Dokter Wan segera menyalakan mode terbang dengan cepat sebelum kami belum benar-benar terjatuh. Itu kesempatan terakhir yang kami punya. Beruntungnya, nasib baik masih berpihak kepada kami. Kami segera mengembuskan napas yang rasanya tertahan di perut selama beberapa menit. Bang Arsi juga meminta maaf kepada kami. Itu bukan salahnya, kecelakaan bisa terjadi kapanpun. Saat Dokter Wan akan menaikkan kendaraan ke atas, Iron memikirkan ide lain. "Aku rasa ada sesuatu di dasar lubang ini. Boleh turun, Dokter Wan?" Kal segera memutar kepalanya menuju kursi paling belakang. "Kita udah selamat dan kau masih mencari celaka," Kal menyeringai. Dia memutar bola matanya tak habis pikir. "Aku hanya berpikir akan menemukan sesuatu di sana." "Kalau pun ada, pasti sesuatu itu sudah mati. Lubang ini da

