Aku duduk di balkon kamar rumah sakit. Menyaksikan suasana sore yang ... berbeda. Gedung-gedung tinggi berdiri tegak melingkupi bangunan tempat aku duduk sekarang. Mirip gedung yang ada di serial kartun. Yang abad 22 itu.
Awan kelabu menutupi langit ungu yang cantik—sangat indah dan manis. Tanah berwarna merah bata yang ditumbuhi pohon cemara di depan rumah sakit, berbungkus rumput segar yang hijau. Ini jelas berbeda dari seluruh suasana yang pernah aku lalui di tanah kelahiranku. Bumi.
Tapi aku yakin, ini tetap bumi.
Gedung-gedung memang seolah jamur yang menghampar di pohon kayu yang membusuk, ramai berjejer. Tapi terlepas dari itu, hal lain yang akan membuat kalian tercengang adalah mobil yang mendesing di udara, jalanan yang lebih mirip rel rollercoaster, berkelok dan berputar. Juga pejalan kaki yang bergerak di bawah sana, berjalan di trotoar yang bersih, jumlahnya lebih dominan ketimbang pengguna kendaraan. Mereka menekan sebuah tombol di pergelangan tangan, lalu layar hologram keluar. Aku tebak, di antara mereka ada yang mendapat panggilan dari bosnya di kantor. Mereka terbirit-b***t berlari, mematikan layar hologram, lalu sepatu mereka berubah menjadi skateboard yang lebih mirip papan seluncur. Benda itu mengambang delapan senti dari tanah.
"Kamu udah sadar, Nak?" Seseorang memegang bahuku. Aku sontak menoleh, separuh terkejut karena dikagetkan seperti itu. Ternyata hanya wanita Kebun Bunga. "Kamu lagi lihat-lihat ya?"
Menurut kau saja.
"Betah duduk di kursi roda seharian? Atau mau jalan-jalan ke bawah?" tanya wanita Kebun Bunga. Sekarang dia mengenakan pakaian bermotif bunga-bunga yang lebih kalem, warnanya lembut, dan tidak norak.
Aku menggeleng. "Aku ada di mana sebenarnya? Kenapa aku ada di sini? Teman-temanku mana?"
Wanita itu terdiam. Dia menusuk kedua bola mataku dengan tatapan hangatnya. "Dua orang temanmu sedang dirawat di ruangan yang berbeda."
Aku lega mendengarnya. Sebuah embusan napas mengalir melalui mulutku. Aku terlalu naif untuk merasa tenang tanpa mengamati benar kata-kata wanita Kebun Bunga. Dua orang temanmu ....
"Eh iya. Selang infusmu sudah dilepas?"
Aku menganggukkan kepala. "Iya. Dokter tadi ke mari."
Wanita itu bertanya lagi, "Dia bilang apa?"
Aku mengendikkan bahu. Entahlah.
***
Malam-malam sekali, pukul 00.00, aku kembali duduk di balkon rumah sakit bersama kursi rodaku. Persis seperti tadi siang. Yang membedakan hanya langit gelap, dan suasana yang sedang kuamati.
Semuanya berubah.
Gedung-gedung kota yang berarsitektur seperti di serial kartun Doraemon, kini berubah menjadi tiang-tiang tinggi yang di puncaknya terdapat bangunan berbentuk tudung saji, dengan antena di atasnya. Bangunan itu besar. Lalu di ujung sana seperti berdiri gagah sebuah menara kastel dengan bendera segitiga merah yang meremang warnanya disiram cahaya bintang. Jalan rollercoaster lenyap, berganti dengan lampu-lampu jalan biasa yang meremang. Ini seperti kota yang ada di bumi, hanya bentuk bangunannya saja yang berbeda. Jalan raya, mobil, juga sepeda, semuanya sama. kalau berbeda pun, paling kendaraan di sini tidak menggunakan roda, melainkan mengambang. Itu saja.
Aku tersenyum melihatnya, ditambah semilir angin yang membelai wajah, butir embun yang hinggap di hidungku, membuatku nyaman.
Siiiiiing
Pintu berdesing pelan. Aku segera menoleh, menyaksikan benda itu bergeser terbuka. Dokter yang merawatku datang memberikan senyum hangat. "Kamu belum tidur?"
"Belum, Dok," jawabku. Dia menghampiriku, duduk di sebuah kursi yang berada di sebelahku, membelakangi pintu balkon yang terbuat dari kaca bening sebening kristal. Suara hela napas keluar dari mulutnya.
"Malam ini pesta kembang api. Nanti sekitar setengah jam lagi, kamu akan menyaksikan pertunjukkan kembang api yang luar biasa."
Aku menatap wajahnya lamat-lamat, mencerna baik-baik maksud pernyataannya. "Pesta kembang api dalam rangka apa?"
Dokter itu menolehku. Dahinya mengernyit, lebih dalam dari kernyitanku. "Kamu tidak tahu?"
Aku menggeleng.
Dokter itu tampak tak habis pikir. Dia mengamati penampilanku dari atas hingga ke bawah. "Kau dari negara luar?" tanyanya.
"I-iya. Aku dari Indonesia."
"Indonesia?" tanyanya lagi memastikan.
Aku jadi kikuk sendiri. Mengapa dia terlihat bodoh? Bukankah bahasa yang ia gunakan juga bahasa kami? Eh, lantas mengapa aku bilang aku dari negara luar. Aduh, aku benar-benar pusing.
"Kau bukan dari planet ini, kan?"
Aku semakin bingung. "Aku dari planet ini. Kau pikir aku dari mana?"
Dokter itu diam. Menatap bola mataku. Aku jadi cemas, apa yang sebenarnya terjadi. Dokter ini psikopat? Pembunuh berdarah dingin yang memangsa orang asing? Atau apa?
"Kau dari bumi, kan?"
Sekarang aku yang diam. Ini negara mana? Amerika? Australia? Atau jangan-jangan ini kawasan segitiga bermuda? Tapi yang terpenting, ini tetap bumi, kan?
"Kau dari bumi?" tanyanya sekali lagi.
Perlahan, aku mengangguk patah-patah. "I-iya. Sama sepertimu."
Lalu dokter itu tersenyum. Matanya berkaca-kaca, seolah aku adalah saudara jauh yang baru ditemukan setelah bertahun-tahun menghilang karena bencana alam. Dia segera memelukku. Mataku justru membesar, benar-benar tidak mendapat ilham atas apa yang sedang menimpaku. Yang jelas, pelukannya hangat, sehangat aroma tubuhnya.
"Kamu saudaraku! Kamu saudaraku!"
Aku diam.
Tepat setelah kalimatnya tamat, kembang api memancar ke udara bersama tetes air matanya. Pelukan kami terlepas, berganti rangkulan hangat dari dokter itu. "Nikmatilah pesta kembang api ini, saudaraku. Ini sungguh malam yang begitu menakjubkan sekaligus membingungkan."
Aku mematung, merasa ini begitu aneh, cepat, dan irasional.
Bagimu saja membingungkan, bagiku, apa kabar?
***
Aku diizinkan menikmati suasana pagi di kota Rutus. Kota yang katanya paling megah di negara ini. Ah iya, aku lupa menanyai nama negara tempatku sekarang berada.
Dengan jam canggih di tangan, aku bisa membaca detak jantungku yang terbilang normal. Ada tulisan NORMAL, sudah begitu saja. Aku sudah pulih, tapi kata dokter aku harus tetap mengenakan jam tangan. Itu fungsinya untuk menstabilkan kesehatanku.
Berkeliling rumah sakit ini sama sekali tidak membosankan. Di halaman depan ada air mancur yang menyembur, juga ada patung tumbuhan di sana. Maksudku patung itu yang menyemburkan air. Aku rasa itu patung buah labu. Bentuknya bulat, dengan garis-garis bersegmen, dan tangkai memulir. Aku berjalan tanpa alas kaki, membiarkanku telapak kakiku digelitiki oleh rumput hijau yang terpangkas rapi. Di sekitar kolam air mancur, ada ayunan dan perosotan tempat anak-anak bermain.
Aku berjalan menuju pagar rumah sakit yang terbuat dari beton dengan cat transparan. Disusun batang per batang sebagaimana pagar pada umumnya. Mungkin akan aneh membayangkannya, tapi cat itu benar-benar transparan. Pagar itu tingginya dua meter, dengan pintu gerbang di tengah, langsung menghadap air mancur. Dari balik pagar transparan, aku dengan leluasa dapat melihat pejalan kaki yang melintasi trotoar yang bersih, ada juga yang meluncur dengan menggunakan sebilah papan, atau satu-dua yang mengendarai mobil pribadi ataupun sepeda motor. Jalan yang mirip rel wahana permainan itu tidak ada. Masih seperti jalanan pada umumnya.
Aku duduk di sebuah bangku kayu di sebelah kolam air setelah lelah berkeliling.
"Mau sarapan?" Seorang gadis duduk di sebelahku, menawarkan sup hangat dari mangkoknya. Dia mengenakan sweeter hijau lumut, dengan syal berwarna senada.
"Tidak usah," jawabku. "Masih kenyang."
Gadis itu mengangguk, lalu mulai menyantap makanannya. "Kamu sedang menjenguk siapa di sini? Ada yang sakit?"
"Aku yang sakit."
Gadis itu mengangguk lagi. "Sakit apa? Kata dakter, parah gak?"
"Enggak kok." Aku menatap langit, mengembuskan napas pelan-pelan. Kemudian aku menatapnya lagi. Jujur aku merasa sedikit canggung. "Kamu sendiri sedang apa di sini?"
"Ada praktek di sini. Anak SMA tugasnya makin berat." Iya, dia benar. Aku juga berpikir hal yang sama. "Oh ya, namamu siapa kalau boleh tahu?" Gadis itu meletakkan gelas sup ke bangku sebelahnya.
"Aris."
"Nama yang bagus." Dia mengangguk. Ini adalah kenalan tanpa jabat tangan.
"Namamu siapa?" tanyaku. Bukankah basa-basi agar terlihat ramah, diperlukan?
Gadis itu mengangkat alisnya. "Emmm, panggil aja Urni." Lalu kemudian dia melirik jam tangan, dan segera meraih gelas supnya. "Aduh, aku ada jadwal. Waktu bergerak begitu cepat. Ya sudah, aku pergi dulu ya? Kapan-kapan ketemu lagi. Dadah!"
"Dadah," jawabku pelan.
Gadis itu segera berlari hingga kuah supnya tumpah beberapa tetes menyiram rumput hijau. Aku bingung, mengapa dia buru-buru begitu. Terlalu mendadak. Oh iya, mungkin Urni ada urusan.
Siapa namanya? Urni? Itu nama yang unik.
***
"Mereka di kamar itu."
Aku mengangguk, menempelkan tangan pada monitor di depan pintu sesuai instruksi yang diberikan dokter.
"Silakan masuk."
Pintu terbuka. Aku segera masuk ke dalam kamar rawat bersama dokter yang tadi malam tiba-tiba memelukku. Aku melihat Teta duduk di kasurnya dengan tangan masih diinfus. Dia menatap jendela balkon, menyaksikan suasana pagi yang segar.
Udara dingin—walau ruangan tanpa AC—menyambut. Jendela balkon bergetar di tiup angin.
"Kamu udah baikan?" tanyaku, membuat Teta sontak menoleh.
"Aris?" Lama gadis itu merespon. Dahinya berkerut, pandangannya terfokus sekian menit, seperti tidak percaya melihatku. Bahkan ketika aku berdiri di hadapannya. "Ku pikir kalian ...."
"Tidak semudah itu Teta, untuk kami meninggalkanmu." Itu kalimat yang meluncur keluar dari bibirku. Dia tersenyum gembira. Entah mengapa aku merasa percaya diri, bahwa apabila suasana lebih baik, Teta akan memelukku, meremas jemariku, dan menumpahkan segalanya kepadaku. Matanya berkaca-kaca.
"Kalian sepertinya sahabat karib. Saya senang melihatnya." Dokter itu bersedekap. Membetulkan kaca mata, membuat matanya yang berlensa cokelat semakin mengilap. Dia melangkah mendekat, berdiri di sebelahku.
"Kami bukan hanya sahabat, kami sudah menjadi keluarga semenjak memutuskan untuk ke sini, Dok." Aku menatap bola mata Teta dengan yakin, mengirimkan pesan bahwa apa pun kondisinya kami akan selalu bersama.
"Saya benar-benar bahagia bisa melihat penduduk bumi, setelah belasan tahun saya memutuskan pergi." Dokter itu kembali berkata. "Dulu saya adalah sosok yang keras kepala, merasa benci dengan keadaan yang terus-terusan memojokkan saya. Saya merasa usaha saya untuk menjadi yang tebaik di sekolah, di kota, di provinsi, di negara, di bumi tempat saya tinggal, hanya sebuah kesia-siaan. Otak saya dianggap cemerlang oleh orang-orang. Saya mampu mengerjakan tes masuk kuliah di perguruan tunggi ternama saat saya masih kelas satu SD. Saya juga mampu mengerjakan soal ujian anak SMA semudah saya mengerjakan soal satu tambah satu pada saat itu. Semuanya berjalan begitu cepat, hingga saya berpikir bahwa bumi bukan tempat saya seharusnya tinggal."
Teta terlihat bingung. Begitu pula aku. Aku baru mendengar fakta ini barusan, dan tentu saja sulit bagiku memahami apa yang sebenarnya terjadi. Aku dan Teta menatap dokter yang kuakui sungguh memesona itu. Mata yang indah, bibir tipis, kulit yang bersih, dan hidung yang mancung. Satu hal lagi yang mengusik pikiranku, mengapa wajah dokter itu mengingatkanku pada Iron?
"Biarlah semuanya terjawab nanti. Sekarang, bagaimana kalau kita jalan-jalan?"
***