Sambil menelan ludah, aku meraih kamera itu. Lalu Dokter Wan menarik kepalanya hingga keluar dari lorong tadi. "Mau ikut?" tanyanya seraya meraih kameranya dari tanganku, dia berjalan menjauhi kami. Pertanyaannya tadi tidak lebih dari sekadar basa-basi. Dia bergegas naik ke lantai atas lagi. Kami bertiga segera berlari menyusul, walau kaki kami sudah tersengal rasanya.
Tiba di laboratorium bintang, Dokter Wan langsung memotret kawasan langit yang kalau sepintas dilihat, seperti hamparan kegelapan. Aku bertanya, "Sebegitu indahnya kah pemandangan seperti itu?"
Dengan masih memutar-mutar lensa kamera, lelaki itu menjawab, "Iya. Kejadian ini langka, hanya berlangsung tiga ribu tahun sekali." Sontak mata kami bertiga membeliak. Tiga ribu tahun sekali katanya? Itu sungguh lama bagi kami. Tapi yang menurutku aneh, tidak ada satu hal berbeda pun yang dapat kuamati dengan mata t*******g. Dan tidak ada yang spesial dari bintang-bintang yang berotasi mengelilingi bintang utama itu. Maka kami memutuskan duduk di sofa, menyimak tingkah Dokter Wan yang sibuk bersama teropongnya, membiarkan angin menghalau wajah, ikut masuk ke dalam laboratorium melalui pintu—atau mungkin jendela—balkon itu.
Ting tong
Bel berbunyi. Tapi kami tidak ada yang bergerak mengambil inisiatif. "Ris. Siapa itu?"
"Mana aku tahu." Aku mengendikkan bahu. Pertanyaan Teta sangat tidak penting. Dia kira aku ini paranormal yang bisa melihat tembus pandang? Atau lebih parah dia mengira aku tukang sihir? Hei, tentu tidak, kan?
"Biar yang punya rumah yang mengambil sikap. Dokter!" Bang Arsi berteriak. "Ada tamu itu." Dia menujuk pintu lift. "Apa kami saja yang turun?"
Dokter Wan melambaikan tangan tidak peduli. Maka kami pun kembali asyik dengan urusan masing-masing, merebahkan kepala ke sofa.
"Bang, kira-kira ke mana kita pergi nyari Iron? Aku gak bisa tenang kalau dia belum ketemu." Aku menatap langit-langit ruangan.
"Kita serahkan saja dulu semuanya kepada Dokter Wan. Tapi untuk sekarang lebih baik kita beristirahat."
Teta menoleh abangnya. "Tidur di mana Bang? Di sini? Kalau di sini aku mau. Tempatnya nyaman, sofanya empuk dan dingin." Gadis itu sekarang menempelkan pipinya ke kepala sofa. Bang Arsi hanya terkekeh menyaksikan tingkah adiknya.
"Tanya tuan rumah lah. Eh ngomong-ngomong, ensiklopedia milikmu itu ke mana Ris?"
Saat itu lah aku sontak meraba bagian belakang celana. Terkejut saat menyadari bahwa dalang perjalanan ini tidak lepas dari ensiklopedia milikku yang ditemukan oleh Iron. Lalu ke mana buku itu sekarang?
"Eh, eh!?" Aku panik.
"Gak ada?" tanya Teta. Dia dan Bang Arsi ikut menegangkan badan. Aku menggeleng. Aku sungguhan tidak tahu keberadaan buku itu.
Buku itu sangat penting dalam daftar prioritas perjalanan kami. Kami tidak mungkin berani pergi tanpa buku itu. Lalu dalam masalah genting kali ini, ketika Iron menghilang, aku yakin benar akan menemukan jawaban dari buku itu.
"Ada apa?" Dokter Wan menghampiri kami. "Kok panik?" Dengan kening berkerut dia menatap kami ringan sekali. Dia tidak memahami apapun, aku tahu itu.
Aku, Bang Arsi, dan Teta menoleh Dokter Wan. "Ensiklopediaku hilang."
"Ensiklopedia apa? Memangnya itu sangat berharga bagimu? Atau Aris mau ikut saya ke toko buku untuk beli buku baru?" Dalam suasana yang lebih baik tentu aku akan mengangguk senang. Kami bisa jalan-jalan lagi bukan? Tapi entah mengapa pertanyaan Dokter Wan membuat hati kami semakin sedih. Iron adalah sosok yang begitu mencintai buku. Bahkan jika harus memilih antara ponsel terbaru atau buku, dia akan memilih buku. Iron adalah sosok yang luar biasa. Iron adalah abang, sekaligus sahabat terbaik yang aku punya.
Aku menunduk. "Buku itu yang membawa kami ke sini. Buku itu yang membuat Iron jadi orang gila. Buku itu penting sekali."
"Iya, Aris benar, Dokter. Tapi jika Dokter yakin tanpa buku itu pun Iron bisa ketemu, maka aku rasa sudah cukup. Iya kan Ris?" Teta mencoba menenangkan.
Aku melirik wajah Teta sebentar. Lalu mengangguk, mungkin Teta benar. Inti dari permasalahan ini sederhana saja: kami ingin Iron kembali. Maka langkah terakhir yang akan kami lakukan adalah pulang kembali ke bumi apabila semua masalah tuntas. Apapun harganya.
Dokter Wan diam sejenak. Memikirkan beberapa hal. Lalu kemudian dia menghela napas. "Ah sudah lah. Istirahat saja dulu. Eh ngomong-ngomong, tamu yang nekan bel sudah pergi?"
Bang Arsi mengangguk sigap. "Sepertinya begitu, Dok."
Dokter Wan hanya mengangguk singkat, tidak peduli. Dia lalu meraih remote di atas meja, menekan suatu tombol, lalu laboratorium bintang itu menjelma menjadi sebuah kamar yang nyaman. Sofa yang kami tempati membesar, bulatan-bulatan kecil seperti permen yang luput dari perhatian kami mengembang menjadi bantal dan guling yang nyaman. "Semoga betah ya." Dokter Wan tersenyum, memutar-mutar lensa okuler pada kamera, lalu beranjak turun meninggalkan ruangan ini. Mungkin akan mengembalikan kamera itu.
Aku mendesah pasrah, bingung dengan semua yang terjadi. "Apa kalian menyesal mengikuti perjalanan ini?" Aku menatap Teta dan Bang Arsi. Lengang sejenak. Lalu akhirnya mereka berdua kompak menggeleng.
"Ini keputusan yang sudah kami ambil, Ris. Aku dan Bang Arsi enggak mungkin menyesal. Malah barangkali, esok-lusa kisah ini akan menjadi cerita yang menarik buat teman-teman di sekolah. Bahkan mungkin untuk anak-cucu kita nanti."
Bang Arsi tiba-tiba tertawa. Teta menatap abangnya tidak mengerti. Apa yang lucu?
Bang Arsi hanya melambaikan tangan, memutar tubuh untuk bergegas berbaring, lalu menarik selimut. Teta mengernyit, bertanya padaku, kenapa? Akan tetapi aku hanya bisa mengendikkan bahu sebagai jawaban terbaik.
Malam makin larut, siaran televisi entah menyiarkan tentang apa. Kami akhirnya berbaring, Teta di ujung sana, samping Bang Arsi, dan aku di ujung sini. Aku rasa kalian bisa menebak dengan baik Bang Arsi ada di mana.
Tapi ternyata kami belum tidur hingga dua jam setelahnya. Kami lebih banyak melamun, bertanya banyak hal, memandang kosong televisi. Kami juga mengenang banyak hal, memikirkan jika di bumi, kami sedang apa sekarang.
Inti dari semua pertanyaan itu sebenarnya sederhana: Sampai kapan kita ada di sini?
***
Pagi-pagi kami sudah bangun, mandi, dan berganti pakaian. Kami dapat pinjaman baju dan celana dari Dokter Wan. Sesuai rencana, dia akan mengajak kami berkeliling rumah sakit di Kota Rutus, mencari kemungkinan-kemungkinan mengenai keberadaan Iron sekarang.
Kami menaiki mobilnya. Berputar di jalanan kota yang masih lengang, sepi tidak ada kendaraan. "Hari ini libur. Orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Berkumpul bersama keluarga, memasak makanan besar, atau bersantai dan menikmati suasana pagi yang indah." Dokter Wan menjelaskan sebelum aku bertanya. Tiba di halaman luas rumah sakit, kami bergegas masuk. Bertanya apakah rumah sakit ini ada kedatangan pasien umur 16 tahun, laki-laki, tampan, tinggi proporsional, dan tambahkan satu lagi, dia bernama Iron? Tidak. Kami hanya sia-sia pergi ke rumah sakit pertama ini.
Lanjut ke rumah sakit berikutnya. Bertanya dengan pertanyaan yang sama, dan mendapatkan jawaban yang kurang lebih sama juga. Tidak ada pasien laki-laki yang datang ke sini. Kecuali lansia yang rematik.
Selalu begitu. Kami mendesah lelah di dalam mobil. Jalanan melingkar sudah tercacak sesiang ini. Matahari naik di atas kepala. Kendaraan mulai ramai. Pusat perbelanjaan juga padat. Sepertinya ada gedung bioskop baru di pusat perbelanjaan itu. Aku tadi melihat baliho-baliho yang terpampang, mempromosikan gedung bioskop tiga lantai yang baru rampung dibangun. Tambahkan juga diskon tiket menonton 35%. "Kalian lapar?" Kami bertiga menggeleng.
Dokter Wan berhenti di sebuah pom bahan bakar. Men-charger kendaraannya.
"Yang datang ke rumah malam tadi adalah wanita yang menemukan kalian di kebunnya. Ingat?" Sembari menunggu pengisi daya penuh, Dokter Wan bercerita. Kami sama-sama menggeleng tidak tahu. Tapi kami cukup antusias. "Dia bilang ingin menyampaikan sesuatu, tetapi tidak ada yang membukakan pintu. Akhirnya dia pulang."
"Sesuatu apa, Dok? Apakah menyangkut aku, Aris, Bang Arsi, dan Iron juga?"
Dokter Wan menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu juga. Saat Dokter bertanya, dia bilang nanti-nanti saja. Dia ada penerbangan ke luar kota pukul 3.00 pagi tadi. Sudah mau berangkat."
Mendengar itu aku merasa kecewa. Entah mengapa aku memiliki insting bahwa wanita itu ke rumah Dokter Wan untuk menyampaikan kabar penting. Dan itu menyangkut nasib kami berempat.
"Di sini ada pesawat juga, Dok?" tanya Teta.
"Ada. Soalnya bisa lebih cepat."
Sedetik kemudian, bahan bakar kami penuh. Dokter Wan kembali melajukan mobilnya.
Siang ini aku harus kehilangan kabar penting lagi.
***
Matahari mulai tumbang di ufuk barat, desau angin semakin halus membelai wajah, dan cahaya sore semakin syahdu mengusik mata. Sekarang pukul 4.35 sore waktu setempat. Sudah lebih dari dua puluh rumah sakit yang kami datangi. Tapi tak satupun yang membuahkan hasil.
Di saat kami sudah menyerah, Dokter Wan memberhentikan mobilnya di rumah sakit terakhir. Rumah sakit terpencil yang berada agak di pedalaman, di desa lebih tepatnya. Di sana suasana damai sekali. Ada sawah yang dibajak sapi, ada peternakan, ada pabrik pengolahan s**u sapi, ada pohon sejauh mata memandang, rumah-rumah kayu yang klasik juga antik. Di sini seperti ada perbedaan yang jauh sekali dengan pusat Kota Rutus. Di sini hampir tidak ditemukan teknologi secanggih di kota. Ini sungguhan desa.
