William terkejut dengan saluran teleconferance Castel yang tiba-tiba terputus. Ia menghubungi sang Sersan melalui ponsel dan hanya ada dering-dering panjang tanpa jawaban. William berhenti menelepon setelah usahanya yang kedua. William meletakkan ponselnya di atas meja, bangun dari duduk dan berjalan ke arah dapur. Membuka lemari es, memandanginya dengan cukup lama sebelum akhirnya ia meraih kaleng cola. Membuka kaleng dengan menarik tuasnya hingga terdengar bunyi ssstt. William berdiri di depan jendela, matanya menerawang dan menatap langit yang telah berubah gelap. Jalanan di depan apartemen yang ia tempati masih tampak ramai. Lampu-lampu jalanan telah menyala dan kedai-kedai telah menghidupkan lampunya yang berwarna-warni. “Pengangguran. Aku sedang memikirkan banyak hal. Mungkin men

