Tentang trauma, dia bisa menelanmu ke lubang hitam bagian dasar dengan mudahnya atau jika kau mampu melewatinya, dia hanya rintangan kecil yang bisa kau injak meskipun dia akan menyisakan luka kecil menyengat seperti halnya saat kau menginjak duri.
Kita hidup beriringan dengan kenangan, kita hidup bersama dengan emosi mendalam. Sebagian mampu bertahan dan sebagian lagi tertekan, jadi bagaimana kau akan membantunya dalam berjuang?
Dia menjadi milikmu sekarang, dia akan terus berada di sisimu selama beberapa waktu sebelum sisi jahat dari seorang yang aku benci membuatnya menjauhimu dan kau akan kehilangan dua orang yang mencintaimu di waktu yang bersamaan, kau akan menerima kebencian yang menyesakkan dan aku ingin melihat apa yang akan kau lakukan.
Jadi, Krys, jika aku menawarkan kekuatan untukmu, apa yang akan kau minta dariku?
-Monster in My Dream-
***
Aku melirik Kai yang menyandarkan kepalanya di jendela karena pada akhirnya aku yang menyetir mobil. Kai bilang kalau aku bisa menyentir sampai rumah dan dia bisa menyetir sendiri nanti, tetapi aku menolak, aku mengatakan bahwa aku yang akan mengantarnya pulang dan aku bia pulang ke rumah dengan taksi.
“Belok sini?” tanyaku yang membuat Kai menoleh.
“Ya, rumah paling ujung, pagar hitam.”
Tanpa bertanya lagi, aku melajukan mobil sampai rumah paling ujung. Pagar rumah Kai terbuka jadi aku bisa langsung masuk begitu saja. Kami berdua turun dari dalam mobil dan aku cukup terkejut ketika melihat April sudah berdiri di depan pintu rumah Kai sambil melipat tangan di depan d**a.
“Kau darimana?” tanyanya pada Kai, dia berjalan lurus ke arah kami berdua. “Aku menghubungimu sejak tadi tetapi kau tidak mengangkat telpon ataupun membalas pesanku.”
“Aku lelah,” kata Kai sambil tersenyum kecil, dia menoleh padaku. “Masuk dulu.”
“Ah,” aku menggeleng. “Aku langsung pulang saja.”
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” Kai menahan tanganku, dia kemudian menatap April. “Ayo masuk, kenapa kau masih berdiri disini?”
“Ada hal yang perlu aku kerjakan,” katanya. “Aku akan mampir kesini lagi nanti malam, jadi jangan pergi kemana-mana.”
“Kau memiliki pasien baru?” tanya Kai pada April, dia bahkan sampai membalikkan tubuhnya. “Siapa yang akan mengantarmu ke rumah sakit?”
“Daniel,” jawabnya. “Awas, jangan coba-coba untuk kabur nanti malam atau aku akan mengacak-acak kamarmu.”
Kai melambaikan tangannya ke arah April, aku mengamati interaksi mereka berdua dan dari tatapan April saja aku bisa tahu betapa perempuan itu menganggap Oleander lebih dari sekedar sahabat dan tatapan pura-pura ramahnya ketika bertemu dengan mataku membangkitkan sesuatu di dalam hatiku. Apakah permainan seperti ini layak untuk dimainkan?
“Ayo!” ajak Kai padaku, dia tersenyum sambil menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam rumahnya. Aku memperhatikan laki-laki ini dari samping dan bertanya-tanya tentang bagaimana dia bisa memainkan ekspresi dengan begitu mudahnya, lalu aku tersenyum ketika menemukan bahwa diriku juga mampu melakukannya dengan baik.
“Aku akan mengambilkanmu minum-“
“Kai,” panggilku. “Langsung saja, aku bisa mengambil minum sendiri jika aku mau.”
Dia mengangguk dan duduk di sampingku. Tidak menyangkal, aku merasa jika jantungku berdetak tidak karuan, aku penasaran dengan hal yang ingin dikatakannya sekaligus takut jika aku tidak bisa menjawab pertanyaan jika dia melontarkannya.
“Kau belum menjawabku, bagaimana pendapatmu tentang trauma?”
Aku menelan ludahku. Apa aku harus menjawabnya?
“Krys?”
“Sesuatu yang bisa menelan kita, sesuatu yang membuat kita merasa tidak nyaman tetapi jika kita menganggapnya sebagai kenangan dan mulai mengikhlaskan, semuanya akan baik-baik saja.”
Aku tidak tahu apakah aku sudah menjawabnya dengan baik atau tidak, tetapi entah kenapa perkataan Oliver Kei yang melekat di otakku membuatku menjawab pertanyaan Kai seperti itu.
“Menurutmu, bagaimana jika aku kehilangan semua kenanganku karena trauma?” tanyanya lagi.
“Lalu kau tidak perlu mengingatnya,” aku tersenyum kecil. “Jangan berusaha mengingatnya.”
“Tetapi bagaimana jika aku memiliki kenangan yang harus aku ingat disana?”
Menghela napas pelan, aku terus memikirkan perkataan kei bahwa sekarang Kai tidak bisa lagi mengelak dari kenangan masa lalunya dan aku mulai percaya.
“Apa yang ingin kau tahu, Kai?” tanyaku. “Apa yang ingin kau ingat dari hal yang bahkan alam bawah sadarmu sendiri mencoba untuk menekannya dalam-dalam? Maksudku, bagaimana jika sekarang ternyata lebih baik daripada kau mengingat kenangan masa lalumu?”
“Ini menyedihkan, Krys,” katanya. “Aku tidak bisa mengingat satu hal pun. Aku melupakan orangtua ku atau siapapun yang berada di masa laluku. Lalu menurutmu aku harus diam saja dan melupakan semuanya?”
“Oke,” aku mencoba menenangkannya. “Apa yang kau inginkan sekarang? Kau ingin mengingatnya?”
“Dia bilang itu bisa- maksudku, temanku mengatakan bahwa aku mungkin masih bisa mengingatnya. Aku hanya perlu memancing ingatan masa laluku.”
“Lalu bagaimana jika itu tidak sesuai dengan ekspektasimu?”
Kai menatapku, dalam. “Kau ingin menemaniku?”
“Menemanimu?”
“Rabu malam,” katanya, dia menghela napas dalam. “Jika itu semua tidak sesuai dengan ekspektasiku dan jika memang aku tidak seharusnya mengingat semuanya, bisakah kau menenangkanku?”
Aku balik menatapnya. “Katakan padaku, kau ingin berjuang atau berhenti?”
“Maksudmu?”
“Aku akan menemanimu jika kau percaya diri, tetapi jika tidak.. aku harap kau tidak perlu mendatangi temanmu lagi dan lupakan saja semuanya.”
***
Mungkin Kai kebingungan dengan kata-kataku, dia pasti tidak mengerti kenapa aku begitu melarangnya untuk mengingat masa lalunya tetapi aku tidak bisa menahan diriku. Aku tidak bisa mengatakan apa yang terjadi dengannya di masa lalu, tentang orangtuanya dan tentang Oliver Kei yang selama ini selalu berada di sisinya dan tumbuh bersamanya.. aku sedikit frustasi tetapi aku tidak ingin dia merasakannya.
Tentang Oliver Kei dan bagaimana monster yang selalu hadir di mimpiku itu membunuh kedua orangtua Kai begitu saja, aku tidak bisa menceritakan hal yang tidak masuk akal kepada Oleander Kai dengan begitu mudahnya karena bagaimanapun kami berdua baru saling mengenal dan tidak masuk akal jika aku mengetahui masa lalunya secara rinci atau dia akan berpikir kalau aku menguntitnya, atau lebih parahnya dia akan menganggapku gila.
Aku sekarang berada di dapur untuk mengambil air minum dan Kai masuk ke dalam kamarnya, namun saat aku hendak kembali ke ruang tamu, aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya muncul. Bayangan itu.. persis seperti apa yang pernah Oliver Kei tunjukkan padaku.
Tunggu, bagaimana bisa bayangan itu muncul disini? Apa aku sedang bermimpi?
“Apa yang kau lakukan disana?”
Hampir menjatuhkan gelas yang aku pegang, aku terkejut ketika melihat Kai berdiri dengan pakaian yang lebih santai. Dia menatapku dengan tatapan bingung dan aku berusaha untuk mengendalikan diriku.
“Tidak, aku hanya melihat serangga tadi.”
“Serangga?” ulang Kai. “Serangga apa?”
“Tidak tahu,” aku mengedikkan bahuku. “Tamu ini mengambil minumnya sendiri, tetapi aku tidak mencuri apapun dari dalam kulkasmu.”
Kai tertawa. “Tidak ada yang bisa kau curi kecuali sayuran dari dalam sana.”
“Oh, aku membencinya.”
Dia tersenyum dan aku membalas senyumnya, setelah itu kami berdua kembali berjalan ke ruang tamu. Aku duduk dengan tenang sambil melihat sekeliling.
“Apa itu April?” tanyaku pada Kai sambil menunjuk sebuah foto yang memperlihatkan tiga orang anak kecil.
“Ya,” Kai tersenyum. “Itu diambil di hari ulang tahun Daniel. Ah, kau sudah bertemu dia, kan?”
Aku mengangguk. “Ya, dan aku tidak menyukainya.”
“Apa dia berbuat salah padamu?” tanya Kai. Dia tertawa. “Ini langka, kau adalah satu-satunya perempuan yang membencinya. Biasanya semua perempuan tertarik padanya.”
“Apa dia bisa membunuh orang tanpa ragu?” tanyaku langsung. “Wajahnya seakan berkata bahwa dia bisa saja membunuhku dengan sekali jentikan jari.”
“Dia baik,” Kai tersenyum. “Hanya saja meskipun dia sangat baik sekalipun, aku tidak akan membiarkanmu untuk bersamanya.”
“Kenapa?”
“Bukankah itu sudah jelas?” Kai memiringkan kepalanya. “Karena aku tertarik padamu dan aku menginginkanmu untukku.”
Saat itu aku diam. Aku tidak tahu jika dia akan mengatakan hal seperti ini dengan begitu mudahnya- maksudku, dalam situasi seperti ini, aku hanya tidak menyangka saja.
“Apa aku perlu mengatakan sesuatu?” tanyaku dengan bodohnya.
Kai tertawa. “Ya. Aku menunggumu untuk mengatakan hal yang sama karena, Krys, aku pikir tidak ada gunanya menahan perasaan dan tanpa sadar aku sudah banyak bergantung padamu.”
“Kau tidak peduli dengan perasaan sahabatmu?”
“Huh?”
“Bagaimana jika aku mengatakan padamu jika April menyukaimu?”
“Ya, dia menyukaiku,” katanya yang membuatku mengangkat alis. “Tidak masuk akal jika dia membenciku ketika kami berteman dalam jangka waktu yang sangat lama.”
“Kau sedang berpura-pura bodoh, ya?” tanyaku, aku mendekatkan tubuhku pada Kai. “Bagaimana mungkin kau tidak mengetahui perasaan sahabatmu sendiri? Tetapi bagaimanapun aku tidak peduli.”
Aku merubah sikapku. Seperti perkataan Kai, tidak ada gunanya menahan perasaan dan jika dia menginginkanku untuknya, maka aku juga menginginkannya untukku. Aku tidak peduli dengan perasaan April karena menurutku kesempatan dan keberanian tidak datang dua kali. Tidak peduli siapa ang lebih dulu mencintai dan perasaan siapa yang lebih besar, jika kita kehilangan kesempatan, maka itu semua tidak ada gunanya.
“Apa yang kau inginkan dariku, Oleander Kai?”
“Semuanya.”
“Kita bahkan baru mengenal,” aku memancingnya. “Kau benar-benar tertarik padaku? Mungkin ini menyakitimu, tetapi meskipun aku memiliki ketertarikan yang sama, aku belum bisa mengatakan bahwa aku jatuh cinta padamu.”
“Itu bukan masalah,” katanya, dia mengedikkan bahu dan tersenyum lembut. “Tunggu, apa itu artinya kau menerimaku?”
“Aku tidak pernah menolakmu sejak awal, kau tidak merasakan itu?”
Dia tersenyum dan aku membalas senyumnya dengan sama lembutnya. Aku suka melihatnya tersenyum karena senyumnya terlihat sangat tulus dan menenangkan, seperti tidak ada kepalsuan. Aku bahkan sangat menyukai caranya tertawa dan aku ingin mendengar tawanya selamanya, apalagi.. menjadi alasan dari tawanya, aku menginginkannya.
“Aku akan menemanimu rabu malam,” putusku. “Tetapi berjanjilah padaku untuk tidak terlalu memikirkan hasilnya. Kau mengerti?”
“Kau mengatakannya seakan-akan kau sudah mengetahui segalanya,” dia terkekeh. “Tetapi tenang saja, rasa khawatirmu itu tidak akan terjadi karena aku akan baik-baik saja.”
“I wish,” gumamku pelan, bahkan mungkin dia tidak mendengarnya.
“Jadi,” dia berdehem. “Mulai hari ini apa aku boleh menghubungimu setiap saat?”
“Kau bisa melakukannya selama itu tidak mengangguku atau jika kau melakukannya,” aku memiringkan kepalaku. “Aku akan memblokir kontakmu.”
Lalu dia tertawa, dia benar-enar tertawa seakan-akan dia tidak melewati hal-hal buruk di hari ini. Dia tertawa lepas dan tiba-tiba aku takut jika kenangannya merenggut semua itu darinya. Gambaran bagaimana dia berlari sekuat tenaga dengan kaki dipenuhi luka untuk menghindari orangtuanya melintas di otakku, ketakutannya terbayang di otakku dan jika aku harus menjawab pertanyaan Oliver Kei tentang bagaimana caranya aku membuatnya bertahan dan tidak tenggelam bersama kenangannya yang kejam mulai terbayang.
Bagaimana jika aku tidak bisa melakukannya? Bagaimana jika dia terpuruk karena aku tidak berhasil menghiburnya?
Aku menatap Kai yang masih tertawa dari samping, mengamati bagaimana tampannya dia dan bagaimana tawa manisnya memenuhi telinga membuatku tanpa sadar mengelus kepalanya seperti anak kecil.
“Kenapa?” tanyanya.
“Aku menyukai tawamu,” aku tersenyum. “Tidak bisakah kau terus tertawa?”
Karena aku memiliki harapan untuk membantumu bangkit. Jika kenangan itu menarik kakimu, maka aku akan menarik tanganmu dengan sekuat tenaga. Oliver Kei bertanya padaku tentang tujuan hidupku, lalu apa salahnya jika aku menjawab itu dengan ‘kamu’?
***