"Aku capek. Ngantuk banget." Iron mengeluh karena lelah. Tubuhnya separuh lemas.
"Ya udah, aku gantiin," tawarku. Aku kasihan melihat mata Iron yang menghitam. Seharian penuh dia menyetir di balik meja kemudi. Sedangkan kami sudah tertidur berkali-kali.
"Kamu bisa? Yakin nih?"
Aku berdecak, tentu saja. "Bukain ensiklopedia, nanti aku baca cara nyetirnya."
Iron segera mengangguk. Dia memutar tubuh, memanjat kepala kursi, lalu mengambil buku dari pangkuanku. Padahal tinggal minta. Jarinya bergerak, memintaku bertukar posisi. "Samping aku aja Ris." Iron bergesar, dia menepuk-nepuk tempat yang ia duduki tadi. Aku menganggukkan kepala, memanjat kursi kemudi.
Bamm!!
Kursi memantul.
"Memangnya masih jauh ya, Ron?" Iron menoleh Bang Arsi.
"Setengah hari perjalanan lagi."
Sekarang sudah pukul tiga malam waktu kota kami. Artinya, pukul tiga sore kami akan tiba. Itu waktu yang lama. Terus terang, menyaksikan bintang berkedip dari dekat, melihat bebatuan melintas, juga menikmati ukiran galaksi yang menakjubkan, dapat membunuh rasa bosan. Awalnya seperti itu. Tapi makin ke sini, aku mulai jemu dan tak bisa merasakan keajaiban itu lagi.
Teta yang sudah mulai pulih, memeluk kepala bangku kemudi, tempat Iron duduk. "Aku bisa nggak bantu kalian? Aku nggak mau hanya merepotkan."
Iron tersenyum sambil mengacak pelan rambut Teta. Aku buru-buru mengalihkan pandangan, merasakan sesuatu yang berbeda. "Kamu bantu doa aja, ya? Berdoa biar kita semua selamat sampai tujuan."
Teta tersenyum manis, aku melirik mereka. Aku bahkan bisa melihat Bang Arsi tersenyum, seolah ikut senang dengan kedekatan Iron dan adiknya. "Kalau itu jangan dipinta. Aku selalu doakan kamu."
"Ehem." Aku memotong, pura-pura ada dahak yang tersangkut di kerongkongan. Padahal sebenarnya tidak, itu murni reaksi alamiah yang tidak kurencanakan. "Bisa tunjukin yang mana, Ron, petunjuk ngendaliin kapal ini."
Iron menepuk dahi, lupa! Dia segera membuka halaman sekian ribu dari buku yang tebalnya nyaris sekilan itu. Dia menunjukkanku cara membaca buku, termasuk keterangan-keterangan yang tidak kumengerti.
Lima menit diajari, aku sudah mengerti. Kapal meluncur di ruang hampa tanpa hambatan berarti.
***
Kami berebut makanan ringan.
Kantung plastik berisi makanan ringan itu berburai isinya mengotori kapal. Teta sudah sempurna sehat, walau badannya lemas. Itu yang dia katakan pada kami. Aku menyetir sambil tertawa, sengaja menabrak batuan merah yang mengambang. Iron memukul kepalaku, bilang apa yang kulakukan adalah tindakan bodoh dan konyol. Jadilah aku tidak menegurnya lagi selama perjalanan.
"Ris."
Aku diam. Dia menyenggol lenganku.
"Jangan sensi dong."
Aku masih tidak mau bicara. Sengaja biar dia merasa bersalah.
Bang Arsi hanya geleng-geleng kepala. Teta tertawa dalam hati, aku hafal dari senyumannya.
"Maafin aku ya, Ris?" Ini yang kutunggu-tunggu. Dia meminta maaf. Jahat? Ya, sekali-kali boleh lah.
Aku berdehem. Pura-pura serius. "Tapi lain kali—"
Brum!!!
Mesin kapal tiba-tiba menabrak bebatuan. Kami terkejut. Kepala Iron tersantuk ke meja kemudi, menyentuh sebuah panel yang semula tidak pernah diacuhkan. Kapal kami tiba-tiba bergerak empat kali lebih cepat. Teta berteriak histeris karena kaget. Kulit pipiku rasanya ditarik ke belakang, ini salah satu efek kelembaman kalau kata guru fisika kami di sekolah. Lebih banyak batu lagi yang tertabrak, walau yang berhasil dilewati juga tak kalah banyak.
"Kamu menekan tombol apa, Ron?" Uacapanku sebelumnya kulupakan begitu saja, berganti pertanyaan yang aku sendiri tidak yakin apakah penting.
Iron menggeleng atas pertanyaanku. "Gak tahu. Mungkin panel kemudi otomatis."
Aku menganga. Panel kemudi otomatis? Jadi selama ini fungsi Iron menyetir di balik kemudi seharian untuk apa?
"Maksud kamu, Ron?" Teta yang bertanya.
"Aku lupa kalau kapal ini terdiri dari panel-panel multifungsi. Satu-satunya panel yang kuaktifkan hanya panel penerangan."
"Ha?!" Kami bertiga, selain Iron tentunya, berseru.
"Jadi kapal ini bisa bergerak sendiri? Lantas tujuan kamu mengendarai kapal untuk apa?"
Tubuh kami rasanya ditarik ke belakang, kapal melesat begitu cepat.
"Aku udah bilang lupa, Bang Arsi. Lagian, kita gak bisa hanya mengandalkan mode otomatis. Lihat saja sekarang, kapal ini bergerak tidak ingat laju. Dia bergerak sesuka hatinya."
"Tapi ini asyik!" seruku. Iya, ini sungguh menyenangkan. Kalian akan merasakan efek naik rollercoaster sampai jambul kalian melayang ditiup angin. Walau pada awalnya akan terkejut bukan main.
Namun, ternyata aku salah.
"Iron, kenapa lampu layar kedip-kedip? Terus kenapa bunyi?" Teta menujuk layar pudar itu. Benar, ada cahaya merah kelap-kelip, disertai bunyi khas sirine pemadam kebakaran.
"Bahaya!" Seruan itulah yang Iron suarakan. Awalnya kami semua bingung. Tidak mengerti bahaya apa yang dimaksud Iron. Tapi segalanya terjawab saat kapal menghentak lebih kuat. Ini tidak mungkin karena efek menabrak batuan. Kapal kami seperti tersedot oleh vacum cleaner raksasa.
"Irooon! Ini apa lagi!!" Teta berteriak.
"Irooon, apa yang harus kulakukan dengan setir ini?" Aku ikut-ikutan panik.
Iron terlihat bingung. Dia sebentar-sebentar ingin merebut setir kemudi, sebentar-sebentar ingin menekan panel, sebentar-sebentar menoleh ke belakang.
Bang Arsi yang paling dewasa datang menenangkan. "Tarik napasmu, pikirkan langkah terbaik—"
Tubuh kami langsung terlempar begitu saja. Ucapan Bang Arsi terpotong dan mengambang tak teracuhkan. Hentakan itu bukan hanya seperti efek naik wahana bermain, ini ternyata lebih menyeramkan dan menyakitkan.
Salah aku mengatakan ini menyenangkan.
***
Kalau yang namanya tersantuk ke langit-langit kapal—akhirnya aku terbiasa dengan istilah itu—tidak dapat dihitung sudah berapa kali. Tubuh kami berguncang, tertarik ke belakang, terdorong ke depan, melompat-lompat secara tidak terkendali. Makin ke ujung kerlip cahaya merah pada layar detektor kusam semakin cepat, bunyinya juga semakin bising. Tambahkan dengan kapal yang mendadak berputar, itu semakin menyiksa kami, perutku rasanya terbelit. Beruntung, kami sempat memasang sabuk pengaman sesaat sebelum kapal bergerak semakin liar.
Aku menggenggam setir kuat-kuat, merapalkan doa. Tapi semuanya seolah-olah percuma. Gaya tarik itu semakin besar. Kapal kami entah ke mana arah, seperti memasuki sebuah portal lain. Tak satu pun dari kami yang mampu membuka mata lebar-lebar, cahaya terang itu sungguh menyilaukan. Satu-satunya hal yang kutahu, kapal kami seperti berkerontang menggelinding di tanah setelah melewati cahaya benderang.
"Ya Tuhan!!!" Iron berteriak. Ini kali yang ketiga. Dia melindungi kepalanya dengan kedua tangan.
"Aku takut Bang." Teta memeluk saudara satu-satunya yang ia punya. Bang Arsi mengusap punggung adiknya itu agar merasa tenang, dia juga tampak panik. Aku tidak sengaja melihat mereka sekilas saat aku frustasi memandang sekitar.
Tubuhku terdorong ke depan, kepalaku membentur layar monitor di depan dengan sangat keras. Sabuk pengamanku putus, tidak tahu dengan teman-temanku yang lain. Aku merasakan keningku basah, pandanganku mengabur. Mataku rasanya mengantuk dan ingin tertidur. Namun entah mengapa pikiran liar itu berkelabat mencari gara-gara. Aku takut kami tidak akan selamat.
Aku menyentuh dahiku. Benar, basah. Kulirik jemariku lagi, ada cairan merah yang hangat di sana.
Pandanganku semakin pudar, seperti hanya melihat kaca berembun, bahkan lebih akutnya, seperti jendela terbungkus salju. Awalnya semua berubah putih, tapi kemudian beralih hitam.
"Aris!!!" Itu suara terakhir yang kudengar. Setelah akhirnya aku tidak ingat apapun.
***
"Kami menemukannya di kebun seteroberi yang baru saja kami tanam seminggu yang lalu. Tapi lebih dari itu kami tidak ada yang tahu pasti, apa yang sebenarnya terjadi."
Mataku menangkap cahaya remang yang menusuk mata. Silau. Samar-samar aku melihat seorang berpakaian putih sedang mengobrol dengan wanita kebun bunga—pakaiannya bermotif bunga-bunga yang norak.
"Tapi biarkanlah, semoga dia cepat sembuh. Aprocue." Pria berpakaian putih mengangguk.
Wanita Kebun Bunga itu mengembuskan napas, lalu ikut mengangguk.
"Teman wanita dan seorang laki-laki yang kami temukan bersama dia, bagaimana kondisinya, Dakter?" tanya wanita Kebun Bunga.
Pria berpakaian putih itu melirik jam tangannya, menekan sebuah tombol, lalu sebuah layar hologram muncul seperti tirai yang terbentang, bedanya tirai yang ini ditarik dari bawah ke atas, bukan digeser kanan-kiri. Dia membesarkan layar sebagaimana kalian menggunakan layar sentuh. Dia memutar layar hologram seperti mendorong pintu, menghadapkannya pada wanita Kebun Bunga. "Silakan Anda lihat sendiri."
Wanita Kebun Bunga mengernyitkan kening. Beberapa detik setelahnya dia mendesah lega.
Mereka berdua terlalu asyik berbincang hingga tidak sadar aku telah siuman—jika aku memang masih hidup.
Uhuk!
Mereka berdua sontak menolehku yang sedang terbatuk. Batuk kali ini berbeda, perutku rasanya lebih sakit, kerongkonganku kering karena terlalu banyak berteriak.
Aku terus terbatuk-batuk. Pria tadi segera menghampiriku sambil memasang headset, bukan stetoskop. Jika dia dokter, harusnya dia tidak menggunakan alat itu, bukan?
Dokter itu—aku yakin mengenai fakta ini—menyolok ujung headset ke selang infus yang tertancap di lengan kananku.
"Kau sudah sadar?" Dia tampak tergesa-gesa, memejamkan mata, mendengar detak jantungku. Lalu dia tiba-tiba mengangguk, bilang aku baik-baik saja.
Aku memegang kening, merasakan ngilu seperti disiram es batu. Bahkan aku tidak bisa mengelak untuk berjengit menahan sakit. "Aw!"
"Jangan dipegang, nanti juga sembuh. Kamu cuma cedera sedikit. Eh, aku tidak pernah melihatmu di kota kami. Kamu imigran?"
Aku hanya mengangguk. Terus terang, aku bingung harus melakukan apa, harus bersikap bagaimana, dan ada di mana sekarang. Semuanya terasa asing. Ini rumah sakit? Tapi, bukankah aku ada di kapal ruang angkasa terakhir kali? Lalu ini di rumah sakit mana? Kami sudah tiba di bumi? Duh, aku benar-benar tidak memiliki ide tentang bagaimana nasib perjalanan ku sekarang. Semuanya terlalu aneh. Dokter yang mengenakan headset dan menggunakan jam tangan hologram. Ibu-ibu yang mengenakan baju motif bunga-bunga yang norak. Ruang rumah sakit yang besar, bahkan tempat tidurnya mengambang. Hei, apa-apaan ini? Aku baru sadar bahwa tempat tidur ini tidak memiliki kaki, praktis dia mengambang.
"Jangan banyak pikiran, Nak. Istirahatlah dulu," kata wanita itu. Aku menatapnya penuh tanya, beralih kepada dokter yang tersenyum hangat.
"Ah iya benar. Aku terlalu penasaran ingin mengetahui banyak hal tentangmu. Maaf ya. Sekarang istirahatlah dulu, nanti-nanti kita bicarakan lagi." Dokter itu melirik wanita Kebun Bunga. "Kita tinggalkan dia sekarang."
Wanita itu mengangguk. "Semoga cepat sembuh."
Mereka berdua menjauh meninggalkanku, keluar melalui pintu yang menggunakan sensor khusus dokter. Saat dokter itu tiba di depan pintu, maka pintu itu akan menyeret terbuka, tidak lupa dengan ucapan perpisahan.
Terimakasih, Dakter. Selamat berjuang lagi.
Pikiranku kini mengambang. Aku di mana? Aku tidak pernah melihat rumah sakit sebesar dan seaneh itu. Tidak ada televisi, tapi ada siarannya. Tidak ada AC, tapi ruangan hangat. Tidak ada lampu, tapi ruangan terang.
***