Ayahku membawa bungkusan warna merah saat tiba di rumah, sedangkan Ibu langsung menuju meja makan untuk mengambil air putih. Aku tebak, bungkusan itu isinya makanan. Soalnya dari bayang-bayang yang tertangkap mataku, bungkusan itu berisi kotak yang diatasnya ada tulisan selamat menikmati. Apa lagi coba?
Ayah bisa menangkap maksud pandangan mataku. Dia segera bilang, "Iya isinya martabak."
Kan, tebakanku tepat.
Tanpa disuruh Iron sudah mengambil piring sebagai tempat martabak, dia juga mengambil mangkok kecil untuk wadah kecapnya.
Iron cengar-cengir seolah aku mau berbagi martabak padanya. Sudah menumpang, makan pun tidak bermodal. Eh, tidak, tidak. Hitung-hitung ini permintaan maafku karena sudah menghabiskan es krimnya. Anggap saja begitu, iya benar.
"Kamu belum pulang, Ron?" Ibuku saja sepertinya mulai jengah karena kehadiran Iron. Bukan apa-apa, tapi kasihan juga kan ibu sama bapaknya. Pasti kangen anaknya tidak pulang-pulang. Iya tahu, dia menumpang di rumah sepupunya sendiri. Tapi satu hal yang kalian harus tahu lagi tentang Iron, selama menginap di rumahku, tak sekalipun aku mendapatinya sedang menelepon orang tuanya kecuali sekali, yaitu kemarin. Dia itu Malin Kundang!
Iron menggeleng seraya membuka bungkusan. Dia sudah duduk di kursi makan, bersama ayah dan ibuku. "Aku sakit perut, Bi. Makanya belum pulang. Nanti malam juga mau balik kok. Kangen juga sama rumah—" Iron menyuapi mulutnya sendiri.
Aku bergabung bersama mereka, tidak mau kehabisan. Aku menjumput sepotong martabak lantas menyahut, "tau kangen juga ya lo?"
Ibu memelototiku. Perasaan apa yang kubilang sudah benar.
"Ya iyalah, Ris. Gini-gini aku juga punya perasaan kali. Bisa juga ngerasain kangen—"
"Dan patah hati, ya kan?" Itu bukan aku yang menyahut. Ya walaupun hampir mau bilang begitu juga.
"Ya elah Paman. Gitu amat jadi orang. Gak ada ngait ke sana kali."
Ayahku hanya mengangkat bahu lalu meminum air putih menggunkan gelas bekas Ibu. Dia minum di bagian yang ada jejak lipstik Ibu. Aku teringat dengan sebuah kisah, jadinya.
Menit-menit bergerak cepat. Tepat pukul tujuh malam, Iron pulang kembali ke rumahnya—dengan dibekali martabak yang masih banyak.
***
Jam dinding baru menunjukkan pukul 6 pagi, tapi aku sudah tiba di sekolah. Aku mengeluarkan buku paket fisika beserta buku jurnal yang menjadi buku catatanku.
Hari ini ngumpulin catetan. Di rumah gak sempet buat gara-gara tadi malam padam listrik.
Sepulangnya Iron, entah mengapa listrik kami mati. Yang bikin bingung rumah tetangga kami terang benderang. Barulah pukul 5.00 pagi tadi kami menyadari bahwa voucer listrik habis.
Satu per satu teman sekelasku mulai berdatangan, termasuk Teta yang menyapaku dengan ramah dan senyuman khasnya. Aku masih sibuk mengerjakan catatanku yang tidak lengkap. Habis siapa coba yang betah belajar fisika, mau nyatat penuh di jalanan ibukota juga tidak akan paham. Sebentar-sebentar pakai rumus ini, nanti pakai rumus itu. Bahkan untuk menghitung kecepatan saja rumusnya beraneka ragam.
Tidak bisakah manusia menyederhanakan keadaan? Tinggal lihat spidometer, kita juga bakal tahu kecepatan kita berkendara. Iya memang, butuh sosok-sosok jenius semacam Iron untuk mengembangkan pengetahuan. Tapi tidak harus semua manusia juga kan? Mayoritas manusia di dunia ini, perasaan, lebih memilih jadi penonton dan penikmat dibanding menjadi tokoh utamanya. Namun sekolah formal seolah menuntun kami semua untuk mengikuti kaum minoritas yang berotak cemerlang itu. Manalah sampai.
Iron hadir pukul enam lewat—lewat 58 menit. Dia memukul pelan pundakku sambil tersenyum. "Belum kelar-kelar tu catatan, Ris? Perasaan dikit doang, deh."
Iya memang sedikit. Sedikit bagi orang yang tiap mendengarkan pembelajaran langsung mencatat, tiap diberi latihan langsung mengerjakan. Tapi kalau tipikal orang sepertiku yang harus disembelih dulu lehernya baru mau mengerjakan tugas, ya, itu lain lagi ceritanya.
"Dikit gundulmu!" seruku emosi pada Iron. Dia baru saja datang, tapi sudah membuat orang lain kesal. Akhirnya Iron memutuskan untuk melenyapkan diri dari pandanganku.
Sebenarnya banyak sekali yang belum menyelesaikan tugas ini. Aku yakin begitu. Hanya saja mereka kebanyakan bersantai. Kalau dikasih ulangan tingkah mereka seperti orang bodoh, tidak siap lah, belum belajar lah, tidak ada dikasih tahu lah. Banyak alasan mereka. Sekali tidak tuntas, dikasih tugas, disuruh mengumpulkan catatan, gaya mereka seperti orang pintar. Mereka tidak mau mengerjakan, lebih memilih angkat kaki sambil tidur.
Pukul tujuh tepat, catatanku selesai. Teman-teman, termasuk Teta sedang bergosip di belakang kelas. Iron ikut-ikutan. Eh salah, mereka lah yang sebenarnya mendengar cerita dari Iron. Tahu cerita tentang apa? Tentang planet-planet yang ia ceritakan padaku kemarin. Tentang Gs-J30 itu, dan segala macamnya. Intinya dia menceritakan semua cerita yang belum usai itu.
***
Sore-sore, pukul empat, Iron menggedor-gedor pintu rumahku. Aku tahu karena suaranya yang nyaring tidak dimiliki oleh orang lain selain dia. Hasilnya, dengan ogah-ogahan aku turun dari ranjang.
Dalam keadaan mengantuk seperti ini, aku mengerjap-ngerjapkan mata. Aku berjalan gontai menuju pintu depan lalu menarik gagangnya. "Apa?"
Iron terlihat menyengir. Lalu tanpa disuruh dia masuk ke dalam rumahku dan mendarat di kursi dekat kolam renang. Sebelumnya dia sempat mampir ke meja makan untuk meraih martabak bekas kemarin yang kusimpan di balik tudung saji.
"Aku ada rencana mau ke planet Bestuur. Kamu mau ikut, Ris?" Iron berkata dengan mulut penuh.
Aku rasanya sadar tidak sadar saat Iron berbicara. Dia sedang menghayal, atau justru aku yang berhalusinasi?
"Ha?" kataku dengan kondisi mata yang memprihatinkan. Mungkin aku seperti orang yang mabuk dua botol bir.
Aku yakin Iron tidak bersungguh-sungguh atas omongannya. Gila namanya kalau dia sungguhan.
"Aku mau ke planet Bestuur. Aku akan buat alatnya. Kamu mau ikut kan?" ulang Iron.
Aku mematung. Orang jenius terkadang memang begini, ya? Dia pikir ke planet lain itu gampang. Dia mau membuat alat apa memangnya? Roket? Pesawat? Apa yang sebenarnya Iron pikirkan sampai mendapat ilham sejauh itu. Dan apa tujuan dari ekspedisinya ke ruang angkasa. Orang-orang dari pihak Nasa yang jumlahnya banyak, berotak lebih luar biasa saja membutuhkan observasi jangka panjang, sedangkan dia belum seminggu membaca ensiklopedia langsung berkeinginan pergi menjelajah ruang angkasa.
"Mimpi apa Ron kamu tadi malam?"
Saat aku bertanya begitu, kening Iron terlipat. "Kamu meragukanku? Aku sungguhan, Ris. Menurut buku ini, cukup mudah kok membuat alat untuk ekspedisi kita."
"Memangnya mau bikin apa?"
Iron diam sebentar. Aku yakin dia akan bilang bahwa dia akan membuat roket, atau kalau tidak pesawat ruang angkasa. "Kapal," jawab Iron singkat. Iya singkat, tapi efeknya luar biasa.
Aku ternganga. Sejak kapan orang ke ruang angkasa menggunakan kapal? Kapal itu bergerak di air, bukan di ruang hampa. Walaupun aku tidak pintar-pintar benar, tapi bukan berarti aku bodoh juga. Aku masih memahami hal sederhana semacam ini.
"Ayolah Ris. Buka pikiranmu. Kapal tidak melulu berlayar di air, kapal juga bisa bergerak bebas di ruang angkasa. Kapal terbang misalnya, bisa terbang di udara."
"Aku menyebutnya pesawat, bukan kapal terbang, jadi tolong hentikan halusinasimu," potongku.
"Hei, itu sama saja. Pesawat adalah kapal terbang. Hanya berbeda penyebutan. Sama halnya kapal yang hendak kubuat." Iron berusaha menjelaskan.
"Tapi saat kau bilang akan membuat kapal, aku tahu pasti kalau kapal yang kau maksud bukanlah semacam pesawat ataupun roket. Kapal yang mau kau buat itu sungguhan kapal seperti kapal laut yang biasa kita lihat. Aku tahu itu, Ron."
Sekarang Iron terdiam. Dia menunduk seraya mengembuskan napasnya.
Kapal dia bilang? Dasar aneh.
"Jadi kau tidak percaya padaku?"
Aku mengangguk mantap. "Bahkan sekalipun yang kamu buat itu roket, aku tetap tidak percaya."
"Ya udah." Iron berbalik dengan lemas. Wajahnya murung. Masa cuma gara-gara hal sepele ini, Iron tampak terpukul. Aku bukan tidak yakin akan kemampuannya. Tapi coba kalian pikir apa keinginan Iron itu rasional?
***
Malam ini aku berkunjung ke rumah Iron bersama ayahku. Ada sedikit urusan kalau menurut ayah, makanya aku memutuskan untuk ikut.
Bibi Iska menyambut kami. Dia bilang kalau Iron sedang di kamar, entah apa yang sedang dia lakukan sampai tidak keluar kamar sejak petang tadi. Aku tebak, sejak pulang dari rumahku.
Aku mengetuk pintu kamarnya, tapi tak ada jawaban. Aku mendekatkan telinga ke papan pintu, yang kudengar malah suara mesin las.
Haaa??
Sekali lagi aku mengetuk pintu, tapi kali ini suaraku ikut berbunyi. "IROOOOOOON!!!"
Teriakan itu aku ulang hingga tingga kali, barulah pintu kamar terbuka. Iron terlihat memegang tang, di sela telinganya terdapat obeng, baju kaos putihnya tampak kusam kehitaman. Kemudian yang paling bermasalah adalah badannya bau.
Aku mengerucutkan hidung. "Abis ngapain?"
Sambil membenarkan rambutnya, Iron menjawab, "Bikin alat untuk ke ruang angkasa."
Jawaban santai dari Iron membuatku ternganga—yang kedua kalinya hari ini, selain ternganga saat makan dan minum. "Kamu beneran mau pergi? Ibu sama ayahmu mengizinkan?"
Iron mengangguk. "Aku tadi udah bilang sejak makan siang tadi, sebelum ke rumahmu. Mereka hanya mengangguk, tandanya ya setuju lah."
Aku yakin tidak begini ceritanya. Siang tadi ibu dan ayah Iron mungkin sedang kelelahan, jadi saat anak bungsunya mengatakan sesuatu yang irasional mereka sembarang setuju begitu saja.
Bicara tentang anak bungsu, Iron ini punya kakak perempuan yang sedang kuliah di luar kota. Sama-sama pintarnya, tapi jauh lebih waras daripada dia. Namanya Kak Mima, cantik seperti orangnya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala, tidak habis pikir dengan isi otak Iron yang terlalu luar biasa. Gara-gara ensiklopedia aneh itu dia menjadi tak waras. Atau ini ada sangkut pautnya dengan hari di mana komputernya heng dan tidak bisa mengirimkan data? Mungkin karena kejadian itu otaknya ikut-ikutan heng.
"Kenapa diam begitu? Kamu jangan berharap mau aku ajak ikut ya, soalnya kamu gak percaya sama yang aku bilang."
"He'e." Aku mengangguk seperti anak kecil lugu saking speechless-nya.
Iron harus diperiksa hari ini juga.
***