Air Terjun Bermasalah

2224 Kata
Robot belalang bergerak cepat menelusuri jalan setapak di antara barisan pohon. Sensor robot belalang dinyalakan, sensor ultra merah. Dari layar, robot belalang membaca semua keadaan di tiap titik. Lalu bunyi beep beep terdengar. Sensor membaca sesuatu. 'Timur laut, 35° dari posisi sekarang. Jarak 150 meter, target ditemukan.' Tanpa banyak berpikir, Dokter Wan menarik tuas kemudi. Aku terpekur, ternyata robot ini bisa bicara. Robot belalang menyibak pepohonan. Tadi kami bergerak ke arah utara. Ketika robot mengatakan bahwa target berada 35° dari posisi kami, berarti kami harus menembus barisan pepohonan rapat ke arah timur laut. Beruntungnya robot belalang ini ramping, tidak susah untuk bergerak. Walaupun layar berkali-kali ditutup kerai pepohonan, menghalangi arah pandang, tapi sensor yang hebat mengalahkan semua rintangan itu. "Tolong!! Lebaaaah!!!" Di depan kami, seorang wanita tampak panik berlari di antara pohon-pohon. Di belakangnya terdapat tiga ekor lebah. Iya, hanya tiga ekor, tapi ukurannya sepemukulan tangan. Teta di sampingku tersedak ludahnya sendiri. Lebah itu sangat besar. Sengatnya runcing tajam seperti samurai. Bahkan lebih runcing dari itu. Dan yang paling memedihkan mata, aku mengenal orang yang dalam masalah itu. "Dok, itu temanku. Tolong dia, Dok." Bang Arsi segera bertanya, "teman yang mana, Ris?" Seingatnya aku tidak mengenal siapapun di sini selain Dokter Wan. Aku mengangkat tangan, nanti dulu. Itu bisa dijelaskan nanti. "Baik, saya akan mengusirnya." Dokter Wan mengangguk. Urni jatuh tersungkur karena tersangkut akar pohon. Tiga lebah itu berada tepat di atas kepalanya. Siap membunuh Urni kapan pun. Teta menjerit melihatnya. Bang Arsi menahan napas—aku pun juga begitu. Dokter Wan menekan tombol-tombol. "Error!" Itu bukan kabar yang baik. "Tidak berfungsi sama sekali!" Mendengar itu, tanpa pikir panjang, aku segera membulatkan tekad untuk membuka pintu mobil. Teta, Bang Arsi, dan Dokter Wan berseru melihatku turun. Krash! Tubuhku mendarat di rumput tinggi. Aku datang tepat waktu, saat lebah itu tinggal beberapa senti di atas kepala Urni, siap menyengat kepalanya, aku berhasil mengalihkan perhatian mereka. Suara beeeee dari sengatnya berbunyi nyaring. Mereka seolah menatapku sejenak, dan dalam hitungan beberapa detik berbalik mengejarku. "Dokter, tutup pintu mobil!" seruku. Aku bergegas berlari menghindar. Dokter Wan segera menutup pintu mobil di atas sana agar lebah-lebah tadi tidak masuk menyerang mereka. Ngiiiiiittt, suara mereka semakin tajam, salah satu lebah terbang di dekat kepalaku. Sengatnya mengilat saat aku menoleh. Aku berlari sekencang mungkin. Ah, aku memang atlet lari di sekolahku, tapi kali ini aku lari dua kali lebih kencang. Melesat di antara batang pohon dan semak-semak. Tubuhku terasa melayang. Sial. Di depanku terdapat pohon-pohon rapat berduri, aku tidak bisa maju. Sedangkan 20 senti di belakang seekor lebah sudah siap menghujam kepalaku. Apabila aku nekat belok kanan, lebah lainnya yang akan menyusul, begitu pula jika belok kiri. Aku mulai berhitung membaca situasi. Satu. Lebah-lebah itu semakin ganas. Ludahku kelat. Dua. Napasku menderu. Sebentar lagi habis riwayatku. Tiga ... Aku segera menunduk, menghindar secepat kilat. Lebah-lebah itu bablas menabrak satu sama lain. Inilah detik-detik berhargaku. Aku segera putar arah, dengan jantung berdebar. Aku tidak berani menoleh ke belakang karena lebah-lebah itu menjadi tiga kali lebih buas. Suara dengungnya tajam dan melengking. Aku harap robot belalang bisa membantuku. Tapi robot itu sepertinya masih error. Aku masuk area hutan lebih dalam. s**l! Kakiku terjerat benalu. Aku terjerembab ke depan. Posisi yang sungguh memprihatinkan. "Tolooong!!!" Sekarang tubuhku terdesak. Seekor lebah bersiap menyengatku. Srek! Aku menghindar, berguling ke kiri, tapi lebah itu berhasil merobek bajuku. Dua lainnya bersiap menyerang. Bugh! Aku memukul salah satu lebah dengan tanganku. Menjijikan. Lebah itu berbulu, dan tanganku memukulnya. Itu terasa berat dan menggelikan. Dua lebah tadi terbang menjauh, bukan untuk lari, melainkan untuk mempersilakan satu temannya yang tersisa untuk menyerangku. Lebah itu menatapku tajam. "Tolong ampuni aku. Aku hanya ingin menyelamatkan temanku tadi." Mendadak tangan yang aku gunakan untuk memukul lebah sebelumnya membiru, bengkak. Sepertinya bulu lebah ini beracun. Aku menelan ludah. Kondisiku terjepit. "Izinkan aku pergi." Sebagai balasan lebah itu berdenging semakin kencang. Aku kehabisan napas. Lebah itu mengarahkan sengatnya yang runcing ke dadaku. Kilatnya menusuk mata. Kapan pun, aku akan siap menerima sengatan mematikan miliknya. Ngiiiiiiiiiiingggggggg!!! Mataku terpejam, suara itu menyakitkan telinga, begitu menyeramkan. Bugh! Bugh! Bugh! Suara denging itu hilang sejenak. Aku membuka mataku. Tapi belum sempat menyadari apa yang terjadi, tanganku sudah ditarik. Aku dibawa lari. "Urni?" "Aris?" Urni menatapku bingung, tapi tanpa mengurangi kecepatannya. Tiga lebah tadi benar benar mengamuk. "Eh, awas!" Urni mendorongku ke kanan. Kami berguling bersama masuk ke dalam jurang yang dalam. Sekitar 300 meter tubuh kami menggelinding di jurang terjal itu, sebelum akhirnya tersangkut batang pepohonan. "Aw!" Urni memegang kepalanya karena terbentur batang kayu. "Apa yang terjadi?" tanyaku. "Aku memukul lebah tadi dengan kayu rotan. Mereka mengamuk dan menyerang kita. Nahas!" Urni menjelaskan cepat. Tepat di atas kepala kami denging lebah memenuhi kuping. Ngring nging. Suara itu terus berubah. Makin lama makin keras dan tajam. Aku dan Urni saling tatap. Tanganku semakin bengkak. Punggungku sakit. Urni juga menggeleng, dia mulai lelah. Di sinilah kami berakhir. Kami menyerah. Kami bukannya tidak punya kesempatan untuk kabur, tapi badan kami tidak mampu untuk dipaksakan. Tulang rasanya ngilu sekali. Satu-satunya yang dapat kami lakukan hanyalah bergeser di balik pohon rimbun, bersembunyi di sana. Tangan kami kokoh memegang batang pohon agar tidak jatuh tergelincir. "Aku tidak mampu untuk bergerak lagi, Ris. Badanku remuk." Aku mengangguk, aku juga merasakan hal yang sama. Keringat kami menetes sama banyaknya. Baju kami basah. Terlebih bajuku juga koyak separuh. "Semoga di sini aman. Jangan berisik." Urni mengangguk. Ngring nging nging!!! Lebah itu semakin buas. Bahkan ukurannya membesar dua kali. Bulunya berdiri tajam seperti landak. Sengatnya semakin runcing, panjang, dan tajam. Melihatnya saja kami merinding apalagi harus berhadapan dengan mereka. Aku menelan ludah kelat. Ini akhir segalanya. Aku pikir, robot belalang aku membantu nantinya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Hingga detik ini kami hanya menunggu keajaiban. *** Aku dan Urni memutuskan lari di detik-detik terakhir lebah siap menyengat kami. Bunyinya meraung, bukan bunyi halus berupa desisan lagi. Kami berlari patah-patah, menuruni jurang. Lalu akhirnya memutuskan meluncur begitu saja. Tubuhku yang sudah tidak dibungkus baju rasanya ngilu dan nyeri. Bergesekan dengan rumput membuatnya semakin pedas. Urni adalah wanita yang tangguh. Selama menuruni jurang dia tidak berteriak. Ekspresinya terbilang tenang untuk suasana semencekam ini. Byur!! Tubuh kami langsung tercelup ke sungai di ujung jurang. Dinginnya air menusuk kulit. Beruntung aku dan Urni tahu berenang. Awalnya kami mendesah senang. Setahu kami lebah tidak bisa menyelam. Mereka tidak akan mengejar kami. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, lebah itu gagah perkasa menukik ke danau. Urni menjerit. Kami berusaha berenang yang jauh. s**l, tenaga kami benar-benar sudah terkuras habis. Baru empat-lima meter bergerak, seekor lebah sudah menghujamkan sengatnya ke air. Tsaak. Sengatnya berhasil menancap di betis Urni. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Aku segera menangkap tubuhnya, panik. "Urni! Bangun!! Urni!!!" Air mataku mencair. Aku melihat tiga ekor lebah itu langsung pergi setelah pembalasannya terwujud. "A-aris. T-terimakasih, ud-dah mau no-nolongin ak-hu." Kepala Urni melemas. Aku segera menyeretnya ke seberang sungai. Sengat itu, astaga. Menancap di betisnya, tipis sekali. Andaikan Urni menghindar semili senti saja, dia mungkin bisa aman. Kaki Urni segera membiru dan bengkak. Terus naik hingga ke wajahnya. Aku bingung. Aku hanya meremas rambut. Aku berteriak, "Tolooong! TOLONG KAMI! SIAPA PUN TOLONG!!" Aku menangis merasa bersalah. Sebenarnya lebah tadi hendak menyerangku. Aku tahu itu. Tapi Urni mendorong tubuhku sedikit hingga akhirnya betis dia lah yang kena. Tidak lama robot belalang tampak di atas jurang. Robot itu segera meluncur sekaligus berubah menjadi mobil mengapung. Tiba di daratan, Dokter Wan, Bang Arsi, dan Teta berseru. "Astaga! Itu?" Teta menutup mulutnya, kehabisan kata-kata melihat tubuh Urni sudah terbujur. Tanganku sebenarnya juga sakit. Tapi tidak sebanding dengan rasa sakit yang Urni alami. "Dok, tolong Urni, Dok ... tolong." Dokter Wan segera masuk ke dalam mobil, mengambil semua obatan yang dia punya. Dia melakukan penanganan mendadak dan terdesak, operasi darurat. "Kalian minggir sebentar. Saya akan melakukan bedah kecil." Dokter Wan memasang maskernya. Untuk pertama kali aku melihat operasi di depan mataku. Ketika suntikan besar menghirup racun berwarna hitam dari tubuh Urni. Ketika injeksi penetral racun juga dimasukkan ke dalam aliran darahnya, hingga berujung pada dibelahnya betis Urni. Terasa menyakitkan. Walau aku tahu Urni sudah dibius, aku tetap merasa bahwa itu menyakitkan. Sengat tajam itu di tarik dari dagingnya. Astaga, daging itu sudah membusuk. Teta sampai menutup mata saat melihatnya. Tidak ada yang berani berbicara ataupun bertanya meskipun aku rasa banyak pertanyaan yang menggantung di wajah Bang Arsi dan Teta, juga aku. Dua jam berlalu menegangkan. Teta mendadak jadi perawat, dia yang mengelap keringat Dokter Wan. Bang Arsi menjadi asisten dokter, dia bertugas mengambilkan semua alat yang diperlukan. Bang Arsi sangat bisa diandalkan, setiap kali dokter menyebut nama alat dia akan langsung mengambil alat itu. Dia seolah hafal betul nama-nama alat di dalam kotak. Tiga jam, operasi selesai. Muka Urni mulai memerah. "Kamu kenal gadis ini di mana, Ris?" Bang Arsi bertanya. "Di Rumah Sakit Labu. Dia masih SMA seperti kami, Bang. Kemarin dia ada riset." Bang Arsi mengangguk. "Jadi Urni mau dibawa ke mana, Dok?" Teta angkat suara. "Bagaimana kalau dia ikut kita saja? Sepertinya dia butuh penanganan yang intensif." Dokter Wan menggerakkan kepalanya, mengangguk. Aku dari tadi menyembunyikan tangan yang bengkak, tidak mau merepotkan. Nanti kalau memang sakitnya tidak tertahan baru aku minta tolong Dokter Wan. "Kita lewat sungai ini saja. Di atas sana kawanan lebah sudah berkumpul hendak menyerang kita. Banyak sekali jumlahnya. Ternyata taman lebah yang dimaksud tidak seindah kedengarannya. Lebah itu tumbuh besar sekali di sini. Mereka juga ganas." "Kami ikut apapun keputusan Dokter." Bang Arsi menutup kotak obat dan peralatan. Dia menyerahkan itu kepada Teta. "Ini bawa ke kapal. Aris, kita angkat Urni." Aku terkesiap. Tanganku sakit, tidak bisa mengangkat Urni. Dan, aku takut ketahuan. Tapi selanjutnya Bang Arsi seolah berbisik kepadaku. Ya sudah, abang bisa sendiri. Dia sepertinya tahu apa yang terjadi padaku. Dia mengangkat Urni sendiri dengan tangannya. Aku langsung merebut kotak obat dan peralatan medis dari tangan Teta. "Aku yang bawa ini!" Teta protes. "Itu tidak sopan, Aris!" Tapi aku sudah berlari menuju mobil. Dokter Wan yang sudah berada di dalamnya mengubah transformasi mobil menjadi kapal bermotor. Aku segera membuka pintu mobil, masuk ke dalam dan meletakkan peralatan di bagian atas mobil. Aku kemudian turun lagi, lupa kalau pintu belakang belum dibuka. Urni diletakkan di jok paling belakang. "Aku duduk di sini." Aku mengambil posisi. "Eh, aku saja. Kan sama-sama perempuan." Teta yang baru saja hendak duduk di sana protes. "Sudahlah Teta. Gak pa-pa." Bang Arsi membelaku. "Ya udah, masuk ke dalam. Dokter Wan menunggu kita." Teta menurut. Kami segera mengambil tempat duduk masing-masing. Perjalanan dilanjutkan dua menit berikutnya. Kami menyusuri aliran air yang tenang, melihat beruk menggelantung di pepohonan. Di ujung sana kabut tipis mengepul, suara angin mengusik telinga. Papan kayu bertuliskan Taman Lebah kami lalui. Itu berarti taman tersebut sudah kami lewati. Aku juga sudah berganti baju. "Itu kastilnya." Dokter Wan menunjuk bendera kecil di depan kami. Itu masih jauh sekali, walau pucuk istana sudah tampak dengan jelas. Mobil kami-maksudku kapal-bergerak semakin cepat. Perjalanan terasa begitu lancar. Makin ke depan kecepatannya terus bertambah. "Mantap, Dok. Kita bergerak laju sekali, tidak ada rintangan. Dokter sampai melaju kencang di aliran sungai ini." Teta tersenyum. Namun Dokter Wan menggeleng. "Percayalah bahwa Dokter tidak ada mempercepat laju kapal ini." Dokter Wan memang sering mencampur penggunaan istilah saya dan Dokter untuk menyebut dirinya. "Tapi ini semakin cepat, Dok." "Mungkin alirannya yang semakin cepat, Teta." Bang Arsi mencoba memberi pemahaman. Itu pemahaman yang baik sekaligus mengkhawatirkan. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres di sini. Bergerak beberapa ratus meter ke depan, sembari menikmati pemandangan yang mengesankan, masalah yang kami lalaikan menunggu di depan sana. Teta membuka jendela agar dia bisa menyentuh kabut yang mengambang. Menit pertama. "Dokter, apakah rute ini akan membawa kita langsung ke istana itu?" Teta kembali berisik. "Iya. Sepertinya begitu." Menit kedua. "Perjalanan kita lancar sekali. Tidak ada hambatan," kataku agak curiga. "Aku jadi cemas." Teta menatapku jengkel, Bang Arsi menggigit bibir bawahnya. Bang Arsi sepertinya juga sependapat denganku. "Harusnya kita senang kalau tidak ada masalah," cetus Teta. Menit ketiga. Mobil bergerak dengan kecepatan ekstra. Tubuh kami seperti ditarik ke belakang. Mobil oleng kanan-kiri. "Apa yang terjadi!?" Teta berseru. Dokter Wan terdiam beberapa saat. "Astaga! Di depan sana ada air terjun! Ini masalah besar!" Dokter Wan berusahan mengaktifkan mode terbang, tapi selalu gagal. "Kenapa di sini sering error!!??" Dokter Wan panik. Kami semua sebenarnya panik. Ini masalah yang besar sekali. "Berapa tinggi air terjun ini, Dok!?" tanya Bang Arsi sambil memegang lengan kursi. Dia berseru menahan jantungnya agar tetap stabil. Kepalaku terantuk langit-langit. Dokter Wan meneguk ludah. Sensor di layarnya menyala redup. "Sekitar lima kilometer." Napas kami semua tersekat. Itu sekitar enam kali lebih tinggi dari Burj Khalifa, bangunan tertinggi di bumi kami. Jatuh dari bangunan itu saja sudah suatu bencana besar apalagi dari sini? "Di bawah sana ada cadas-cadas tajam seperti paku raksasa menghujam ke atas." Di ujung kalimat Dokter Wan layar padam. Turbulensi hebat kami alami. Di satu sisi Dokter Wan bergerak penuh ke belakang, tapi aliran malah menyeret kami ke depan. Kondisi mobil tidak stabil, kami terguncang berkali-kali, air menyembur masuk. Hingga akhirnya seperti buah kelapa yang jatuh dari tangkai, mobil kami meluncur jatuh bebas. Teta menjerit ngeri, aku dan Bang Arsi berseru tertahan, dan Dokter Wan menekan tombol apapun dengan frustasi. Namun yang paling berbahaya dalam petualangan kami di sini adalah jendela mobil yang terlepas. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN