Agen W dengan penampilan barunya, mengetuk pintu. Dia mengenakan baju kaos dan juga topi, sembari mengangkat galon air putih. "Permisi! Ngantar galon air minum!"
Iron yang masih di toilet menyahut, "Gak dikunci."
Lalu agen W pun masuk ke dalam rumah bersama temannya. Mereka mengendap-endap meletakkan galon air minum di dekat dispenser, lalu bergerak menuju anak tangga. Agen W membuka sebilah papan dari anak tangga itu, lalu meletakkan sebuah buku di sana.
Agen W membentuk simbol OK dari jarinya.
Saat agen A mengangguk, pintu toilet berderak terbuka. Mereka bergegas meninggalkan ruangan. Lalu tepat menghilang di balik pintu luar.
Iron yang hanya mengenakan handuk mengembuskan napas lega saat keluar dari toilet. Dia menggerakkan kaki untuk melenggang menuju kamar Aris.
Dia merebahkan tubuh, menarik napas sedalam mungkin hingga paru-parunya dipenuhi oleh udara segar. Lalu matanya tertutup pelan, menyisakan suara dengkuran kecil.
"Maksud semua ini apa?" Aku bertanya pada orang di sebelahku setelah dari tadi terdiam menyimak situasi.
Orang tadi hanya diam tanpa mau menjawab pertanyaanku. Dia justru menggenggam tanganku, untuk membawa aku pergi.
Splash! Aku menghilang lagi.
***
Iron membuka matanya saat jam dua belas siang mendentangkan bunyi nyaring. Dia meregangkan tubuh, mengangkat ketiaknya yang bau demi diciumi udara segar dari jendela yang terbuka. Iron tampak terpaku sebentar, seperti baru bangun dari mimpi yang indah. Atau justru mimpi yang buruk?
"Siapa lelaki itu?" Suara Iron berbisik bersamaan dengan lirihan angin. Dia terpaku beberapa detik. "Invasi apa? Invasi bumi?" Iron tampak kebingungan. Wajahnya terlipat-lipat.
"Ah lupakan!" Serunya sekali lagi. Kali ini sembari bangun dan berjalan ke luar kamar. Dia menaiki anak tangga rumah Aris, lantas tiba-tiba kakinya terperosok di salah satu anak tangga. "Aduh. Tangga ini gak ada pakunya, ya?" Iron mengangkat kakinya keluar. Kemudian dia mengambil kepingan papan anak tangga yang tidak dipaku itu. Tepat saat bilah papan dibuka, larik-larik cahaya menembaki penjuru ruangan. Cahaya biru yang terus terpantul tiap kali mengenai kaca jendela berstiker dan dinding-dinding. Bahkan air di kolam renang ikut menembakan pantulan cahaya itu. Satu rumah mendadak biru. Silau.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Orang di sebelahku diam lagi.
Plas! Dug! Plas! Dug! Ciit! Dug!
Pantulan itu sangat banyak. Menembaki kepala Iron hingga lelaki itu jatuh pingsan.
Aku segera berlari untuk menolong diriku sendiri, tetapi tanganku ditahan oleh lelaki yang datang bersamaku.
"Kau tidak punya hak untuk mengubah cerita. Biarkan dia bangun sendiri."
Bibirku terkatup. Benar! Tak lama setelah itu Iron terbangun, aneh rasanya harus menyebut namaku sendiri. Iron mengerjakan matanya, menggerakkan bola-bola matanya. Tak ku sangka ternyata Iron setampan itu. Dia berusaha berdiri, tetapi jatuh lagi karena tersandung buku tebal. "Benda apa ini?" Iron membenarkan kacamatanya. Membuka buku bersampul kuno, dengan perkamen—kertas tua—yang menampilkan gambar-gambar galaksi. Iron tercengang memandangnya, seperti menemukan satu troli es krim.
Saat itu aku menyadari sesuatu, mata itu bukan milikku. Mata itu penuh ambisi, dan itu sama sekali bukan aku. Aku tidak pernah seambisi ini saat menemukan hal baru, apalagi yang terkesan ... tidak masuk akal.
"Aku harus memberi tahu Aris."
Aku meremas rambutku yang kini kian memanjang. Ternyata aku sebodoh itu. Aku terlalu gegabah pada saat itu. Aku tidak memikirkan banyak hal sebelum mengambil keputusan.
Iron lalu kembali ke kamar Aris dan menutup pintunya dengan rapat.
"Siap ke potongan selanjutnya?" Pria tampan itu menatapku.
"Yang bagian ini sudah selesai? Aku masih ingin tinggal. Aku ingin berada di sini lebih lama."
Pria itu terkekeh manis. "Kau tidak ingin ke rumahmu?"
Aku tertegun mendengar kata rumah. Rumahku, tempat paling nyaman yang aku miliki. Tidak ada tempat yang lebih nyaman daripada rumah sendiri. Rumah yang melindungi kita dari panas dan hujan, tempat bercerita dengan anggota keluarga, tempat yang hangat. Istana Bestuur memang indah, membuatku lupa bahwa ternyata itu tidak sebanding dengan rumahku sendiri. Tetapi aku ingin pulang bersama sahabat-sahabatku.
Aku mengangguk. "Kalau yang ini tidak usah dipertanyakan."
***
Aku ingin menangis saat melihat rumahku. Aku ingin segera berlari dan memeluk ibuku yang memasak di dapur. Tidak tahan lagi. Semua yang kualami selama ini sudah sangat melelahkan.
Sesuatu menyentuh pundakku. "Aku tahu apa yang kau rasakan. Aku tahu kau lelah, Ron. Juga teman-temanmu, mereka sangat lelah. Banyak rahasia yang ingin aku tunjukkan padamu, tapi aku pikir itu hanya memakan waktu. Aku melakukan ini hanya untuk membangun tekadmu, bahwa saat ini kamu lah yang paling berdaya untuk menyelamatkan dirimu dan teman-temanmu. Ron, saat ini teman-temanmu tengah bersama orang jahat. Agen W yang menyamar sebagai aku." Pria itu menunduk menatap lantai. "Aku adalah dokter yang menanganimu di rumah sakit waktu itu, Ron. Aku Dokter Wan. Aku sudah curiga bahwa pasien yang kutangani adalah Iron, teman yang mereka cari-cari selama ini. Aku bergegas hendak memberi tahu mereka, tapi sebuah sapu tangan menutup hidungku dan aku tidak sadarkan diri."
Aku menatap sosok yang mengaku sebagai Dokter Wan. Aku terdiam, bisu, sekaligus bingung.
"Agen W menyamar sebagai aku, dan secara lembut membawa mereka dalam pengaruhnya. Dia ingin membawa teman-temanmu ke istana, untuk dijadikan tumbal demi kekuasaan Raja Bestuur yang kejam. Aku berasal dari sini, Ron. Aku juga ingin pulang. Tapi biarlah untuk kali ini aku mengalah. Kalian lebih butuh untuk didahulukan."
"Lalu, lalu kenapa kau menjadi gajah? Dan kenapa kau bisa membawaku ke mari? Apakah pulang adalah sesuatu yang mudah bagimu? Apa kau bisa menolong kami?"
Dia menggeleng. "Ini pengaruh ramuan, Iron. Untuk sejenak aku terpisah dari ragaku. Menjelma bentuk menjadi gajah, atau bahkan semut sekalipun. Dan kau pun sama. Ini hanya roh. Kita harus ke Planet Bestuur. Dan, jika tidak keberatan, apakah kita bisa kembali sekarang?"
Aku menelan ludahku. Aku terjebak dalam dunia fantasi. Tetapi ini sungguhan nyata. Dengan berat aku menatap rumahku, juga hammock yang tertambat di antara dua dahan pohon belimbing. "Baiklah." Aku mengangguk berat. Berat sekali. Akan tetapi, demi teman-temanku, demi bumi kami, demi Dokter Wan, aku akan berjuang menyelamatkan mereka.
***