Dokter Wan

1634 Kata
Dokter itu membawa kami menaiki mobilnya, jika itu memang mobil. Sekarang biarkan aku bertanya lebih dulu. Seperti mobil, tapi tidak punya ban, apa namanya? Aku akan memberinya nama 'mobil tanpa ban' sajalah biar gampang. Jalan melingkar sudah menghilang, berganti jalan biasa. Kata dokter, itu memang mekanisme sistem lalu lintas. Waktu siang dan sore saja jalanan mirip wahana permainan itu akan muncul. Lepas dari itu, semua akan kembali seperti awalnya. Termasuk bangunan yang mirip tudung saji, terletak di mana-mana saat malam hari. Kata dokter itu, lagi, bangunan mirip tudung saji itu seperti sebuah laboratorium ruang angkasa yang mengamati geraknya bintang. Lebih jauh dokter itu juga bilang kalau sumber kehidupan di planet ini adalah bintang, bukan matahari. Lalu aku tanya mengapa begitu? "Matahari hanya untuk galaksi Bima Sakti, bukan galaksi ini. " "Lalu kenapa hampir setiap rumah memiliki lab itu?" Teta menatap Dokter Wan dengan takzim. Iya, namanya Wan. Aku siang tadi baru bertanya. "Karena setiap rumah punya keperluan dengan listrik." Dia mengangkat bahunya tak acuh. Jawabannya singkat tapi mampu menggerus kebodohan kami. Setiap rumah memang butuh listrik. Harusnya kami bisa menyimpulkan itu sendiri. Kami tiba di sebuah warung makan. Ini tidak ada bedanya dengan warung makan Padang di kota kami dulu. Yang berbeda, pelayan di sini adalah mesin. Kami mengantre, menunggu giliran. Orang-orang di depanku secara estafet menekan tombol-tombol di meja kasir. Lalu dari tepi dinding, akan meluncur berbungkus-bungkus makanan di atas sebuah rel berjalan. Mereka siap meraih bungkus itu lalu berbalik kiri untuk pulang. Hingga akhirnya tiba giliran kami. Awalnya aku pikir Dokter Wan akan melakukan hal yang sama. Menekan tombol-tombol itu, lalu mendapatkan pesanannya. Tapi ternyata tidak. Dia malah membawa kami masuk ke dalam dapur tempat manusia menyajikan makanan—melalui pintu yang berada di belakang meja kasir. Itulah sisi menyenangkannya. Orang-orang itu gesit betul memasukkan nasi ke dalam kertas, memberikan lauk sesuai pesanan, seolah mereka hafal apa saja yang harus dibuat. Jumlah karyawan di sana kurang lebih dua belas orang. Tapi gerak tangannya seperti memperkerjakan 24 karyawan. Artinya mereka sudah menghemat 50% gaji karyawan untuk tenaga yang sama besarnya. Dokter Wan tersenyum bangga. Merasa tidak habis pikir, entah untuk apa. "Ini warung makanku, Ris. Aku sudah menggelutinya sejak belasan tahun silam. Mereka berkembang pesat." Sebuah benang terangkai dalam otakku, memberi penjelasan. Warung makan ini miliknya. Aku mengangguk, segera paham. "Dokter hebat." Dokter Wan menggeleng. "Dokter bukan dokter yang hebat. Tuntutan hidup membuat manusia melakukan apa saja untuk bertahan." Teta sibuk bertanya kepada karyawan yang bukannya terganggu malah tersenyum melayaninya, tanpa mengurangi kecepatan tangan se-rpm pun. "Memang begitu, Dek. Kami memang harus cepat," jawab seorang karyawan dengan celemek di d**a. Karyawan yang notabene adalah perempuan itu kemudian meletakkan makanan yang sudah jadi ke atas rel sesuai nomor pesanan. "Kenapa nggak pakai mesin aja?" Aku bertanya bodoh. "Buatan manusia dan mesin berbeda Ris. Cita rasanya lain. Kalau aku menggunakan mesin, apa bedanya warung makan ini dengam rumah makan lain? Mereka semua menggunakan mesin." Baiklah. Jadi ternyata warung makan ini satu-satunya warung makan yang menggunakan manusia untuk menyajikan makanan. "Bibi, siapa yang masak ini semua?" Karyawan itu masih diganggu oleh Teta. "Tanya saja dengan Dokter Wan." Teta beralih menatap Dokter Wan. "Siapa yang memasak ini semua, Dok?" Dokter Wan tersipu malu, lalu menunjuk dadanya sendiri. Itu adalah jawaban yang benar-benar membuat kami tidak percaya. Maksudnya dia yang memasak ini semua, kan? "Dokter sungguhan?" tanyaku. "Bukankah tugas Dokter itu berat? Gimana caranya Dokter bisa memasak semua menu?" "Pagi-pagi Dokter akan memasaknya. Setelah selesai, ya udah Dokter akan meninggalkannya. Semua karyawan yang akan mengurus, termasuk memanaskan makanan jika sudah dingin." Luar biasa. Teta bahkan bertepuk tangan saking sakitnya. Lain lagi dengan Dokter Wan, dia hanya tersenyum dan menggeleng, lalu mengajak kami berkeliling dapur yang besar itu sebentar. Tidak ada yang spesial dari dapur itu selain rel-rel makanan yang bergerak, penerangan tanpa bohlam lampu, dan pendingin ruangan tanpa mesin pendingin. Setelah lelah berkeliling, Dokter Wan mengajak kami keluar menuju meja makan. Menunggu makanan dihidangkan. Khusus untuk kami, cara penghidangan makanan dibuat berbeda. Kami hanya duduk di kursi, menghadap sebuah meja, lalu secara tiba-tiba meja itu akan membelah menjadi dua dan menyembulkan piring-piring berisi makanan. Lalu setelah mantap terhidang, meja akan kembali seperti sediakala. *** Bang Arsi sudah lebih baik saat kami tiba. Dia sedang menonton televisi. Teta segera mengambilkan piring dari dalam lemari rumah sakit dan menghidangkan makanan yang kami bawa dari warung makan Dokter Wan. Masakan Padang! "Udah sehat belom?" tanya Teta. Bang Arsi mengangguk, dia sudah mendingan. Lalu Teta mulai menyuapi abangnya itu secara perlahan. Aku sendiri sedang berdiri di dekat pintu kamar. Berbincang sebentar dengan Dokter Wan mengenai keberadaan Iron. "Katanya dia dibawa kolega kerajaan. Maksudnya apa ya Dok?" "Mungkin dia akan dijadikan b***k, ataupun menjadi karyawan kerajaan," jawabnya. "Apa hal tersebut masih berlaku di sini? Kerajaan apa sih yang sebenarnya orang itu maksud? Dan, bagaimana caranya supaya aku bisa menjemput Iron." Dokter Wan menggeleng. Kepalanya ditundukkan demi melihat ujung sepatu. "Kita coba besok datang ke istana saja. Biar kamu simpulkan sendiri seperti apa pihak kerajaan Kota Rutus." Dia menepuk bahuku, dengan maksud mengirim energi positif. Pembicaraan kami selesai tanpa sebuah penarikan kesimpulan. Dokter Wan melirik jam tangannya, pesan dari salah satu perawat bahwa ada seorang yang dibawa ke Unit Gawat Darurat dan membutuhkan penanganan segera. Dokter Wan pergi meninggalkan kami di kamar rawat Bang Arsi. Aku hanya mengembuskan napas lelah, tidak pernah berpikir bahwa sejak awal aku lah yang mempersulit keadaan. *** "Istana akan buka saat malam." Esok paginya, Bang Arsi sudah mulai pulih. Teta mengemaskan barang-barang untuk pulang-entah akan pulang ke mana. Setelah selama ini tinggal di rumah sakit, menginap di kamar Bang Arsi, kami akhrinya harus enyah juga. Dokter Wan datang membawa kertas-kertas, bilang ada administrasi yang harus diurus. Saat itu aku segera mengeluh, "kami tidak punya uang." Tapi Dokter Wan malah menjawab kalau semua urusan rumah sakit dia yang akan mengurus, kami tinggal mengisi biodata dan keperluan non-materil. Maka, saat matahari mulai naik, jalanan melingkar sudah beranjak tinggi, kami sudah berada di dalam mobil Dokter Wan. Saat itulah dia bilang, "istana akan buka saat malam." Aku menggeser tubuhku ke kanan, mendekati Dokter Wan. "Jadi kita akan datang ke sana malam-malam?" Teta dan abangnya yang duduk di kursi belakang ikut memajukan kepala, ikut menguping. Dokter Wan memelankan mobilnya seraya mengembuskan napas. Lampu merah menghadang kami. "Kita coba dengan cara itu. Tapi besok pagi kita cari rumah sakit yang kira-kira menerima pasien laki-laki pasca kecelakaan juga. Kita akan bekerja keras." Lampu hijau berpendar, menggantikan lampu merah. Mobil dan motor mulai melaju kembali dengan memandikan jalanan menggunakan cahaya mereka. Kaca mobil berembun menjadi layar syahdu bagi kami untuk menikmati suasana malam di kota Rutus, walau tanpa rembulan. Aku melirik sisi barat, ada kastil megah yang setahuku akan menghilang saat pagi. Bendera kecilnya berkepak ditiup angin. Jangan lupakan bangunan tiang yang puncaknya berbentuk tudung saji, itu bentuk yang aneh. Aku menatap langit kota ini, bercahaya disiram gemintang. Kota ini, planet ini, hampir sama dengan bumi. Hanya beda teknologi dan perkembangan zamannya saja. Kami tiba di sebuah pekarangan rumah yang luas. Di depan mataku ada sebuah tiang sebesar tiga pelukan orang dewasa, dengan pintu kecil terbingkai di depannya. Mobil Dokter Wan turun perlahan menapak tanah, lalu pintu mobil terbuka ke atas. Kami segera turun dari mobil dan diajak masuk ke dalam rumahnya. *** Malam itu, kami lebih banyak bercerita tentang kenangan kami di bumi. Mengisahkan banyak kejadian, mengabaikan 'seorang' yang sempat hadir memberi jalan. *** Pintu itu adalah lift. Kami segera dibawa naik menuju ruang khusus laboratorium bintang. Tiba di lantai atas, pintu lift terbuka. Mata kami segera disambut oleh sebuah ruangan besar yang lebih cocok menjadi tempat bersantai. Ruang berbentuk setengah bola dengan jendela besar hampir menutupi seluruh dinding bagian depan. Di bagian balkon terdapat sebuah teropong raksasa seukuran anak umur delapan tahun. Di sana juga ada sofa merah dan kursi santai, lengkap dengan cangkir-cangkir minuman di mejanya. Dokter Wan membuka jendela balkon, membiarkan anginnya menghajar wajah kami. "Ini adalah lab bintangku. Ini teropong bintang, kalian mau mencoba lihat?" Kami bertiga sontak mengangguk. Jika ada Iron, mungkin dia yang paling heboh ingin menguasai teropong bintang itu sendiri. Tapi sayangnya tidak ada Iron sekarang. "Kalau formasi bintang berjejer menghadap sisi barat, maka sel bintang harus dihadapkan ke sisi timur." Aku bertanya, "sel bintang itu apa." "Sejenis sel surya, kan? Untuk mengubah tenaga bintang menjadi tenaga listrik." Dokter Wan mengangguk atas jawaban sekaligus pertanyaan dari Bang Arsi. Aku mengangguk paham, sedangkan Teta memilih untuk mencoba melihat bintang-bintang melalui teropong setelah aku mencoba lebih dahulu barusan. Gadis itu tersenyum, menggerakkan batang teropong ke sisi kanan, lalu ke kiri, atas dan juga bawah. "Sekarang bintang-bintang berputar mengelilingi satu bintang besar yang sama. Itu artinya apa?" Dokter Wan mengernyitkan kening. Aku paham maksud Teta. Bintang-bintang sekarang memang sedang berbaris mengelilingi sebuah bintang utama. Aku tadi melihatnya. Mirip matahari yang dikelilingi planet-planet. Dokter Wan mengambil alih teropong. Dia penasaran ingin melihat. "Bahaya!" Dokter Wan tiba-tiba melepas teropong itu. Dia berlari menuruni anak tangga yang berada di sisi kanan ruangan jika kita menghadap jendela balkon. Dia buru-buru sampai tidak sempat lewat lift. Kami bertiga saling tatap, lantas memilih ikut turun melalui tangga. Tiba di basement bawah tanah, kami tidak menemukan apapun selain Dokter Wan yang memindahkan kotak-kotak minuman. Lalu dari balik tumpukan kotak itu, terlihat sebuah pintu kecil yang muat dimasuki oleh orang dewasa yang merangkak. "Ada apa Dok?" tanyaku. Sebelum meloloskan kepalanya ke dalam pintu, Dokter Wan menoleh. "Mau ngambil kamera. Mau mengabadikan gerhana." Maka saat itu juga kami menganga. Mengabadikan gerhana? Sebegitunya? Aku menatap Teta, Teta menatapku, dan Bang Arsi hanya diam tanpa mimik. Kami memandang kosong Dokter Wan yang merangkak mengambil kamera itu. Tangannya terulur jatuh, berdebam terkena kayu, lalu setelah beberapa menit bergulat dengan kamera, tangan Dokter Wan ditarik mundur. Kamera itu ketemu. "Tolong ambilkan ini." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN