6

1102 Kata
"Adam!!!!!" Teriak Anisa ketika masuk kelas dan mengagetkan semua orang dikelas termasuk Adam. Dia berlari menghampiri Adam dan duduk disampingnya. Suasana di kelas memang ramai karena ada acara sekolah tiap tahun diadakan. "Adam! Lo harus jelasin semuanya." Ucap Anisa. Adam mengangkat satu alisnya. "Maksudnya?" "Jangan pura-pura sok nggak tahu deh Dam. Lo punya kemampuan lebih kan." Ucap Anisa. "Maksudnya?" "Adam.. lo itu sahabat gue, coba lo ceritakan tentang kemampuan lo itu ke gue." "Kemampuan apa?" "Kemampuan yang lain daripada yang lain. Hmmm... like you have a sixth sense." Adam tertawa kecil. "Darimana lo denger berita itu?" Anisa mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya. "Hmmm... dari Taylor. Semua orang juga sudah tahu kok." "Taylor? Jadi lo percaya sama semua omongannya Taylor? Kamu ternyata bodoh juga ya." Ucap Adam sambil tersenyum kecil lalu bangkit dari kursi dan keluar. "Lo mau kemana?" Tanya Anisa tetapi Adam tidak mengubrisnya. *** Adam berjalan-jalan menyusuri Art Room yang agak ramai. Berjalan dalam keramaian membuat Adam tenang dan tidak takut. Taylor berlari karena dikejar oleh Anisa. Mereka selalu berbuat hal yang bodoh karena mereka sama-sama orang yang bodoh. Tidak peduli apa kata orang yang penting mereka bodoh dan gila. "Taylor!!! Jangan lari, woy!!!" Teriak Anisa yang masih berlari. Adam keluar dari Art Room dan langsung menabrak Taylor sampai terjatuh. "Hey! Lo hati-ha.... Tay, lo berdarah." Ucap Adam yang melihat perut Taylor yang berdarah sambil melotot. Anisa langsung berhenti di samping Adam dan melihat Taylor yang perutnya berdarah. Ketika Taylor melihat perutnya, dalam sekejap nafas Taylor langsung sesak. Wajahnya jadi pucat. Semua orang yang melihat Taylor langsung berteriak histeris termasuk Anisa. Adam langsung berjongkok disamping Taylor yang nafasnya sudah sesak. Darahnya tidak berhenti keluar. Salah satu cara yang tepat untuk pertolongan pertama untuk ini adalah menghentikan pendarahannya. Taylor berusaha untuk tidak panik dan mengatur nafasnya, tetapi tetap saja tidak bisa. Dalam sekejap matanya langsung terbuka lebar ketika dia melihat sosok nenek-nenek menyeramkan dengan seringai jahatnya. "Lo jangan gerak Tay!" Ucap Adam yang mulai panik dan berusaha menghentikan pendarahan. Murid-murid mulai berdatangan melihat kejadian itu dan bodohnya mereka hanya melihat dan tidak membantu. Beginikah sifat murid zaman sekarang yang sudah tidak peduli dengan orang yang sedang susah? Sungguh mengenaskan! Adam mencoba mengangkat Taylor yang sudah sangat lemas itu dan dibantu oleh Anisa. "Woyy!! Kalian kenapa cuma lihat saja? Bantuin kita ANJING!" Teriak Adam dengan nada yang sangat keras dan wajahnya sudah menjadi merah karena marah dicampur panik. Adam dan Anisa yang merangkul Taylor, berlari kecil agar bisa cepat sampai ke mobil dan bisa sampai di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, mereka dengan segara merangkul Taylor keluar dari mobil dengan keadaan yang sudah tidak sadarkan diri itu. Suster yang ada di dalam rumah sakit dengan cepat menangani Taylor dan memasukkannya kedalam UGD. Sayangnya mereka tidak boleh masuk. Adam yang putus asa dan khawatir mengacak rambutnya frustasi lalu terduduk di lantai sedangkan Anisa menangis. Suasana antara mereka menjadi hening. Tidak ada yang berbicara satu sama lain. Mereka memikirkan bagaimana keadaan Taylor. Tak beberapa lama, dokter akhirnya keluar dari UGD dengan wajah yang susah ditebak. "Kalian keluarga dari pasien didalam?" Tanya dokter itu. "Bukan. Kita sahabatnya." Jawab Adam dengan cepat. Dokter itu maju 1 langkah dan memegang pundak Adam lalu menunduk. Adam yang melihatnya langsung melirik Anisa yang mukanya sudah sangat khawatir, takut dan cemas akan terjadi apa-apa dengan Taylor. "Maaf.. kami sudah berbuat sekuat tenaga dan semampu kami tapi Tuhan berkata lain. Saya turut berduka." Ucap dokter itu lalu meninggalkan Adam dan Anisa. Anisa langsung menutup mulutnya dan menangis sekencang-kencangnya, sedangkan Adam menjambak rambutnya dan menangis. Untuk yang ketiga kalinya Adam kehilangan orang yang sangat dekat dengannya. Belum bisa melupakan Alexandra, kini Taylor pun yang pergi. Anisa menghampiri Adam dan memeluknya. Duka mendalam muncul diantara keduanya. Apa yang harus Adam katakan ketika orang tua Taylor datang? Apa yang akan terjadi nanti? 