Aku Bukan Teman yang Baik

1783 Kata
Pandanganku perlahan semakin jelas saat Dokter Wan menyalakan api unggun sebagai penghangat. Dengan api unggun itu juga dokter Wan memasak kerang-kerang sungai, tanpa bumbu. Teta saat itu tengah menggosok telapak tangannya, Bang Arsi membantu Dokter Wan menggesek dahan kering di bebatuan hingga percik api menyala. "Malam ini kita tidur di sini, Dok?" Teta mengangkat kepalanya sambil memeluk tubuhnya sendiri. "Dingin, Dok. Api unggun ini gak bisa mengatasi hawa dingin." Bang Arsi tersenyum, menatap netra adiknya. "Jangan banyak mengeluh Teta, ini bukan keinginan Dokter Wan. Kita percaya saja pada Dokter Wan. Kalau kamu bisa bersyukur sedikit saja, semuanya akan lebih baik. Banyak bicara tidak pernah jadi solusi yang tepat." Mulut Teta terkatup disumpal perkataan abangnya sendiri. Lagi-lagi dia merasa terlalu banyak mengeluh, tetapi tidak pernah membuahkan solusi. Gadis itu menunduk menopang hidungnya dengan ujung jari-jemari. Air matanya menetes menimpa api unggun. Tangisannya tidak bersuara, tetapi ini jelas cukup menyesakkan. Sejak awal, dia yang memutuskan untuk terlibat dalam perjalanan. Namun dia juga yang banyak mengeluh dan menuntut. Perlahan, Teta merasa sesuatu menyentuh lututnya. Sesuatu yang mungkin mengalirkan energi hangat ke tubuhnya, membuat gadis tersebut membuka mata dan terkejut siapa yang memberikan perlakuan seperti itu. "Jangan nangis." Suara lirih itu terdengar. Teta refleks mengesat air matanya. "A-Aris? Dokter! Bang Arsi!" Dua lelaki itu segera menoleh mendengar teriakkan Teta. Mereka awalnya hendak protes, menyuruh Teta berhenti mengeluh keberatan. Tetapi perkataan mereka tergantung saat melihatku sadar. Dokter Wan segera melempar kayu bakar sembarangan, memeriksa kondisiku. Begitu juga Bang Arsi yang menyusul Teta menggenggam tanganku. Saat itu mataku lelah sekali. Aku merasa sangat mengantuk, napasku pengap. Namun, melihat mata mereka semua, aku berusaha kuat. Dokter Wan mengambil dua buah pipet panjang dari saku celananya, lalu memasukkannya ke dalam lubang hidungku. Aku terkejut saat menyadari hal itu. Rasanya sungguh tidak nyaman, tetapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa detik setelahnya aku bahkan tidak ingat apa-apa lagi. *** Kebun stroberi kami hancur lebur. Paman Zul sudah lelah mengelap keringat yang mengucur di dahinya. Kini ia hanya mampu menopang dagunya dengan tangan. "Sudah tidak bisa diapa-apakan lagi," ucapnya tak berselera. Aku menatap kebun stroberi kami yang hancur lebur itu. Iron juga sudah terduduk sejak tadi, tidak kuasa mengambil langkah apapun. "Alien s****n!" Dia melempar sebuah batu ke arah taman kami yang hancur. Iron kemudian beranjak, berlari ke arah belakang rumah Paman Zul. "Iron tunggu! Mau ke mana?" Aku segera bangun dan berlari menyusulnya, lalu langkah kakiku terhenti ketika sudah tiba di area belakang rumah yang sepi. Tidak ada Iron di sana. Cepat sekali dia menghilang? Dia pasti masih ada di sekitar sini. Saat akan kembali melangkah, gelagatku terhenti. Langit tiba-tiba gelap, pandanganku kabur, lalu semakin lama aku tidak bisa melihat apa-apa. Kegelapan seolah memasukkanku ke dalam akuarium yang dipenuhi gurita mengamuk. Tintanya menyemprot ke segala arah, membuat aku tidak sadar lagi akan keberadaanku. "Iron .... Kamu di mana?" Aku berteriak lirih. Sekitarku benar-benar gelap. Sifat pengecutku kambuh, aku ketakutan. Aku seperti masuk ke dunia yang tidak aku kenal. Aku tidak suka berada di posisi ini. Aku ingin kembali lagi saja ke rumahku, memeluk guling, bermain bersama ikan koi kesayangan, menonton bola, bermain PS, atau tidur hingga mata bengkak. Tetapi aku tidak tahu ke mana arah pulang. Aku bingung. Lantas, di tengah rasa takut itu, muncul setitik cahaya terang di ujung sana. Cahaya itu semakin lama semakin membesar, membentuk semacam terowongan yang membuatku kini dikelilingi cahaya putih yang menyilaukan. Begitu kontras dengan kondisi sebelumnya. "Aku di mana? Mengapa jadi seperti ini? Iron mana? Iron! Iron!" Aku berteriak parau. Ludahku kelat dan mengental. Maka, demi melihat seorang berjubah putih, dengan wajah yang tak terlihat datang secara tiba-tiba. Aku jatuh terduduk. "Astaga!" Aku segera mundur tertatih, membiarkan celanaku menggesek permukaan lantai atau sejenisnya. Sosok itu begitu misterius. Suara tawanya yang renyah serenyah crepes rasa cokelat bukannya membuat tenang, malah membuat aku semakin ketakutan. Saat ini aku benar-benar ingin menangis, menjerit, dan berlari sekencang mungkin. "Kamu siapa!!!?" Aku terus beringsut mundur. "Mana Iron?" Tawa orang itu semakin renyah, bahkan kelewat renyah. "Tanya saja orang itu." Keningku kini mengerut. Orang itu yang mana? "Tolong jangan membuatku takut! Aku mohon. Jangan berbuat jahat padaku." "Kamu yang membiarkan kejahatan itu mencelakaimu." Aku semakin ketakutan. Aroma tubuh orang itu seperti aroma vanila, atau justru aroma stroberi? Atau cokelat? Entahlah, yang jelas aroma tubuhnya begitu memikat. Dia semakin dekat denganku. Sedangkan tubuhku sudah tidak bisa mundur lagi, tertahan oleh suatu dinding. Saat sosok itu membuka tangannya, aku malah menutup mata. Berusaha sekuat tenaga untuk memastikan diriku aman. Sedetik. Kosong. Dua detik. Hening. Tiga detik. Aku memutuskan membuka mata, dan— Hap! Dia mencengkram bahuku. Aku menjerit sekuat tenaga hingga urat leher membesar. "Tolooooong!!!!" *** "Aris!" Dokter Wan, Teta, dan Bang Arsi berseru kaget saat melihat aku terbangun dengan kondisi peluh membanjiri tubuh. Bang Arsi sigap menopang tubuhku. Teta tangkas memberiku minum. Dan, Dokter Wan langsung memeriksa kondisi tubuhku dengan pipet canggihnya. Napasku menderu. Aku seperti habis memasuki wahana roller coaster yang menguras isi perutku. "Kenapa, Ris?" tanya Teta cemas. Matanya seolah mengharapkan bahwa aku baik-baik saja. Aku menggeleng. Aku pun tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas mimpi tadi aneh sekali. "Dia tidak apa-apa, malah kondisi Aris semudah itu membaik. Bahkan sekarang dia sudah nyaris sembuh." Dokter Wan berkomentar, menghilangkan kecemasan dari muka Bang Arsi dan Teta. "Oh syukurlah," kata Bang Arsi, "tapi lebih baik Aris beristirahat saja dulu, dia terlihat kacau sekali." Dokter Wan mengangguk setuju. Tetapi masalahnya aku tidak mengantuk sama sekali. Aku merasa ada energi berlebih di dalam tubuhku. Aku seperti tidak mengenal separuh tubuhku. Di sebelahku, Teta menatapku begitu saksama. Dia berusaha membaca semua yang terjuntai di dalam kepalaku. Tentang memori mimpi buruk itu, atau hal lain aku pun tak tahu. Lalu tiba-tiba, gadis itu bertanya, "Aris, apa kamu memimpikan Iron?" *** Aku terdiam saja saat Teta menanyakan hal itu. Mendengarnya menyebut nama Iron membuatku terpaku mengingat momen pertama kali kami berniat ke planet ini. Seharusnya saat ini Iron berada di samping kami. Duduk dan mendiskusikan bagaimana kami akan pulang. Dokter Wan menghentikan pertanyaan Teta. "Besok kita akan bertemu dengan Iron. Paman berjanji." Tatapan hangat itu benar-benar memberikan pesan kepastian kepada kami, bahwa Iron akan ditemukan. Dokter Wan yang sangat karismatik. Mata sendu dan senyuman dari bibir tipisnya seperti kotak pesan yang membawa banyak sekali berita. Kami bertiga terdiam. Memandang langit gelap tanpa bintang. Berharap semoga esok hari lebih baik. *** Saat itu Iron tidak sadarkan diri. Dia tergeletak dalam kondisi yang memprihatinkan. Tubuhnya dikelilingi nyamuk betina yang kehausan. Nyaris sekujur tubuhnya bengkak, baik oleh luka maupun oleh gigitan nyamuk. Beruntung ribuan hewan bermigrasi tidak menghabisinya, tidak menginjak tubuhnya, tidak mengeluarkan bisa untuknya. Sebaliknya, justru merekalah yang menyelamatkan Iron dari pasukan robot gajah yang resek. Seekor gajah 'sungguhan' justru melangkah mendekati Iron, lalu menciumi pipi lelaki itu menggunakan belalainya. Sontak mata Iron perlahan membuka oleh sentuhan menggelikan itu. Lelaki cerdas itu merasakan larik-larik cahaya lembut dari bulan menelisik indra penglihatannya. Membuat matanya mengerjap, berupaya melenyapkan silau oleh rasa asing cahaya itu. Adapun hal pertama yang terjadi pada Iron saat mulai sadarkan diri adalah: dia terkejut. Dia terkejut karena saat pertama kali membuka mata, Iron langsung menjadi pusat perhatian dari ribuan hewan. Dia sontak bangkit dari baringnya ke posisi duduk. Lalu kemudian menyadari seekor gajah mendekatinya, mengulurkan belalainya, menyentuh luka lebam pada dahi lelaki itu. Srep! Biru lebam itu menghilang, seolah disedot habis oleh si gajah. Iron meraba dahinya. Merasakan pusing yang sempat berdenyut di aliran nadinya yang tegang mulai terasa nyaman. Gajah itu seolah tersenyum padanya. Lalu digerakkan lagi belalainya, mengarah ke telinga Iron. Iron awalnya merasa geli. Dia agak menggelinjang karena perlakuan itu. Sebelum akhirnya gajah itu membisikkan sesuatu. "Mereka ada di sini." Iron refleks berjengit. Apa yang didengarnya barusan? Siapa yang bicara begitu? Si gajah? "Mereka ada di sini, Iron. Mencari keberadaanmu." Betapa napas Iron sejenak terhenti mendengar gajah itu bisa berbicara. Lelaki itu terpaku. Merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Dia bingung apa yang dimaksud gajah itu. Dia juga khawatir dengan nasib teman-temannya. Apakah mereka aman sekarang? Selain itu Iron juga merasa bersalah. Dia adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam masalah besar ini. Gajah itu menarik belalainya, kemudian saat itulah keajaiban selanjutnya terjadi. Belalai gajah itu memendek, disusul ekornya yang seolah digulung ke dalam seperti terminal listrik silinder. Badannya mengecil seperti balon yang dikempeskan. Kaki-kakinya juga berubah menjadi ramping. Telinga lebarnya juga menyusut seketika. Gajah itu segera menjelma menjadi seorang pria berparas rupawan, tubuhnya tinggi tegap, bercahaya. Di tangannya tergenggam tongkat dengan batu safir warna biru. Pria itu mengenakan pakaian biru kristal yang memancarkan aura dingin di sekelilingnya. Rerumputan yang semula tercacak-cacak ke atas segera rebah jimpa membeku. Bintik embun gugur dari langit membuat suasana dingin seketika. "K-kau siapa? Mau apa?" Iron beringsut mundur ke belakang. Alisnya menaut. Dadanya bergemuruh. "Kau harus menyelamatkan teman-temanmu Iron. Mereka dalam masalah besar. Jangan kamu biarkan mereka terjebak." Iron terdiam. "Apakah kamu tidak mengenaliku?" Iron menggeleng pelan karena keraguan menahan sendi putar di lehernya. "Aku tidak kenal." Pria itu mengembuskan napas cukup kencang, menggugurkan bulir salju di sekitar Iron berada. "Aku akan membawamu ke masa-masa sebelum kalian datang ke tempat ini. Biar kamu tahu rahasia apa saja yang sebenarnya terjadi, dan juga bahaya yang mengintai kalian bahkan sejak pertama kali kamu berniat untuk ke sini." "M-maksudnya? Aku akan ke mana?" "Pejamkan matamu. Perjalanan akan segera di mulai." *** Saat itu perut Iron melilit karena malam tadi makan nasi goreng super pedas. Hal ini membuatnya absen dari kelas sehingga dia hanya bisa menghabiskan waktu dengan bergelut di rumah Aris. Saat masih di toilet, ada seseorang mengetuk pintu rumah. Tetapi Iron sama sekali tidak mempedulikannya. Perutnya sakit, dan itu jauh lebih penting daripada suara ketukan pintu. "Sinyal terakhir yang kita terima setelah meretas salah satu komputer di lab sekolah kemarin, menunjukkan bahwa seorang anak berotak jenius dan ambisius ada di sini. Kita harus berhasil membawanya ke Bestuur. Tapi bagaimana cara membawanya?" Seorang pemuda berpakaian hitam berbicara dengan seorang temannya dengan seragam yang sama. "Aku punya ide." Yang satunya menjentikkan jari. "Apa idenya?" "Kalau anak itu sungguhan jenius dan ambisius, pastikan rasa ingin tahunya tinggi. Kita tinggalkan saja sebuah buku yang membuatnya mencari tahu sendiri tentang planet kita, dan dia lah yang nantinya datang kepada kita tanpa perlu kita yang jemput." Pemuda dengan pakaian bertuliskan huruf W di saku bajunya mengernyitkan dahi. "Apakah kau yakin ini akan berhasil?" "Aku pikir mencoba hal ini risikonya kecil. Jika gagal kita cari rencana lain." Lelaki berkode A meyakinkan. "Baiklah. Aku pikir ini bukan hal buruk. Bagaimana caramu melakukannya? Kita masuk ke dalam? Apa itu aman?" "Kau selalu bertanya. Tidak bisakah kau saja yang memikirkan hal ini. Jangan bergantung padaku." Pria 'W' tercenung. Lalu sebuah ide hinggap di kepalanya setelah beberapa menit terpekur. "Kita menyamar saja." "Menyamar sebagai siapa?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN