Selembar daun jatuh di helaian rambut Urni saat matahari mulai mengintip di balik pucuk kastil. Mata gadis itu terbuka. Aku menyaksikan semua dengan cukup jelas. "Urni? Kau sudah sadar?" Aku berusaha duduk, membangunkan Dokter Wan, Teta, dan Bang Arsi.
Dokter Wan segera membuat ramuan dari daun-daun kering yang berada di sekitar kami. Sedangkan Teta membantu Urni untuk duduk dengan posisi lebih baik.
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Urni meringis merasakan badannya seperti diremukkan. Pengobatan tempo hari tidak menghilangkan rasa sakit itu secara total. Bekasnya masih terasa.
"Aku juga lupa. Mungkin dua-tiga hari?" Aku berusaha menjawab. "Eh, Dok. Kapan kita mulai bergerak menuju kastil itu? Aku khawatir niat buruk mereka terlanjur jadi kenyataan."
Dokter Wan terlihat tersenyum tipis. Dia menatap pucuk menara yang mengibarkan bendera segitiga berwarna merah di ujung sana. "Mungkin besok pagi."
Kami sontak tersenyum. Aku akan bertemu dengan Iron. Sepupu sekaligus sahabat yang luar biasa.
***
Kami berjalan menyusuri aliran sungai yang jernih. Urni yang kami dorong menggunakan gerobak hasil kreasi seadanya dengan roda dari bekas potongan kayu, sama sekali tidak memberatkan kami. Semakin dalam rumput ilalang semakin tinggi, bahkan melebihi tinggi badanku. Nyamuk juga semakin merajalela, beruntung ukurannya normal, tidak sebesar lebah yang tempo hari yang menyebalkan.
Kami sudah tidak mandi berhari-hari. Pakaian kami kotor dan bau. Tetapi itu sama sekali bukan halangan bagi kami. Bang Arsi memimpin di depan. Dia memegang sebuah sabit kecil yang digunakan untuk memangkas rumbai-rumbai pepohonan yang menghalangi perjalanan ini.
Langkah kaki kami terhenti saat kami harus menyeberangi aliran sungai yang deras. "Kita harus bagaimana, Dok?" Bang Arsi menoleh.
Dokter Wan tampak berpikir sejenak. Dia segera bergerak mengumpulkan pelepah-pelepah pohon pisang, juga kayu dan batang bambu. Kami segera paham apa yang akan dibuat oleh Dokter Wan. Dia akan membuat sebuah rakit.
Kami ikut berinisiatif untuk membantu Dokter Wan. Teta mengumpulkan akar-akar pohon, juga serat tanaman lalu memilinnya menjadi tali. Aku memotong kayu bersama Bang Arsi, sedangkan Dokter Wan membuat semacam kincir dari batang bambu.
Satu jam lebih kami habiskan untuk menyelesaikan rakit itu. Tidak sia-sia. Kami segera bergegas menaiki rakit itu.
"Kita berangkat sekarang."
Kami mengangguk sebagai respon dari ucapan Dokter Wan. Udara sejuk ikut mengalir bersama air. Kami masing-masing memegang kayuh dari bambu. Rakit kami mulai bergerak menuju kastil.
"Semoga kita tidak terlambat," ucap Bang Arsi.
"Iya, benar. Kita harus lebih cepat." Teta merapikan poninya yang berantakan ditiup angin.
Matahari kian memanjati langit. Tak terasa kini bola panas itu telah menggantung tepat di atas kepala. Pucuk kastil sudah semakin jelas kelihatan. Benderanya terkelepak ditiup angin.
Tetes keringat jatuh dari kening kami. Baju kami juga basah kuyup oleh perpaduan air sungai dan keringat.
Mulai merasa lelah, kami berhenti sejenak. Dokter Wan mengeluarkan pancing bambu yang sempat dibuatnya. Dia berhasil menangkap seekor ikan berukuran cukup besar. Hitung-hitung buat makan siang kami.
Dengan peralatan seadanya kami membuat tungku pembakaran sederhana dari kaleng-kaleng bekas yang hanyut di sungai. Kami juga menggunakan ranting kering dan material lain untuk membuat ikan bakar tanpa bumbu.
"Rasanya enak. Gurih dan manis, alami dari jus ikan itu sendiri." Teta berkomentar sambil terus mengunyah makanannya.
Di saat kami sedang menikmati makan siang itu lah ada sesuatu kejadian aneh. Rakit kami ditarik mundur ke belakang menjauhi kastil. Kami semua tersentak. Tangan kami langsung meraih kayuh masing-masing. Kami berusaha menahan arah gerak kapal yang justru bergerak berlawanan arah dari sebelumnya.
Aku bertanya panik kepada Dokter Wan. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Sepertinya ada sesuatu di bawah sana yang membuat aliran air berbalik arah."
Aku melihat Teta yang mengintip dari atas rakit. "Astaga!" Dia menutup mulutnya seperti orang kaget. "Di bawah sana ada banyak sekali ikan yang bermigrasi, Dok. Tetapi mereka bermigrasi melawan arus. Apa itu ada hubungannya dengan sektor yang ditutup?"
Saat itu aku benar-benar belum menyadari bahwa kastil bukan tempat yang aman. Bahkan ikan-ikan memilih bermigrasi menjauhinya. Mungkin benar kata orang-orang, insting ikan lebih tajam daripada insting manusia.
Dokter Wan justru memejamkan matanya. Dia seperti orang yang berkonsentrasi. Lalu sesaat setelah bangun dia menepuk permukaan sungai dengan telapak tangannya.
Ciplak!
Semua ikan itu berhenti berenang. Ikan itu mati? Apa benar seperti itu? Aku menatap Dokter Wan meminta penjelasan, tetapi laki-laki itu hanya berkata, "Lebih penting Iron atau ikan-ikan itu?"
Sangat retoris. Aku pasti memilih Iron daripada ikan-ikan itu. Berhubung sungai mulai tenang, kami lanjut mengayuh rakit. Urni tertidur sejak tadi. Dia pasti sangat kelelahan dengan perjalanan semacam ini.
Rakit kami semakin mendekati kastil. Batang bambu itu merayap di atas permukaan air dengan sangat anggun, layaknya seekor angsa. Bibir-bibir yang ada di atas rakit mulai tersungging, pasangan mata di atas rakit itu juga tampak berbinar memantulkan cahaya matahari.
Kami sudah sampai di tepi daratan. Aku mengguncang pelan bahu Urni agar dia bangun. Pelan-pelan dia membuka mata, lantas bertanya, "Kita sudah sampai mana?"
"Kita sudah hampir tiba di kastil." Aku melihat Dokter Wan sudah berdiri dan mengikat rakit pada batang kayu di pinggir daratan. "Jadi ayo kita turun sekarang, anak-anak!"
Tidak perlu disuruh dua kali Urni langsung bangun. Dia membawa tubuhnya yang masih kelelahan untuk bangkit. Bang Arsi dan Teta melompat mengikuti Dokter Wan, disusul aku yang memegangi Urni.
Hamparan Padang rumput sepinggang menyambut kami. Sejurus aku terpukau dengan bangunan di hadapanku.
Dokter Wan memimpin jalan kami di depan. Dia menyibak rumput tinggi dengan tangannya. Kemudian, aku mulai merasakan langit semakin gelap saat kami tiba di muka kastil. Pohon-pohon mulai menunduk. Rerumputan tengkurap. Teta melotot, Bang Arsi bingung, sedangkan aku dua-duanya. Wajah Dokter Wan mulai meletup-letup, rambutnya memanjang dengan cepat, tinggi tubuhnya semakin menjulang. Sejenak aku menyadari itu bukan Dokter Wan yang kukenal.
"Kau siapa?!" Teta berteriak.
Akan tetapi Dokter Wan justru tertawa besar. "PADUKA RAJA! AKU TELAH BERHASIL MEMBAWA ANAK-ANAK INI KE KASTILMU. BERKATILAH AKU!"
Lalu suara petir menggelegar membuat bulu kuduk merinding.
Dari puncak kastil menjulurlah anak-anak tangga. Dan, seseorang mulai berjalan menuruninya.
"Terima kasih Agen W. Telah memberiku manusia-manusia dari planet bumi." Dia menyeringai lebar. Wajahnya kian berkali-kali lebih menyeramkan daripada awal munculnya. Dia bahkan cenderung mirip alien dengan mata besar dan hidung nyaris datar. Kepalanya besar. Begitu pula dengan Agen W yang terus berubah menjadi alien berambut gondrong. Wujud mereka lebih buruk dari wujud yang selama ini mereka tunjukkan.
MONSTER!
Teta yang panik hendak menarik tubuhku dan Bang Arsi. Tetapi baru selangkah kami bergerak, sebuah sangkar perak mengurung kami. Teta tetap nekat menyentuh sangkar itu hingga tersengat listrik. Tubuhnya jatuh terduduk. Bang Arsi refleks membantu adiknya untuk bangkit.
"Apa yang kalian inginkan dari kami? Di mana Iron?" Aku menatap tajam ke arah mereka.
Semenit kemudian mulai berdatangan alien-alien lain membentuk barisan. Aku seketika ciut.
"Aku hanya menginginkan otak kalian. Dengan begitu aku bisa menguasai bumi. Aku bisa menguasai orang-orang serakah di sana. Sebelum suatu saat nanti mereka yang membinasakan kami!" Mata besarnya semakin besar, hendak keluar. "Bawa mereka ke ruang eksekusi. Lakukan bedah! Kita sudah kehilangan satu karena terlalu lama menunda, jangan sampai yang ini juga."
***