TRAUMA

1646 Kata
Hidup seperti apa yang sedang kau cari? Kau ingin hidup seperti seorang ratu yang selalu dihormati atau menjadi rakyat jelata yang selalu di dzolimi?                 Beberapa orang tidak bisa diajak bekerja sama dan beberapa orang lainnya sibuk sampai melupakan apa yang mereka punya, lalu sebagian kecilnya menyimpan simpati padamu dan sebagian yang lebih kecil lagi selalu menyapamu dengan senyuman.                 Aku tidak mengerti arti keberadaanku sampai aku bertemu denganmu yang selalu bisa tersenyum kepada anak kecil. Aku tidak memiliki kenangan seperti itu dan dia kehilangan kenangannya yang mana itu menguntungkan bagi kondisi mentalnya.                 Maka dari itu aku kembali bertanya tentang tujuan hidupmu, apa yang sedang kau cari dan bagaimana jika ada yang menghancurkannya? Krys, apa yang akan kau lakukan jika itu terjadi sebelum kau berhasil meraih apa yang kau impikan? -Monster in My Dream- ***                 Menggigit bibir, aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi karena semuanya terasa aneh. Aku memang berusaha menerima semuanya tetapi beberapa kali aku pikirkan, ini semua tidak terasa nyata. Bagaimana aku bia memiliki teman sepertimu yang berbeda alam denganku? Apa mungkin jika sebuah kebetulan tentang ‘gelang’ berhasil membuatmu masuk ke dalam mimpiku?                 Lalu kau menuntunku, kau memperlihatkan apa yang kau bisa dan membuatku terkesima dengan sekejap mata. Kau mengatakan padaku bahwa kau mengambil energiku untuk tetap hidup lalu akan mengembalikannya saat kau hancur suatu hari nanti, tetapi jika kau tahu kapan dan karena apa kau bisa hancur, kenapa kau tidak menghalangi semua itu terjadi?                 Terbangun, aku langsung duduk dan memejamkan mata begitu rasa pusing melandaku. Apa yang aku gumamkan sambil menatap bayangan Oliver Kei tadi? Bagaimana bisa aku bermimpi hal seperti itu?                 Aku mengusap wajahku dan turun dari kasur untuk mengambil air. Ini masih jam tiga pagi dan aku terbangun dengan perasaan campur aduk yang disebabkan oleh sosok dingin yang mampu membekukan seluruh tubuhku, sosok yang entah bagaimana berhasil membuat otakku selalu memikirkannya.                 “Kenapa bangun?”                 Menghentikan langkah, aku menoleh ke arah suara dan menemukan Ayah sedang menatapku dari sofa yang terletak di depan TV. Aku menghela napas dan melanjutkan langkahku.                 “Haus,” jawabku, aku terus berjalan ke arah dapur dan kembali dengan segelas air. Aku kembali melewati Ayah dan memutuskan untuk duduk di sampingnya. “Ayah sendiri kenapa belum tidur?”                 “Sekarang tanggal 24 Agustus.”                 Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, aku menganggukkan kepalaku karena mengerti apa yang dimaksud Ayah. Tanggal 24 Agustus, bagaimana bisa aku lupa apa yang terjadi pada tanggal dan bulan ini sepuluh tahun yang lalu?                 Aku melirik tangan kiri Ayah, ada bekas dua luka tembak di lengan bawahnya. Ayah juga kehilangan dua rekannya di tanggal ini sepuluh tahun yang lalu. Meminum airku sampai tandas da setelah itu aku menyandarkan kepalaku di bahu Ayah.                 “Kembali ke kamarmu dan tidur,” kata Ayah. “Jangan tidur disini.”                 “Tidak mau,” aku memejamkan mataku. “Aku selalu bermimpi buruk ketika tidur sendirian.”                 Ayah menepuk tanganku pelan dan aku merasa ingin menangis. Saat aku masih kecil dulu aku jarang bertemu dengan Ayah karena pekerjaannya, aku anak tunggal dan juga jarang bermain dengan teman-temanku, aku selalu berada di rumah.                 “Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Ayah.                 “Baik, sudah lebih baik dari sebelum-sebelumnya.”                 “Memangnya kenapa sebelumnya?” tanyanya.                 “Ada yang berpikir kalau aku memiliki hubungan dengan Kak Karan,” aku mengedikkan bahuku. “Aku benci karena harus mengungkapkan identitasku hanya untuk tidak lagi mendengarkan komentar-komentar tidak perlu seperti itu.”                 Ayah terkekeh. “Terkadang itu penting, Krys. Ayah juga tidak pernah memintamu untuk menyembunyikan siapa dirimu dan orang-orang tetap akan menaruh perhatian mereka kepada kita, terlepas mereka mengenal kita atau tidak. Kamu juga tahu itu, kan?”                 Aku mengangguk.                 “Ayah dengar dari Ibu kalau kamu sedang dekat dengan seorang dokter, apa itu benar?”                 Menegakkan tubuhku, aku mencoba menatap Ayah dengan tatapan lurus. “Hanya teman, Ibu bereaksi terlalu berlebihan.”                 Ayah mengangguk-angguk, dia tidak menanyakan apapun lagi dan aku kembali bersandar di bahunya. Tentang Kai, apa yang laki-laki itu lakukan sekarang? Apakah dia tidak bisa pulang dari rumah sakit atau sedang tertidur di rumahnya? Hah, kenapa aku memikirkannya?                 “Tidur di kamarmu sana,” suruh Ayah lagi. “Disini dingin.”                 “Ayah juga kembali ke kamar sana,” balasku. “Disini dingin.”                 “Hah, kamu dan mulutmu itu, ya.”                 Aku terkekeh geli dan memilih untuk mengikuti perkataannya. Aku berdiri dan mengambil gelas di atas meja untuk mengembalikannya ke dapur sementara Ayah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia memperhatikanku sampai aku menutup pintu kamar. Meskipun aku tidak begitu banyak memiliki kenangan masa kecil dengan Ayah, tetapi aku sangat menyukai bagaimana Ayah selalu menyempatkan hadir di acara-acara penting yang digelar sekolah untuk mendukungku. Bagaimanapun, dia adalah cinta pertamaku.                 Setelah kembali duduk di atas kasur, aku menghela napas dan mengambil ponselku. Aku mendengus geli ketika melihat riwayat panggilan telponku dan tertera nama Kai disana, tetapi ekspresiku langsung berubah ketika kembali teringat bahwa Kai mungkin akan kembali mengingat masa lalunya.                 Jika dia mengalami amnesia karena trauma atau memakai hipnotis, maka tidak menutup kemungkinan dia akan kembali mengingatnya meskipun itu sudah terjadi di waktu yang sangat lama, atau mungkin untuk kasus Kai, dia bisa saja mengingat semuanya dengan sangat jelas seperti baru terjadi kemarin. Lalu bagaimana?                 Drrtt                 Oleander Kai: Hai, Krys.                 Aku menaikkan alisku, kenapa dia tiba-tiba mengirim pesan?                 Krystal: Hai. Ada apa?                 Tidak butuh waktu lama bagiku untuk kembali mendapat balasan pesannya.                 Oleander Kai: Aku hanya melihatmu online. Apa yang sedang kau lakukan?                 Krystal: Tidak ada, aku terbangun karena haus.                 Oleander Kai: Aku boleh menelponmu?                 Tanpa aku sadari, sudut bibirku naik. Aku tidak bisa menahan senyumku ketika melihat balasan pesannya, jadi aku mengetik jawaban yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan lagi.                 Nada dering ponselku terdengar, aku berdehem sebelum mengangkat telponnya dan begitu saja, suara Oleander Kai terdengar sangat nyaman memenuhi telingaku. Dia memanggil namaku dengan suara manisnya dan entah bagaimana aku terpesona.                 “Kau sendiri, apa yang sedang kau lakukan di jam segini?” tanyaku sambil menarik selimut untuk kembali berbaring.                 “Ada pasien yang harus aku pantau karena dia baru selesai dioperasi,” aku bisa mendengar Kai menguap. “Bagaimana denganmu? Kau sudah minum?”                 “Hm,” sahutku. “Kau mengantuk? Apa kau sendirian disana?”                 “Tidak, ada dokter residen.”                 Meskipun tahu Kai tidak bisa melihatnya, aku tetap mengangguk-anggukkan kepalaku. “Tapi, Kai..”                 “Ya?”                 “Kau ini sebenarnya dokter apa?”                 Kai tertawa. “Umum,” jawabnya.                 “Apa spesialismu?”                 “Bedah umum,” jawabnya                 “Bedah.. umum?” tanyaku ulang. “Apa pekerjaanmu memang membantu orang yang terluka seperti aku? Maksudku, aku tidak dalam kondisi yang perlu dioperasi saat itu, dan bahkan yang bermasalah adalah bagian kepalaku tetapi kenapa kau yang menjadi dokterku saat itu? Aku pikir kau hanya dokter umum dan tidak mengambil spesialis.”                 “Ah,” Kai tertawa. “Semua orang juga menanyakan hal yang sama. Aku memang suka berkeliaran di IGD, kadang aku suka membantu disana jika tidak ada pasien yang dijadwalkan untuk operasi atau perlu di pantau.”                 “Kau.. melakukan semuanya,” aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Bukankah pekerjaanmu sendiri sudah cukup berat? Lagi, bagaimana bisa kau mendapatkan spesialismu di usia muda?”                 “Aku mengikuti kelas akselerasi, aku mulai berkuliah saat berumur enam belas tahun dan sekarang aku sudah dua puluh delapan tahun. Aku bersekolah dengan April dan lulus dalam waktu yang bersamaan, masuk kuliah di kampus yang sama dan sama-sama mengambil fakultas kedokteran. Sebenarnya itu perjalanan yang cukup panjang, membutuhkan waktu hampir sepuluh tahun untuk mendapatkan spesialisku.” jelasnya lalu tertawa. “Maaf, kau mendengarkan pembahasan tidak menarik seperti itu.”                 “Tidak, lagipula aku yang bertanya.”                 “Krys, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan- tidak, bukan pertanyaan, aku hanya meminta pendapatmu saja.”                 “Pendapatku? Tentang apa?” tanyaku penasaran.                 “Umur berapa pertama kali kau belajar sepeda?”                 Aku berpikir sejenak. “Aku pikir itu.. kelas satu SD? Aku ingat Ayahku membelikanku sepeda berwarna biru saat itu. Kenapa?”                 “Aku sebenarnya ingin menanyakannya kepada dokter di bidang ini tetapi aku ragu, menurutmu apa mungkin jika kita tidak mengingat masa kecil kita sedikitpun? Maksudku, seakan-akan aku tidak memiliki kenangan masa kecil yang tersisa,” jelasnya. “Apa itu mungkin? Apa ini karena aku mempunyai ingatan yang buruk?”                 Rasanya jantungku akan meledak saking gugupnya. Kenapa dia menanyakan hal seperti ini?                 “Bukankah kau mengatakan padaku bahwa kau pernah melihat dokter saat kau kecil? Aku pikir ingatanmu baik-baik saja.”                 “Memoriku hanya berhenti disana, aku hanya bisa mengingat sampai dokter itu. Menurutmu bagaimana?”                 Apa yang harus aku katakan?                 “Krys?” panggilnya. “Kau tidur?”                 Mendengar dia menanyakan hal itu, aku langsung menemukan ide. Aku tidak menjawab pertanyaan Kai dan berpura-pura tidur. Setelah memanggilku sekitar empat kali, Kai tidak mengatakan apapun lagi jadi aku pikir dia memutuskan sambungan telponnya tetapi ternyata tidak.                 Aku menunggu, kenapa dia tidak kunjung memutuskan sambungannya?                 “Krys,”                 Terperanjat ketika kembali mendengar suara Kai, aku menahan napas.                 “Selamat tidur.”                 Lalu sambungan terputus dengan aku yang tetap menahan napas karena terkejut. ***                 Apa yang sangat aku takutkan? Tidak bisa meraih apa yang aku impikan atau tidak sengaja melepasnya ketika apa yang aku impikan itu belum erat aku genggam dengan tangan.                 “Kau yakin akan menemui temanmu?” tanyaku pada Kai, dia mengajakku untuk menemui temannya yang merupakan seorang psikiater.                 “Aku sudah memikirkan ini sejak lama.”                 Aku menahan tangan Kai. “Bagaimana jika kau kecewa? Maksudku, mungkin lebih baik jika kau tidak perlu mengingatnya.”                 Kai tersenyum. “Kau tahu? Orangtuaku yang sekarang adalah orangtua angkatku, aku ditemukan pingsan di jalan jadi Krys.. aku penasaran dengan masa laluku, aku penasaran kenapa aku tidak bisa mengingat apapun yang berkaitan dengan orangtua kandungku.”                 “Kau tahu kalau rasa penasaran bisa membunuhmu, kan?”                 Dia tertawa. “Kenapa kau menakutiku? Apa kau mengetahui sesuatu?”                 Dengan tergagap aku menjawab. “Kau gila? Aku bahkan baru mengenalmu, bagaimana bisa aku mengetahui lebih dari yang kau beritahu padaku?”                 Kai mengangguk. “Aku percaya. Hanya saja aku ingin menggodamu karena kau terlihat sangat khawatir.”                 Lalu aku tidak bisa menahannya lagi. Aku hanya bisa menunggu selama Kai berkonsultasi, dalam hati aku khawatir. Bagaimana jika dia bisa mengingat segalanya? Bukankah itu akan sangat menyakitkan?                 “Sudah aku katakan, dia akan mengingatnya dengan sendirinya.”                 Suara Oliver Kei yang terdengar sedikit berat dari suara Oleander Kai membuatku memejamkan mata. Dia selalu datang di situasi seperti ini.                 “Kau belum menggenggamnya, tetapi bagaimana jika dia melarikan diri?”                 Aku menutup telingaku.                 “Kau memang menjadi tujuan hidupku untuk sekarang, tetapi kau belum tentu menjadi tujuan hidupnya. Kau tahu itu, kan?”                 Pintu ruangan terbuka, aku langsung berdiri begitu melihat Kai keluar. Dia menatapku dan aku membalas tatapannya.                 “Apa pendapatmu tentang trauma?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN