Braaak!!!
Satu file dokumen pendaftaran dilemparkan oleh Harvey ke hadapan putranya.
"Apa maksudmu? Akademi militer?" tanya Harvey pada J-Ko dengan nada datar tapi tatapan tajam.
Beberapa menit yang lalu J-Ko mengajukan formulir pendaftarannya untuk ditandatangani oleh ayahnya sebagai bukti persetujuan orangtua, namun ayahnya langsung melemparnya kembali ke hadapan putranya dengan kesal.
"Aku rasa tidak ada yang salah dengan akademi militer, lagipula fisik dan nilai akademikku memenuhi syarat untuk mendaftar di sana." sahut J-Ko dengan tetap tenang.
"ITU! ITU SALAHNYA!" teriak Harvey seketika berdiri dengan suaranya menggelegar dan telunjuk mengarah ke wajah J-Ko.
"NILAI AKADEMIKMU MAMPU MEMBAWAMU KE HARVARD! UNTUK APA KE AKADEMI MILITER?!!!" Lanjut Harvey membuat J-Ko memejamkan matanya. Baru kali ini Harvey membentaknya dengan penuh emosi.
"Dad..., please." mohon J-Ko minta kesempatan untuk menjelaskan.
"Tidak! Daddy tidak akan membiarkan segala kecerdasanmu itu disia-siakan! Batalkan sekarang niatmu itu atau daddy akan mencabut segala fasilitas mewahmu!" ucap Harvey yang langsung memberi ultimatum pada putranya.
J-Ko menatap pada ibunya, tapi wanita itu juga tidak bisa membelanya. J-Ko memilih mengalah untuk saat ini, tapi dia tetap tidak membatalkan niatnya. J-Ko meraih file dokumen pendaftaran itu dan membawanya keluar dari ruang kerja ayahnya.
Perjuangan J-Ko masuk ke akademi militer sungguh sangat tidak mudah dihentikan. Dia sungguh melawan orangtuanya, dimana sebagai pewaris tunggal dari keluarganya, dia sangat diharapkan belajar tentang bisnis demi melanjutkan tahta ayahnya di perusahaan keluarga. Harvey bahkan benar-benar langsung menghentikan semua fasilitas mewah terhadap putranya, untuk menunjukkan ketegasan pada putra tunggalnya.
Meskipun demikian, J-Ko tetap pada niat dalam hatinya, meski sudah satu bulan ini dia tidak bisa menikmati semua fasilitas mewahnya kecuali smartphone, makanan di rumah dan kamar tidurnya saja yang masih mewah.
"J, apa kamu yakin? Citra sangat pantas diperjuangkan seperti ini?" tanya Ardi yang pagi ini kembali datang menjemput J-Ko untuk berangkat sekolah bersama.
"Apa menurutmu Citra tidak pantas diperjuangkan?" tanya J-Ko membalik pertanyaan pada Ardi.
"Maksudku itu kamu berpikirlah ulang, mungkin ada jalur lain untuk tetap berjuang. Citra juga tidak langsung masuk ke akademi militer. Nantinya dia akan kuliah kedokteran dan psikologi dulu, baru mendaftar pada militer." sahut Ardi.
"Ardi, aku sudah mempelajari dan mencari tahu tentang militer dan proses kenaikan pangkatnya. Kalau aku tidak langsung mulai dari sekarang, kemungkinan aku hanya akan menjadi level biasa saat Citra berhasil masuk ke militer nantinya. Aku harus bisa mencapai posisi Jendral saat Citra masuk militer nantinya, karena pangkat Citra bisa langsung level atas karena jurusan yang diambilnya. Aku tidak boleh jadi bawahan Citra." jelas J-Ko.
"Kamu sungguh gila memikirkan masa depanmu! Selama ini yang aku tahu cinta pertama itu tidak pernah ada yang segila dirimu! ini hanya cinta yang sesaat dan akan tergantikan dengan segera, J. Jadi sebaiknya kamu turuti orangtuamu dan berjuang dengan cara lainnya." bujuk Ardi.
"Bagimu cinta pertama mungkin hanya sesaat, tapi aku tahu dengan pasti Citra tidak akan pernah terganti dengan lainnya." sahut J-Ko penuh percaya diri.
"Preeet...! coba saja kamu masuk ke Harvard, maka matamu akan terbuka dengan berbagai wanita di sana yang lebih dari Citra. Uji dulu cintamu itu, baru bicara dengan lantang seperti tadi!" omel Ardi dengan sangat kesal.
J-Ko hanya tertawa menoleh pada sahabatnya yang menyetir sambil kesal.
"Hei, aku ini tidak m***m seperti dirimu! membandingkan wanita hanya secara fisik saja! di luar sana memang banyak gadis sexy dan cantik, tapi Citra itu lebih memiliki nilai yang tinggi! Itulah kenapa Citra sangat pantas dipertahankan." ucap J-Ko.
"Hei! kalau kamu jadi miskin seperti saat ini, maka aku sangat berani bertaruh kamu akan langsung ditolak oleh orangtua Citra! Berpikirlah yang cerdas dan bijak!" omel Ardi mulai dikuasai emosi.
"Kalau aku berhasil menjadi seorang jendral di militer, maka keluarga Citra pasti akan terkesan dan menerimaku dengan baik." ucap J-Ko sangat tidak bisa dinasehati.
"Astaga! kamu bisa segera masuk rumah sakit jiwa jika Citra akhirnya memilih pria lain untuk menjadi kekasihnya!" sahut Ardi merutuk pria bucin di sampingnya.
"Sudah sampai! terima kasih tumpangannya. Nanti siang aku numpang lagi." ucap J-Ko tersenyum lebar lalu segera membuka pintu mobil dan turun keluar, melangkah begitu saja meninggalkan Ardi padahal mereka siswa di kelas yang sama.
"Dasar bucin bodoh! gila!" rutuk Ardi sambil turun keluar dari mobilnya lalu membanting pintu mobilnya keras-keras karena rasa kesal pada J-Ko.
Ardi melihat mobil Citra baru tiba dan berhenti tepat di depan lobbi sekolah. Dia segera berjalan cepat saat melihat Citra dan Aqilla turun dari mobil itu.
"Citra! Aqilla!" Seru Ardi memanggil kedua gadis itu.
"Kak, ada apa?" tanya Aqilla.
"Aku perlu bicara dengan Citra saat istirahat nanti, bisa?" sahut Ardi bertanya pada Citra.
"Kenapa harus nanti? Kenapa tidak sekarang saja?" tanya Citra dan Aqilla mengangguk.
"Panjang ceritanya, nanti kalian terlambat masuk kelas. Pokoknya nanti saat istirahat langsung temui aku di perpustakaan." sahut Ardi dan kedua gadis itu mengangguk setuju, lalu mereka berjalan terpisah menuju kelas masing-masing.
*****
Harvey rupanya melakukan sesuatu yang lebih gila demi putranya gagal masuk ke akademi militer. Dia segera mendaftarkan J-Ko ke Harvard, bahkan sebuah rencana gila sudah dia rencanakan dan mulai dia lakukan sebagai langkah awal.
Harvey bahkan sudah mempersiapkan perpindahan sekolah J-Ko ke luar negeri tanpa sepengetahuan anaknya.
"Harvey, apa kamu sudah memikirkan semua ini? Bagaimana jika J-Ko jadi membenci kita?" tanya Alicia menasehati suaminya.
"Alicia, kita harus bertindak tegas. Dia satu-satunya penerus di keluarga ini, jadi kita tidak bisa membiarkan dia menjadi egois hanya memikirkan mimpinya sendiri tanpa peduli dengan masa depan perusahaan dan semua bisnis ini." sahut Harvey.
Alicia menghela napas panjang, tak ada lagi yang bisa dia katakan. Sejak vonis dokter terhadap kista di rahimnya, sejak itulah dia tidak bisa lagi memberi keturunan tambahan bagi suaminya, hanya J-Ko saja yang berhasil dia lahirkan.
Harvey yang berhenti sejenak dari semua pekerjaannya dan menoleh pada istrinya. Hatinya merasa bersalah saat melihat istrinya hanya duduk diam menunduk dan melamun. Harvey melangkah menghampiri istrinya dan berlutut di hadapannya, meraih kedua tangan istrinya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyudutkanmu atas semua ini. Bukankah aku yang memutuskan untuk mengangkat rahimmu demi keselamatanmu? ini semua bukan salahmu, Alicia. Janganlah bersedih lagi. Aku akan pastikan J-Ko tidak akan pernah membenci dirimu." ucap Harvey penuh perhatian pada istrinya. Alicia mengangguk dan tersenyum kembali lalu memeluk suaminya.
"Aku juga tidak mau dia membencimu." sahut Alicia dalam pelukan mereka.
*****
Jam istirahat tiba dan di perpustakaan sudah bertemu tiga siswa. Wajah ketiganya nampak berpikir serius.
"Jadi satu bulan ini dia tidak membawa mobilnya sendiri karena melawan orangtuanya?" tanya Citra tidak ingin salah menyimpulkan dan Ardi menganggukkan kepala.
"Jadi dia tetap serius untuk mendaftar ke akademi militer?" tanyanya lagi dan mendapat anggukan lagi.
"Itu semua karena dia mau memperjuangkan masa depannya denganku?" tanyanya lagi dan mendapat jawaban yang sama.
"Sepertinya aku harus menjadi kekasihnya sekarang supaya dia tidak penasaran lagi denganku." ucap Citra membuat Ardi dan Aqilla sangat terkejut, menatap dengan mendelik lebar pada gadis itu.
"Jangan gila! Jovanka bisa berbuat hal gila padamu!" seru Ardi.
