Kamar Iron

1683 Kata
Sekolah kami libur sepuluh hari karena kelas dua belas sedang ujian sekolah. Itu artinya akan ada masa-masa menjemukan bagi orang-orang sepertiku selama hampir dua minggu ke depan. Payah. Iron yang biasanya paling benci hari libur, kali ini malah tampak bahagia. Ya, ya, ya, setiap orang memang dengan cepat bisa berubah sesuai apa kehendaknya. Tapi tidak secepat ini juga. Entahlah, anak itu semakin sulit ditebak akhir-akhir ini. Setelah pagi harinya sekolah mengumumkan libur, maka pada malam pukul tujuh kami harus menghadiri ulang tahun Teta yang ke—entahlah, aku tidak tahu. Nanti aku akan melihat saja pada kue ulang tahunnya. Dia mengundang kami sepulang sekolah, tentu saja disambut sorakan kegembiraan dari kami semua. Setidaknya ada hal lain yang dapat kami lakukan selain dimakan rayap karena terlalu lama berdiam diri di dalam rumah. Tapi ada yang berbeda, Iron tidak datang. Maksudku, aku tidak melihat dia datang. "Kalian liat Iron gak?" Teman-temanku ada yang menggeleng ada yang mengangguk. Bagi yang mengangguk, bersiaplah kalian harus aku interogasi. "Kapan liatnya?" "Tadi di sekolah." Lempar batu ke kepala si botak enak kali ya. "Kamu liat kapan?" "Barusan." Ini dia yang mantap. "Di mana?" Cewek berkacamta itu menggaruk kepalanya. "Lupa." Aku langsung memasang muka bodoh. Abaikan mereka, seleraku memburuk sekarang. Lebih baik aku menelepon Iron saja. Lebih akurat. "Aku pulang duluan tadi. Tapi udah izin kok sama Teta. Dia udah tau. Aku ada urusan, sibuk soalnya." Matikan panggilan! Selesai. Masalah tuntas. *** Aku tidak pernah lagi bertemu Iron tiga hari belakangan—sejak perayaan ulang tahun Teta yang ke-16 (aku akhirnya tahu). Dia tidak pernah mampir ke rumah, dan saat aku yang berkunjung dia selalu tidak ada. Semuanya begitu aneh. Semenjak liburan dia menghilang ke mana? "Papa mau ke rumah Iron. Kamu ikut gak?" Saat itu aku sedang memberi makan ikan koi di akuarium. Warna oranye dan putih yang menghiasi sisik mereka tampak berkilat ditimpa cahaya lampu. Ditambah gerakan gemulai saat mereka berdua mengejar makanan. Itu pembangkit mood yang baik selama liburan. Aku sontak menoleh. "Mau Pa, mau. Bentar ya aku ganti baju dulu." Aku meletakkan bungkus makanan ikan di atas meja begitu saja, lalu berlari ke dalam kamar. Aku berharap Iron ada di rumahnya. Siapa tahu aku bisa membantu kan? Aku bosan juga berdiam diri di rumah, bersepeda keliling komplek perumahan tiap pagi, makan, tidur, dan begitulah siklusnya tiap hari. Satu-satunya yang kusuka hanya memberi umpan ikan. Bi Iska menyambut kami saat tiba di rumahnya. Tanpa disuruh dua kali aku langsung berlari menuju kamar Iron. Aku mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Aku bertanya kepada Bi Iska mengenai keberadaan Iron. "Ada kok di kamar. Baru pulang dia, kirain sama kamu perginya. Sini Bibi panggilin." Aku menepi memberi celah. Bi Iska meninggalkan ayahku yang sedang mengobrol dengan Paman Senan. Bi Iska dengan cara yang keibuan mengetuk pintu anaknya perlahan. "Iron? Ada Aris ni nyariin kamu. Keluar gih, atau ajak masuk aja." Awalnya aku mau berputus asa, Iron tidak akan bergerak dengan suara selembut itu. Tapi ternyata aku salah, pintu kamar dibuka pelan-pelan. Naluri seorang ibu memang berbeda. Iron keluar kamar dalam keadaan memprihatinkan. Matanya menghitam, wajahnya kusam. Dia terlihat seperti pria berusia 25 tahun yang diusir istrinya tidur di teras karena ketahuan selingkuh. "Ngapain?" Aku bingung mau jawab apa. Iron terlihat kesal dan menyebalkan. Bahkan menurutku, Iron belum mandi dari pagi. "Mandi dulu gih, Ron. Bau ih." Bi Iska menutup hidungnya. Dia mendorong tubuh Iron agar mandi. Wajar, Iron benar-benar bau. Bau menyengat seperti kuah gulai yang dibiarkan diterpa cahaya matahari. Baiklah, ini mulai berlebihan. "Iya Ma. Bentar dulu." Iron berkilah, lantas menarik tanganku. "Yodah, yok masuk kamarku." *** Berantakan. Aku bingung harus menyelipkan kaki di mana untuk berjalan. Di mana-mana ada barang. Aku jadi pusing sendiri jadinya. Ada obeng, tang, aluminium, besi, komputer, tetikus komputer (awas heng lagi, Ron), dan banyak lagi. Ruangannya yang luas serasa menyusut tiga kali, eh tidak, menyusut empat kali! "Aku lagi bikin kendaraan buat ke luar planet. Tapi ada alat yang kurang." Iron curhat. "Aku bingung nyari gelas dinamo itu di mana, dan kayak gimana? Buku ini gak nyantumin gambar." Iron melempar buku ensiklopedia itu ke atas kasur. Lalu menghantamkan pantatnya ke atas kasur. "Ganti aja alat lain." "Ya ngomong mah emang gampang. Gak bisa, Ris. Ini udah paten. Eh, kok malah curhat ke kamu ya. Kamu kan gak mau ikut dan gak mau terlibat." Aku duduk di sebelah Iron, di atas ranjangnya. "Emang gak mau awalnya." Mata Iron berbinar. Aku bisa melihatnya saat dia menolehku. "Maksud kamu gimana, Ris?" "Ya gitu, awalnya gak mau, tapi sekarang bolehlah ikutan." Dia bertanya lagi apakah aku sungguh-sungguh, dan aku jawab iya, aku memang bersungguh-sungguh. Berterimakasihlah pada Teta, dia yang sudah mencuci otakku habis-habisan. Iron langsung bangkit dan meraih handuk. "Mandi dulu deh biar seger. Belum mandi dari semalam." Aku memutar bola mata dengan malas. Kamar berantakan, wajah kusut, badan bau. Iron benar-benar tidak beres belakangan ini. Bagaimana ceritanya aku membiarkan dia pergi sendiri? *** Aku menginap di rumah Iron malam ini-dengan keadaan yang sungguh membuat prihatin. Soalnya kamar Iron benar-benar buruk dan berantakan. Ruangan yang dulu harus aku akui sebagai kamar ternyaman yang pernah aku lihat karena di sana ada komputer, ada lapangan basket mini dengan sebuah tiang ring, dan satu ruangan kecil berisi peralatan Iron yang aneh-aneh. Mesin pendinginnya saja otomatis tanpa remot, sudah diset sebagai temperatur ternyaman bagi Iron. Televisi besarnya melekat di dinding. Bahkan ada rak berisi penuh dengan buku-buku. Kamar Iron adalah gedung olahraga, perpustakaan, ruang tidur, dapur, ruang makan, dan apa pun yang memang ia inginkan. Tengah malam suara berdentang-berdenting mengusik tidurku. Mau putar kanan atau kiri, suara itu tetap saja tidak mau berhenti. Alhasil aku terbangun tengah malam. Ya, aku terbangun tengah malam dengan mata berat seolah mau jatuh ke lantai. Ternyata Iron belum tidur. Dia masih sibuk di lantai bersama peralatannya yang bertumpuk-tumpuk. "Kan masih bisa besok, Ron. Aku mau tidur," ucapku lemas. Namanya juga baru bangun tidur. Aku mengerjapkan mata dengan kepala yang sudah oleng ke depan. Berkali-kali aku harus mengucek mata meski tidak mengubah apa pun. "Dua hari lagi kita berangkat, Ris. Benda ini harus cepat selesai. Besok pagi kita tinggal rakit aja, sama nyari gelas dinamo itu." Aku memasang wajah d***u. Mengapa harus lusa berangkatnya? Tidak bisakah Iron bersabar sedikit? Kalau perlu nanti saja, bertepatan dengan liburan semester. "Ikan sepat ikan gabus. Makin cepat makin bagus. Paham?" "Hmmm." Iron kembali sibuk dengan aluminum dan kabel-kabel. Ada kabel warna merah, hitam, dan biru. Terus ada silinder warna merah yang mirip bom kalau di televisi. Kalau yang namanya sekrup, di mana-mana ada. Bahkan di ranjang pun sekrup bertebaran. Pantas saja badanku gatal-gatal. Ya, baiklah. Aku memutuskan bangun demi membantu Iron yang nasibnya malang sekali-dikaruniai otak seperti itu. *** "Ariiiiiiiiiis!!" Aku terperanjat. Mataku berkedip-kedip seperti lampu yang korslet. Siapa coba yang teriak-teriak pagi-pagi begini? Aku langsung lompat dari tempat tidur. Menurut pendengaranku, sumber suara ada di halaman belakang. Aku segera menyusul Iron, aku tahu dia yang berteriak tadi. Lagi-lagi aku harus bilang, tidak ada suara manusia seberisik suara Iron. Tidak malam, tidak pagi, dan mungkin hingga siang nanti, Iron akan terus mengganggu tidurku. Menyesal aku menginap di rumah lelaki genius ini. "Paan?" Mukaku bersender di tepi pintu kaca yang menghadap halaman belakang rumah, di dekat kolam renang Iron. Aku masih mengantuk, soalnya tadi malam baru tidur jam tiga. Barangkali jika difoto, mukaku akan mirip ikan koi peliharaan di rumah, mata kecil dan mulut ternganga. "Aku tau gelas dinamo itu apa." Iron sumringah. Dia sedang membuka lembaran ensiklopediaku dengan buru-buru. Dia juga menuangkan air pada setiap lembar buku itu. Setetes, setetes. Mengapa tidak sekalian diceburkan saja biar basah semua?! Aku mengangguk dengan mata setengah terpejam. "Hmmmm." Kemudian aku tidak sadar lagi. Yang aku ingat, tubuhku seperti melorot ke lantai dan kemudian jatuh terlentang. Tidak ada rasa sakit, malahan aku merasakan kenikmatan. Nikmat tidur. *** Pukul sepuluh pagi. Kami berdua berpamitan untuk pergi ke rumah Paman Zul. Aku juga tidak mengerti untuk apa. Iron yang mengajakku, tanpa bertanya dulu apa aku paham tujuan kami ke sana. Tadi, Iron-lagi-lagi membangunkanku. Hanya saja dengan cara yang lebih ... s***s. Aku diseret dan diceburkan ke kolam renang setengah meter-yang digunakan untuk mengajari anak kecil berenang. Namun tetap saja aku terkejut dan langsung mengutuk Iron sebagai manusia kejam dan kurang ajar. Sekarang di sinilah kami. Setelah mengalami perdebatan panjang tadi pagi tentang Iron yang selalu mengusik tidurku, kami tiba di kebun Paman Zul. Memprihatinkan. Kemarin sebagian kebunnya masih baik-baik saja walaupun diserang hama tikus tanah. Tapi sekarang, hampir kompleks sempurna kebunnya hancur. Paman Zul dengan wajah yang sedih meratapi nasib kebunnya yang tinggal nama itu. "Lho Paman, kok kebunnya-?" Paman menggeleng atas pertanyaanku. Dia mengusap muka seraya menghela napas pasrah. "Malam tadi semuanya masih baik-baik saja, tapi entah kenapa pagi ini bisa langsung hancur. Pot-pot pecah, plang kayu roboh, pohon-pohon tumbang dan tercabik-cabik, tanah seperti dicakar. Ini jelas bukan kerjaan tikus tanah." Ya, aku juga berpikiran begitu. Di lain pihak, Iron sudah hilang dari peredaran. Eh, maksudku dia pergi menjauh dari kami. Dia mengamati setiap detil kehancuran. Namanya juga orang pintar. "Ini memang bukan kerjaan tikus tanah. Ini kerjaan alien," tutur Iron sambil memotret kebun. "Alien itu mana ada, Ron." "Ada Aris. Kalian liat pola kerusakan ini. Di setiap sudut kebun, kerusakan membentuk pola lingkaran. Tanaman dan sekaligus dengan tanahnya, seperti mie yang digulung menggunakan garpu, lalu dilepaskan. Di bagian tengah juga begitu, hanya saja ukuran lingkarannya tiga kali lebih besar. Sedangkan bagian-bagian yang lain hancur rata dengan tanah. Pola ini simetris, dan yang paling mungkin melakukannya ya alien." Aku tahu yang dimaksud Iron adalah crop circle. Tapi kan itu tidak sungguhan ada, itu hanya hoax. "Siapa tahu tikusnya pinter," jawabku pelan sembari mengangkat bahu. Pura-pura bodoh saja lah aku di depan Iron. Toh, aku memang tidak bakalan dianggap pintar. Paman Zul mengangguk. "Benar juga." Aku sontak menoleh. Paman percaya padaku? "Mungkin alien yang menghancurkannya." Sudahlah, secara telak aku kalah lagi dengan cara berpikir Iron. Aku hanya akan menjadi orang gila yang dihadapkan pada manusia genius dan berotak brillian jika terus-terusan seperti ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN