Derap langkah kaki lebar membawa seorang Ace Jackson pada ruang tahanan tempat Marcus Nastro ditahan. Jeruji besi dengan penjagaan ketat. Tampak Marcus yang duduk di atas kasur tipis yang ada di salah satu sisi dinding tebal. Suara pintu sel yang dibuka membuat Marcus terperanjat, menatap Ace dengan mata memicing dan seringai licik. “Tinggalkan kami,” pinta Ace pada dua orang penjaga yang mendampinginya dari pintu masuk hingga ke dalam sel tahanan Marcus. Keduanya bertatapan dengan lurus. “Kemana saja kau, Nak?” tanya Marcus pada Ace Jackson. Pria itu melirik ke sekelilingnya. Berusaha memastikan tak ada yang mendengar percakapan keduanya. “Kecilkan suaramu, Ayah,” desis Ace dengan rahang mengatup. “Kapan kau akan---” “Tidak saat ini,” potong Ace berjalan mendekat ke arah Marcus

