Teta

1744 Kata
Iron tidak masuk sekolah gara-gara sakit perut. Tadi saat aku mandi, dia berteriak kencang, menyuruhku agar segera keluar. Hm, kuduga itu karena nasi goreng super pedas yang dia pesan tadi malam. Alhasil aku harus pergi ke sekolah sendirian, membawa tas sendirian, dan mengobrol dalam hati sendirian. Itu awalnya, sebelum hujan turun lagi pagi ini. Saat aku memasang sepatu, langit tanpa aba-aba langsung menjatuhkan titik airnya tanpa ampun. Hujan deras turun. Aku tidak mungkin bisa pergi ke sekolah dengan berjalan kaki ataupun menggunakan sepeda roda dua. Kalau menggunakan sepeda mobil, aku tidak akan mampu mengayuhnya sendiri. Itu terasa berat. Beruntung Ayahku dengan suka rela memberi tumpangan mobilnya untuk mengantarku ke sekolah. Namun tetap saja, di dalam mobil aku merasa sendirian. Ayahku tipikal pria yang kaku dan pelit bicara. Aku terlalu segan untuk memulai percakapan dengannya. Oleh karena itu, di sepanjang perjalanan aku hanya diam termenung sambil memandang embun yang melekat di kaca jendela. Momen membosankan itu berlangsung selama 20 menit. Iya, 20 menit tanpa bicara bahkan dengan Ayahku sendiri. Setelah tiba di gerbang depan, aku segera turun dari mobil dan berpamitan dengan Ayah. Tidak ada insiatif baginya untuk mengantarku sampai ke dalam. Hasilnya ya begini, aku terpaksa berlari menuju kelasku yang berada di lantai dua, membiarkan bajuku sedikit basah. Tapi tak apa lah, hitung-hitung rahmat dari yang Sang Pencipta. Tiba di kelas aku disajikan suasana sepi. Baru ada beberapa temanku yang hadir. Aku bisa maklum, hujan-hujan begini mereka lebih seru bermain bersama selimut, bantal, dan guling kesayangan mereka. Aku duduk di kursi paling depan seorang diri—harusnya bersama Iron, kalian tahu lah kenapa. Lantas aku dihampiri oleh Teta, si cewek ramah yang cukup popular di sekolah ini. Teta tiba-tiba duduk di sebelahku. "Iron ke mana?" Aku menolehnya. "Sakit perut gara-gara kebanyakan makan pedas," jawabku sambil berusaha tersenyum kepada Teta. Kemudian cewek itu balas tersenyum singkat dan menyerahkan sehelai kertas. "Iron dapat nol nilai mengetik kemarin. Kemudian ini nilai kamu, dapat 70. Aku heran kenapa nilai Iron bisa se-memprihatinkan ini. Dia kukenal sebagai siswa yang pintar dan genius, tidak mungkin tugas segampang itu dia tidak bisa. Oh ya, sampaikan salamku untuk Iron, semoga dia cepat sembuh." Setelah menutup obrolan, Teta beranjak meninggalkanku. Dia membagikan kertas hasil tes kemarin kepada semua teman kelas kami. Melihat bangku kosong, dia akan melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan tadi: duduk di kursi kosong, lalu memulai prolog sebelum membagikan kertas hasil tes. "Teman sebangkumu ke mana?" *** Yang aku heran, siang ini—saat istirahat kedua, cuaca panas. Kerongkonganku mendadak kering setelah pembelajaran kesenian tadi. Kami disuruh bernyanyi lagu klasik yang nadanya tinggi-tinggi. Padahal kalau dipikir-pikir, kami bernyanyi lagu 'balonku ada lima' saja masih sering sumbang. Tapi yang namanya guru memang tidak mau tahu, pokoknya kami harus selalu menyanggupi apapun tugas yang ia berikan. Bahkan mungkin jika kami harus bernyanyi sambil meniup terompet. "Hei," sapa Teta. Dia merangkul pundakku sebagaimana teman akrab. "Hei." Aku menjawab kaku. Aku tidak terbiasa untuk berbicara dengan teman sekolah kecuali ada hal penting. Makanya aku sering dianggap rada introvert. Walau terkadang juga sering dianggap gila oleh teman yang benar-benar dekat denganku. "Mau ke depan gak? Beli es." "Aku memang mau beli es. Ya udah, ayo sama-sama." Teta mengangguk senang mendengar kalimat ajakanku—yang sebenarnya aku sendiri tidak yakin sudah bilang begitu. Panas terik matahari membasuh bekas genangan air dari hujan tadi pagi. Kami berkerumun di warung depan sekolah yang menjual es tenteng. Tangan Teta melasak di antara keramaian. Suaranya yang nyaring membuat suara-suara pelanggan lain tenggelam. "Bibi, es alpukatnya dua! Ayo Bi! Ish, kamu minggir deh, jangan ngehadang jalan!" Aku hanya berdiam diri di samping warung seperti umpan menunggu mangsa. Tatkala Teta keluar dari kerumunan, cewek itu langsung tersenyum kepadaku. Aku bingung lagi, dalam waktu kurang dari tiga menit dia sudah mendapatkan pesanan. Sedangkan orang lain butuh waktu lima belas hingga tiga puluh menit. "Udah!!!" *** Aku dan Teta duduk di halte bus, menunggu mocong kuning kendaraan umum itu berhenti di depan kami. Teta memasukkan kantong plastik bekas esnya ke dalam tas. Tipikal anak ramah lingkungan, ecofriendly. Cocok sekali dengan Iron yang hobi mengomentariku perkara membuka kulkas kelamaan. Aku akan menceritakan Teta secara lebih detail, termasuk kapan pertama kali kami bertemu. Ceritanya bermula saat registrasi siswa baru di sekolah. Dengan nilai seleksi tertinggi, otomatis Iron akan menempati urutan pertama dalam jurnal penerimaan siswa baru. Tetapi karena kesalahan teknis, namanya tidak tertulis di sana. Iron yang hendak mengajukan protes, tidak kunjung mendapatkan respon yang baik, hanya bisa menunggu di hall hingga pendaftaran siswa lain selesai. Ia kemudian kembali masuk ke dalam ruang administrasi bersamaku, dan untuk kesekian kalinya mereka mengabaikan Iron dengan mengatakan bahwa jam pelayanan sudah tutup, kami harus menunggu besok pagi. Di sana ada seorang perempuan yang tengah mengemasi berkas pendaftarannya, dia menatap Iron yang mengembuskan napas panjang, hendak kembali ke rumah. Perempuan itu lalu menghampiri kami. "Pinjam dulu berkasnya," katanya. Aku tidak tahu, mengambil barang milik orang sebelum mendapatkan jawaban izin seperti itu termasuk merampas atau tidak. Teta[i ia melakukannya dengan cukup anggun dan mahal. Dia membaca sekilas berkas Iron dan menaikkan alisnya sembari tersenyum. "Dengan nilai setinggi ini, Ibu yakin akan menolaknya?" Ia berseru kepada perempuan di balik meja administrasi. "Sayang sekali, lho. Dia bisa dapat bersekolah di sekolah yang lebih bagus, tetapi dia memilih mendaftar di sini hanya untuk diberlakukan tidak baik." Ia lalu menatap Iron dengan saksama. "Kalau mereka menyuruhmu kembali besok, lebih baik mendaftar di sekolah lain. Aku akan membantumu. Buat apa bersekolah di tempat yang nggak mau nerima orang seberbakat kamu."  Akhirnya guru-guru yang berada di ruangan itu memaku sesaat, lalu memanggil nama Iron untuk mengonfirmasi kesalahan yang terjadi. Mereka berkali-kali minta maaf setelah melihat transkrip nilai sempurna milik Iron. Itulah hari pertama kami bertemu dengan perempuan yang akrab kami panggil Teta. *** Aku membuka pintu rumah yang tidak dikunci. Kosong. Rumahku gelap seolah tidak dihuni sejak seminggu yang lalu. Baiklah, ini berlebihan dan kalian jangan salahkan aku. Cuaca panas memang selalu membuat pikiranku buntu. Aku melangkahkan kaki dan mulai menyalakan lampu rumah. Ibu dan Ayah pasti sedang bekerja. Lantas, mengapa pintu rumah tidak dikunci? Sampai di depan pintu kamarku, aku mendengar suara helai buku yang tersibak lembar tiap lembar. Perlahan namun pasti, aku sudah mengetahui kalau Iron masih di rumahku, di kamarku lebih tepatnya. "Kamu belum pulang?" Iron menoleh, lalu tersenyum. "Aku menemukan buku yang sangat keren, Ris. Ensiklopedia tentang planet-planet di luar sana. Ada yang mirip bumi, cuma jaraknya sangat jauh. Mungkin kalau dihitung bisa mencapai ratusan tahun untuk kita pergi ke sana. Aku yakin, sebelum tiba di tempat tujuan, kita sudah mati duluan. Tapi ada juga planet Mars. You know, lah, Mars itu adalah planet yang cukup terkenal di galaksi Bima Sakti. Galaksi yang kita tempati." Jika boleh jujur, penjelasan Iron tidak menjawab pertanyaanku. Tapi salahku juga bertanya seperti itu, terlalu retoris. Aku dengan jelas melihat Iron masih bersandar di tempat tidurku, dan aku bisa-bisanya masih bertanya apakah dia sudah pulang. Lagi-lagi aku harus menyalahkan cuaca panas yang mencederai pemikiranku. "Tadi Teta nyariin kamu. Terus dia bantu aku buat beli es. Dia gadis yang aneh, Ron. Tapi aku setuju sih kalau kamu sama dia." Iron memutar bola matanya malas. Fakta bahwa Teta menyukainya sudah membuat sebagian hidup Iron terlepas dari sangkar. Teman-teman sekelas selalu menggoda mereka berdua. Jangankan Iron, aku saja jengah dengan semua nyinyir-nyinyir tidak berfaedah itu. "Tolong jangan alihkan pembicaraanku. Aku lagi bahas tentang planet, Ris. Tolong kita membahas itu saja kali ini. Jangan melantur." Aku mengedikkan bahu kemudian menaruh tas di gantungan belakang pintu. "Terserah. Aku mau makan dulu. Ceritanya nanti-nanti aja." Setelah mengganti pakaian, aku segera keluar kamar dan terdampar di dapur. Perutku lapar, dan aku mau makan es krim. *** Aku terciduk menghabiskan es krim yang kami beli dua hari yang lalu. Itu hasil patungan, tapi aku menghabiskan sendiri. Eh tidak, Iron sudah menghabiskan sepertiga tempat es krim. Nah, tiga perempatnya aku yang menghabiskan. Iron mengembuskan napasnya. "Kulkas tutup, Ris." Eh iya, lupa. "Udah." Iron mengangguk, tapi matanya menggeliat melirik kotak es krim yang berada di genggamanku. "Gak bagi-bagi. Emang nggak sadar diri." "Nanti kita beli lagi," cengirku. Iron berlalu meninggalkanku. Dia berjalan menuju wastafel untuk mencuci muka. "Nanti aku mau nyeritain tentang planet-planet itu ya, Ris." "Iya, Iron. Iya." Dia membahas itu lagi. Makanya aku malas menjawab. Sore harinya aku duduk di tepi kolam renang bersama Iron. Dia mulai membuka ensiklopedia yang ia temukan entah di mana. "Buku ini berbeda dengan buku yang pernah kita temui di mana pun, Ris. Percaya deh, buku ini lengkap. Aku nemu buku ini di bawah tangga rumahmu. Di sela papan itu, Ris. Papan itu bisa dibuka tutup ternyata." Iron menunjuk tangga rumahku. Aku lagi-lagi dibuat heran, apa yang sebenarnya Iron lakukan saat di rumahku. Dia berkeliling? Obrak-abrik kediaman kami? Aneh memang. Dia kurang kerjaan sekali. Bayangkan, sebesar-besar rumah ini, sudah digeledah oleh Iron. Aku yang sudah mendiami rumah ini sejak 16 tahun lalu saja tidak menyadari kalau papan tangga rumah kami ada yang bisa dibuka tutup. Tetapi Iron mengetahuinya. "Udah ceritain cepat!" "Iya iya. Gini deh," Iron menggeser duduknya, "jadi kita kan udah sering dengar tentang isu kalau bumi ini makin tua. Terus ilmuwan mulai nyari-nyari planet lain yang sekiranya bisa menjadi pengganti bumi. Nah di buku ini terlampir planet-planet yang diduga bisa ditempatin, tapi belum terdeteksi oleh para ilmuwan. Ini alasan kenapa aku bilang buku ini keren. "Ada planet Gs-J30. Planet ini belum ditemukan, tapi entah kenapa buku ini bisa ngasih nama. Ini yang aku herankan. Planet ini punya air terjun tertinggi yaitu setinggi 5 km. Tinggi banget. Ada gunung, gurun, hutan tropis, semuanya lengkap. Planet itu juga punya lapisan atmosfer yang cukup lengkap. Seenggaknya kita gak akan kebakar kalau tinggal di sini." Baiklah, aku mulai tertarik oleh cerita Iron. "Jauh gak?" "Jauh sih enggak. Kalau ditempuh pakai pesawat ruang angkasa biasa, bisa ditempuh dengan waktu 13 tahun. Memang sih lama, tapi masih mendinglah daripada kita harus nunggu ratusan tahun." Iron memainkan kakinya ke dalam kolam renang. Aku mengangguk, seolah-olah aku tidak begitu tertarik. Padahal sebenarnya aku merasa apa yang Iron sampaikan sangat seru. "Planet lain?" Iron membalik halaman buku. "Nah ini, Bestuur. Planet ini berwarna putih bercorak merah seperti ikan koi milikmu itu." Dia menunjuk aquarium. "Putih adalah tanahnya yang berupa pasir putih. Kemudian warna merah adalah air sungai dan lautan." Keningku mengenryit. Kemudian aku bertanya mengapa warna airnya bisa merah. "Banyak algae merah yang hidup di air. Entah air laut ataupun air sungai. Planet ini lebih panas daripada planet sebelumnya. Soalnya lapisan atmosfer planet Berstuur lebih tipis dibanding Gs-J30." Luar biasa. "Terus jaraknya?" Iron mulai menjelaskan lagi. Dia bilang kalau planet ini jaraknya lebih dekat. Cukup waktu lima tahun untuk kita tiba di planet ini. Namun saat Iron hendak menjelaskan lebih jauh, Ibu dan Ayahku datang. Percakapan kami terpotong oleh sesuatu yang lain. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN