Makan siang di lapangan terbuka.
Ternyata, di belakang rumah sakit itu ada sebuah lapangan luas yang menghijau. Rerumputan tumbuh sebetis, pohon-pohon berdiri gemulai ditiup angin, jangan lupakan burung dan anak sapi yang menge-moo. Ini suasana yang indah sekali. Kami duduk di kursi yang mengelilingi meja kayu. Di bagian tengah meja itu terdapat lubang yang ditembus batang pohon. Praktis di atas kepala kami dedaunan rimbun memayungi.
Dokter Wan menautkan jemarinya, lantas ia gunakan untuk menopang dagu. Dia menatap sekeliling, mengingat sesuatu yang sepertinya berkesan. Lama suasana beku menyelimuti kami. Hingga di detik entah ke berapa ratus, Teta bersuara. "Dokter Wan punya pengalaman berkesan, ya, di sini?"
Bang Arsi yang sedang menghirup dalam-dalam aroma sup ikan yang tertuang di mangkok batok kelapa mengangkat kepala. Juga Dokter Wan yang tengah melamun. Dia tersenyum tipis dan mengangguk.
Tak lama, Bibi Ya datang membawa nampan berisi cerek dan gelas-gelas bambu. Dia duduk di samping Teta. "Kami berdua waktu masih remaja lama tinggal di sini. Sekolah di sekolah yang sama, bermain di padang rumput, berendam di danau jernih tepi bukit, hingga berkemah di puncak bukitnya. Itu sungguh menyenangkan. Ah, aku terhanyut dalam nostalgia lama." Bibi Ya melambaikan tangan, tidak usah dibahas lagi. Dia lanjut menyusun gelas-gelas dan meletakkan cerek minuman di samping batang pohon."
"Katanya sekolah kita dulu digusur ya, Ya?" tanya Dokter Wan.
Bibi Ya menoleh, memasang tampang sendu, lantas mengangguk. "Iya. Aku sedih mengingatnya. Padahal itu hal yang mengesankan. Pihak istana ingin mengembangkan tanaman seteroberi yang katanya baru ditemukan beberapa waktu lalu. Semoga saja itu rencana yang bagus. Mereka sampai melakukan riset besar-besaran di planet berpenghuni itu. Mengamati semua aktivitas mereka, bahkan nekat merusak kebun seteroberi salah satu penduduk. Huh, sialnya mereka juga meninggalkan masalah baru."
Dokter Wan mengernyit. Lama bekerja di rumah sakit, ditambah harus mengurus rumah makan, dia ketinggalan banyak info penting. "Apa?"
"Sumber energi kota yang berjumlah sembilan itu hilang satu saat keberangkatan mereka. Mereka menggunakan dua gelas energi untuk riset itu, satunya hilang entah ke mana. Sekembalinya mereka total gelas energi yang tersisa tinggal delapan. Alhasil ada salah satu sektor industri yang harus diberhentikan untuk menghemat energi."
"Sektor apa itu?" tanya Teta. Dia mengerti arah pembicaraan.
Bibi Ya menghela napas ringan, melemaskan bahu, melepas kain di pundaknya. "Sektor peternakan. Mereka beranggapan kita masih bisa makan nasi, makan buah, tak masalah kalau tidak mengonsumsi daging. Menurut mereka juga, masih ada hewan-hewan hutan yang dapat berproduksi sendiri, tidak perlu peternakan untuk mengurusnya. Padahal energi yang diperlukan dalam proses peternakan tidak pernah banyak. Paling hanya perlu lampu, kayu-kayu, dan beberapa hal lain. Sedangkan pusat perbelanjaan terus diperluas, itu yang seharusnya ditutup. Pusat perbelanjaan modern. Tapi mereka malah membiarkannya menjamur."
Aku ingat baliho dibukanya bioskop di salah satu pusat perbelanjaan.
Dokter Wan mengangguk. Aku hanya diam mendengarkan sambil menyantap menu makan siang kami. Matahari segera merangkak semakin matang, tapi tidak panas sama sekali. Cuaca benar-benar sempurna sepagi ini. Pushi, peliharaan Bibi Ya yang tadi sempat menyium sepatuku, melompat di sekitar kami. Dia mengendus kakiku lagi. "Hei kelinci," kataku sambil membelai kelinci itu. Dia kemudian meringkuk dan berguling di hamparan rumput sambil meregangkan tubuh. Lucu sekali.
Bibi Ya terkekeh tipis. "Tingkahnya mirip seekor kucing."
Itu benar sekali.
Detik berikutnya lebih banyak dihabiskan dalam diam. Kami menyantap makanan dengan khusyuk. Tidak mau diganggu oleh sesuatu apapun. Jika boleh jujur, sup ikan ini lebih enak dari masakan buatan ibu. Tetapi tetap saja ibu yang terbaik.
Tanpa kusadari betul, Teta diam-diam serius memerhatikan Bibi Teya. Dia hanya sesekali menyendok makanannya. Sedangkan Bang Arsi seolah tidak menyadari sikap adiknya.
Bibi Ya menoleh Teta. "Teta tidak makan?"
"Eh!" Teta terkesiap. "Ini lagi makan Bi." Teta buru-buru menyantap makanannya. Satu dua kali melirik Bibi Teya yang mengangguk.
***
Empat puluh menit berlalu, menyisakan sendawa ringan dari beberapa peserta makan siang. Aku tiba-tiba ingat Iron. Sedang apa dia sekarang? Apakah sudah makan? Fakta bahwa Iron menghilang selalu mengusik pikiranku. Seharusnya dia ada di sini, bersama kami. Tapi nasib berkata lain, Iron menghilang.
Kami berkumpul di gazebo Desa, lebih mirip saung yang terletak di antara riak air. Di sini ada lima buah gazebo berukuran 3×4 meter persegi, dengan lantai kayu dan dinding pagar—juga dari kayu. Atapnya sirap. Klasik dan menyenangkan.
"Membahas Iron, kenapa dia bisa ke sini? Bagaimana penjelasan lengkapnya?" Dokter Wan memulai percakapan.
Bibi Teya menggeser duduk. "Hari itu aku sedang membersihkan kaca jendela rumah. Tiba-tiba datang dua orang dengan menggunakan truk kecil mampir ke sini. Mereka bilang menemukan seorang remaja di pinggir jalan, mengenaskan. Mereka lalu membawanya ke rumah sakit terdekat, rumah sakit ini. Tapi itu tidak lama, paling tiga hari remaja itu dibawa pergi lagi."
"Akurat sekali." Dokter Wan berseru pelan.
Teta menoleh. "Akurat apanya Dokter? Dokter tahu kita akan ke mana? Kami siap ke perjalanan selanjutnya."
Bang Arsi mengepalkan tangan, bilang kalau dia juga siap. Kami pergi berempat ke planet ini, pulang juga harus berempat.
"Kita harus ke istana. Dokter yakin Iron ada di sana. Menilik informasi sejauh ini Iron mesti di bawa ke kerajaan."
Aku menggeleng. "Itu hanya menurut salah satu rumah sakit. Sedangkan Iron kemungkinan besar di bawa ke rumah sakit kita, bukan rumah sakit itu. Itu mungkin orang yang berbeda."
Bang Arsi menyentuh bahuku. "Itu mungkin saja. Iron bisa berpindah-pindah rumah sakit. Mendapatkan pengobatan terbaik. Kita ikuti apa yang dikatakan Dokter Wan."
Aku terdiam, menunduk. Lantas mengangguk.
Bibi Teya bangkit berdiri, mengambil rantang makanan dari dalam rumah sakit. Dia memberikannya pada kami, lalu mengelap peluh dengan kain. "Ini makanan untuk kalian. Butuh perjuangan besar sekali menuju istana. Kalian akan menghadapi hutan luas dengan pohon besar, dihadang hewan-hewan melata, ini sungguh berat."
Teta menoleh Bibi Ya, menyatukan alisnya. "Bukankah istana itu di tengah kota?"
"Ha? Apanya yang ditengah kota? Bukan berarti saking besarnya istana itu, dari jarak jauh kamu mengira itu dekat. Memang, istana itu di sekitar sana. Tapi di tengah kota ada hutan kota yang luas, masuk 11 km ke sana baru kalian sampai. Itu perjalanan yang mudah kalau dipikir. Dekat sekali. Tapi medannya sulit. Kalian harus menghadapi ngarai-ngarai yang menganga lebar, air terjun tiga warna, taman lebah, tapi aku percaya kalian mampu mengatasi semuanya. Temukan Iron. Aku khawatir pihak kerajaan ada niat buruk kepada Iron."
Tanpa perlu disuruh dua kali kami segera mengambil rantang itu. Pukul 10 pagi, kami meluncur menuju target.
***
Baru tadi kami melihat bunga teratai di kolam gazebo, sekarang kami sudah bergerak 12 kilometer dari tempat itu. Langit terang, awan berarak rapi seperti kapas yang dicerai berikan. Jalanan melingkar perkotaan tercacak gagah, kendaraan kami mengambang mengitarinya, melewati gedung-gedung.
"Aris, menurutmu ibu dan ayah kita sedang apa sekarang?"
"Mana aku tahu, Ta. Yang jelas aku rindu mereka. Rindu makan siang bersama. Aku juga rindu ikan koiku." Malam tadi aku bermimpi kalau ikan koiku mati. Itu mimpi buruk.
"Aku juga," Teta menatap langit di luar sana, "aku rindu mereka. Eh, hari ini masuk sekolah. Bagaimana nasib kita?"
Aku menggeleng. Jangankan memikirkan nasib sekolah, untuk pulang saja sulit. Jangankan untuk pulang, Iron saja belum ditemukan.
Bang Arsi hanya mendengarkan. Dia memang lebih banyak diam dalam perjalanan ini, tapi dalam hal-hal tertentu dialah yang paling banyak bertindak. Sedangkan Teta, perangainya banyak berubah. Karakternya jadi mentah dan labil, tidak seperti dulu saat kami berangkat. Aku paham, ini karena perjalanan sulit yang harus kami lalui. Apalagi kehilangan Iron membuat kami terpukul. Tiap malam kami selalu membicarakan Iron, tentang sikap keras kepalanya, kegeniusannya, kepeduliannya, dan semua yang menyangkut Iron. Dia adalah sosok sahabat sekaligus abang yang baik. Maka apa pun yang terjadi, kami akan menemukannya.
Dokter Wan memberhentikan mobil di pom bensin. Men-charger mobil itu.
***
Malam itu, tubuh Iron dibawa oleh dua orang berpakaian hitam-hitam. Dia dimasukkan ke dalam truk kecil. Sebelum dibawa, Iron berteriak memanggil nama Aris. Berharap Aris mendengar dan berkenan menolongnya. Tapi dua orang berpakaian gelap itu segera memukul pelan pundak Iron hingga sarafnya mati sejenak.
Iron dibawa ke rumah sakit Pedesaan. Di sana lebih aman dan nyaman. Tidak ada yang sadar di mana keberadaan Iron secara pasti.
Dua hari dirawat di rumah sakit itu, tubuh Iron membaik. Dia mulai siuman. Cahaya matahari pagi mengusik matanya. Dia mengerjap, berusaha beradaptasi. Teya dari dapur bergerak ke dalam kamar perawatan Iron. Dia berseru senang saat melihat Iron sadar. Teya bergegas memanggil dokter yang bertugas. Memeriksa detak jantung dan pernapasan Iron. Dokter itu menggunakan stetoskop berbentuk headset yang canggih.
"Dia baik-baik saja. Akan tetapi ada tulangnya yang patah. Dia harus dibawa ke rumah sakit yang lebih besar."
Teya mengangguk mendengar penjelasan dokter. Sedangkan Iron hanya terdiam. Di rumah sakit ini peralatan memang tidak begitu lengkap, hanya peralatan seadanya untuk penyakit ringan. Maka besoknya Iron dibawa ke rumah sakit di area pusat kota. Rumah sakit yang cukup besar walaupun belum mampu mengalahkan mahsyurnya Rumah Sakit Labu.
"Aku mau bertemu teman-temanku." Iron berontak saat tubuhnya akan dipasang selang infus.
"Iya nanti kamu akan bertemu temanmu," jawab dokter tua berumur 60 tahun itu. Tapi Iron tidak mau mendengarkan. Dia ingin bertemu teman-temannya sekarang, bukan nanti. Maka demi melihat Iron tenang, dokter itu mengambil suntikan dan menuangkan cairan melalui lubang jarum infus.
Iron perlahan diam. Kaki dan tangannya tidak gelisah lagi, matanya sayu, dia perlahan tertidur. Di ujung sadarnya, Iron membisikkan sesuatu, "jemput aku."
***
Dua jam berikutnya hutan lebat menghadang kami. Rasa-rasanya semenit lalu mall-mall, gedung-gedung dengan eskalator dari kaca, skateboard dan kendaraan mengambang, mengiringi perjalanan kami. Juga layar-layar hologram yang menayangkan iklan barang terbaru. Pukul satu siang, tapi kegelapan tidak bisa didustai. Cahaya matahari dihalangi kerai pepohonan, menjadikan semuanya temaram.
Bang Arsi mendongak, membuka kaca mobil. Dia berkali-kali berseru, "hutan ini menyeramkan."
Lalu Teta, dia bukan penakut. Maka dia hanya tersenyum melihat hutan besar di hadapannya. "Ini akan seru sekali." Untuk pertama kalinya wajah Teta berseri, karakter aslinya mulai kembali saat dihadapkan suasana menyeramkan semacam ini. "Kita tidak turun saja, Dok?"
Hei! Aku nyaris tersedak mendengar pertanyaan Teta. Dia mau turun dari mobil? Berjalan di hutan belantara?
"Kita bisa menikmati pemandangan ini, Dok. Jalan kaki lebih menyehatkan. Lagipula mobil ini terlalu besar untuk melalui celah-celah kecil antar pohon. Kita bisa tersangkut."
Bang Arsi berkomentar, "Mobil ini bisa terbang, Ta."
Teta terdiam mendengar komentar abangnya. Sepertinya dia sedang mencari akal. Aduh, apa yang sebenarnya diinginkan Teta. Berjalan kaki akan memakan waktu. Kami bukan petualang hebat yang hafal rute perjalanan. Kami orang baru yang bahkan tidak tahu apa-apa.
Demi melihat Bang Arsi yang melotot, akhirnya Teta mengangguk. Dia menurut. Akan tetapi, seolah tidak pernah terpengaruh oleh Teta, Dokter Wan sudah menekan sebuah panel di dekat setir mobil. Lalu dalam hitungan detik mobil itu bertransformasi. Aku merasakan kursi kami meninggi, mobil sedikit meramping, dan apabila dilihat dari luar mobil kami berubah seperti robot belalang yang berjalan dengan dua kaki. Kami berada di bagian matanya. Robot ini tidak begitu tinggi, paling hanya sekitar lima meter.
Teta meremas tanganku dan tangan Bang Arsi. "Apa yang terjadi, Dok?"
"Dokter Wan mengubah mobil ini menjadi robot berkaki ramping." Bang Arsi menyimpulkan. "Apakah benar, Dok?"
Dokter Wan mengangguk. "Itu benar sekali. Sebenarnya mobil ini hanya bisa terbang maksimal satu meter. Tentunya ini akan menyulitkan apabila tetap dipaksakan masuk ke dalam hutan dengan mobil. Tapi Teta," Dokter Wan menoleh Teta, "jalan kaki tetap tidak mungkin. Itu akan memakan waktu yang lama. Maka, semoga robot belalang ini bisa berfungsi dengan baik."
Kami bertiga serempak mengangguk. Ini akan seru sekali. Dokter Wan segera menarik tuas kemudi. Robot belalang dengan mudah menyibak batang pepohonan, juga melangkahi hewan melata. Penerangan dimaksimalkan. Dari atas sini aku bisa melihat beberapa hewan seperti kelinci hutan, rusa, kancil, dan serangga-serangga berderik. Makin ke dalam pepohonan semakin rapat, rumput juga semakin tinggi. Ternyata di sini ada beberapa wisatawan yang asyik berfoto. Ini tidak sepenuhnya menyeramkan. Di manapun planetnya, ternyata hutan kota tetap dijadikan salah satu objek wisata. Hanya saja orang-orang di sini seperti tertahan hingga radius tiga kilometer saja. Mereka tidak ada yang berani masuk lebih dalam lagi.
Beberapa wisatawan menyapa kami dari bawah sana. Ada juga robot belalang lain yang melambaikan tangan ke arah kami. "Hutan ini menyenangkan." Dokter Wan tersenyum.
Di salah satu sisi aku juga melihat rumah kayu berlantai dua dengan desain ringan. Menurut Dokter Wan itu adalah tempat istirahat sekaligus tempat berfoto-foto.
Bergerak empat kilometer, tidak ada lagi wisatawan yang berkeliaran. Suara riuh rendah mereka juga mulai senyap, digantikan suara debam air terjun. Mendengar suaranya saja kepalaku rasanya segar sekali. Apalagi kalau mandi di sana. "Wisatawan hanya boleh masuk hingga radius 2,5 kilometer. Tapi namanya juga wisatawan, mereka tetap menerobos hingga wilayah tiga kilometer. Padahal itu berbahaya sekali. Banyak hewan buas melata." Dokter Wan menjelaskan.
"Di planet kami manusia-manusianya juga seperti itu, Dok. Keras kepala," respon Bang Arsi. Enam kilometer, pepohonan rapat berbaris rapi seolah menuntun perjalanan kami. Pohon-pohon itu menjadi batas jalan. Robot belalang bisa bergerak leluasa.
"TOLONG!!! ADA LEBAAAAAH!!" Suara teriakan terdengar bergema. Kami serempak memutar kepala. Sensor belalang dinyalakan. "IBU, AYAH!!" Aku seperti mengenal suara itu. Tapi siapa?
"Di depan sana ada Taman Lebah. Sepertinya ada yang nekat masuk."
Tiga detik berikutnya robot belalang semakin tangguh merangsek ke depan.
***