Addiction: 9

1244 Kata
            “AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHNYA!” Nicholas benar-benar menggila kali ini. Ia berteriak. Sangat keras sampai-sampai Emma sedikit ngeri kalau-kalau gendang telinganya akan pecah karena mendengar teriakan pemuda itu.             “Ini hanya luka kecil. Bukan apa-apa,” ujar Emma, disusul penyesalan sedetik kemudian, setelah melihat wajah Nicholas berubah merah padam mendengar ucapannya barusan.             “JADI KAU BILANG TERTUSUK ANAK PANAH HINGGA 5 SENTI DALAMNYA DAN MENDAPATKAN BANYAK JAHITAN ITU KAU BILANG BUKAN APA-APA?” Nicholas kembali berteriak. Kali ini para algojonya yang lain, kecuali Emma tentunya, memilih untuk meninggalkan ruangan, menyisakan Emma, Frank, dan Nicholas sendiri.             “Kau tidak perlu semarah ini, Nic. Ini adalah apa yang mereka sebut resiko pekerjaan.”              Nicholas terdengar bergumam pelan, menyuarakan berbagai macam sumpah serapah dan beberapa di antaranya sepertinya dari bahasa asing yang Emma tidak tahu artinya. Tapi, Emma memilih untuk tidak terlalu memperhatikan reaksi yang ditimbulkan pria itu.             Logika saja. Wanita mana yang tidak akan menyalah-artikan sikap kekhawatirannya yang terlalu berlebihan seperti itu? Kali ini Emma benar-benar tidak bisa menyangkal degupan jantungnya yang ikut-ikutan bereaksi berlebihan karena tersanjung akan perlakuan Nicholas padanya. Bahkan, ingatan saat Nicholas menghampirinya dengan berlari cepat – lebih cepat dari yang pernah Emma lihat dibandingkan kecepatan pria itu saat berlari di waktu sebelum-sebelumnya- menghampirinya dengan wajah khawatir yang kemudian berganti menjadi amarah yang tak tertahankan saat memerintahkan semua rekan-rekan Emma untuk menelusuri setiap sudut mansion untuk menemukan si penembak anak panah, kemudian saat pria itu menggendongnya dengan cekatan dan memanggil dokter pribadinya untuk segera datang dan mengobatinya—sama sekali tidak meninggalkan benaknya, dan terekam sangat jelas di otaknya.             Apa yang terjadi hari ini akan benar-benar menyulitkan perasaannya sendiri, dan Emma tahu betul itu.             “Untuk sementara ini, kau tidur di kamarku, Em.” Usulan Nicholas membuat lamunan Emma buyar seketika.             “A-apa? Tidak. Aku menolak!” Emma berdiri cepat dari duduknya. “Frank, katakan sesuatu pada Nicholas. Dia mulai berlebihan.”             “Tidak. Harusnya aku yang berkata seperti itu pada Frank!” Nicholas membentak, kemudian melirik pada Frank yang masih berdiri tegak tanpa bergeser seinci pun dari samping sofa tempat Emma duduk barusan. “Frank, katakan padanya kalau dia harus mengerti akan posisinya di sini. Dia sudah menjadi salah satu incaran wanita gila itu!”             “Justru karena aku memahami betul seperti apa posisiku sekarang, Nic!” Emma balas membentak. “Apa yang akan dikatakan pemimpinku kalau dia tahu justru kau malah melindungiku, padahal seharusnya kau yang aku lindungi? Aku bisa menjaga diriku sendiri, Nic. Ini bidangku, pekerjaanku, aku sudah menggeluti ini cukup lama dan aku tahu harus bagaimana menghadapinya.”             “Baiklah, terserah kau saja.” Nicholas menggeretakkan giginya dengan keras, terlihat dari gerakan rahangnya yang kaku dan tegas. Kemudian, sambil menghela napas panjang, Nicholas melangkah lebar meninggalkan ruangan, diiringi suara hentakan sepatunya yang menyuarakan amarah yang sedang meradang.             Saat suara sepatunya sudah mulai terdengar menjauh, Emma menghempaskan bokongnya kembali ke atas sofa dengan frustrasi. Ia menumpukan sikunya ke lengan sofa, segera menemukan posisi nyaman untuk jemarinya memijat pelipisnya. Tapi, ia tidak bisa tenang karena ia merasakan pandangan Frank yang jelas-jelas sedang menjadikannya lelucon.             “Frank...jangan membuatku menebak apa yang sedang kau pikirkan sekarang,” ujar Emma. Ia sedikit penasaran, lelucon seperti apa yang Frank ciptakan di dalam kepalanya tentang dirinya dan Nicholas.             Frank berdehem pelan, berusaha menyembunyikan seulas senyum jenaka yang belum pernah Emma lihat sebelumnya. “Tuan muda kita hanya khawatir pada keselamatanmu.”             “Aku tahu. Tapi, menurutku itu terlalu berlebihan.”             “Tidak berlebihan untuk seseorang yang sedang jatuh cinta meskipun belum bisa memastikan apakah ia benar-benar sedang jatuh cinta atau tidak.”             “Jangan bercanda, Frank. Aku tidak—tunggu, maksudmu, Nicholas...padaku? Tidak-tidak. Itu tidak mungkin.”             “Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah menentukan.” Frank membungkuk, membereskan handuk yang tergeletak di lantai, yang digunakan untuk membalut luka Emma saat menunggu dokter pribadi Nicholas datang. “Bagaimanapun, perasaan hangat itu ada karena ada campur tangan-Nya yang membolak-balikkan hati manusia. Ada baiknya, kalian berdua tidak saling mengeraskan hati. Tidak akan ada yang menyukai penyesalan di akhir,” lanjut Frank. “Meskipun, tetap harus berhati-hati karena sebagian orang memilih untuk membesarkan api dibanding membuatnya tetap jinak.”             Emma tidak bisa memahami maksud perkataan Frank padanya. Sebagian orang memilih untuk membesarkan api dibanding membuatnya tetap jinak, tapi Emma memilih untuk tidak bertanya. Ia tahu, apapun yang dikatakan Frank padanya berhubungan dengan Nicholas, dan Emma tidak ingin melibatkan perasaannya terlalu jauh. Terkadang, tidak ada yang salah dengan penyesalan di akhir kalau memang penyesalan itu adalah hal yang paling baik di antara semua akibat yang ditimbulkan dari keputusan yang lain. ***             “Kalian tahu di mana Nicholas?” Emma masuk ke dalam ruang istirahat rekan-rekannya di mansion sebelah barat. Ini adalah ruang terakhir dari mansion ini yang ia datangi untuk mencari Nicholas.             “Kau baru saja mengajukan pertanyaan yang sama denganku saat kita berpapasan di lorong tadi dan jawabanku tetap sama, Em. Aku tidak melihatnya.” Gilbert, menjawab Emma dengan teriakan dari ujung dalam ruangan dekat lemari khusus makanan.             “Bagaimana dengan yang lain?” tanya Emma, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari sekelebat jawaban dari masing-masing mata penghuni ruangan itu. Nihil. Emma menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Astaga, ke mana dia?”             “Terakhir aku melihatnya sedang berbicara dengan Frank. Kau sudah tanya padanya?” Tiba-tiba seseorang menyahuti Emma. Rekan baru, Emma tidak ingat siapa namanya; seorang pemuda Kanada yang termasuk ke jajaran pengawal Nicholas yang memiliki tampang di atas rata-rata.             “Frank. Ya, seharusnya aku tahu. Aku belum melihatnya sejak tadi.” Emma berjalan mundur beberapa langkah dengan cepat, kemudian memutar badannya hingga memunggungi rekan-rekannya yang sedang berada di dalam ruangan itu.             Sambil berpikir keras tentang apa yang sedang dilakukan Nicholas, Emma melesat menyamai kecepatan angin yang berhembus ke arah yang sama dengan tujuannya pergi, saat ia sedang melintasi taman utama yang memisahkan bagian mansion barat dan timur. Emma memiliki firasat buruk tentang apa yang sedang dilakukan pria itu. Entah berada di mana ia sekarang, bagaimanapun, Emma harus segera menemukan Nicholas, dan mencegah sesuatu itu sebelum benar-benar terjadi. Jelas, ini ada hubungannya dengan insiden anak panah yang melukai dirinya tadi.             Tidak mungkin kau tidak merencanakan sesuatu, Nic! Emma menggeram, dan tanpa sadar meninju salah satu pilar yang ia lewati di lorong panjang sebelum memasuki pintu masuk mansion timur, dan itu membuatnya spontan menghentikan langkah lalu memegangi kepalan tangan kanan yang ia gunakan untuk meninju tadi. Ia bisa merasakan jarinya mulai membengkak sedikit, dan nyerinya sungguh luar biasa tak tertahankan sampai-sampai Emma spontan berjongkok dan menekan-nekan tangannya yang nyeri ke perutnya sambil meringis kesakitan. Seumur hidupnya, Emma belum pernah merasa sekonyol ini.             Setelah beberapa menit meringkuk kesakitan, Emma mulai berdiri perlahan, menarik napas dalam beberapa kali, sebelum kemudian berusaha mati-matian mengembalikan raut wajahnya menjadi normal, seakan tidak terjadi apa-apa padanya barusan. Paling tidak rasa sakit yang ia rasakan barusan bisa sedikit mengurangi amarahnya jika nanti ia berhasil menemukan Nicholas, karena Emma benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencekik Nicholas.             Belum pernah sebelumnya Emma kewalahan mengatur emosinya sendiri saat bekerja dengan klien. Nicholas yang pertama melakukannya, dan Emma berdoa tidak akan ada klien lain seperti Nicholas nanti.             Emma merasakan handphonenya bergetar di dalam saku blazernya. Nicholas meneleponnya, dan Emma segera mengangkatnya meski dering pertama belum usai. “Katakan kau di mana, Sialan! Kau tidak bisa bayangkan betapa kalutnya aku mencarimu dan kau—“             “Tolong aku...”             Seketika raut wajah Emma berubah. Rasa penasaran sekaligus cemas dan was-was mulai merayapinya dan membuat bulu kuduk di lehernya berdiri. “Apa maksudmu?”             “Tolong aku, Em—aku—“
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN