Jovanka terus mengikuti kemanapun J-Ko pergi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang J-Ko lakukan dan apa alasannya melakukan semua kegiatan itu. berhari-hari, berminggu-minggu, tetap tidak didapatkan sesuatu yang mencurigakan di penglihatan J-Ko. Laki-laki itu selalu berlatih dan berlatih lalu pulang ke rumah. Bahkan saat weekend atau hari libur nasional tetap dia pakai untuk berlatih.
Hari ini tepat hari terakhir ujian semester pertama di Boulevard School, dan semua siswa di tingkat akhir harus mengisi sebuah formulir tentang tujuan pendidikan mereka berikutnya.
"Jarvis Keenan Orlando, kamu ditunggu kepala sekolah di ruangannya." ucap seorang guru menyampaikan pesan pada J-Ko saat bel selesai sekolah berbunyi.
"Ada apa, J?" tanya Ardi yang duduk di sampingnya.
"Aku juga tidak tahu." jawab J-Ko sambil mengedikkan kedua bahunya.
Jovanka segera menghampiri tempat duduk J-Ko dan Ardi.
"J, ada apa? Kenapa kamu diundang kepala sekolah?" tanya Jovanka.
"Aku juga tidak tahu. Jo, kamu pulang ikut Ardi ya, jangan tunggu aku! takutnya aku terlalu lama di ruang kepala sekolah." jawab J-Ko sambil berpesan pada Jovanka.
J-Ko segera melangkah pergi dari kelasnya menuju ke ruang kepala sekolah dengan membawa tasnya berjalan tenang dan santai. Ardi juga segera mengajak Jovanka juga Vika keluar dari kelas untuk pulang.
"Selamat sore, pak." sapa J-Ko sambil mengetuk pintu ruang kepala sekolah yang memang sudah terbuka itu. J-Ko langsung dipersilahkan masuk dan disambut baik oleh kepala sekolah.
"Duduklah! Ada yang ingin saya bicarakan tentang tujuan pendidikanmu berikutnya." ucap pria yang sudah terlihat tua.
"Ada apa, pak? apakah ada masalah dengan hal itu?" tanya J-Ko setelah duduk.
"Tidak ada, hanya saja saya sedikit penasaran apa alasanmu memilih akademi militer untuk kelanjutan pendidikanmu?" tanya kepala sekolah.
"Saya ingin memiliki sebuah hidup yang bermakna bagi orang lain, pak. Saya juga ingin memiliki tujuan hidup yang lebih pasti, jadi masa depan saya bisa lebih bermanfaat." jawab J-Ko menjelaskan alasannya, meski bukan alasan yang sesungguhnya.
"Apa kamu yakin?! Pendidikan militer itu tidak semudah yang kamu bayangkan. Bahkan kamu harus bisa meninggalkan segala fasilitas mewah keluargamu selama menjalani pendidikan disana. Apa kamu yakin sanggup menjalani itu semua?" tanya kepala sekolah mencoba membuat J-Ko berpikir ulang tentang semua hal itu.
"Saya yakin, pak. Selama ini saya belum pernah merasa seyakin ini dalam hidup saya." jawab J-Ko dengan penuh percaya diri.
"Apa orangtuamu sudah tahu tentang hal ini?" tanya kepala sekolah dan J-Ko menggelengkan kepalanya.
"Orangtua saya semua sibuk, pak. Mereka sudah terbiasa mempercayakan hidup saya pada keputusan saya dan tanggung jawab saya sendiri. Jadi saya pikir kali ini mereka juga tidak akan keberatan." jawab J-Ko dengan santai namun terdengar pilu di telinga kepala sekolah.
"Baiklah, kalau begitu saya akan membantumu dengan surat rekomendasi prestasimu supaya sedikit mudah untukmu mendaftar disana." ucap kepala sekolah.
"Terima kasih, pak. Anda sungguh sangat menolong saya. Terima kasih." J-Ko sangat senang dengan dukungan kepala sekolah padanya. Dia segera berpamitan dan keluar dari ruangan itu.
J-Ko terkejut saat hendak keluar, dia justru melihat Citra berdiri di depan pintu ruangan.
"Hai." sapa J-Ko dengan tersenyum.
"Hai." sahut Citra namun tidak dengan senyuman.
"Kamu ada perlu dengan kepala sekolah? Silahkan, aku sudah selesai." ucap J-Ko.
Citra hanya menghela napas panjang, lalu memejamkan matanya sesaat seolah sedang mengumpulkan keberanian dalam dirinya.
"Ya, awalnya memang seperti itu, tapi setelah aku mendengar percakapan senior, aku merasa lebih butuh bicara dengan senior." akhirnya Citra mengungkapkan maksudnya berdiri di sana.
"Eh, ada apa?" tanya J-Ko bingung.
"Ikut aku!" ajak Citra lalu berbalik dan melangkah masuk ke sebuah ruang kelas kosong di dekat mereka. J-Ko hanya mengikuti langkah Citra dari belakang.
Citra segera berbalik kembali menghadap ke J-Ko setelah mereka berdua berada dalam kelas itu.
"Haruskah akademi militer juga?" tanya Citra dengan tatapan kesal.
"Kenapa?! Tidak boleh?! Seingatku aku hanya berjanji untuk tidak menganggumu selama sekolah disini." jawab J-Ko dengan tenang, tapi semakin membuat Citra emosi.
"Senior Jarvis Keenan Orlando yang terhormat! Aku memintamu untuk tidak menggangguku selamanya! apa kamu paham?!" ucap Citra mulai mengungkapkan kekesalan hatinya.
"Hei, kenapa kamu harus takut? organisasi militer itu sangat besar, belum tentu juga kita akan bisa bertemu. Kalaupun itu terjadi mungkin saja kita memang jodoh." sahut J-Ko santai.
"Jodoh?! hah! Senior benar-benar gila!" kesal Citra seakan tak tahu lagi harus berkata apa supaya J-Ko berhenti terhadapnya.
"Kenapa? Apa yang salah?" tanya J-Ko tetap tenang.
"Salah! karena semua usaha senior itu hanya sia-sia saja! Kenapa?! karena jodohku sudah ditentukan oleh orangtuaku! itulah kenapa aku minta senior hentikan semua usaha gila ini! Hiduplah dengan normal dan bahagialah bersama senior Jovanka." jawab Citra sangat kesal.
J-Ko diam menatap pada Citra, kehilangan semua kata-kata setelah mendengar penjelasan Citra barusan.
"Apakah jodohmu itu adalah Ardi?" tanya J-Ko dengan ragu.
"Bukan!" jawab Citra dengan tegas, namun membuat J-Ko justru menghela napas lega.
"Syukurlah, aku pikir aku akan bersaing dengan sahabatku sendiri. Kalau begitu tidak ada masalah lagi dengan aku tetap memilih akademi militer." ucap J-Ko semakin membuat Citra gila.
"Senior, tolonglah... aku lelah dengan semua kegilaan senior. Kumohon, berhentilah melakukan semua kegilaan ini." pinta Citra memohon pada seniornya itu.
"Kenapa? apa sebenarnya alasanmu sangat menolak keberadaanku?" tanya J-Ko.
Citra diam menatap J-Ko, memang tak ada alasan baginya untuk menolak keberadaan J-Ko.Senior itu bukan penjahat, senior itu bukan seorang player, senior itu juga tidak kekurangan harta, yang mungkin saja memiliki motivasi ingin menggerogoti harta Citra.
"Kenapa diam?" tanya J-Ko karena Citra tidak menjawab pertanyaannya setelah beberapa menit berlalu.
"Aku harus pulang sekarang." ucap Citra memilih mengakhiri pembicaraan mereka dan melangkah melewati J-Ko untuk keluar dari ruang kelas.
crep.
J-Ko segera meraih pergelangan tangan Citra, menahan gadis itu melarikan diri dari pertanyaan yang dia ajukan tadi.
"Lepaskan tanganku, senior! Pengawalku akan segera memeriksa seluruh gedung sekolah ini, jika aku tidak segera keluar!" ucap Citra namun tidak berusaha menampis tangan J-Ko.
J-Ko memang melepaskan tangan Citra, tapi dia segera menutup pintu kelas itu dan menguncinya dari dalam, menyimpan kunci itu ke dalam celananya.
"Senior! apa yang kamu lakukan?!" seru Citra mulai takut dengan perbuatan J-Ko.
"Tenanglah! aku akan segera membiarkanmu pergi asal kamu mengatakan apa alasanmu terus menolakku?" sahut J-Ko.
"Apa kurang jelas ucapanku tadi? aku ini sudah dijodohkan!" Jawab Citra.
"Pembohong!" tuduh J-Ko sambil berjalan maju mendekati posisi berdirinya Citra.
"Aku tidak bohong." bantah Citra semakin takut dengan tatapan J-Ko padanya yang terus melangkah mendekat.
"Lalu apa alasanmu?" tanya J-Ko.
"Nona Citra! Nona Citra! dimana anda?"
suara asisten pribadi Citra bersama para pengawalnya mulai terdengar dari luar sana.
"Aku harus segera keluar dari sini! aku tidak mau senior mendapat masalah dengan para pengawalku." ucap Citra.
J-Ko bukannya peduli pada para pengawal itu, tapi justru menarik lengan Citra dan mengajaknya bersembunyi di sudut lemari yang tidak akan bisa dilihat dari luar kelas.
"Senior!" seru Citra, namun J-Ko meminta Citra untuk diam, dengan menutup mulut gadis itu dengan tangannya.
Citrapun merasa takut dan memilih menuruti kemauan J-Ko. Jantungnya berdetak kencang karena dia merasa sangat ketakutan dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Seharusnya dia berteriak supaya bisa bebas dari J-Ko, tapi dia lebih takut jika para pengawalnya menghajar J-Ko hingga luka parah, seperti yang terjadi pada tukang kebunnya yang ketahuan hendak melecehkan dirinya beberapa tahun lalu. Citra pada akhirnya hanya bisa menangis dalam diam. Suara asisten dan para pengawal pribadi Citra terdengar mulai menjauh dari ruangan itu.
J-Ko merasa tangannya yang menutup mulut Citra mulai basah. Dia menoleh pada gadis itu dan terkejut dengan airmata gadis itu. J-Ko segera melepaskan tangannya saat para pengawal sudah jauh ruangan itu.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Maafkan aku." sesal J-Ko sambil mengusap airmata Citra dengan lembut.
J-Ko meraih pundak Citra masuk dalam rengkuhan lengannya, mencoba memberi ketenangan pada gadis itu. Citra menangis semakin keras, tubuhnya bahkan sampai bergetar karena sangat ketakutan.
"Tenanglah, tenangkan dirimu, aku tidak akan berbuat sesuatu yang buruk padamu. Tenanglah, jangan takut, aku ada disini bersamamu. Mereka sudah pergi, tenanglah Citra, kamu akan baik-baik saja." ucap J-Ko sembari mengusap lengan atas Citra.
Citra pada akhirnya mulai berhenti menangis, namun dia tetap diam dalam pelukan J-Ko. Keduanya tetap duduk di lantai di samping lemari itu dengan sangat dekat.
"Maafkan aku." ucap J-Ko perlahan saat merasa Citra sudah lebih tenang.
Citra sebenarnya bisa keluar dari pelukan lengan J-Ko, namun rasa nyaman dan tenang kala bersandar pada d**a laki-laki itu seakan membuat otak dan hatinya sepakat untuk tetap diam dalam pelukan itu.
"Kenapa senior tetap ingin melakukan semua ini?" tanya Citra tanpa menatap pada J-Ko.
"Menurut Ardi, aku telah jatuh cinta padamu. Bagaimana menurutmu?" sahut J-Ko lanjut bertanya balik.
"Menurutku senior hanya sekedar penasaran saja padaku, karena selama ini sepertinya belum ada yang pernah menolak senior." ucap Citra memberikan pendapatnya.
"Hehehe seperti itu ya?" kekeh J-Ko mendengar pendapat Citra terhadapnya.
"Apakah ada orang yang sekedar penasaran tapi sampai mengambil langkah mendaftar ke akademi militer?" tanya J-Ko.
"Itu bisa dikarenakan senior memang gila atau sedikit depresi." jawab Citra dan semakin membuat J-Ko tertawa, tanpa sadar juga membuat Citra tersenyum lebar.
"Apa kamu memang gadis yang suka membuat depresi semua laki-laki yang mendekatimu?" tanya J-Ko.
"Tidak, aku bahkan tidak pernah bicara sepanjang ini dengan laki-laki kecuali daddyku dan kak Ardi." jawab Citra.
"Apa itu berarti aku ini laki-laki pertama yang mengajakmu kabur dan bersembunyi dari para pengawal itu dan berbicara banyak denganmu?" tanya J-Ko merasa bangga pada dirinya saat Citra mengangguk dalam pelukannya.
Citra akhirnya bergerak keluar dari pelukan J-Ko dan bersandar pada lemari, tetap dalam posisi sangat dekat di samping J-Ko.
"Senior, bisa minta tolong memberi kabar pada kak Ardi? Mommy dan daddy aku pasti cemas dan akan bertanya pada kak Ardi juga Aqilla." pinta Citra dan J-Ko segera mengeluarkan smartphonenya menghubungi Ardi.
"Dimana ponselmu?" tanya J-Ko sambil menunggu Ardi menerima panggilannya.
"Hari ini aku lupa membawanya." jawab Citra.
J-Ko segera memberikan smartphone miliknya pada Citra saat Ardi sudah menerima panggilannya.
"Kak, ini Citra."
"Astaga! kenapa kamu bisa bersama J-Ko?"
"Tidak apa, kak. Aku baik-baik saja. Kami juga masih di sekolah."
"Dimana para pengawalmu?"
"Entahlah, mungkin mereka sudah pergi. Kak, boleh aku minta tolong padamu? katakan pada Aqilla untuk mengatakan apapun seakan aku ada di rumah kalian jika ada yang bertanya padanya."
"Astaga! Citra, kamu tahu kan? kalau ini sangat berbahaya?"
"Aku tahu, kak. Aku akan segera pulang ke rumah kalian, tapi tolong bantulah aku mengulur waktu."
"Baiklah, kalian berhati-hatilah."
"Terima kasih, kak."
Pembicaraan itu berakhir dan Citra mengembalikan smartphone itu pada J-Ko.
"Senior, aku harus segera berada di rumah kak Ardi. Semua ini sungguh sangat berbahaya untuk kita berdua." ucap Citra menoleh pada J-Ko.
"Citra, boleh aku tahu apa alasanmu terus melarangku?" tanya J-Ko.
Citra menghela napas panjang, seakan menunjukkan kalo dia sudah lelah dan menyerah menghindari pertanyaan J-Ko itu.
"Karena aku takut, aku takut akan banyak hal. Aku takut dilarang sekolah kembali, aku takut kehilangan jalan untuk menuju ke mimpiku, aku juga takut terjadi hal yang buruk pada kak Ardi, Aqilla, juga pada senior. Senior orang yang baik, aku tidak mau karena dekat denganku, justru membuat senior terluka atau bahkan lebih dari sekedar terluka secara fisik. Aku takut semua traumatisku akan mempersulit kehidupan bahkan masa depan senior." jawab Citra.
"Bagaimana dengan perjodohan yang kamu maksudkan?" tanya J-Ko.
"Tidak ada." jawab Citra dengan tersenyum menunduk malu. J-Ko tentu saja langsung tersenyum lebar.
"Citra...." panggil J-Ko dengan lembut menatap pada gadis di sampingnya.
Citra menoleh namun J-Ko hanya diam menatapnya dengan sangat mendalam.
"Aku akan menepati janjiku, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan mencoba menghapus semua perasaan terhadapmu, tapi mengenai akademi militer ijinkan aku tetap menjalaninya. Aku ingin memiliki prestasi karirku sendiri tanpa campur tangan harta ataupun kekuasaan orangtuaku. Aku ingin hidupku memang bermanfaat bagi banyak orang." ucap J-Ko dan Citra mengangguk setuju.
"Terima kasih, Citra. Semoga Tuhan mewujudkan mimpimu, karena kamu orang yang sangat baik." lanjut J-Ko dengan tersenyum, membuat sebuah rasa hangat menjalar di hati Citra.
"Terima kasih, senior sudah mau mengerti semua alasanku. Semoga Tuhan juga selalu mewujudkan impian senior." sahut Citra.
"Kamu mendoakan aku seperti itu, memangnya kamu tahu apa impianku?" goda J-Ko dan Citra hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Aku akan memberitahumu saat kita ada kesempatan bertemu lagi di masa depan nanti. Aku harap kamu tidak menyesal telah mendoakan aku seperti itu." ucap J-Ko sembari berdiri dan memberikan tangannya untuk membantu Citra berdiri dari lantai.
"Boleh aku mengantarmu ke rumah Ardi?" tanya J-Ko, dan Citra berpikir sejenak lalu mengangguk.
Keduanya meninggalkan ruang kelas bersamaan. Namun keberuntungan tidak terus membiarkan mereka tetap bersama. Beberapa pengawal Citra nyatanya tetap berjaga di depan lobbi sekolah. Citrapun harus ikut dengan mereka dan berpisah dengan J-Ko.