Aku tidak bisa tidur awal tadi malam gara-gara memikirkan kegilaan Iron. Alhasil aku bangun kesiangan pagi ini.
Sambil menunduk, aku mengemaskan bukuku dengan tergesa-gesa. Pukul setengah tujuh, tapi bukuku belum siap, bajuku belum disetrika, dan fatalnya aku juga belum mandi. Mana perutku tiba-tiba sakit. Ini sudah mengorupsi banyak waktu.
Ibu dan ayahku pamit pergi kerja bersama, aku ingin menumpang mobilnya tapi mereka sudah duluan pergi. Aku gelisah dan langsung berlari ke kamar mandi setelah bukuku siap. Masalah baju, aku putuskan untuk tidak menyetrikanya.
"Aduh!" Pantatku mencium lantai toilet. Urusan ini mengapa jadi ribet. Akan kusalahkan Iron jika bertemu dengannya nanti.
Pukul tujuh kurang tujuh menit aku sudah siap berangkat. Waktu ke sekolah adalah sekitar 15 menit, tapi tidak masalah, aku akan berusaha secepat mungkin. Paling aku terlambat dua-tiga menit.
Seolah tak mengizinkanku menarik napas, sekarang kunci sepedaku entah ke mana kusimpan. Aku hanya mondar-mandir tidak jelas seperti orang linglung.
Pukul tujuh kurang dua menit, aku belum menemukan kunci yang hilang. Sambil menarik napas aku memutuskan untuk pergi dengan jalan kaki. Iya, jalan kaki. Secepat apapun, aku tetap akan terlambat.
Pukul tujuh lewat semenit aku baru bergerak hingga jalan depan rumah. Jalan kaki membutuhkan waktu setidaknya 30 menit, barangkali. Aku putus asa. Rasanya ingin membolos saja. Namun, bolos pelajaran bukan tabiatku.
Di jalan aku mendengar suara desing pelan, tapi tidak ada siapapun. Kemudian sebuah bayangan mengikuti langkah kakiku seperti mendung yang ada di film kartun.
"Mau ikut gak?" Seorang bertanya, tapi aku tidak menemukan sesuatu. Aku mendongak ke atas, juga tak ada yang aneh. Barulah kusadari semuanya saat sesuatu seperti menarikku ke atas, aku melayang. Aku berteriak, orang-orang di komplek perumahan mungkin juga kaget karena teriakanku, yang kemudian tiba-tiba menghilang begitu saja.
Semua berjalan cepat hingga akhirnya aku tersentak duduk di sebuah kursi.
"Selamat datang, Aris. Ini kapal mini buatanku. Ya lumayanlah buat kendaraan iseng-iseng." Itu Iron. Dia tertawa saat menyapaku.
Aku menoleh ke belakang. Mataku menelisik seluruh penjuru. "Ini pesawat?"
"Ini kapal. Tapi tenang, ini bukan untuk berangkat ke ruang angkasa kok. Ini semacam sekoci lah kalau di kapal besar biasa."
Aku diam. Kendaraan mirip mobil, hanya saja tidak beroda ini meluncur di udara.
"Emangnya kamu gak takut kendaraan ini dilihat orang-orang?"
Iron yang duduk di kursi depanku menoleh. "Memangnya kamu nyadar ada kendaraan yang ngikutin kamu sejak dari rumah tadi?"
Diam lagi. Baiklah, aku kalah dengan kecerdasan Iron. Aku terlalu meremehkannya. Intially, kalau Iron sudah berkata, maka kita harus percaya.
***
Kendaraan itu diparkirkan di lantai dua sekolah, di depan pintu gudang yang sepi.
Diam-diam, aku dan Iron melompat turun dari kendaraan itu. Aku menepuk celana, berusaha biasa saja seolah tidak ada yang aneh.
Kami setengah berlari menuju ruang kelas kami.
Terlambat lima menit. Belum terlalu fatal.
"Permisi, Assalamualaikum?" Aku mengetuk pintu. Tapi yang kudapat hanya suara ribut dan tabuhan meja yang berisik. Ada yang bernyanyi, ada yang berteriak ala fangirl, ada yang tertawa besar-besar.
Perasaan tidak ada pelajaran kesenian hari ini.
Iron yang paling santai membuka pintu, tidak takut sama sekali andaikata di dalam ada guru mengajar. Sekali tolakan, pintu berdebam terbuka. Suara berisik itu mendadak senyap. Aku jadi ikutan mengatupkan bibir.
"Woi, ada guru, Woi! Duduk, duduk!"
Tiga detik dari kejadian itu, Iron malah tertawa sambil melangkahkan kakinya masuk. Teman-temanku mendesah malas dan berseru-seru protes.
Ternyata yang ketakutan adalah mereka yang di dalam. Biasa, tipikal manusia pencinta jam kosong.
