Addiction: 8

1102 Kata
            “K-kau!” Emma memegangi pipinya, lalu mengusap-usap pipinya kasar dengan tangan. Ia bertingkah seperti orang yang sedang jijik sambil berulang kali mengucapkan ‘iuh’.             “Kau beruntung. Kau termasuk dari sekian wanita di muka bumi ini yang kucium duluan, sayangnya, itu bukan di bibir.”             “Untungnya itu bukan di bibir, Nic!” Emma berjalan melewati Nicholas sambil menghentak-hentakkan kakinya karena marah. Ia bahkan sengaja menyenggol bahu pria itu saat akan melewatinya, tapi itu tidak cukup kuat untuk membuat pria itu bergerak meski hanya satu inci.             “Hei, Emma!” Nicholas berteriak.             Emma menolehkan setengah badannya.             “Aku ingin kau tidur denganku lagi nanti malam. Aku menyukai apa yang kau lakukan padaku!” lanjut Nicholas, sambil melambaikan tangannya pelan, kemudian berbalik, berjalan ke arah yang berlawanan dengan Emma.             Memangnya apa yang kulakukan padanya? Lagipula, siapa yang sudi tidur dengannya lagi? gerutu Emma dalam hati. Saat dia berbalik dan baru saja melangkahkan kaki kanannya ke depan, matanya bertatapan langsung dengan rekan-rekannya yang sedang berdiri mematung sambil memegang satu kaleng kopi dingin di tangan mereka. “Err..guys, yang kalian dengar barusan tidak seperti apa yang kalian pikirkan. Percayalah.” Emma berusaha membela diri, tapi ekspresi wajah rekan-rekannya yang berubah jenaka mengatakan padanya kalau apa yang ia katakan tidak akan mengubah apa yang sudah terlanjur mereka pikirkan.             Sementara Emma sedang menjadi bahan candaan teman-temannya. Nicholas sudah , berada di dalam kamarnya sendiri; duduk di atas kasurnya, memperhatikan Frank yang sedang membersihkan abu sisa perapian. Pria tua itu benar-benar sangat profesional pada setiap hal yang ia kerjakan, seolah-olah tidak ada hal yang tidak bisa ia lakukan.             “Anda ingin menanyakan sesuatu?” Frank tiba-tiba memulai pembicaraan, membuat Nicholas sedikit tergagap saat diajukan pertanyaan langsung seperti itu. Tapi, bukan Nicholas namanya kalau tidak bisa menyembunyikan itu di balik wajah tenangnya.             “Ah...ya..., bisa tidak, bisa iya,” jawab Nicholas, asal. “Aku memang ingin bertanya, tapi aku masih mempertimbangkan apakah aku benar-benar ingin bertanya atau sebaiknya tidak usah kutanyakan.”             Frank sekonyong-konyong berdiri, lalu menghampiri Nicholas dengan cepat, sambil membawa seember penuh abu perapian. Ia membungkuk dalam-dalam, kemudian berkata, “Jangan coba-coba bermain api kalau tidak bisa memadamkan apinya, Tuan.”             “Apa?” Nicholas mengernyitkan alisnya.             “Anda mendengar saya, Tuan.” Frank berdiri, tapi lehernya masih menunduk. “Hanya sedikit nasihat yang mungkin masih berhubungan dengan apa yang ada di pikiran Anda.”             Nicholas tidak mengatakan apapun saat Frank keluar dari kamarnya. Ia hanya duduk diam, sebelum kemudian beranjak menuju balkonnya. Dari atas sana, ia bisa melihat jelas Emma yang baru saja keluar dari bangunan mansion diiringi rekan-rekannya yang mengikuti wanita itu dari belakang seperti sekumpulan pengawal yang sedang melakukan iring-iringan penjaga ratu. Dan Emma, memang terlihat terlalu cantik untuk ukuran seorang wanita biasa. Hebatnya lagi, wanita itu bekerja sebagai seorang pengawal keamanan yang memiliki resiko tinggi untuk dilakoni seorang wanita.             Sudah beberapa kali Nicholas nyaris tergoda oleh naluri laki-lakinya untuk bisa memiliki Emma sebagai ‘teman spesial’nya selama ia berada di Inggris. Tapi, kali ini bisikan setan-setan kecil yang bermukim di otaknya itu telah kalah dengan bisikan-bisikan malaikat yang entah darimana, yang membuat dia masih tetap bertahan dengan kesepakatannya untuk tidak jatuh cinta pada Emma. Jadilah, niatannya itu hanya bisa ia salurkan berupa godaan-godaan kecil yang membuatnya merasakan kepuasan sesaat saat Emma marah dan mulai menunjukkan ekspresi-ekpresi yang tidak pernah ia temukan pada wanita lain.             Masalahnya, Nicholas mulai ingin menuntut lebih.             Semua yang Emma lakukan padanya, membuatnya semakin tidak bisa menahan diri, dan si Tua Frank barusan tiba-tiba memberinya nasihat yang tidak mungkin merupakan suatu kebetulan. ***             “Sepertinya dia benar-benar tertarik padamu, Em,” kata suara dari seberang telepon. Itu Samuela. Situasi sedang sedikit lengang, jadi Emma pikir tidak ada salahnya ia melakukan panggilan telepon sekedar lima sampai sepuluh menit. Paling tidak, itu bisa membuatnya sedikit lega atas semua perasaan yang berkecamuk di dadanya.             “Benarkah? Tidakkah kau kira dia terlalu player?” Emma bisa merasakan, Samuela sedang melakukan tarikan ke atas pada sebelah alisnya, seteah sahabatnya itu mendengar ucapannya barusan.  “Sepertinya aku salah berbicara.”             “Kau memang salah, tapi karena kesalahanmu aku jadi tahu apa yang terjadi—astaga, Emma...kau menyukai pria itu, kan?”             “APA? JANGAN BERCANDA.”             “Kau yang jangan bercanda, Em. Kalimatmu barusan, secara tidak langsung menyatakan kalau kau meminta penilaianku terhadapnya. Apalagi kalau bukan karena kau menyukainya?”             “Jangan bodoh, Sam.”             “Kau yang bodoh, Emma.” Samuela membalas dengan nada yang lebih sinis. “Pria sepertinya sama sekali tidak memenuhi kriteriamu. Kau sendiri yang memimpikan untuk bisa menikah hanya satu kali dalam seumur hidupmu. Sementara kalau kau jadi pengantinnya, kupastikan kau akan segera mencari pasangan baru, karena pria seperti Nicholas adalah tipe yang mudah bosan. Apa kau siap menyandang status janda?”             “Apa, sih, yang kau bicarakan?” saut Emma, mendadak ia jadi kesal sendiri mendengar celotehan Samuela. “Kau berpikir terlalu jauh.”             “Terkadang tidak ada salahnya jika kita berpikir terlalu jauh, Em,” jawab Samuela, hampir tidak ada jeda di antara percakapan mereka berdua. “Sudah dulu, Em. Sepertinya kau akan meledak dalam beberapa detik kemudian.”             “Memang.”             “Bye, Manis,” ujar Samuela, sebelum memutuskan sambungan teleponnya, dan membuat Emma semakin tidak mood karena kalah cepat mematikan telepon.             “Ini belum lima menit, Em.” Gilbert, si Kepala Merah yang baru saja memotong rambutnya mengikuti gaya rambut Harry Potter di film ke-empatnya, menghampiri Emma, tepat setelah wanita itu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.             “Bagiku satu menit terlibat percakapan tidak bermutu seperti tadi, seakan-akan sudah berada di neraka paling dalam selama satu tahun lamanya, apalagi lima menit?” Emma melengos malas, sambil melempar pandangannya ke arah semak-semak hutan buatan yang mengitari danau buatan mansion. Seketika pandangannya berubah terkejut. Ia menjulurkan tangannya ke arah Gilbert, lalu mendorong temannya itu sampai terjatuh ke atas rerumputan, sementara tubuhnya sendiri oleng dan kehilangan keseimbangan untuk berdiri tegak.             Emma masih bisa menahan tubuhnya sendiri untuk tidak tumbang, sampai tiba-tiba sebuah anak panah melesat menancap di lengan kirinya membuatnya terjatuh karena tidak siap menahan rasa sakit yang tidak disangka-sangka.             Darah segar mengalir dari lengannya, dan semakin banyak setelah Emma menarik anak panah itu keluar. Sebuah surat yang dilipat dan diikat di ujung lain dari mata pisaunya menarik perhatian Emma. Ia menjulurkan anak panah itu pada Gilbert yang terduduk di sampingnya, “Bacakan,” katanya. Emma melirik tajam pada semak-semak yang disinyalir sebagai tempat si pemanah melancarkan aksinya. Sebagian besar teman-temannya sedang mengejar si pelaku ke sana, menyisakan Emma yang terluka, Gilbert, dan Hans.             “Emma...sepertinya, dia memulainya lagi...” Gilbert menyodorkan surat itu dalam keadaan terbuka, dan Emma bisa membacanya dengan sangat jelas.             Jauhi kekasihku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN