pulang malam

1118 Kata
Semenjak mas Bagas diterima bekerja,aku merasa suamiku sudah mulai berubah menjadi lebih sibuk tidak seperti beberapa bulan lalu yang menjadi pengangguran. Kini setiap hari mas Bagas selalu pulang setiap pukul 10 malam lebih, entah apa yang dilakukan suamiku itu sehingga dia harus pulang larut malam. Ketika aku tanya jawabannya dia sedang sibuk mengurusi pekerjaan yang ditinggalkan karyawan yang dulu sehingga dia harus membereskan itu semua. Aku yang mendengarkan penjelasannya itu hanya diam saja karena aku tau suamiku baru masuk ke kantornya yang baru mungkin banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Hingga akhir pekan pun suamiku selalu pergi entah kemana membuat aku sangat kesal karena harus menghadapi kerusuhan yang terjadi saat ini jika hari libur tiba. Saat ini keponakan mas Bagas yang memang tinggal di komplek kontrakan yang sama membuat aku harus mewaraskan pikiran ku agar tidak meledak sewaktu waktu. Entah kenapa adik dari suamiku itu senang sekali menitipkan anaknya kepadaku ketika hari libur seperti ini tanpa merasa bersalah. " Ya ampun kepalaku rasanya mau pecah melihat anak itu yang senang sekali membuat berantakan ruangan ini." Ujar Arini lirih. Tiba tiba terdengar suara dari kamar mandi berteriak memanggil namanya dengan keras. " Tante Rini." Panggilan itu membuat Arini semakin kesal saja. " Ada apa za, kenapa harus teriak sih." Ujarku kesal. " Tante cebokin aku." Kata anak kecil itu tanpa merasa bersalah sama sekali. " Reza kan sudah besar cebok sendiri dong,masa maunya dibantuin terus menerus kalau cebok." Kataku sambil berdiri didepan pintu kamar mandi dengan menahan diri untuk tidak memuntahkan isi lambungnya karena kotoran yang masih belum disiram air. " Kata mamah ga papa kalau minta bantuan Tante." Kata Reza keponakan mas Bagas yang nakalnya bikin kepal nyut nyutan . " Iya boleh tapi jangan keseringan Reza,kamu harus belajar cebok sendiri mulai sekarang.Malu kalau dilihat orang nanti udah gede masih dicebokin sama Tante atau mamah." Kata Arini. " Tapi Tante aku ga bisa sendiri." Kata Reza. " Sini Tante ajarin biar kamu bisa nanti kalau mau pipis atau buang air besar bis bersihin sendiri." Kata Arini. " Iya Tante." Jawab reza. Setelah selesai akhirnya aku meminta Reza dan adiknya untuk duduk dengan tenang sambil melihat tv dikasur supaya aku bisa membersihkan semua barang yang berantakan. " Alhamdulillah sudah bersih tinggal masak buat nanti makan siang." Ujar Arini. Sebelum memasak aku meminta Reza dan adiknya untuk tetap diam dikasur karena dia tidak ingin direcoki oleh kedua anak itu ketika memasak nanti. " Tante sudah matang belum." Teriak Reza dengan keras membuat aku harus menghela nafas panjang supaya emosiku tidak meninggi. " Sebentar lagi kamu duduk aja disitu." Kataku sambil menggoreng ikan lele yang baru kubeli tadi pagi. Sebenarnya dimana Shinta sehingga meninggalkan anaknya disini padahal aku juga pengin istirahat setelah beberapa hari bekerja. " Reza,rena ayo kita Makan dulu." Kataku sambil duduk dan memberikan dua piring untuk mereka berdua. " Yeyyy udah matang." Ujar Reza yang bersorak kegirangan melihat masakan yang aku masak sudah matang. " Iya,ayo sekarang kamu cuci tangan dulu kalau ga mau pakai sendok." Kataku pelan. " Iya Tante,ini pasti enak banget makanan yang Tante buat." Kata Reza membuat aku tersenyum karena hanya anak itu yang selalu memuji masakanku. Suamiku boro boro memuji dia bisanya hanya protes ketika aku memasakan lauk dan sayur seadanya. " Za mama kamu Emang kemana kok Reza ga diajak sama adik." Tanyaku sambil menyuapi rena. " Mama pergi Tante sama om Bagas dan nenek." Kata Reza membuat aku mengernyit heran, bukankah mas Bagas pergi bersama dengan teman temannya kenapa Reza bilang pergi dengan mama dan neneknya. " Loh om Bagas ikut juga za." Tanyaku lagi. " Iya Tante, emang om ga bilang ya sama Tante mau pergi sama mama dan nenek." Ujar Reza dengan lahap menyantap makanan yang sudah hampir habis. " Ga za, kalau begitu nanti Tante tanyakan sama om deh." Ujarku. " Iya Tan,emm Tante boleh ga aku minta tambah lagi nasi sama ikannya." Kata Reza dengan senyuman lebarnya itu. Akupun langsung memberikan apa yang diminta anak itu sepertinya mereka memang kelaparan sehingga mampu menambah lagi. " Habis makan jangan tidur dulu ya biar ga keluar lagi makanan nya." Kataku pelan melihat mereka sudah selesai. " Iya Tan." Ujar Reza dan dengan santainya mereka berdua mengeluarkan mainan yang sudah kubereskan tadi menjadi berantakan kembali. " Ehh za jangan diberantakin lagi dong, Tante kan cape udah beresin tadi." Kataku sewot. " Lah terus aku sama adek ngapain dong Tan, katanya ga boleh langsung tidur." Kata Reza membuat aku kebingungan juga. " Kalian nonton lagi aja ." Kataku sambil merapikan kembali mainan yang mereka keluarkan. Akhirnya aku bisa beristirahat sejenak setelah melihat mereka berdua tenang melihat kartun di tv. Tak terasa sudah hampir setengah jam aku melihat hp dan kulihat kedua anak itu sudah tertidur pulas. Hingga jam segini mereka belum juga pulang, sungguh keterlaluan sekali mereka bisa bisanya meninggalkan anak kecil disini tanpa meninggalkan sesuatu untuk mereka. Kutelfon suamiku karena aku penasaran dengan apa yang sedang dia lakukan diluar , apakah benar dia sedang bersama adik dan ibunya. Sudah tiga kali aku menghubungi mas Bagas akan tetapi tak ada balasan atau sekedar mengangkat telfon sebentar. Aku yang kesal pun memutuskan untuk tidur saja karena tidak mungkin jika aku tertidur ketika kedua anak itu sudah terbangun. Hingga sore hari mas Bagas tak kunjung membalas pesanku atau sekedar mengangkat panggilan yang aku lakukan. Kuajak kedua anak ini untuk mandi dan pergi keluar agar tidak bosan berada di dalam rumah terus sejak tadi. " Tante mama belum pulang ya." Tanya reza. " Belum za, kenapa memang za." Akupun bertanya balik sambil menggandeng tangan mungil itu. Sebenarnya kedua anak ini adalah anak baik akan tetapi entah bagaimana didikan orang tuanya sehingga membuat mereka sangat nakal. "Aku mau sama mama Tante,mama janji mau belikan aku mainan baru kalau mau ditinggal sama Tante." Jawab reza. " Ouhh lain kali kalau mama pergi kamu ikut aja sama adek Rena za, jangan mau ditinggal lagi sama mama." Ujarku yang menggendong rena seperti emak anak dua saja aku kalau seperti ini. " Tante aku mau es krim Tante." Reza merengek meminta es krim dengan keras membuat pedagang es krim pun berhenti. Aku yang sudah terlanjur malu akhirnya membelikan mereka dua es krim, padahal uangku di dompet hanya tersisa dua puluh ribu saja. " Astaga baru keluar saja sudah minta es krim, gimana nanti ada pedagang lain yang lewat bisa bisa habis nih sisa uang." Ujar Arini dalam hati dengan perasaan dongkol karena setiap diajak pergi kedua anak itu selalu meminta berbagai jenis makanan atau minuman yang Kami temui. Beruntungnya tadi pagi aku sudah membeli kebutuhan rumah sehingga dia tidak kebingungan jika uangnya sudah menipis.walaupun di rekening miliknya masih terdapat uang yang lumayan banyak tapi dia tidak ingin menghambur hamburkan hasil kerja kerasnya selama ini untuk hal yang tidak penting.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN