Hujan

1329 Kata
Di sela-sela rapat, Dipa terus melirik handphone yang diletakkannya di dekat laptop. Galau untuk menghubungi Arni atau tidak. Pikirannya terbagi. Tak fokus mengikuti rapat, ia malah memikirkan kejadian tadi malam yang dilihatnya. Ia sendiri sebenarnya tak tahu kenapa sampai segitunya ingin tetap berurusan dengan Arni. Ia sampai bela-belain nyicil uang yang lima juta itu agar ada alasan untuk dapat tetap bertemu. "Pak Dipa," panggil Bu Tia sedikit nyaring menyadarkannya dari lamunan. "Jadi bagaimana?" Dipa memandangi satu per satu peserta rapat. "Kontrak untuk mensuplai batubara ke PLN sudah kita dapatkan dengan harga yang sesuai Pak." "Good. Dan untuk alat yang sudah dipesan, tolong dipastikan saat alatnya datang di lokasi tambang, untuk dilakukan pengecekan mesin sebelum dioperasikan. Pak Windu tolong nanti berangkat ke Balikpapan, untuk diawasi secara langsung." "Baik Pak." "Oke, rapat hari ini kita sudahi. Terimakasih." Dipa memundurkan kursinya kemudian meninggalkan ruang rapat masuk ke ruangannya. Tak berapa lama Bu Tia datang, menyerahkan berkas yang harus ditandatangani Dipa. "Ini gara-gara Bu Tia!" Dipa menatap Bu Tia tajam sambil menandatangani berkas di depannya. "Maksudnya gimana Pak?" Bu Tia tak mengerti. Dipa menyerahkan berkas itu kembali. "Gara-gara Bu Tia bilang kalau Arjani seleranya Uti, saya jadi kepikiran dia terus." "Memangnya Mbak Arni selera Bapak juga? Jadi Bapak sampe ikut mikirin dia?" cecar Bu Tia. Setahunya, selera bosnya itu wanita cantik dengan body dan baju yang seksi. Uti selalu bilang pada Dipa kalau wanita seperti itu akan susah untuk dijadikan istri. Maka dari itu Uti sangat selektif dengan wanita yang dekat dengan Dipa. Ia tak ingin cucunya memilih istri hanya untuk memuaskan matanya saja. "Kalau selera sih--" Dipa tak meneruskan ucapannya, berpikir sejenak. "Pertama melihat dia, gak tahu kenapa dia enak aja dipandang. Menarik. Dan asal Bu Tia tahu, sebenarnya semua teman wanita saya sekarang cuma buat happy-happy aja Bu. Gak ada yang serius. Kalau Bu Tia jadi saya, bakal pilih istri yang kaya gimana?" "Kalau saya jadi Pak Dipa, pastinya istri saya bukan seperti teman wanita Bapak kebanyakan. Mungkin, seperti Mbak Arjani, yang pembawaannya tenang, dewasa, gak genit sana sini." "Tenang? Bu Tia gak tahu aja beringasnya dia gimana?" "Beringas? Emang Pak Dipa ngapain sampai tau kalau Mbak Ariani beringas?" "Gak ngapa-ngapain sih, tapi keliatannya beringas aja." "Saran saya, ikuti kata hati Pak Dipa aja, karena apa yang dipilih Pak Dipa nanti akan menentukan nasib Bapak di kemudian hari." Pesan Bu Tia yang kemudian pamit keluar. *** Sore sepulang kerja, Arni merasa ada yang aneh dengan mobilnya. Tiba-tiba saja mesin mobilnya mati sendiri. Berkali-kali ia mencoba menghidupkan ulang mesinnya, tapi tak bisa juga. "Aduh, ini gimana ya?" Paniknya sambil keluar dari mobil dan memandang sekitarnya. Untung saja dewi fortuna berpihak padanya. Tepat di depannya, terdapat bengkel mobil. "Mas, bisa minta tolong gak?" tanyanya pada laki-laki yang tengah membereskan peralatan bengkelnya. "Bengkelnya sudah tutup, Mbak." "Mobil saya tiba-tiba mesinnya mati sendiri Mas,--" "Tapi, bengkel sudah tutup, Mbak." Mas montir itu sedikit ngotot sambil berdiri. Arni memasang wajah memelasnya, berharap bisa meluluhkan hati Mas montir itu. "Mobilnya dimana?" tanya Mas montir itu saat beberapa montir yang lain datang. Arni menunjuk ke arah pintu masuk bengkel. "Ya ampun, bilang dong Mbak kalau mobilnya di depan mata," ucap Mas montir itu yang kemudian mengajak beberapa temannya untuk mendorong mobil Arni masuk ke dalam bengkel. Arni berdiri cemas tak jauh dari mobilnya, saat Mas montir itu memeriksa keadaan mesin mobilnya. "Wah ini kalau di benerin bisa lama Mbak," ucap Mas montir itu dari balik kap mobilnya. "Kalau mau, mobilnya di tinggal dulu, besok kalau sudah bagus, saya hubungi Mbaknya," usul Mas montirnya. "Oke deh Mas." Arni mengiyakan usul Mas montir tadi. Setelah bertukar nomor w******p, Arni meninggalkan bengkel itu dan berjalan di pinggir jalan mencari tempat untuk singgah sebentar. "Kesitu aja lah," ucapnya saat melihat minimarket yang tiap beberapa kilometer ada. Ia masuk ke dalam dan membeli air minum kemudian duduk di kursi depan minimarket. JGERR Petir tiba-tiba menyambar, membuat langit yang tadinya sudah mendung, bertambah mendung dan mulai menurunkan air dari langit. 'Aduh ini kenapa gak ada yang ambil sih' gerutu Arni. Aplikasi ojek onlinenya hanya berputar-putar menjadi driver. Langit sudah tampak menghitam dan air hujan sudah mulai turun dengan derasnya. Beberapa pengendara sepeda motor tampak merapat kesana untuk berteduh. Pasrah karena belum mendapatkan ojek online, Arni bergeser ke pinggir agak menjauh dari kerumunan orang yang sedang berteduh itu. Tengah menatap derasnya hujan, sebuah mobil hitam yang baru datang tiba-tiba, mendimnya berkali-kali. Merasa terganggu dengan kelakuan mobil di depannya, Arni beralih lagi. Ia masuk ke dalam minimarket itu. Seseorang yang berada di dalam mobil itu, keluar menerobos hujan masuk ke dalam. "Kenapa tadi gak langsung masuk ke mobil sih? Malah masuk ke dalam sini lagi." Jantung Arni hampir copot mendengar suara dan melihat orang itu. Dipa muncul lagi di hadapannya. Mengenakan kaos oblong dan celana chinos membuat Dipa terlihat sangat stylish. "Ayo aku antar kamu pulang," ajak Dipa. "Saya sudah pesan ojek online," ucapnya menolak ajakan Dipa seraya menepis tangannya. "Hujan-hujan gini mana ada ojol yang mau ngambil orderan kamu." Dipa bersikeras. "Tapi saya udah order." Arni tak kalah ngototnya. "Mana handphone kamu, biar aku lihat." Satu tangan Dipa menengadah di depan wajah Arni, meminta handphone. 'Perasaan aku gak pernah minta untuk ketemu dia lagi' gumamnya. Dipa masih dalam posisi yang sama. "Mana?" Pintanya lagi. Arni terdiam. "Apa susahnya tinggal bilang iya sih. Kan aku niat baik mau antar kamu." Dipa menarik tangan Arni keluar dari minimarket dan menerobos hujan, masuk ke dalam mobil. 'Niat baik dari hongkong? Lima juta kemarin aja gak kembali, pake acara nyicil. Ya ampun Arni. Ikhlas ikhlas. Kemarin kan sudah di ikhlaskan' batinnya. Ia mengeringkan rambutnya yang basah akibat air hujan dengan tissue. Mereka meninggalkan minimarket, dan melaju diatas aspal yang basah. Saking derasnya hujan, sebuah pohon yang ada di pinggir jalan yang mereka lalui roboh, membuat kemacetan. 'Tambah lama' gumam Arni. Arni melepas kancing blazernya dan menurunkan sandaran kursinya. "Kemana mobil kamu?" "Di bengkel, Pak." "Bapak?!" Dipa melotot. "Pak, saya lo sudah ikhlas masalah uang kemarin. Tapi kenapa kita masih ketemu aja sih," ucap Arni merengut. Ia benar-benar bingung dengan keadaan yang seolah memberi jalan agar mereka kembali bertemu. "Ya iyalah kita bakal ketemu lagi, aku belum dapat hak dari kamu?" Arni melongo. "Hak apa, Pak? Yang ada Bapak yang belum kasih hak saya?" "Belum? Ckckck." Dipa menggeleng. "Kamu lupa kejadian di apartemen aku kemarin? Seharusnya sekarang aku yang minta hak aku sama kamu." Seringai Dipa. Arni menyilangkan tangan di depan dadanya. "Bapak mau melecehkan saya!" Seru Arni. "Apa aku seperti orang yang akan melecehkan kamu?" "Bapak cepet jalan," ucap Arni menunjuk-nunjuk ke depan. Sepanjang jalan, Arni memegang kuat seatbeltnya. Antisipasi terhadap Dipa. Hujan reda saat mereka tiba di depan kos. Sebenarnya Dipa ingin langsung membawa Arni pulang ke rumah dan mengenalkannya dengan Uti, tapi karena Arni ngotot ingin langsung pulang, Dipa tak dapat memaksa. Arni melepas seatbeltnya. "Saya harap, walaupun Bapak melihat saya tak sengaja, tolong saya gak usah disapa. Begitu juga sebalik, saya juga gitu." "Mana bisa gitu?" Dipa menahan tangan Arni yang hendak membuka pintu mobil. "Pokoknya selama kamu belum mengiyakan mau kerjasama dengan aku, jangan salahkan aku yang bisa muncul dimanapun kamu ada." Senyum licik Dipa membuat Arni kesal setengah mati. "Kerjasama apa sih, Pak? Kenapa harus saya sih yang ribet sama urusan Bapak? Salah saya apa?" "Kerjasama yang akan menguntungkan kamu. Kamu hanya perlu bersikap manis saat aku memperkenalkan kamu sebagai calon istri," ucap Dipa. "Calon istri? Sudah cukup Bapak melakukan itu di acara reuni kemarin. Sekarang Bapak mau memperkenalkan saya kemana lagi? Dan kenapa harus saya? Saya bukan siapa-siapa dan saya yakin saya bukan tipe Bapak. Jadi tolong Bapak jangan muncul dihadapan saya lagi!" Dipa menarik tangan Arni sedikit lebih kuat hingga wajahnya dapat terlihat jelas. "Aneh, cuman kamu yang tidak tertarik sama aku." Jari telunjuk Dipa menelusuri wajah Arni dari pelipis, hingga berhenti di bibir Arni. PLAK Pukulan mendarat di lengan Dipa. Arni mengacungkan kepalan tangan ke wajah Dipa kemudian keluar dari mobil dan membanting pintunya. "Selera Uti kok gini banget sih," ucap Dipa bingung. Ia menginjak pedal gas dan pergi dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN