Iron melarikan diri setelah tadi pagi mendengar kabar bahwa pihak istana hendak menginvasi bumi. Itu kabar yang buruk sekali. Kedatangan Iron dan rombongan, adalah rencana mereka sejak awal. Bahkan hal-hal kecil yang terjadi menjelang keberangkatan mereka adalah p********a planet Bestuur. Planet bertanah merah dan putih, bercorak mirip ikan koi jika dilihat dari kejauhan ini, memiliki ambisi besar untuk menjadi satu-satunya peradaban di seluruh galaksi. Ingat komputer yang heng di sekolah kemarin? Itu karena para mata-mata planet Bestuur sedang melacak komputer Iron. Mereka tahu Iron sekolah di mana, dan mereka memang mengincar Iron sejak lama. Mereka yang merusak kebun stroberi Iron, mengambil bibit itu, lalu membawanya ke planet bercorak ikan koi tersebut. Semua adalah masalah kerakusan.
Sejak dibawa ke istana Iron tidak henti-hentinya bilang ingin bertemu teman-temannya. Dia berontak ingin pulang, ingin teman-temannya ditemukan. Semua staf istana menenangkan, bilang bahwa teman-teman Iron akan segera ditemukan. Bahkan raja pun ikut campur dalam masalah ini. Akan tetapi lama-kelamaan bayangan akan teman-temannya memudar, Iron tidak pernah lagi bertanya mengenai mereka. Seolah ada mesin pencuci otak yang tidak terlihat, dan tidak dapat dirasakan di istana itu, membuat Iron lupa apa tujuannya datang ke sini. Iron hanyut dalam euforia istana ini. Dia bahkan tidak mau pulang ke bumi.
Tetapi pagi ini, hal buruk menyadarkan Iron sepenuhnya.
"Pagi, Tuan?" Pelayan membawa s**u dan makanan untuk sarapan. Iron habis mandi saat itu, mengenakan handuk berbahan lembut.
"Iya. Letakkan di situ saja, Bi." Iron tersenyum, menyemprot parfum ke tubuhnya, lalu menekan tombol di dinding. Seorang pelayan tangkas datang ke kamar memberikan pakaian baru untuk Iron. "Makasih Bi." Iron mengenakan pakaiannya segera di hadapan para pelayan.
"Tuan mau apalagi?" Pelayan yang membawakan sarapan bertanya.
"Emmm, aku mau berkeliling istana. Apakah boleh?"
Dua pelayan saling tatap, lalu keduanya mengangguk. "Boleh Tuan. Tapi harus bersama penjaga." Pelayan yang membawa pakaian memberi tahu.
Iron menggeleng. "Tidak mau. Aku mau sendiri."
"Baiklah kalau begitu, Tuan. Tapi Tuan tidak boleh melewati ruang pribadi raja. Tuan boleh berkeliling seluruh istana ini asalkan tidak di ruang pribadi raja." Pelayan itu membawa nampan bekas antaran tadi.
"Iya aku tahu. Kalian boleh keluar."
Kedua pelayan itupun menunduk memberi hormat lantas balik kanan keluar kamar.
***
Iron menatap batu bata yang tersusun tinggi menjadi menara, juga yang menjadi kontruksi utama bangunan megah ini. Lantai kaca jernih seperti digenangi air. Iron tak berhenti berdecak. Kakinya terus melangkah ke manapun hatinya ingin. Beberapa pelayan yang lewat menunduk. Pakaian pelayan di sini warna marun dengan celemek di pinggang, dan topi lucu berenda. Hingga tanpa sadar Iron melewati batasannya. Dia berdiri tepat di depan ruang pribadi raja. Awalnya Iron tidak menyadarinya, juga tidak peduli, tetapi mendengar percakapan di balik pintu itu membuat Iron melebarkan mata.
"Ini kursi listrik. Ketika lelaki itu duduk di sini maka sempurna sudah dia menjadi bagian dari kita. Dia sendiri yang akan menginvasi bumi. Dia sendiri yang akan menjadikan planet kita menjadi peradaban tunggal. Kita akan semakin makmur."
Kasak-kisik itu membuat mata Iron membulat. Lelaki mana yang dimaksud orang itu?
"Hahaha, iya benar. Lelaki itu sekarang sedang berada di kamar nyamannya, melupakan apa yang sedang terjadi. Lupa dengan teman-temannya. Rencana yang sangat mengagumkan." Sosok yang berbicara itu membuka pintu ruangan lebar-lebar, Iron refleks bersembunyi di balik dinding.
"Raja?" gumam Iron. Raja itu keluar mengantar sosok tamu yang tadi menjadi lawan bicaranya. Mereka tertawa, terkekeh, dan begitu menikmati rencana jahatnya. Iron menelan ludahnya yang seolah mengeras, dia menyesal sudah hanyut dalam tipu muslihat kerajaan.
***
Iron memutuskan kabur. Dia tidak membawa sehelai baju pun. Dia hanya mengenakan baju yang sama saat dia ditemukan. Seorang pelayan bertanya, "Tuan mau ke mana?"
Iron menjawab dengan ketus, "Mau keliling istana. Di luaran sana sepertinya nyaman. Boleh, kan?"
Pelayan itu hanya mengangguk, tidak curiga sama sekali.
Iron berlari menuruni anak tangga dari lantai sembilan ke lantai dasar. Kakinya kuat dan tangkas, dia bergerak cepat. Tiap tiba di lantai berikutnya, Iron menyapa beberapa karyawan juga anggota keluarga raja yang sedang beraktivitas entah sarapan bersama, olahraga, atau bermain bersama anak kecil di sana. Istana ini punya sepuluh lantai. Lantai pertama digunakan untuk keperluan kerja, di lantai ini lah Iron memergoki rencana jahat kerajaan. Lantai dua dan tiga digunakan untuk menguji alat temuan terbaru, menyimpan koleksi kendaraan antik dari zaman dahulu hingga zaman sekarang, ruangannya luas dan lapang. Kemudian lantai keempat adalah kamar raja dan keluarganya. Lantai lima sampai tujuh tempat hiburan-ada bar, mainan anak-anak, dan juga tempat fitness. Lantai berikutnya hingga ke lantai di mana kamar Iron berada, itu memuat kamar-kamar tamu juga kamar karyawan. Lalu bagian paling atas, lantai sepuluh, digunakan sebagai ruang observatorium bintang.
"Mau ke mana?" Raja bertanya saat melihat Iron menginjak anak tangga terakhir menuju lantai dasar.
Iron kikuk, tapi dia tetap berusaha menjelaskan dengan tenang. "Mau jalan-jalan, Tuan. Saya bosan di kamar terus."
Raja menyelidik sebentar, matanya memicing. Iron cemas raja mengetahui keinginannya untuk kabur. "Ya sudah. Kembali sebelum makan siang."
Iron menghela napas, tapi ditahannya agar tidak begitu kentara.
Iron menunduk takzim. "Permisi, Tuan." Lantas melanjutkan perjalanannya.
***
Iron berjalan mengitari air terjun istana, menatap tempat megah itu terakhir kali. Jujur, dia nyaman tinggal di istana itu. Tetapi tetap saja, tempat yang paling nyaman adalah tempat yang kamu sebut rumah. Tempat yang mengajarkan kamu apa arti kehidupan, apa itu keluarga, apa itu sahabat. Dan itu hanya ada di bumi.
Iron meremas rambutnya ketika sudah keluar dari gerbang istana. Dia merutuki kebodohannya karena sudah melupakan Aris dan yang lain. Dia lupa bahwa yang membuat teman-temannya dalam masalah adalah dia. Tetapi dia malah enak-enak menikmati fasilitas kerajaan.
Di detik ketika Iron sudah berjalan sekitar dua kilometer. Pihak kerajaan menyadari bahwa Iron berniat kabur. Semua tim pengejar disiapkan raja untuk membawa Iron pulang. Mereka mengendarai robot gajah dengan belalai panjang. Dari jarak satu kilometer, Iron sadar bahwa di belakang sudah mengejar tiga ekor robot gajah. Iron mempercepat lari. Namun s**l, sebuah peluru air menghantam punggung Iron. Dia jatuh terguling. Peluru air tersebut disemburkan oleh belalai robot gajah.
Posisi Iron terjepit. Dia hendak lari namun pasukan pengejar itu tinggal seratus meter di belakangnya. Iron harus siap kembali ke istana kapan pun mereka membawanya.
***
Air bah melesak masuk ke dalam jendela kapal yang terbuka. Kami serasa jatuh bebas, kapal berputar sekian puluh derajat seperti bola kasti yang dipukul. Awalnya seruan panik terdengar nyaring, tapi begitu air memenuhi kapal, suara itu teredam. Air naik perlahan hingga ke leher. Naik lagi hingga hidung, hingga menutupi rambut.
Beberapa detik dalam keadaan yang susah digambarkan, ketika rambut kami melayang di dalam air, mulut tersumpal, mata pedih, dan napas habis. Kapal kami splash menyentuh permukaan air, lalu membentur batu. Suara kaca pecah terdengar. Air sungai yang semula jernih mendadak memerah. Aku masih melihatnya samar-samar. Kapal kami hancur tak berperi, lebur. Kami yang berada di dalam kapal itu segera terpisah.
Aku yang masih setengah sadar walau dari kepalaku menetes berliter darah segar, berusaha menggapai tubuh Urni. Aku tidak sempat memikirkan yang lain, Urni lebih butuh bantuanku.
Aku memegang kakinya, tapi arus air deras sekali, membuat tubuh Urni terseret dan bersiap tenggelam. Tanganku yang bengkak semakin bengkak, bahkan mengeluarkan darah. Susah payah aku menggapai tubuh wanita itu. "Urni." Aku berhasil memeluk kakinya, tubuh kami terseret air. Aku menggerakkan kaki seperti orang berenang, tapi tanganku fokus menahan tubuh Urni. Ini bukan hari yang baik.
***
Iron tersungkur, mudah sekali untuk menangkapnya. Tapi begitu pasukan bergajah tinggal berjarak 10 meter, muncul berjibun sapi, kerbau, domba, ayam, babi, dan hewan ternak lainnya. Ramai sekali, memenuhi mata. Mereka melintasi tubuh Iron, berduyun-duyun seolah melakukan migrasi.
"Itu apa?" Seorang pasukan bertanya.
Yang lainnya menjawab, "Itu migrasi besar-besaran pasca sektor ternak ditutup. Mereka memutuskan melakukan migrasi ke hutan barangkali."
Hewan tersebut berbaris sangat rapi. Bergerak melintasi padang rumput luas. Jika dilihat dari jauh, mereka mirip sekali segerombolan semut yang mobilisasi, saking banyaknya. Pasukan bergajah tidak bisa memaksa agar maju ke depan, migrasi itu menghentikan mereka. Bahkan bukan tidak mungkin Iron sudah remuk terinjak oleh hewan-hewan. "Nyalakan fitur kamera! Cepat!!"
"Buat apa komandan ke-V?" Yang lain bertanya.
"Bukti, jika terjadi sesuatu pada penduduk bumi itu kita bisa memperlihatkan video kepada raja. Nyalakan saja."
Mereka mengangguk, menyalakan fitur kamera.
Di seberang mata mereka, ribuan bahkan jutaan hewan bermigrasi. Hewan-hewan itu memenuhi hamparan sabana luas. Sapi dengan sapi, kambing dengan kambing, juga ayam-ayam yang berebut maju ke depan hingga menabrak p****t kawannya. Butuh waktu hampir setengah jam untuk membiarkan migrasi raksasa itu pergi dari lokasi di mana Iron terjatuh.
Komandan ke-IV berkata, "Sepertinya pemuda tadi tidak mungkin hidup."
Prajurit lainnya segera menginterupsi. "Jangan pikirkan itu, setidaknya kita berhasil menemukan jenazahnya. Ayo kita maju ke depan."
Pasukan bergajah pun melenggang maju. Mereka cukup optimis, walau pemuda yang dicari sudah tewas terinjak ribuan hewan, setidaknya mereka berhasil menemukannya.
Tetapi tubuh mereka menegang. Mereka saling tatap. Mereka mulai pesimis. Hingga bergerak jauh satu kilometer, Iron tidak ditemukan. Sosoknya menghilang tidak tahu ke mana.
***
Aris terhampar di tepian sungai dengan kondisi tangan bengkak, dan pelipis robek. Di sebelahnya Urni masih tidak sadarkan diri. Fisik mereka sama-sama memprihatinkan.
Dari arah seberang sungai, seruan terdengar. "Itu mereka, Dok! Itu mereka!" Bang Arsi terlihat antusias melihat Aris dan Urni di tepian sungai. Dokter Wan dengan tangkas mengayuh rakit bambu, dibantu oleh Bang Arsi dan Teta.
Tiba di tepi sungai, Dokter Wan segera memberikan pertolongan pertama kepada Aris. Dia mengeluarkan sebuah benda berbentuk pulpen, lalu mendekatkannya pada luka di tubuh Aris.
"Itu alat apa, Dok?" Bang Arsi bertanya.
"Ini alat untuk menjahit luka kecil. Meregenerasi sel kulit berkali-kali lebih cepat dibanding biasanya." Dokter Wan meletakkan ujung alat tersebut di dekat luka Aris. Lalu luka tersebut menutup seperti resleting. Tangan Aris yang bengkak diikat dengan kain dari bajunya yang robek. Teta meringis melihat luka pada tubuh Aris, ditambah tekad Aris untuk menyelamatkan Urni. Sebegitu pedulinya Aris pada Urni? Teta merasa bahagia sekali apabila ada di posisi Urni, diperjuangkan oleh seorang Aris hingga tetes darah penghabisan. Aris rela turun dari robot belalang demi menyelamatkan gadis itu. Rela tangannya bengkak, rela hanyut terombang-ambing di aliran sungai yang deras, rela sakit demi Urni. Aris dan Iron memang dua sosok pria sejati, sama-sama peduli dengan sesama.
Teta tersenyum membayangkan betapa dia masih punya kesempatan lebih baik daripada Urni dalam segala hal. Dia teman baik Aris, lebih dekat dibanding Urni.
"Kita akan ke mana, Dok?" Bang Arsi bertanya, memutus lamunan Teta begitu saja.
"Kita sepertinya harus mencari tempat yang aman di sekitar sini untuk beristirahat. Mobil kita sudah hancur lebur, kita kehilangan kendaraan berharga. Itu berarti kita juga kehilangan rumah kita."
"Lalu mereka berdua?" Bang Arsi bertanya lagi.
"Kita akan pergi setelah salah satu di antara mereka kondisinya membaik." Dokter Wan lanjut membebat luka Urni, mengikat kaki gadis itu dengan potongan baju yang robek.
Teta terdiam, menatap aliran jernih di sampingnya. Di sana ada bebatuan yang diselipi arus deras air, tetapi tetap kokoh dan kuat, itu yang dia pikirkan sekarang. Andaikan dia punya semangat sekeras batu itu, mungkin dia akan mengambil langkah menakjubkan ketimbang merepotkan teman-temannya dengan terlalu banyak menghayal dan berpikir.
***