"Iya Citra! jangan gila!" Aqilla turut melarang sahabatnya itu.
"Tenang saja, aku rasa senior J-Ko pasti akan bisa mengatasi masalah senior Jovanka sehingga tidak akan sampai berbuat sesuatu hal padaku." sahut Citra dengan santai.
"Astaga! kamu sama gilanya! Aku mengajakmu bicara dengan tujuan supaya kamu bisa membantu menasehati J-Ko, bukan supaya kamu menjadi kekasihnya!" omel Ardi sangat kesal.
"Kak, tenanglah! aku punya cara untuk mengembalikan dia pada orangtuanya." sahut Citra.
"Hei! kamu tidak boleh berpikir santai seperti itu jika menyangkut Jovanka! Aku serius! Jovanka itu bisa berbuat semua hal yang bahkan orang tidak menyangka dia akan melakukan hal itu!" ucap Ardi sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada gadis yang sudah sangat dia anggap sebagai adiknya.
"Baiklah, lalu kak Ardi mau aku berbuat apa?" sahut Citra mengalah dan bertanya.
"Kamu hubungi J-Ko, ajak dia bicara tanpa bertemu, minta dia batalkan semua pemikiran gilanya itu! ingat! jangan sampai bertemu langsung! aku tidak ingin Jovanka melihat kalian bersama dan berbuat gila padamu." saran Ardi dan Citra akhirnya menurut, berjanji kalau dirinya akan menghubungi J-Ko setelah selesai sekolah hari ini.
*****
Citra menghubungi J-Ko saat sore hari sesuai janjinya pada Ardi.
"Halo senior, apa aku bisa minta waktu untuk bicara?"
"Tentu saja, aku selalu tersedia banyak waktu untukmu. Ada apa?"
"Aku tahu senior sudah mengatakan padaku kalau tujuan senior masuk ke akademi militer karena ingin punya karir sendiri, tapi ...."
"Ardi yang memintamu untuk membujukku?"
"Senior, sebaiknya dipikirkan lagi. Bagaimana jika aku tidak jadi masuk ke militer setelah selesai semua kuliahku? Bagaimana jika aku bertemu pria lain dan menikah lalu suamiku melarangku berkarir di militer?"
"Tidak masalah. Aku tidak akan kecewa padamu jika semua itu terjadi, karena aku tidak ingin memaksamu untuk menerimaku. Aku melakukan semua ini untuk masa depanku sendiri. Kalau kamu memang bukan jodohku, pasti aku akan ditemukan dengan wanita lainnya."
"Senior, posisi kita saat ini sama, kita adalah satu-satunya keturunan yang tersisa dari keluarga kita. Bukankah terlalu egois jika kita yang sudah diberikan hidup nyaman selama ini, tapi justru meninggalkan semua perjuangan orangtua kita selama ini?"
"Citra, apa kamu mau hidup di bawah bayangan orangtuamu? Dipandang oleh banyak orang bahwa semua kenyamanan hidupmu bukan hasil usahamu tapi karena warisan orangtua."
"Untuk apa kita peduli dengan perkataan orang yang melemahkan? bukan salah kita jika kita lahir di keluarga yang berkelimpahan, lagipula mereka juga tidak peduli dengan kesusahan dan kerumitan kita sebagai keturunan dari keluarga kita."
"Ya, kamu benar. Mereka hanya melihat hidup kita ini mudah karena memiliki banyak fasilitas mewah, tapi mereka tidak mengerti bahwa kemewahan ini juga membuat kita jadi tidak bebas melakukan banyak hal yang menyenangkan di luar sana. Bagaimana sulitnya harus selalu menjaga nama baik keluarga."
"Senior, apa aku boleh minta sesuatu?"
"Apa itu?"
"Maukah senior menungguku di Harvard?"
"Kenapa? apa ini permintaan Ardi?"
"Bukan, ini... ini... permintaanku pribadi. Aku ingin senior kembali membantuku saat dua tahun lagi aku mendaftar di Harvard."
"Akan aku pikirkan. Hubungi aku besok."
"Baiklah, terima kasih."
Citra menghela napas panjang dan berat, dalam hatinya entah mengapa ada sebuah rasa kecewa saat dia mengingat ucapan J-Ko tadi.
"Tidak masalah. Aku tidak akan kecewa padamu jika semua itu terjadi, karena aku tidak ingin memaksamu untuk menerimaku. Aku melakukan semua ini untuk masa depanku sendiri. Kalau kamu memang bukan jodohku, pasti aku akan ditemukan dengan wanita lainnya."
"Kenapa aku tidak senang jika dia menemukan wanita lain?" tanya Citra pada dirinya sendiri.
"Kenapa aku jadi kecewa jika dia melepaskan aku?" tanya Citra lagi pada dirinya.
Citra akhirnya memutuskan untuk menghentikan pikirannya pada J-Ko, dan memilih menunggu besok untuk jawaban seniornya.
*****