan, sementara keluarga Ayahnya tidak ada yang mau menerima Caca karena mereka juga tidak menyetujui pernikahan putra mereka dengan Ibu Caca,” Kai menatapku. “Dia berlari ke arahmu, ya? Itu mungkin karena dia rindu Ibunya.”
Aku tidak mengatakan apapun karena aku memang tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tidak begitu suka cerita seperti ini, apalagi jika itu menyangkut anak kecil.
“Kakak!!”
Terdengar teriakan dari dalam rumah, Kai menatapku dan tersenyum. “Mereka datang,” katanya dengan senyuman lebar. Dia kemudian berjongkok dan merentangkan tangannya dan belum sampai hitungan keempat, sudah banyak anak kecil yang berlari ke arahnya sehingga aku harus mundur sedikit untuk memberi ruang.
“Kakak sudah lama tidak datang kesini, Geisha kangen.”
“Ana juga kangen.”
“Lai juga!”
“Aku juga!”
“Aku!”
Tanpa sadar aku tersenyum melihat bagaimana anak-anak ini berusaha memeluk Kai.
“Oke, anak-anak,” Ibu yang tadi aku lihat bertepuk tangan dua kali. “Bukan cuma Kak Lean yang datang, lho. Lihat siapa di belakang kalian!”
“Uwah..” seru anak kecil yang memakai pita berwarna biru di rambutnya. “Kakak cantik!”
Senyumku otomatis semakin lebar, begitu juga dengan Kai dan ibu-ibu yang menjaga anak-anak ini.
“Caca pasti suka Kakak cantik, soalnya Caca cuma mau digendong sama Ibu Mina tapi sekarang Caca nggak nangis waktu digendong Kakak cantik.”
“Oh, ya?” sahutku dengan senyuman lebar. “Kalau begitu kalian mau kenalan sama Kakak?”
“MAU!” sahut mereka serempak
Ibu Mina segera mengambil alih Caca, tetapi anak itu langsung menangis dan aku berkata tidak apa-apa biar aku saja yang menggendongnya.
“Nama Kakak cantiknya itu Krystal,” ucap Kai, dia mengusap-usap kepala anak-anak satu per satu. “Panggil Kak Krys aja, gimana?”
“Kak Krys, aku Ana!”
“Halo, Ana,” sapaku, sedikit menunduk untuk mengusap kepalanya.
“Aku Geisha!” anak yang memanggilku Kakak cantik itu memperkenalkan diri. “Geisha yang paling imut disini.”
Aku tertawa kecil. “Oh, ya? Geisha yang paling imut?”
“Iya,” dia mengangguk berkali-kali.
“Kalau begitu, Halo Geisha yang paling imut,” sapaku dan Geisha tertawa. Sepertinya dia sangat menyukainya.
Setelah itu aku berkenalan dengan anak-anak panti sau per satu. Aku baru sadar jika mereka semua memanggil Kai dengan sebutan Lean yang diambil dari nama Oleander, aku tidak tahu kenapa mereka membuat nama panggilan lain atau Kai memang biasa dipanggil Lean?
“Caca tidur nyenyak sekali,” Ibu Mina mendekatiku, aku baru saja membaringkan Caca di tempat tidurnya dan keluar untuk melihat Kai bermain dengan anak-anak di halaman.
Aku tersenyum sebagai respon.
“Neng Krys sepertinya sangat menyukai anak kecil,” kata Ibu Mina. “Ibu pikir Lean tidak akan pernah mengajak siapapun kecuali April kesini, tetapi itu sudah lama sekali sejak April datang ke panti ini.”
“April? Dokter April?” tanyaku.
“Ya.”
“Mungkin karena April sedang sibuk, Bu,” kataku.
“Mungkin saja,” Ibu Mina menunjuk ke arah Kai yang tampak bersenang-senang dengan anak-anak. “Ibu selalu suka melihat bagaimana dia selalu berhasil membuat anak-anak tertawa. Aden Lean sangat ramah, bahkan sejak pertama kali dia datang dan membawa banyak hadiah untuk anak-anak.”
“Kak Krys!” Ana memanggilku, disusul panggilan anak-anak yang lain.
“Sepertinya anak-anak juga menyukai, Neng,” Ibu Mina menatapku dan tersenyum.
“Kalau begitu saya permisi dulu,” pamitku dan berjalan ke arah anak-anak yang langsung menyambutku dengan riang.
“Kak Le bilang, Kak Krys itu guru, ya?”
Aku melirik Kai yang tersenyum. “Ya,” jawabku.
“Kak Krys sama Kak Le pacaran, ya?”
“Oh?” aku memicingkan mataku. “Siapa yang bilang tadi?”
Semua anak menunjuk ke arah Gino, anak laki-laki berusia enam tahun yang duduk di bagian belakang.
“Soalnya Kak Lean sudah lama tidak datang bersama Kak April dan Kak Lean bilang kalau Kak April itu cuma sahabat,” jelasnya dengan bahasa yang sangat lucu. “Terus kalau Kak Krys bukan pacarnya Kak Lean, kakak juga sahabat?”
“Bukan,” jawabku. Aku melirik Kai yang hanya tertawa. “Kak Krys bukan pacar, bukan juga sahabatnya Kak Lean.”
“Oh?” Geisha mengangkat tangan. “Kalau begitu, istri?”
Dengan panik aku menggelengkan kepalaku sementara Kai tertawa sambil melakukan highfive dengan Geisha. Hauh, dia ini benar-benar. Bagaimana kalau mereka menganggap semua ini serius?
“Kau benar-benar tidak ada panggilan atau semacamnya?” tanyaku pada Kai setelah anak-anak pergi bermain kejar-kejaran di halaman samping.
“Tidak ada yang menghubungiku,” katanya.
Aku mengangguk. “Kau sering kesini?”
“Ya, tetapi mungkin sudah hampir sebulan sejak aku mampir kesini lagi.”
“Kau sangat akrab dengan anak-anak,” aku memainkan rumput dengan kakiku. “Anak-anak sangat senang saat melihatmu datang.”
“Begitu?” Kai tersenyum lebar. “Syukurlah.”
Kemudian Kai berdiri, dia mengulurkan tangannya padaku tetapi aku hanya menatap uluran tangan itu, kebingungan. Apa yang akan dia lakukan?
“Ayo bermain dengan mereka sebelum pulang,” ajaknya.
Di tengah kebingunganku, aku menerima uluran tangan itu dengan perasaan yang tidak menentu. Sejenak, mataku mulai dibutakan oleh sinar kebahagian sampai aku lupa bahwa Oleander Kai berada di tempat yang tidak bisa aku raih.
Senyumnya, dia memancarkan sinar dari sana. Dia dan semua hal baru yang aku temui ketika aku bersamanya, dia membuatku merasa kalau bukan hanya aku satu-satunya orang aneh di dunia ini.
“Krys, April menelponku, sepertinya aku harus segera menemuinya.”
Dia menunjukkan dunia yang penuh dengan kejutan kepadaku, dia membuatku merasakan kebahagiaan dan kelegaan di dalam hatiku, lalu dia pergi.
Apa aku harus memanggilnya? Seperti kilatan cahaya, apa aku perlu menghampirinya? Rasanya aku ingin menahannya untuk pergi, tetapi perasaan apa ini?
Jika aku tidak memanggilnya sekarang, apakah aku akan menyesal? Aku tidak ingin hubungan ini berakhir begitu saja dengan kami yang menjauh satu sama lain seiring berjalannya waktu. Aku tidak ingin dia menjadi cahaya bagi orang lain.
Karena itu..
“Kai!” panggilku ketika dia akan membuka pintu mobil.
“Ya?” sahutnya.
“Boleh aku ikut?”
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, aku bisa melihat senyum di wajahnya. “Tentu.”
Karena itu, aku tidak ingin terlambat dan menyesali semuanya.
***