Teta protes kepada Iron yang menyebabkan aktivitas menggosipnya terhenti.
"Ya mana kutahu," jawab Iron santai.
Dia segera duduk di kursinya. Aku ikut duduk di bangkuku. "Belum ada guru. Kalau tau begini gak usah lari-lari tadi pagi."
"Ya, kamu benar. Tapi kalau kamu nekat lari, gerbang mesti ditutup. Gak mungkin kan loncat pagar empat meter." Iron mengeluarkan buku tulisnya.
Aku termenung. Lagi-lagi argumenku dipatahkan lagi.
***
Teta menghampiri mejaku saat istirahat pertama. Kebetulan Iron sedang ke toilet sebentar. Jangan tanya seperti apa rupa kelasku saat ini. Meja dan kursi sudah jejer tiga, ada yang tidur, main ponsel, bergosip, nonton drama, main gim, hingga main kartu. Hancur sudah, kalau sampai ada guru yang masuk, aku tidak tahu lagi bagaimana cara menghukumnya.
Dengan wajah penasaran, Teta bertanya, "Iron beneran mau ke luar planet? Kamu ikutan? Pakai apa?"
Kalian tahu apa yang kulakukan?
Diam.
Teta menyipitkan matanya, kemudian menampar-nampar pipiku. "Hei, jangan melamun. Jawab aku!"
Aku terkesiap. Aku mana tahu mengenai keputusan itu. Sejak awal aku tidak percaya dan tidak mau terlalu banyak ikut campur tentang hal ini.
Aku menggeleng. "Aku gak tahu. Bisa jadi begitu sih. Tapi aku gak mau ikut."
"Why?"
"Karena hal ini terlalu irasional, Ta. Aku gak bisa semudah itu percaya sama imajinasi liar Iron."
Aku mendengar suara hela napas dari Teta. Dia menunduk dengan menopang tubuhnya pada meja menggunakan kedua tangan. "Saudara sepupu yang aneh. Kalian itu harusnya kompak. Iron selalu ada buat kamu."
"Ta—"
"Iya tau. Pemikirannya terlalu irasional. Tapi itulah tugasmu, Ris. Kamu yang harus nyemangatin dia. Seenggaknya kamu ngasi dukungan buat Iron walaupun mungkin mimpinya gak bisa terwujud."
Aku mau melakukannya. Tapi ...
***
Kata-kata Teta masih terngiang di kepalaku hingga bel pulang berbunyi.
Aku harus mendukung keinginan Iron? Yang benar saja!
Iron mengejarku dari belakang, lalu memukul pelan bahuku. "Ikut gak?"
Aku sedikit tersentak. "Ikut apa?"
"Pulang naik mobil terbang. Ya, kapal sih sebenarnya, tapi anggap ajalah mobil."
Entah mengapa aku hanya mengangguk menanggapinya.
Iron menyengir kuda, lalu menyeretku menuju koridor gudang yang sepi. Ia mengeluarkan sebuah remot kecil yang begitu ia tekan tombol merahnya, aku langsung terlempar masuk ke dalam kendaraan itu.
"Bagaimana kamu merekayasa kendaraan ini menjadi transparan, Ron?"
Iron yang sedang memasang sabuk pengaman di sebelahku menoleh sesaat lalu menekan pedal gas. Mesin kendaraan berdesing halus. "Rekayasa ruang dan waktu."
Kali ini aku menautkan alis hingga dahiku berkerut. "Maksudmu?"
Iron tidak segera menjawab pertanyaanku. Dia justru menarik tuas kemudi dan perlahan kendaraan kami melayang ke udara. Kami melesat melalui dinding terbuka koridor, mengudara di atas halaman sekolah dengan ribuan remaja berseragam sama dengan kami berkeluaran menuju gerbang. Aku dapat melihat sekolahku mirip sebuah maket atau miniatur, aku bahkan seolah bisa memindahkan pohon di sana dengan tanganku.
"Tadi kita di sekolah, benar? Katakanlah pukul 14.00, dan sekarang pukul 14.02 kita udah gak ada di sana. Kamu bayangkan kalau aku merekayasa kejadian di pukul 14.02 menjadi kejadian pukul 14.00, maka saat kita seharusnya ada di sekolah, kita justru udah menghilang. Bisa dibayangkan gak?"
Aku terdiam sesaat, berusaha mencerna baik-baik perkataan Iron. Aku sudah mendapatkan poin kecil dari penjelasannya. "Lalu?"
"Aku merekayasa waktu itu secara kontinyu. Saat kita berada satu meter di depan orang lain. orang itu menganggap kita sudah bergerak dua meter. Sampel kecilnya begitu. Tetapi karena kita bergerak kontinyu, selisih perbedaan itu berlangsung terus menerus hingga mereka tidak dapat menangkap pergerakan kita. Kita seolah bergerak sangat cepat bagi mereka, padahal sebenarnya tidak. Suatu rekayasa untuk memainkan prinsip relativitas milik Einstein."
"Aku sedikit paham meskipun masih bertanya-tanya tentang mekanismenya, Ron."
Terdengar suara kekehan dari Iron. Senyum simpul melengkung di bibirnya. "Tugas untuk memahami mekanisme ini cukup aku. Gak usah repot-repot."
***
Kami mampir di rumah Paman Zul. Ingin menjenguk tanaman stroberi kami. Barangkali sudah mulai tunas, kan?
"Kemarin ada tikus tanah yang merusak kebun paman. Ada beberapa tanaman yang dapat diselamatkan, tapi ada juga yang hancur menyisakan jejak kaki tikus tanah itu. Tanaman stroberi kalian termasuk yang hancur, padahal tadinya sudah mulai tunas sedikit."
Aku menyesal mampir ke kebun hanya untuk mendengar kabar tanamanku hancur. Semuanya menjadi lapang, tidak berbekas lagi tanaman stroberi kami.
Aku memanyunkan bibir, sedangkan Iron tampak biasa-biasa saja.
"Paman, aku mau masuk ke rumah, boleh?" tanya Iron.
"Boleh. Mau ngapain emang?"
Iron mengusap-usap lehernya sambil berjalan masuk melalui pintu belakang rumah Paman Zul. Dia kehausan, itu isyarat yang umum sekali.
Aku ikut menyusul Iron. Kami terdampar di dapur sekarang. Iron mengemil roti selai cokelat yang ia ambil dari balik tudung saji. Aku bingung, bukannya Iron itu kehausan ya? Mengapa dia tidak mengambil minum, malah mengambil makanan?
"Siapa bilang aku haus. Aku lapar, aku megang leher karena aku kelaparan." Itu yang dia katakan saat aku bertanya.
Mulutku rasanya ditutup. Ingat satu hal, apa yang Iron katakan adalah benar. Kita harus percaya mengenai itu.
Sekarang aku yang kehausan. Aku membuka pintu kulkas dan cepat-cepat mengambil s**u kotak besar. Bukannya takut ketahuan, tapi aku tidak mau Iron protes kalau membuka kulkas lama-lama. Masalah mengambil makanan atau minuman tanpa izin, kami tak perlu khawatir. Kata bibi dan paman, kami boleh mengambil makanan dan minuman apapun di sini, bebas, yang penting sadar diri.
Yang jadi masalah, kami ini punya kesadaran diri yang rendah. Hehehe.
Aku duduk di sebelah Iron setelah mengambil gelas. Aku sembarang merebut roti yang sedang dioles selai oleh Iron.
Iron mendelik, itu punyaku, g****k!
Ya, ya, ya, aku tahu. Tapi dia bisa membuatnya lagi. Potongan roti itu sedang berada di depan mukanya sekarang. Tinggal ambil, oles, dan dia bisa menelannya bulat-bulat, sekaligus dengan piringnya kalau perlu.
Seolah tidak mau kalah, Iron merebut gelas susuku. s****n. Dia balas dendam ternyata.
Kami saling tatap, mata kami menyipit seolah sedang menabuh genderang perang. Itu versi berlebihannya. Nyatanya, aku memutuskan berdiri dan mengambil gelas.
Saat itulah aku menyadari sesuatu.
Ingat gelas seloki yang kemarin? Sekarang, gelas yang persis sama sedang menggantung di rak dapur rumah Paman Zul dan Bi Maya. Benar-benar mirip. Aku baru menyadarinya sekarang.
Seingatku Bibi dan Paman tidak punya gelas seperti itu. Kalau seandainya punya, mana gelas serupa yang lain? Gelas ini belinya per setengah lusin, bukan per butir. Tapi yang kulihat hanya ada satu gelas seperti ini.
Dari dalam rumah, seorang perempuan menghampiri kami sambil mengucel matanya. "Eh kalian. Maaf Bibi baru muncul, abis nidurin Kesa."
Aku mengangguk memahami. "Bi, aku mau nanya, boleh?"
"Ha? Nanya apa? Boleh kok." Bibi ikut duduk di sebelah Iron, kursiku tadi.
Aku memetik gelas itu. Iron yang tidak sengaja melirik kini melotot, dia baru sadar.
Bibi hanya manggut-manggut. Dia paham sebelum aku bertanya.
"Itu kan gelas kemarin," cetus Iron memotong niatanku untuk bertanya.
"Iya, Bibi juga gak ngerti Kesa dapat ini dari mana. Pas pulang kalian ajak makan kemarin, di saku roknya ada gelas. Bibi juga heran."
Aku dan Iron saling tatap.
Jadi, Kesa membawa pulang gelas restoran? Kapan?
Kesa memang jagoan.
***