Arni tak dapat menahan air matanya lagi. Ia menangis sepanjang perjalanan menuju kos. Sampai di kos dia masih tetap menangis. Menyesal pun rasanya percuma karena semua telah terjadi. *** Terbangun secara tiba-tiba. Arni merasakan sakit yang teramat di salah satu sisi kepalanya. Sakit kepala karena terlalu banyak menangis. "Huh," desahnya putus asa. Ia merapikan tempat tidur dan bersiap. Hari ini mengambil penerbangan jam sepuluh pagi.Ia harus ke tempat Anis terlebih dulu untuk pamitan dan meninggalkan mobilnya karena telah laku terjual, sebelum ke bandara. Menarik kopernya keluar dan mengunci pintu kamar, Arni menitipkan kunci kamarnya pada Ridwan. "Mas, nitip ya," ucap Arni. "Mau pergi lagi, Mbak? Bawa koper," ucap Ridwan melirik koper Arni. "Sementara waktu, Mas," sahut Arni seray