Kami beranjak turun dari mobil. Berjalan menuju rumah sakit kecil yang lebih mirip puskesmas. Rumput yang kuinjak lembut sekali, menggelitik tapak sepatuku. Senyumku merekah kala melihat seekor kelinci meloncat dan menciumi kakiku. "Pushi, jangan ganggu tamu kita." Seorang wanita matang, keluar dari pintu rumah sakit, berkacak pinggang melihat tingkah laku kelinci peliharaannya. Wanita matang itu agak sedikit tomboy, aku rasa. Karakter yang hampir sama dengan karakter Teta.
"Kamu mandi belum sih, Ya?" tanya Dokter Wan. "Dekil gitu."
Wanita tadi menegakkan tubuh, melepas celemek di d**a lalu melemparkannya pada Dokter Wan. "Sembarangan!" Dokter Wan sigap menangkap celemek itu. "Di sini pukul 5.00 teng sudah harus wangi. Tidak seperti di kota yang bahkan baru malam hari mandi. Eh, apa tujuan kamu ke sini? Dan mereka, apakah mereka anak-anakmu? Kamu sudah menikah Wan? Tapi kenapa tidak ada undangan, ya?" Wanita itu mengusap dagunya dengan jempol seolah berpikir akan kemungkinan-kemungkinan. "Apa kurir tidak tahu alamatku? Dasar kurir s****n!"
Dokter Wan terkekeh. Dia melambaikan tangan, berjalan masuk tanpa memedulikan wanita tadi yang masih bergelut dengan pikirannya. Aku dan Teta menatap Bang Arsi, mengirimkan sinyal apakah kami akan ikut masuk juga? Bang Arsi mengangguk. Dia melangkah lebih dulu seraya bilang permisi, disusul aku dan Teta.
"Hei anak-anak, jangan tinggalkan Bibi!!!" Wanita itu sekarang ikut menyusul kami.
***
Jam analog yang berdiri di atas meja berdetak pelan. Suaranya mengelilingi kami yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Kami baru saja mendapat selarik cahaya terang yang telah kami nantikan selama ini. Mengenai keberadaan Iron. Wanita tadi bilang kalau beberapa hari yang lalu ada seorang yang membawa remaja laki-laki umur 16 tahun yang tidak sadarkan diri. Kami segera bertanya di mana lelaki itu sekarang?
Taya, wanita itu, mengusap wajahnya. "Dia sudah dibawa pergi ke rumah sakit yang lebih besar. Tidak tahu juga di mana. Tempo hari, orang yang membawanya ke mari itulah yang kemudian membawanya pergi. Setahu aku dia pindah di rumah sakit di kota. Di rumah sakit labu yang tersohor itu mungkin? Tempat Wan mengabdi."
Aku dan Bang Arsi saling tatap, Teta diam, dan Dokter Wan hendak protes. Dia ingin bilang bahwa tidak mungkin ada hal sepenting itu yang terlewat di rumah sakit tempatnya bekerja. Dia seharusnya tahu fakta itu.
"Kalian mungkin terlalu jauh berpikir bahwa remaja itu berada di rumah sakit lain. Bahkan barangkali kalian lupa kalau rumah sakit labu itu juga merupakan rumah sakit. Kalian memasukkan puluhan rumah sakit di kota ke dalam daftar, dan melupakan rumah sakit kalian sendiri."
Hening tiga detik.
Dokter Wan menepuk keningnya. Dia ingat sesuatu. "Itu benar sekali. Beberapa waktu lalu ada seorang remaja 16 tahun, laki-laki, dibawa ke rumah sakit tempatku bekerja. Bahkan aku sendiri yang menangani. Tapi sungguh, aku tidak kepikiran bahwa dia adalah Iron. Remaja yang dicari-cari oleh Aris dan kawan-kawan." Tangan Dokter Wan mengepal, meninju pahanya gemas.
Ruangan lengang lagi sejenak. Ada sedikit harapan baru yang membuatku menahan napas.
***