Arni masih terlelap tidur, meski cahaya matahari sudah mengintip dari balik gorden. Empuk kasur yang dirasakannya sangat berbeda dengan empuk kasur yang ada pada kamar kos, membuat tidurnya semakin lelap. Dipa membuka lebar pintu kamar mandi dan keluar dengan mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Ia berjalan menuju lemari berwarna putih lalu berdiri memilih pakaian yang akan dikenakannya.
"Sori-sori Ian. Kamu stand by ya, nanti aku kabarin kita ketemuan di mana," ucap Dipa yang kemudian melemparkan handphonenya ke kursi.
"Argg…" Teriakan Arni mengagetkan Dipa hingga membuatnya berbalik menghadap Arni yang masih berada di atas kasur.
"Argg… " Teriak Arni untuk yang kedua kali. Matanya terbelalak untuk beberapa detik saat melihat benda keramat bin ajaib milik Dipa. Ia kemudian melempar bantal ke arah Dipa sambil menutup matanya.
"Bapak ngapain ada di kamar kos saya?" Arni masih menutup matanya.
Sambil memungut santai handuk yang teronggok di lantai, Dipa memakai dalaman dan celananya. Ia berjalan perlahan dan duduk di samping Arni.
"Kamar kos? Ini apartemen aku," ucapnya. Arni mengintip. Memastikan sekelilingnya. Jantung Arni berdebar kencang saat menyaksikan pemandangan yang tak pernah dilihatnya. Badan atletis seorang lelaki dengan d**a yang ditumbuhi rambut halus. Arni menelan saliva kemudian menjauh dari Dipa.
"Bapak kenapa gak nganter saya pulang ke kos? Kenapa saya malah di bawa ke sini?"
"Gimana mau bawa kamu ke kos? Aku mana tahu kos kamu di mana. Kamu juga tidur semalam."
Arni mendorong pelan bahu Dipa. "Bapak pakai baju dulu sana."
Ia sangat terganggu dengan penampilan Dipa sekarang. Ekor matanya seolah tak ingin melewatkan setengah badan Dipa yang tak tertutup sehelai benang pun. Begitu Dipa beranjak dari ranjang dan memakai bajunya, Arni beranjak dari kasur dan memandangi dirinya dari atas sampai bawah. Memastikan pakaian yang dikenakannya dari kemarin tak ada yang berubah.
"Aku gak sejahat itu. Mengambil kesempatan di dalam kesempitan," katanya melihat tingkah Arni.
Arni memandang sinis Dipa. Ia meraih tasnya dan keluar dari kamar.
"Kamu gak mau mandi dulu? Dari kemarin gak ganti pakaian."
"Mau pakai baju ganti apa? Mending Bapak antar saya pulang, atau antarkan mobil saya ke sini."
Mendengar Arni terus-terusan memanggilnya dengan sebutan bapak, membuatnya geram. Sungguh ia tidak terima.
"Sekali lagi kamu panggil saya bapak, jangan harap uang kamu kembali!" seru Dipa.
"Bapak jangan khawatir, saya sudah mengikhlaskan uang lima juta itu untuk Bapak. Setelah ini, saya harap saya gak ada urusan lagi dengan Bapak. Jadi, sekarang saya minta tolong antarkan saya ke mobil saya," pinta Arni.
Dipa terdiam mendengar ucapan Arni. Bila Arni benar-benar merelakan uangnya, itu artinya ia tidak ada alasan untuk bertemu dengannya lagi. Dan itu juga berarti, ia bakal tengsin kalau teman yang bertemu dengannya saat reuni kemarin tahu, ternyata Arni bukan siapa-siapanya.
"Tunggu," ucap Dipa menghentikan langkah Arni yang mencari pintu keluar. Dipa masuk ke kamar dan meraih dompetnya. Ia mengeluarkan sepuluh lembar uang berwarna merah dan memberikannya pada Arni.
"Nggak usah, Pak. Buat Bapak aja."
"Ini uang kamu. Sementara aku cicil, sisanya nanti nyusul," ujar Dipa mengembalikan uang itu ke tangan Arni.
"Tak ada bantahan. Tunggu di sini sebentar, aku ambil kunci mobil," lanjut Dipa.
***
Arni baru saja selesai membersihkan diri. Ia tampak segar dengan rambut basah keluar dari kamar mandi. Setelah berpakaian, ia berniat ingin pergi ke mall sendirian. Namun saat baru saja akan masuk ke dalam mobil, ia dikejutkan dengan kedatangan Alex.
"Ayo," ajak Alex sambil menyodorkan helm yang telah dikeluarkannya dari bawah jok motor maticnya. Tak dapat mengelak, Arni akhirnya mengiyakan ajakan Alex.
Mereka membaur di antara banyaknya pengunjung mall. Berkeliling dari lantai pertama hingga lantai ketiga, hingga mereka akhirnya sampai di depan salah satu restoran yang memiliki menu favorit nasi goreng teriyaki. Berhubung perut yang memang sudah lapar dan telah memasuki jam makan siang, mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum lanjut untuk menonton.
"Kemarin kamu ada urusan apa?" tanya Alex menyelidik.
"Acara reuni sekolah."
"Reuni?" ulang Alex yang dibalas dengan anggukan kepala Arni. "Tapi gak CLBK kan?"
Kening Arni berkerut. "CLBK? Enggak lah, sekolah dulu mah aku serius belajar, mana mikirin pacaran, Lex."
"Syukur lah," kata Alex lega. Selama dua tahun kenal dengan Arni, Alex memang tak mendapat ruang lebih di hubungan pertemanan ini. Untuk kedua kalinya, Alex akan memberanikan diri menyatakan kembali isi hatinya setelah selesai menonton.
Film yang dibintangi oleh mantan gubernur California, menjadi pilihan mereka. Bioskop sudah ramai saat mereka masuk. Alex memegang tangan Arni, menuntunnya mencari nomor kursi di kegelapan ruang bioskop. Duduk di kursi tengah, membuat mereka jelas menatap layar besar yang menayangkan film. Sambil menikmati popcorn, Arni serius menikmati film, sementara Alex tampak ragu ingin mendekati Arni. Tangannya maju mundur hendak menggapai tangan Arni yang dari tadi sibuk mengambil popcorn.
'Coba aja lah' Alex menatap Arni kemudian perlahan menggenggam tangan Arni.
"Lex," bisik Arni sambil melepas pelan tangan Alex.
Durasi film yang hampir dua jam itu, akhirnya selesai juga. Setelah sedikit sepi, mereka berdua keluar dari gedung bioskop.
"Mbak Arjani." Arni berbalik mendengar namanya dipanggil.
"Senangnya bisa ketemu kamu." Uti dan cucunya Sheila, tersenyum ramah pada Arni dan juga Alex.
"Sama siapa kamu?" Uti melirik Alex penuh arti.
"Temen kantor, Uti."
"Oh," sahut Uti penuh kelegaan. Berbincang sebentar Arni dan Alex pamit permisi duluan.
Mereka berdua berjalan keluar gedung, menuju parkiran motor. Di luar langit senja mulai menyapa, Alex mengendarai motornya dengan santai.
"Nasabah kamu ya?" tanya Alex. Arni memajukan wajahnya, dekat dengan telinga Alex.
"Iya, kemarin baru buka deposito."
Alex menengok ke bawah dan melihat tangan Arni kemudian menggenggam tangannya sedikit lebih erat.
"Alex," desis Arni.
"Kamu kan tahu perasaan aku ke kamu gimana, kamu gak mau kita lebih dari teman?" Alex menatap wajah Arni dari spion motornya.
Arni terdiam memikirkan perkataan Alex sejenak. Ia tak ingin jawabannya nanti malah menjadikan pertemanan mereka renggang. Selama kenal dengan Alex, Arni memang sama sekali tidak memiliki rasa apa-apa. Mau dipaksakan bagaimanapun ia hanya menganggap Alex sebatas teman saja. Meskipun beberapa teman Arni di kantor banyak yang menyarankan agar ia menerima cinta Alex saja. Selain Alex yang cukup tampan dan gagah, serta dengan jabatan di kantor yang tak bisa dipandang sebelah mata, menjadikannya idaman wanita single di kantor.
"Lex, kamu jangan merusak pertemanan kita kaya gini dong," ucap Arni melepaskan tangannya lalu meletakkan tangannya di paha Alex.
"Tapi aku gak bisa bohong kalau aku sayang sama kamu."
"Iya Lex. Tapi aku sudah nyaman dekat dengan kamu sebagai teman aja."
"Jadi memang gak ada kesempatan buat aku ada di hati kamu?"
"Lex, jangan bikin aku sulit kaya gini," ucapnya lirih. Motor yang di kendarai, berhenti di depan kos Arni. Arni masih berdiri di sana, saat Alex menyimpan helm yang baru dipakai Arni ke dalam jok motor. Alex menggapai tangan wanita itu kemudian menciumnya lembut.
"Nanti kamu jangan nyari aku ya, kalau aku sama wanita lain," ucap Alex sambil melepas tangan Arni.
"Jadi kami bakal buang aku? Ckckck, ngeri betul." Arni mengepalkan tinju ke depan wajah Alex.
"Aku pulang dulu ya. Kamu istirahat sudah sana," pamit Alex. Ia menarik pelan gas motornya dan meninggalkan kosan Arni. Dari jauh Dipa yang berada di dalam mobil, melihat kejadian di depan kos Arni itu, merasa geram. Tak suka. Ia tancap gas meninggalkan tempat itu, rencananya untuk bertamu ke kos Arni dibatalkannya.