Usaha awal

1771 Kata
"Maaf, bukan sombong atau takut, tapi ada hal yang membuat saya tidak bisa berteman apalagi menjalin hubungan kekasih dengan senior." sahut Citra dengan bahasa yang baku. "Apa semua karena Jovanka?" tanya J-Ko. "Tidak, bukan karena siapapun. Ini hanya karena perjanjian saya dengan orangtua saya. Saya diijinkan sekolah normal, namun dengan satu syarat bahwa saya tidak boleh dekat apalagi menjalin hubungan khusus dengan siapapun kecuali Aqilla dan kak Ardi. Jadi maaf saya tidak bisa menerima kedua tawaran senior tadi. Saya berterima kasih atas tawaran senior yang membanggakan, tapi sekali lagi maafkan saya, saya masih ingin menjalani sekolah normal." jawab Citra menolak kedua tawaran J-Ko. J-Ko menoleh pada Ardi dengan tatapan bertanya benarkah semua perkataan Citra tadi, dan Ardi mengangguk. J-Ko masih tidak terima dengan anggukan Ardi, kini dia menoleh pada Aqilla dan gadis itu juga melakukan hal yang sama dengan kakaknya. "Apa ini semua karena hal yang kamu ceritakan waktu itu?" tanya J-Ko kembali menoleh pada Ardi dan kembali mendapat anggukan kepala. J-Ko menghela napas panjang dan berat lalu kembali menatap pada Citra. "Apa aku boleh menunggumu sampai kamu lulus dari Boulevard School?" tanya J-Ko seolah ingin menunjukkan kalau perasaannya tulus pada Citra. "Tidak perlu. Senior tidak perlu melakukan hal sia-sia seperti itu. Saya sudah memiliki impian besar yang sangat ingin saya wujudkan, dan impian itu mengharuskan saya untuk tidak memiliki hubungan asmara dalam prosesnya." jawab Citra sangat gigih menolak perasaan J-Ko. J-Ko diam menatap Citra, entah apa yang ada di pikirannya sekarang tentang Citra. Tak ada lagi satu kata yang terucap dari mulut J-Ko. "Maaf Nona muda, makan malam sudah siap." ucapan Bi Tatis mengakhiri segala keheningan mereka. "Baiklah, mari kita makan malam." ajak Citra seraya berdiri sambil menarik lengan Aqilla untuk ikut bersamanya. "J...." panggil Ardi dan J-Ko menghela napas berat lalu tersenyum dan berdiri. Ardi merangkul pundak J-Ko. "Masih mau bertahan sebagai pejantan tangguh?" bisik Ardi menggoda sahabatnya. "Tak ada salahnya mencoba kan?" sahut J-Ko. "Gila! Cinta pertamamu sepertinya sangat tidak mudah ditaklukkan. Bagaimana jika langsung ke pemain cadangan saja? Jovanka termasuk gadis yang sangat bisa dibanggakan juga. Bagaimana?" saran Ardi. "Aku sudah berpuluh-puluh bahkan ratusan kali mengatakan padamu, aku tidak pernah ada rasa apapun terhadap Jovanka yang lebih dari teman!" kesal J-Ko. Keempatnya sudah duduk melingkar di sebuah meja makan yang telah disiapkan oleh pelayan di rumah Citra. J-Ko segera memilih tempat duduk di samping Citra. Gadis itu juga tidak menyingkir atau menjauh dari tempatnya. Berempat makan malam dengan hening hingga selesai. "Makanannya semua enak, terima kasih ya." ucap J-Ko masih tetap ramah dan santai seakan dirinya tidak pernah mendapat penolakan dari Citra. "Terima kasih untuk pujiannya. Bi Tatis memang sangat hebat dalam memasak. Menu apapun yang terbaru apalagi viral pasti akan dia cari resepnya dan mencoba memasaknya." sahut Citra. "Waaahhh apa aku akan mendapat kesempatan lagi di waktu lain untuk mencicipi masakan lain dari bi Tatis yang lezat?" tanya J-Ko tersirat maksud lainnya dari pertanyaan itu. "Seharusnya chef di rumah senior lebih hebat dari bi Tatis. Jadi tidak perlu penasaran dengan masakan bi Tatis lainnya." jawab Citra tetap menunjukkan penolakan. "Bagaimana jika lain waktu, kamu yang datang ke rumahku untuk mencicipi masakan chef di rumahku?" usul J-Ko tetap berusaha membujuk gadis itu. "Tidak perlu, lidah saya hanya cocok dengan masakan bi Tatis saja." tolak Citra lagi. J-Ko hanya diam namun tersenyum menatap Citra dengan mendalam, membuat gadis itu juga balas menatapnya namun tanpa senyuman. Sedaritadi tanpa disadari ada sepasang mata yang mengawasi interaksi keduanya. Saat keduanya tidak berhenti saling menatap, akhirnya pemilik mata pengawas itu merasa harus segera bertindak. "Citra, ada tamu rupanya. Kenapa mommy tidak dipanggil?" tegur sebuah suara dengan lembut. Citra segera berdiri menyambut ibunya dan menggandeng lengannya, mengajak mendekat ke meja makan itu. "Aunty Amanda." sapa Ardi dan Aqilla sambil berdiri lalu menghampiri dan memeluk serta mengecup pipi wanita yang sudah hampir memasuki usia lansia. "Mommy, perkenalkan ini senior J-Ko, dia teman kak Ardi, senior sekaligus ketua organisasi siswa di sekolah Citra." ucap Citra memperkenalkan pria muda itu saat ibunya menatap pada pria itu. J-Ko segera berdiri dan mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya sendiri. Namun wanita itu tidak membalas uluran tangan J-Ko, melainkan hanya diam menatap mendalam pada wajah pria muda itu. "Selamat malam, tante." sapa J-Ko sambil menarik kembali tangannya. Wanita paruh baya itu hanya mengangguk saja. "Citra, sekarang sudah malam, sudah waktunya istirahat. Ardi, apa kamu lupa dengan janjimu?" tegur Amanda dengan lembut namun sangat tegas terdengar di telinga para anak muda itu. "Maaf, aunty. Ardi pastikan lain kali tidak akan terjadi lagi seperti ini." jawab Ardi dengan sangat menyesal. "Bagus! nasib sekolah Citra ada pada janjimu." ucap Amanda lagi lalu segera berbalik dan melangkah meninggalkan halaman belakang rumahnya. J-Ko sangat memperhatikan wajah ketiga anak muda di sekitarnya setelah Amanda menghilang masuk ke dalam rumah. "Senior, silahkan pulang sekarang. Acara makan malam kita sudah selesai. Kak Ardi dan Aqilla yang akan mengantarkan senior keluar dari rumah ini, sekaligus mereka pulang juga. Selamat malam semuanya." ucap Citra lalu berbalik dan menyusul langkah ibunya masuk ke dalam rumah dengan segera. Aqilla dan Ardi menghela napas panjang dan lega bersamaan, seolah barusaja lepas dari tekanan besar. "J, ayo kita pulang sekarang! tidak baik jika kita masih ada disini sedangkan pemilik rumah sudah beristirahat." ajak Ardi dan ketiganya melangkah bersama. ***** "Mom, Citra boleh masuk?" tanya Citra di depan kamar ibunya. "Masuklah!" sahut Amanda dari dalam kamarnya. Citra membuka pintu kamar itu lalu berjalan masuk dan menghampiri ibunya yang sedang duduk di tepi tempat tidur. Citra menghela napas dan menyesal saat melihat ibunya sedang menangis sendiri. Gadis itu ikut duduk di samping ibunya. "Mom, maafkan Citra." sesal Citra menggenggam tangan ibunya. "Kamu tidak salah, seharusnya mommy yang minta maaf. Kecemasan mommy dan daddy sudah membuat masa mudamu tidak normal seperti yang lainnya. Seharusnya mommy sadar kalau putri mommy sangat cantik, tak mungkin tidak ada pria yang ingin mendekatimu." ucap Amanda dengan penyesalan sambil mengusap lembut pipi putrinya. "Mommy tenang saja, aku tidak akan lupa dengan janjiku dan juga tujuanku sekolah di sana." jawab Citra meyakinkan ibunya supaya tidak cemas. "Citra, apa ada yang perlu mommy tahu? bagaimana senior itu bisa datang makan malam di rumah kita?" tanya Amanda. "Di hari pertama kegiatan MOS kemarin itu, Citra menang di kegiatan pertama, dan hadiahnya kencan satu hari dengannya. Tapi Citra menolak hadiah itu di depan podium. Banyak yang terlihat kecewa dengan penolakan Citra padanya, tapi Citra sudah menjelaskan alasan yang bisa mereka terima, mom." jelas Citra tentang awal perkenalan mereka. "Senior itu juga yang menolong Citra saat jatuh di pos tantangan yang dijaga dia. Citra tidak tahu kenapa dari hari pertama hingga hari terakhir MOS, selalu saja terhubung dengan senior itu, dan tiba-tiba dia datang kesini. Tadi Citra langsung memanggil Aqilla dan Kak Ardi buat kesini juga.Dia mengajak Citra makan malam, karena Citra tidak mungkin ikut dia, daripada menolak dan dikatakan sombong, akhirnya Citra minta bi Tatis untuk siapkan makan malam buat kita berempat." lanjut penjelasan Citra. "Citra, mommy lihat dia sepertinya dari keluarga level atas juga. Mobilnya bukan mobil murah biasa." ucap Amanda sudah tidak menangis lagi. "Astaga mommy! Apa mommy lupa?! Boulevard School itu memang sekolahnya anak-anak dari keluarga level atas yang minimal saldo mengendapnya di rekening itu sepuluh milyar. Jadi sudah pasti dia juga dari keluarga level atas, apalagi dia bisa jadi ketua organisasi siswa dan jadi idola, sudah pastilah itu." sahut Citra dan membuat Amanda tersenyum. "Kamu yakin tidak suka dengan senior itu? dia ganteng, kaya, idola juga." tanya Amanda. "Suka, tapi ya sekedar begitu saja. Bukan suka karena cinta atau apalah itu! Mommy tenang saja ya." jawab Citra meyakinkan ibunya lagi. "Citra, kamu tetap harus selalu hati-hati ya. Mommy tidak mau terjadi hal yang buruk padamu." pesan Amanda yang mendapat respon anggukan dari Citra. "Sekarang mommy istirahat dulu ya supaya besok bisa jemput daddy di bandara." ucap Citra lalu memeluk ibunya dan berdiri, melangkah untuk keluar dari kamar itu. Citra kembali ke kamarnya sendiri, dan memeriksa ponselnya. Ada beberapa pesan masuk ke smartphonenya. Aqilla, Kak Ardi, dan satu nomer asing. "Citra, aunty tidak marah sama kamu kan?" (Aqilla) "Tidak, semuanya masih aman." (Citra) lalu Citra mulai membuka pesan dari kak Ardi. "Bagaimana? Senin nanti masih boleh sekolah kan?" (Ardi) "Aman, kak. Terima kasih ya, tadi sudah mau datang. Maaf ya, malam minggu masih tetap repot ngurus aku." (Citra) "Syukurlah, lain kali lebih baik jangan ditemui deh! bilang saja kamu masih istirahat." (Ardi) "Iya, kak." (Citra) Citra lalu membuka sebuah pesan dari nomer asing sebelum membuka balasan dari Aqilla lagi. "Hai, aku J-Ko. Aku pulang dulu ya. Lain kali aku datang lagi. Maaf ya, aku pamit lewat chat." Citra tak tahu lagi harus memberi ketegasan apa pada senior itu. Citra memilih membuka pesan balasan dari Aqilla, dibanding merespon pesan dari seniornya. "Ya ampun aku bisa bernapas lagi. Aku takut kamu bakal diminta homeschooling lagi. Tadi aku minta kak Ardi untuk ngomong ke kak J-Ko supaya tidak lagi mengganggu kamu." (Aqilla) "Terima kasih ya, sahabatku terbaik. Sekarang tidur dulu ya, besok aku harus jemput daddy di bandara." (Citra) Citra mengakhiri chat dengan sahabatnya. Namun matanya menangkap sebuah pesan masuk lagi dari nomer asing yang ternyata milik J-Co. Citra menghela napasnya dengan sangat berat. "Kenapa cuma dibaca? apa kamu marah?" Citra akhirnya memutuskan untuk membalas pesan itu. "Senior, tolong tidak mengganggu hidupku lagi. Saya benar-benar sangat terganggu dengan semua usaha senior. Senior boleh merasa percaya diri dengan keberadaan diri senior, tapi saya tidak akan pernah bisa menjadi teman ataupun lebih dari itu. Maafkan saya." (Citra) "Apa kamu tahu? Semakin kamu menghindariku, maka aku semakin penasaran padamu. Jadi daripada aku semakin gila karena penasaran, bukankah lebih baik kamu menerima saja pertemanan denganku?" (J-Ko) Citra sungguh dibuat kesal oleh sikap keras kepala J-Co. Citra harus lebih memikirkan cara menolak yang lebih tepat. "Senior, apakah senior baru akan berhenti mengganggu saya setelah saya berhenti dari sekolah Boulevard School dan mengubur semua mimpi besar saya? Saya rasa kak Ardi sudah pernah menceritakan pada senior tentang semua alasan mengapa saya harus menolak tawaran senior dan bahkan menghindari senior sejauh mungkin. Saya rasa senior adalah orang yang baik, jadi tolong berhentilah berada di dekat saya, dan biarkan saya berjuang meraih mimpi saya." (Citra) Citra sungguh sangat berharap permohonannya bisa membuat J-Co mengerti dan berhenti. Citra tak lagi menerima balasan apapun dari J-Co setelah lima belas menit berlalu sejak J-Co membaca pesannya. Barusaja Citra hendak meletakkan smartphonenya ke nakas di samping tempat tidurnya, sebuah pesan masuk lagi padanya. "Maaf, tapi aku janji kalau ini akan menjadi pesanku yang terakhir asalkan kamu mau mengatakan padaku, apa mimpi besar yang sedang ingin kamu capai?" (J-Co) Citra ragu untuk mengatakannya, tapi ini satu-satunya cara supaya J-Co tidak lagi penasaran dan berhenti mendekatinya. Sejenak keraguan itu ada, namun akhirnya dia putuskan untuk mengatakan pada senior itu. ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN