Part 1
Mentari mengintip di balik gumpalan kapas abu-abu. Cuaca tak secerah biasanya, mendung mengiringi pagi, memaksa kita untuk menyiapkan payung sebelum hujan turun.
Banyak cerita yang bisa dimulai ketika pagi tiba. Entah itu kisah bahagia atau sebaliknya, atau juga tak ada yang terlalu berkesan, monoton.
"Aku mau tinggal sama Ayah!" Kania Trifosa, dengan nada suara yang meninggi ia ucapkan pada sang bunda.
Gadis remaja berusia 16 tahun yang sangat penurut pada sang bunda itu pertama kalinya menentang keras keputusan ibunya. Bukan tak mau memiliki ayah sambung, hanya saja ia belum siap menerima kehadiran laki-laki lain dalam hidupnya. Perpisahan kedua orang tua saja sudah cukup menyiksa batinnya.
Caca, panggilan sederhana untuk gadis yang hobi mengepang rambutnya itu. Caca sadar, nanti ketika benar ibunya menikah dengan laki-laki pilihannya itu, maka dengan berat hati Caca harus meninggalkan rumah. Caca tidak bisa hidup seperti ini, selama tinggal berdua beberapa tahun saja Caca tak bisa merasakan kasih sayang ibu sepenuhnya sebab sang ibu yang begitu sibuk, bagaimana jika sang ibu menikah lagi? Yang ada waktunya semakin tak ada untuk Caca.
"Dengarkan bunda dulu, Ca?" bujuk Rini, ibu Caca.
Caca tak berani menatap ibunya, matanya sudah terasa panas, tapi tetap ia tahan. "Bunda bisa menjamin apa kalau Bunda nikah lagi?" tanya Caca dengan posisi masih menunduk menatap piring berisi nasi goreng yang belum habis.
"Bunda bisa punya banyak waktu sama kamu," jawab Rini.
"Oh ya?" Caca tersenyum remeh, "apa Bunda bersedia mengundurkan diri dari tempat kerja Bunda?" lanjutnya.
"Ca!"
"Bun, Caca tahu Bunda. Bunda gak akan melepaskan hal yang sudah Bunda kejar-kejar begitu aja. Bukankah Bunda bercerai dengan ayah karena menginginkan pekerjaan itu tapi ayah tidak merestui, kan?"
Amarahnya semakin tak terkendali. Caca mengerti, di situasi seperti ini yang harus Caca lakukan adalah pergi, agar pembahasan ini tak merembet kemana-mana.
"Caca berangkat!" Caca berdiri dari duduknya, mengulurkan tangan pada sang bunda. "Assalamualaikum."
"Kalau kamu tinggal sama ayah kamu, apakah bisa menjamin kamu dapat kasih sayangnya juga? Ayah kamu juga sibuk, Ca!" pekik Rini.
Caca menghentikan langkahnya, menarik nafasnya sebelum berbalik. "Seenggaknya ayah gak punya istri lagi, perhatiannya yang sedikit gak akan kebagi," ucap Caca.
Setelah itu Caca berangkat sekolah, meninggalkan ibunya yang masih mematung di sana. Nyatanya meski hujan turun tapi amarah tak mampu hujan redakan juga bersama dinginnya.
Angkot yang ia tunggu tak kunjung lewat, hari semakin siang, ia cemas. Saat hujan turun pasti sulit mencari angkot yang lewat. Dari kejauhan Caca melihat seseorang yang ia kenal, teman satu kelas yang cuek, jutek, tidak pernah senyum ataupun tertawa, orang yang pertama kali Caca kenal waktu pertama kali masuk sekolah dan langsung Caca klaim sebagai orang paling sombong. Adi Gusti pranata, manusia paling cuek yang pernah Caca kenal, dan yang jelas tidak pernah senyum. Mungkinkah dia memang sedingin itu? Padahal di dunia ini banyak hal yang bisa dia nikmati dengan senyum dan tawa yang lepas tentunya.
Caca memberanikan diri memberhentikan motornya. Gusti berhenti di depan halte pas saat Caca memberhentikannya. Sebelum dipersilahkan Caca langsung duduk di jok belakang. "Ayo, Gus! Gak nyangka gue lo baik banget, mau kasih gue tebengan," kata Caca sambil menepuk-nepuk pundak Gusti.
"Turun!" suruh Gusti.
"Hah? Kenapa?" heran Caca.
"Ya lo ngapain?"
"Nebeng! Lo berhenti karena gue, kan? Karena lo lihat tangan gue melambai ke arah lo tadi?" jelas Caca.
Namun, Gusti malah semakin bingung. Dia tidak berhenti karena Caca, dia bahkan tak melihat hal seperti yang Caca katakan.
"Ge'er! Turun!" ketus Gusti.
Caca turun dari motor Gusti, menatap sebal pria di hadapannya ini. "Terus ngapain lo berhenti di depan gue?"
"Bersihin kaca helm, berembun, gue gak bisa lihat," ucap Gusti.
Caca menghembuskan nafasnya. Ternyata memang dia yang terlalu percaya diri, tapi Caca tetap saja menyalahkan Gusti karena bisa-bisanya dia berhenti di depan Caca dan membuat Caca malu sampai berpikiran kalau Gusti berhenti untuk mempersilahkan Caca ikut ke sekolah bersamanya.
"Nyebelin!"
"Siapa?"
"Lo!" kesal Caca.
"Lo aneh!" tukas Gusti, setelah itu ia langsung pergi begitu saja.
Caca melongo, kesabarannya begitu diuji pagi ini. Caca berteriak memanggil nama Gusti, tapi tetap saja Gusti melajukan motornya tanpa memperdulikan Caca.
***
Hujan semakin deras, karena tak membawa payung, Caca harus berlari setelah turun dari angkot. Waktu masuk sekolah semakin mepet, sedari tadi ia menggerutu, kalau saja ia ikut Gusti, mungkin sudah sampai dari tadi.
Berlari dari gerbang sampai ruang piket saja sudah hampir basah kuyup, sementara ia harus menerobos hujan lagi karena letak kelasnya di ujung dan tak ada lorong yang menyambung ke kelasnya.
Lantai sekolah sangat licin, beberapa kali Caca hampir terpeleset karena berlari untuk sampai kelas. Dan untuk kesekian kalinya Caca harus terpeleset sampai menabrak temannya yang sedang berkumpul di depan kelas.
Caca, perempuan ceroboh yang harus mengalami kesialan untuk kesekian kalinya karena tak hati-hati. Laki-laki itu menatap Caca kesal, rahangnya mengeras menahan marah.
"CACA!" teriaknya.
Caca memundurkan wajahnya sambil menutup telinga. "Handphone gue," ucap lemas pria itu.
Ah, bagaimana tidak? Ponsel mahal itu harus terjun bebas dari genggaman teman Caca ke dalam selokan panjang yang ada di depan kelas.
"Gue ambil, gue ambil." Tanpa rasa jijik Caca mengambil ponsel di dalam selokan yang hampir penuh oleh air hujan.
"Waduh, iPhone," batin Caca saat ia melihat jenis ponsel milik temannya ini.
Caca membungkus posel dengan tissue agar ponselnya kering, kemudian menyerahkan ponsel itu pada sang pemilik, Gavin namanya. Gavin adalah ketua paduan suara di SMA Selamat pagi, anak pemilik toko meubel yang sudah memiliki tiga cabang di Jakarta. Badannya yang tegap banyak dipertanyakan oleh para siswi di SMA Selamat pagi.
Kenapa gak ikut basket ya?
Padahal futsal juga oke!
Kenapa harus paduan suara?
Badannya doang kece tapi gak suka olahraga. Aneh!
Orang cakep mah bebas, mau ikut paduan suara atau ekskul mana aja juga terserah. Nyatanya meski ikut padus tapi dia tetep bisa banggain sekolah dengan prestasinya dipaduan suara kan? Dia juga masih jadi cowok populer dan ganteng seangkatan kita, cewek-cewek banyak yang mengidolakan dia.
Yang barusan kata Kinanti, teman sebangku Caca yang diam-diam menyukai Gavin. Hanya saja Kinanti bukan tipe orang yang blak-blakan, jika suka maka cukup ia simpan dan doakan. Ia terlalu cuek untuk masalah percintaan, makanya banyak ditikung orang, akhirnya patah hati sendiri, sakit hati sendiri, kecewa juga ya sendiri. Ucapan seperti itu adalah bentuk bangganya pada Gavin yang ternyata dipandang sebagai pembelaan yang bermakna positif bagi beberapa orang tanpa menimbulkan curiga dari banyak orang.
Orang-orang tak berpikir bahwa ucapan tadi adalah sebuah pujian karena Kinanti menyukai Gavin, tapi hanya sebagi ungkapan positif bahwa kita bisa berprestasi lewat kegiatan apa saja, bukan hanya dalam bidang olahraga.
"Maaf, Vin," ucap Caca bersalah.
"Mati ponsel gue, ganti!" balas Gavin.
"Kan gue udah minta maaf, serius gue gak sengaja," ujar Caca.
"Gue gak mau tahu, lo tetep salah. Lo tahu kan hp gue mahal? Isinya juga banyak yang penting. Ganti!"
"Gue mana ada duit buat ganti hp, lo. Damai aja ya!" mohon Caca.
"Gak, gue mau lo ganti!" kukuh Gavin.
"Berapa sih emang?"
"Sepuluh juta."
"Mana punya gue duit sebanyak itu, lagian itu hp udah bekas, ya kali lo minta harga asli. Turunin lah."
"Oke, sembilan juta sembilan ratus tujuh luluh lima ribu."
"Yang bener aja dua puluh lima ribu doang."
"Mau gak? Baik gue turunin, pokonya lo ganti, atau gue minta ganti sama ibu lo." Gavin menarik paksa tas ransel yang Caca sampirkan di bahunya, mencari ponsel Caca untuk menghubungi ibu Caca.
Gavin berhasil mendapatkan ponsel itu, namun dengan cepat Caca rampas kembali.
"Oke, gue ganti. Tapi gue butuh waktu dua tahun buat ganti hp lo," ucap Caca.
Semua tertawa mendengar penuturan Caca, dua tahun terlalu lama untuk mengganti ponsel.
"Lawak lo? Kira-kira lah, Ca. Gue kasih lo waktu satu Minggu buat ganti hp gue. Gimana?" Gavin memberikan keputusan, Gavin rasa satu Minggu adalah waktu yang cukup untuk mengganti ponselnya.
"Gue dapet duit dari mana, Vin? Gue service aja hp lo gimana?"
"Gak!"
"Vin, tega lo!"
"Gue tunggu gantinya, kalau enggak gue bakal temui ibu lo dan minta ganti rugi sama beliau."
"Jangan!"
Tiba-tiba telinga Gavin ditarik seseorang dari belakang. "Sakit woy."
"Masuk!" Gusti menarik telinga Gavin sampai masuk ke dalam kelas, sementara Caca masih diam, bingung mau cari uang sebanyak itu kemana.
Hari yang sangat s**l untuk Caca, dari rumah sudah bertengkar dengan ibu, tidak mendapat boncengan Gusti, kehujanan dan hampir telat masuk sekolah, sampai menjatuhkan ponsel orang ke selokan dan disuruh ganti rugi pula.
Keinginannya saja untuk menemui sang ayah masih jadi pertimbangan karena tak ada uang untuk pulang. Ibunya tak akan membiarkannya pergi begitu saja, Rini mana mau memberikan uang untuk membeli tiket pesawat ke Bengkulu. Disamping ia tak mengijinkan Caca ikut dengan ayahnya, juga karena tak rela jika harus berpisah jauh dengan Caca.
***
Waktu istirahat tiba, Gavin, Gusti, Alan dan Nico pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka. Dengan sedikit malas Gusti mengikuti langkah ketiga sahabatnya itu.
Mereka duduk di pojok kantin sebelah kiri, spot yang paling nyaman katanya untuk berkumpul.
"Gus, makan!" suruh Gavin. sahabatnya ini terlalu sibuk dengan ponselnya, entah ada hal menarik apa di dalamnya.
"Gue gak laper," jawab Gusti.
"Gue gak terima jawaban kayak gitu ya, lo belum makan dari pagi," kesal Gavin.
Tadi pagi memang Gusti tak sarapan, anak itu pamit dengan sangat terburu-buru.
"Makan, Gus! Gue aduin Oma Gayatri mau? Tega memangnya lo kalau Oma harus jauh-jauh buat nyamperin Lo ke Jakarta," ancam Gavin.
Gavin mengambil ponsel dalam genggaman Gusti. Gusti hanya menatapnya sebentar seraya menghembuskan nafasnya.
"Udah makan aja, Gus. Udah dipesenin juga sama si Gavin, ya kali gak dimakan. Lo mau dia ngoceh terus?" ucap Nico.
"Iya gue makan, puas lo!" kata Gusti kemudian, ia mana tega kalau neneknya harus jauh-jauh datang ke Jakarta hanya karena hal sepele.
Bruk!
Alan menggebrak meja, Gusti yang sedang makan hampir tersedak karena terkejut.
"Apaan sih lo, rame sendiri?" sentak Gavin.
"Lihat deh, gokil! Putri duyung kelamaan jemur rambutnya jadi pirang, atau mungkin si Ariel rambutnya luntur keseringan berendam di laut. Tapi kenapa harus kayak gini ya mukanya? Ekspresif banget. Bajunya juga lengan panjang, takut gosong kelamaan main di laut apa gimana?" Alan menuduhkan gambar yang ia dapatkan itu pada teman-temannya, ketika melihat putri duyung mendadak berambut kuning, bukan merah.
"Si Ariel otw hijrah kayaknya, bantuin Nic biar bisa Istiqomah, besok-besok pasti dia berhijab," kata Gavin yang makin ngaco.
"Dia habis gue lamar semalem, makanya mukanya ekspresif banget gitu, InshaAllah dia bakal jadi istri yang Sholeha," ucap Nico yang sama ngawurnya.
Semua orang tertawa, kecuali Gusti. Dia lebih memilih diam, tak ada reaksi lain selain muka datarnya. Gusti memilih melanjutkan makan dibanding harus mendengarkan obrolan yang tidak jelas, apalagi hanya membahas putri duyung.
"Emang ini gak lucu ya?" tanya Alan sambil menunjukkan gambar putri duyung.
"Lucu kok, gue ngakak, Gavin juga," sahut Nico.
"Tapi kenapa manusia di sebelah gue ini gak ketawa ya? Minimal senyum lah gitu," sindir Alan.
"Selera humor gue tinggi," jawab Gusti.
"Maksud lo selera humor kita rendahan?" seru Nico tak terima.
"Menurut lo?" tanya balik Gusti.
Nico yang kesal hampir saja melayangkan botol plastik bekas ke kepala Gusti, tapi Gavin menahannya.
"Sabar. Lo emosian banget, kayak yang baru pertama kali aja ngalamin hal kayak gini." Gavin mencoba menenangkan Nico.
"Lagian nyebelin banget ini manusia kaku."
Gusti memutar bola matanya malas. Menghentikan aktivitas makannya lalu bersandar menatap Nico. "Gak usah ghibahin orang, dosa! Cari humor yang gak menghina seseorang," kata Gusti.
"Tapi si Ariel bukan orang, dia ikan," kesal Nico.
"Separuh badannya apa? Manusia kan?" Gusti membalikan pertanyaan pada nico.
"Ya tapi dia ikan," ucap Nico yang semakin kesal.
"Ya udah, males ngobrol hal yang gak berbobot sama lo." Gusti berdiri hendak meninggalkan ketiga sahabatnya, namun tubuhnya menubruk Caca yang kerepotan dengan tiga cup teh poci di tangannya.
"Hati-hati dong! Lo tuh nyebelin, s**l mulu gue kalau ketemu lo," omel Caca.
"Lo aneh," ujar Gusti.
"Lo yang aneh." Caca mendengus sebal menatap Gusti.
"Woy, Ca. Ingat ya, seminggu." Gavin kembali mengingatkan Caca.
"Berisik! Lo harusnya minta ganti rugi sama temen lo ini nih, bukan sama gue," ucap Caca sambil menunjuk Gusti.
"Kenapa gue? Yang bikin hp Gavin nyemplung siapa?" balas Gusti tak terima.
"Nih, ya. Kalau lo biarin gue ikut sama lo nebeng ke sekolah mungkin gue gak bakal telat, gue gak bakal lari-lari sampai nubruk dia dan hp dia gak bakal nyemplung," jelas Caca.
Seharusnya tak begitu, karena pada dasarnya memang Caca yang ceroboh. Disamping itu ada seseorang yang tersenyum licik melihat Gusti dan Caca beradu mulut.
"Gak jelas!" kata Gusti pada Caca. Setelah itu ia langsung pergi begitu saja.
Gavin masih dengan senyum liciknya. Ya, Gavin. Ada yang Gavin rencanakan, sudah tentu ada hubungannya dengan Caca.
"Sakit lo senyum-senyum sendiri?" ucap Caca dengan nada tinggi.
"Gue sehat, gue gak senyum-senyum sendiri," seru Alan.
Caca mengernyit, Caca tidak menuduhnya, kenapa Alan yang menjawab?
Caca pergi, membawa tiga cup minuman ditangannya meninggalkan Gavin dan teman-temannya yang tidak jelas. Bertemu Gavin, pikirannya bertambah banyak, bagaimana caranya mendapatkan uang sepuluh juta dalam waktu satu minggu. Sementara ia juga harus mencari uang untuk membeli tiket pulang ke Bengkulu. Benar-benar rasanya ingin melarikan diri, masalah ini terlalu rumit untuk Caca.
"Caca minta uang ya Allah, Caca butuh buat ganti hp temen Caca. Kasihani Caca ya Allah. Atau buat Gavin berbaik hati agar berubah pikiran, kalau Gavin ngeyel gak mau jadi baik hati, buat dia hilang ingatan saja ya Allah, biar Gavin lupa dan gak nagih ganti rugi terus. Aamiin." Doa Caca yang buat geleng-geleng kepala untuk yang mendengarnya.
Byur!
Cairan dingin membasahi wajah sebelah kanan Caca. Siapa yang melakukan itu? Apakah tuhan tidak meridhoi doa Caca?