2 jam menunggu kedatangan orang tua Taylor, akhirnya mereka datang. Adam yang melihatnya langsung menghampiri mereka dan memeluk mereka tapi apa daya, mereka malah mendorong Adam sampai dia terjatuh. Anisa kaget dan membantu Adam untuk berdiri. "Dasar pembunuh!" Ucap Sofia (Ibu Taylor). Adam kaget dengan apa yang dikatakan oleh ibunya Taylor itu. Dia bahkan mengetahui kalau Sofia itu memiliki sifat yang baik bahkan dia pernah mengantar Adam pulang kerumah. Tapi, dugaan Adam salah. Dia bahkan tidak tahu siapa yang selalu membantu keluarganya ketika dia susah. Dasar tidak punya malu! "Apa maksud tante?" Tanya Adam. "Pergi dari sini! Kau pembunuh! Kalian pembunuh! Pergi! Sebelum saya telepon polisi!" Teriak Sofia dan mendorong Adam dan Anisa bergantian agar pergi dari rumah sakit. "Lebih baik kamu pergi!" Sekarang William (Ayah Taylor) yang berbicara. Anisa mengangguk. "Kami yang menolong dia! Tapi anda seperti itu? Kami juga tidak akan berlama-lama disini. Selamat siang." Ucap Anisa yang menarik lengan Adam untuk pergi dari sana. "Semoga kalian yang selanjutnya." Ucap Adam dalam hatinya dengan perasaan yang sangat marah. *** Bayang-bayang wajah orang tua Taylor masih ada di memori Adam. Pembunuh? Adam terkekah mengingatnya. "Sungguh memalukannya dirimu Adam." Ucap seseorang yang suaranya sangat familiar. Ashlyn. Adam menengok kebelakang. Seketika itu Ashlyn menamparnya. Adam tersungkur dan memegang pipinya yang sudah ada bekas tangan Ashlyn. "Mama sudah sangat sayang kepadamu, selalu meluangkan waktu untuk kamu, selalu menjaga kamu, dan mengajarkan kamu yang terbaik tapi kamu melakukan hal yang tidak pantas dilakukan? Mau jadi apa kamu?!" Ucap Ashlyn dengan suara keras sehingga pak Anto dan bibi Fana mendengarnya dari kejuhan. Adam berdiri sambil memegang pipinya dan mengernyitkan dahinya. "Maksud mama apa?" "Jangan pura-pura tidak tau lagi!" Jawab Ashlyn lalu menampar Adam lagi. "Oh! Mama menganggap aku sebagai pembunuh karena aku yang mencoba menghentikan pendarahannya?" "Menghentikan pendarahan?" "Mama bahkan tidak tahu apa yang aku lakukan dan sekarang mama menuduhku? Itu bodoh sekali ma." Ashlyn menggeleng lalu menamparnya lagi. "Kau jangan pernah membuat alasan yang bodoh! Banyak saksi Adam! Banyak! Kau membuat mama malu!" Adam diam. Untuk pertama kalinya Adam mendapatkan perlakuan yang kasar dari orang tuanya. Dulu bahkan sampai saat ini dia tidak pernah mendapatkannya, tapi baru kali ini dia mendapatkannua dari seorang ibunya sendiri. "Dan... gara-gara kamu Andre meninggal!" Adam mengernyitkan dahinya. "Oohh... sekarang mama menuduhku sebagai pembunuh papa? Aku bahkan tidak ada disana ketika papa kecelakaan! Sungguh! Mama sekarang yang sangat memalukan! Mama penuduh yang biadab! Aku sungguh malu mempunyai mama seperti kamu!" Ucap Adam dengan suara keras bercampur amarah, lalu pergi meninggalkan Ashlyn yang terdiam. Sungguh dia tidak berniat untuk bilang hal itu kepada Adam. Rasa khawatir langsung memenuhi diri Ashlyn. Bersalah akan perkataannya yang menyakitkan hati Adam. Dia tahu kalau Adam selalu berusaha tegar walaupun dirinya sangatlah rapuh. Apalagi, dia mendengar pintu kamar Adam yang di banting sekeras-kerasnya. Dengan bodohnya dia mempercayai apa kata orang. Merasa bersalah Ashlyn akhirnya menangis. ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN