Citra mengetik sebuah pesan balasan terakhir bagi J-Ko.
"Saya ingin menjadi dokter spesialis kejiwaan anak-anak, dan berharap bisa menjadi bagian dari organisasi militer yang membantu banyak korban perang, bencana alam dan lainnya terutama anak-anak. Saya harap senior berbaik hati untuk tidak memaksa saya lagi. Terima kasih. Selamat malam."
(Citra)
"Maaf, satu pertanyaan lagi dan setelah ini sungguh aku tidak akan mengganggumu lagi. Apa alasanmu ingin menjadi bagian dari militer?"
(J-Ko)
Citra menghela napas berat, semakin besar kekesalannya terhadap seniornya itu.
"Aku ingin menemukan kakakku yang hilang. Aku pernah mendengar percakapan antara detektif keluarga kami dengan daddy, para penculik itu tidak tersentuh dan tidak dapat ditemukan jejaknya karena mereka diperintah oleh seorang pimpinan militer yang memang dibayar oleh seorang trilyuner di negara ini."
(Citra)
Citra sangat berharap itu adalah pesan terakhir di antara dirinya dan seniornya. Rupanya J-Ko benar-benar menepati janjinya pada Citra, dia tidak lagi mengirim pesan pada gadis itu.
"Terima kasih, senior." ucap Citra dalam hati sendiri, setelah tiga puluh menit tidak ada lagi pesan dari J-Ko.
Citra meletakkan smartphonenya ke atas nakas dan memilih terlelap dalam tidurnya malam ini.
*****
"Jadi dia ingin menjadi bagian dari organisasi militer negara? Baiklah, biar aku uji sendiri seberapa besar hatiku untuk gadis itu. Bukankah seorang Jenderal sangat cocok bila berpasangan dengan dokter militer?" ucap J-Ko pada sendirinya di dalam kamar pribadinya.
Tekad J-Ko sepertinya tidak tergoyahkan untuk mendekati Citra. Bahkan saat Citra sekedar mengatakan tentang impiannya saja, semakin menambah kepercayaan diri J-Co untuk tetap mengejar Citra.
J-Ko terus menatap layar komputernya, ada sebuah foto gadis cantik yang menjadi background dari layar itu.
"Menolakku tapi dia tetap mau menceritakan semua hal pentingnya padaku. Apa kamu tahu? hatiku semakin tidak ingin melepaskanmu, Citra Adelia Hartawan. Tunggulah aku di markas militer!" ucap J-Ko dengan senyuman lebar pada layar monitor.
J-Ko menghabiskan malam panjang ini dengan langsung mencari info tentang bagaimana caranya untuk bisa masuk ke militer negara. Bahkan beberapa syarat dokumen yang dibutuhkan mulai dia siapkan, padahal dia masih harus menyelesaikan tingkat akhirnya di Boulevard School satu tahun kedepan.
*****
2 hari setelah makan malam bersama. Hari Senin, awal sekolah setelah kegiatan MOS berakhir.
Pagi ini Jovanka dan J-Ko kembali berangkat ke sekolah bersama seperti biasanya. J-Ko sungguh menepati janjinya pada Citra. Dia tidak lagi peduli pada Citra sedikitpun meskipun mereka berpapasan saat di lobbi gedung sekolah. Citra langsung menghela napas lega melihat senior itu menepati janjinya, namun Jovanka dan Aqilla justru menjadi sangat bingung. J-Ko sungguh bersikap tidak peduli dengan keberadaan Citra, sama seperti sikapnya pada adik angkatan yang lainnya.
"Citra, apa yang terjadi?" bisik Aqilla setelah mereka masuk dan duduk di dalam kelas.
"Apanya yang apa?" Citra bertanya balik.
"Kenapa senior J-Ko seolah tidak mengenalimu?" tanya Aqilla lagi.
"Bagus dong! bukankah itu membuat aku jadi aman sekolah disini?" sahut Citra
"Aneh! Apa kemarin ada kejadian yang tidak aku ketahui?" tanya Aqilla masih penasaran.
"Tidak ada, kemarin aku dan mommy jemput daddy di bandara. Lalu kami bertiga langsung berlibur ke daerah puncak sampai larut malam."sahut Citra dengan santai.
"Aneh deh! ini benar-benar aneh!" ucap Aqilla pada sendirinya sambil berpikir sendiri, sedangkan Citra hanya tersenyum melihat sahabatnya sangat bingung dengan sikap J-Ko.
Kebingungan dan penasaran bukan hanya terjadi pada Aqilla saja, tapi juga dalam diri Jovanka.
"J, apa kamu baik-baik saja?" tanya Jovanka saat mereka baru tiba di dalam kelas dan Jovanka memilih mengikuti J-Ko hingga ke tempat duduknya, bukan langsung duduk di bangkunya sendiri.
"Iya, aku baik-baik saja, ada apa?" jawab J-Ko bertanya balik.
"Tadi di lobbi kan kita bertemu dengan pemenang yang sombong itu?" tanya Jovanka lagi.
"Iya, lalu kenapa?" J-ko kembali balik bertanya pada gadis itu, membuat Jovanka semakin bingung.
Ardi yang baru datang dan duduk di samping J-Ko ikut menyimak pembicaraan keduanya. Dia takut kalau Jovanka mungkin mengetahui dan kini sedang mempermasalahkan makan malam mereka di malam minggu lalu.
"J, ada apa sih sebenarnya?" tanya Jovanka mulai kesal karena semakin bingung dengan sikap J-Ko.
"Jo, apa sih sebenarnya mau kamu? bukannya kamu yang protes sendiri dan meminta supaya aku tidak dekat-dekat dengan Citra, sekarang aku tidak peduli dengan keberadaan gadis itu kenapa kamu masih protes?" J-Ko kembali membalik pertanyaan pada Jovanka.
"Jadi kamu tidak peduli lagi dengan gadis itu karena aku?" tanya Jovanka dengan mata berbinar, menguapkan kekesalannya.
"Iya, sudah sana duduk! bel masuk sudah berbunyi." jawab J-Ko membuat Jovanka semakin tersenyum lebar dan melangkah menuju ke bangkunya.
J-Ko menoleh ke samping, sangat merasa bahwa Ardi sedang menatap padanya. J-Ko tersenyum padanya dengan santai.
"Dasar aneh!" rutuk Ardi dan berhenti menatap J-Ko.
"Bukannya kamu ingin aku menjaga Citra dari Jovanka? sudah aku lakukan." bisik J-Ko mendekatkan dirinya pada Ardi.
"Dasar gila!" rutuk Ardi lagi meski dia tidak paham sepenuhnya dengan yang terjadi. J-Ko hanya semakin tersenyum lebar penuh makna.
"J, kamu itu sudah sangat ditolak bahkan mommynya saja sangat tidak suka padamu! Apa kamu masih tidak paham dengan penolakannya?!" bisik Ardi.
"Itu kan menurut kamu, bagiku tidak terlihat seperti penolakan. Ini ujian cinta, bro." sahut J-Ko.
"Eh, otakmu sudah pindah ke kaki ya?! memangnya ada mata pelajaran cinta? pake ujian segala! Gila!" omel Ardi kesal pada sahabatnya.
"Sudahlah, lihat tuh! pak Albertus sudah masuk kelas." sahut J-Ko menghentikan semua kegilaan pagi ini.
Jovanka terus berbunga sepanjang hari ini di sekolah, karena ucapan J-Ko pagi tadi. Bahkan saat istirahat dan mereka bertemu dengan Citra lagi di kantin sekolah, J-Ko sungguh tidak peduli dengan kehadiran Citra. Citra juga terlihat tidak peduli saat melihat Jovanka memeluk lengan J-Ko di hadapannya.
"J, mampir ke rumah dulu ya, aku kesepian." bujuk Jovanka saat J-Ko mengantarnya pulang setelah sekolah usai.
"Sorry Jo, aku sedang buru-buru karena ada latihan menembak sore ini." tolak J-Ko.
"Kamu ikut latihan menembak?! sejak kapan?" tanya Jovanka bingung.
"Ini hari pertamaku, jadi aku tidak boleh terlambat." jawab J-Ko.
"Kalau gitu aku juga ikut deh! yuk, kita langsung berangkat saja!" ucap Jovanka.
"Kita tidak boleh masuk jika masih pakai seragam sekolah, kalau aku menunggumu berganti pakaian nanti aku bisa terlambat. Lain kali saja ya, sekarang kamu turun karena aku buru-buru." sahut J-Ko memberi pengertian pada Jovanka.
Jovanka memang kesal tapi dia tetap menuruti ucapan J-Ko dan turun keluar dari mobil J-Ko. Dia tidak ingin J-Ko justru kesal dan marah yang berakibat akan menjauh lagi dari Jovanka.
*****
Satu bulan berlalu, J-Ko dan Citra memang sudah tidak saling peduli, tidak saling berkomunikasi, tapi kesibukan J-Ko justru membuat Jovanka semakin kesal pada laki-laki itu. J-Ko semakin menambah kegiatannya diluar sekolah dan hanya memiliki waktu sekedar menjemput dan mengantar Jovanka ke sekolah dan ke rumah saja.
"Ardi, kamu kan sahabat dekatnya, masa sih kamu tidak tahu kenapa J-Ko semakin banyak kegiatan?!" tanya Jovanka pada Ardi melalui panggilan telepon.
"Tidak, aku benar-benar tidak tahu. Dia juga sering absen dari latihan basket dan latihan band. Setahu aku dia sekarang sedang senang dengan kegiatan yang berhubungan dengan pelatihan fisik. Panjat tebing, karate, bahkan dia juga ikut kegiatan petualangan naik ke gunung." jawab Ardi.
"Iya, dia juga sekarang ikut latihan menembak, kenapa ya?" tanya Jovanka, membuat Ardi terkejut.
"Menembak?! sejak kapan dia ikut latihan menembak?!" tanya Ardi dengan curiga.
"Satu bulan ini." jawab Jovanka.
"Kenapa ya? apa terjadi sesuatu pada bisnis daddynya? sehingga dia harus berjaga-jaga sampai seperti itu?" tanya Ardi tidak mengatakan kecurigaan yang sebenarnya ada di dalam kepalanya saat ini.
"Setahuku bisnis om Harvey masih meningkat, apalagi setelah mendapat investor baru." jawab Jovanka.
"Apa kamu mau aku menyelidiki J-Ko?" tanya Ardi.
"Tolong ya, Ardi." pinta Jovanka
"Baiklah, aku usahakan ya, tapi aku tidak janji sama kamu, kalau aku bisa mendapatkan jawabannya." sahut Ardi dan mereka mengakhiri panggilan itu setelah Jovanka menjawab iya dan terima kasih.
Ardi segera menghubungi Citra melalui panggilan telepon.
"Hai, kak. Ada apa?" tanya Citra menyapa saat menerima panggilan itu.
"Hai, masih sibuk apa?" sapa Ardi.
"Biasa, banyak tugas sekolah." jawab Citra.
"Citra, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Ardi
"Iya, tanya saja kak." sahut Citra sambil tetap fokus mengerjakan tugasnya.
"Apa J-Ko pernah menghubungimu lewat telepon?" tanya Ardi dengan hati-hati dan Citra menghela napas besar lalu menghentikan tangannya menulis tugas.
"Kenapa, kak?" tanya Citra mulai terusik rasa kesalnya.
"Tidak, tidak apa, hanya ingin tahu saja." jawab Ardi.
"Tidak, dia hanya menghubungiku lewat chat saja. Tapi itu juga hanya satu malam, setelah makan malam itu dan sampai sekarang dia sudah menepati janjinya tidak mendekatiku lagi." ucap Citra.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ardi
"Kenapa kak?" Citra balik bertanya.
"Maaf, aku bukan ingin mengganggu privasimu, hanya saja J-Ko mendadak mengganti semua jenis kegiatannya sejak makan malam itu. Dia mengabaikan Basket dan band yang selama ini sangat dia minati. Tapi kalau kamu tidak ingin bercerita juga tidak apa, aku tidak akan memaksamu." jelas Ardi.
"Bukan tidak mau cerita, tapi sebulan ini aku sudah lega karena bebas dari permasalahan dengan senior J-Ko. Aku sudah fokus dengan sekolahku, eh malam ini kak Ardi kembali menyangkutkan aku dengannya lagi. Kenapa kak? Kenapa semua yang hal tentang dia harus disangkutkan dengan aku?" kesal Citra.
"Maafkan aku. Ini karena dia pernah mengatakan secara tidak langsung bahwa ini pertama kalinya dia jatuh cinta, dan dia akan tetap berjuang." sahut Ardi dan terdengar helaan napas panjang juga berat dari Citra.
"Dia berjanji padaku tidak akan menggangguku lagi asalkan aku memberitahunya apa mimpiku dan apa alasanku ingin meraih mimpiku. Karena aku ingin dia berhenti menggangguku, jadi aku memberitahu semuanya." ucap Citra.
"Fix! Aku sudah menduga semuanya pasti karena itu. Citra, J-Ko mungkin sudah tidak mengganggumu, tapi dia masih tetap berjuang untuk mendapatkanmu." sahut Ardi.
"Jangan bicara sembarangan, kak! Dia sudah kembali baik dengan senior Jovanka, jadi jangan berkata yang aneh-aneh!" kesal Citra.
"Dia tidak kembali baik dengan Jovanka, Citra! Dia hanya menjemput dan mengantar Jovanka ke sekolah dan ke rumahnya saja! Apa kamu tahu? sekarang J-Ko sibuk dengan semua kegiatan yang berhubungan dengan pelatihan fisik, seperti karate, panjat tebing, naik gunung, bahkan dia juga ikut latihan menembak dan kelas strategi perang militer! Apa kamu masih bisa mengatakan kalau J-Ko memang berhenti mengejarmu, setelah tahu semua kegiatan barunya ini?!" jelas Ardi.
"CK! Sshhhh...Aarrghhh!!! Apa sih sebenarnya isi otak dia itu?!" kesal Citra.
"Citra, kenapa kamu bisa menceritakan hal itu pada J-Ko? padahal kamu sekalipun tak pernah menceritakan itu pada orangtuamu. Kamu hanya berkata ingin menjadi seorang dokter pada orangtuamu, tapi kenapa pada J-Ko bisa kamu ceritakan?" tanya Ardi.
"Aku hanya ingin dia berhenti menggangguku, kak. Tidak ada alasan lainnya." jawab Citra.
"Bukankah kamu bisa saja berbohong dan mengatakan hal lainnya? kenapa kamu memilih terbuka dan jujur semuanya pada J-Ko? apa kamu sebenarnya juga menyukai dia?" tanya Ardi lagi lebih mendalam ingin tahu isi hati gadis itu.
"Astaga, kak! aku yakinkan seribu persen aku tidak seperti yang kak Ardi pikirkan! serius! aku hanya berpikir cepat dan singkat supaya dia tidak menggangguku lagi! Mana sempat aku berpikir hal lainnya?!" kesal Citra karena merasa dituduh oleh Ardi.
"Baiklah, baiklah, jangan marah padaku, nanti aku bunuh diri lho." bujuk Ardi supaya Citra tidak lagi kesal.
"Apa sih kak?! ngomongnya seperti orang tidak punya masa depan!" Citra semakin kesal pada Ardi, namun laki-laki itu hanya terdengar tertawa karena ucapan Citra semakin kesal padanya.
"Aku perlu bantu untuk menghentikan J-Ko atau kamu akan bertindak sendiri?" tanya Ardi.
"Tidak, tidak ada yang perlu kita lakukan! biarkan saja dia melakukan kesenangannya sendiri! Aku tidak terganggu dengan semua kegiatannya itu! lagipula aku juga tidak ingin dituduh terlalu kepedean berpikir kalau dia melakukan semua itu untuk mengejar aku." jawab Citra.
"Baiklah, aku juga tidak akan bertindak. Tapi kalau memang di masa depan kalian benar-benar disatukan takdir bagaimana?" tanya Ardi.
"Kak, kamu mikirnya terlalu jauh! sudah sana! telepon kak Vika saja! aku mau selesaikan tugas!" sahut Citra lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
Ardi hanya terkekeh sendiri mendengar kekesalan gadis yang sudah dia anggap sebagai adik kandung itu.
"Semoga kamu bisa mendapatkan jodoh terbaikmu, Citra." harap Ardi menaikkan doa bagi gadis itu.