Adam melihat arlojinya yang menunjukkan pukul 06:00, menandakan jam sekolah akan tiba.
Adam bangkit dari tempat tidurnya dan tidak lupa dia sedikit berolahraga lalu mandi. Ketika hendak mandi, handphone Adam berbunyi.
Adam mengangkat teleponnya dengan malas. "Halo?" Sapa Adam dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Halo, Dam.. ini gue Anisa."
"Hmm."
"Lo ikut sebentar?"
"Ikut apa?"
"Pemakamannya Taylor dodol!"
Adam terdiam. Dia bahkan tadi malam tidak memikirkan hal itu. Tadi malam dia terus memikirkan siapa yang tega melakukan itu kepada Taylor tapi yang terpenting yang menusuk Taylor bukan dirinya, Anisa ataupun orang yang ada di sekolah tapi...... ada! Adam sudah mengetahuinya.
"Adam?? Adam!!"
Adam tersontak. "Hah? Apa?"
"Lo ikut gak?"
"Gimana ya? Lo kan kemarin lihat apa yang orang tuanya Taylor lakukan kepada kita. Bahkan mama gue sampai terpengaruh oleh ucapan bullshit itu."
"A-apa? Mama lo terpengaruh juga? Kok kita sama ya?"
"Mungkin kita jodoh." Ucap Adam santai sambil tertawa kecil.
"Eeww!!! Ogah pacaran sama lo, tai!"
"Haha.. bercanda, mbak. Mungkin kita bisa melihat pemakamannya dari jauh supaya tidak ketahuan."
"Ya udah deh... gue juga mau lihat sahabat gue dikubur. Udah ya, gue mau mandi. Daaahh!!"
Panggilan telepon berakhir. Adam mengacak rambutnya lalu segera mandi.
***
Adam's POV
"Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Anisa.
Aku mengangkat bahu tanda tidak tahu. Kami sekarang sedang berada di taman. Sebelum datang ke taman kami pergi kepemakaman Taylor walaupun kami melihat dari jauh. Air mata memenuhi semua orang yang hadir saat itu termasuk Anisa dan kecuali aku.
Suasana di taman, menemani sore kami, melupakan semua yang terjadi. Sambil menunggu Damian datang.
Tak beberapa lama, Damian duduk disamping kami dan membuat kami terkejut.
"Apa yang kalian ingin bicarakan?" Tanya Damian to the point.
"Soal sekolah saya om." Jawabku dengan muka datar.
Damian mengernyitkan dahinya. "Ada apa disekolahmu?"
"Sesuatu yang sangat menakutkan." Jawabku.
"Maksud lo apa, Dam?" Tanya Anisa tidak mengerti.
"Om dan lo Anisa bakalan tahu yang sebenarnya terjadi di sekolah kita dulu. Ayo pulang. Ada sesuatu yang ingin saya tunjukin." Jelasku lalu bangkit dari duduk dan bergegas pulang diikuti oleh Damian dan Anisa yang terlihat bingung.
Sesampainya di rumah, aku langsung berlari memasuki kamar yang diikuti oleh Damian dan Anisa. Mama berteriak memanggilku tapi aku terlalu marah dengan dia dan sudah muak dengannya. Aku bukan anak durhaka tapi aku sakit hati dengan apa yang dia katakan kemarin.
Aku menyalakan laptop dan membuka google lalu mengetik apa yang pernah aku ketik ketika di laptop Taylor.
Aku membuka web itu. "I-itu sekolah kita kan?" Tanya Anisa yang kaget dengan mata yang melotot tidak percaya.
Aku mengangguk sedangkan Damian terus memperhatikan gambar gedung sekolah, aku rasa dia sedang menerawang masa lalu.
Tak beberapa lama, Damian meneguk airnya sampai habis lalu menatapku dan Anisa secara bergantian. "Saya tahu orang dibalik semua ini." Ucap Damian.
***
Author POV
Damian mengernyitkan dahinya. "Apakah di sekolah kalian, ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Damian.
"Ya." Jawab Adam dan Anisa serempak.
"Apa? Kejadian apa?" Tanya Damian lagi.
"Bunuh diri, om. Pak Santos satpam sekolah kita bunuh diri." Jawab Anisa.
Damian mengernyitkan dahinya. "Kalian yakin itu bunuh diri?"
"Tidak!"
"Iya!" Ucap Adam dan Anisa serempak yang membuat Damian mengangkat satu alisnya.
Damian menghela nafas. "Coba jelaskan kenapa kamu bilang 'tidak', Adam?" Tanya Damian.
"Menurut saya, pak Santos tidak bunuh diri. Tapi dia dibunuh." Jawab Adam yang membuat Damian dan Anisa mengangkat satu alisnya serempak.
"Ada bukti?" Tanya Anisa.
Adam mengangguk. "Lo lihat kan gue ngedeketin mayatnya pak Santos?" Tanya Adam yang di jawab oleh anggukan Anisa. "Disitu gue lihat kalau di leher pak Santos ada cakaran yang sama dengan cakaran dileher gue." Lanjut Adam.
Damian tersontak kaget mendengar ucapan Adam. "Apakah dia yang melakukan ini?" Tanya Damian dengan mata dan wajah yang kaget bukan main.
Adam mengangguk pelan.
Damian menggebrak meja belajar Adam dan membuat Anisa kaget begitupun dengan Adam.
"Nggak mungkin.... kalian dalam bahaya besar!"
***
Adam dan Anisa berjalan bersama dari sekolah hingga ke dalam kelas. Semua pandangan murid ketika melihat mereka sangat susah dijelaskan. Mulai dari: dendam, marah, bahagia, fall in love ketika melihat Adam, bahkan ada yang melihat mereka dengan wajah ketakutan.
Anisa pindah tempat duduk karena teman duduknya tidak mau duduk dengannya tanpa ada alasan yang jelas. Bahkan semua teman kelasnya memandang mereka seperti pembunuh b******n.
"Kenapa mereka semua natap kita seperti itu sih?" Tanya Anisa yang kesal dengan semua murid disini.
Adam mengangkat bahu tanda tidak tahu. Memang benar, semua murid disini berperilaku aneh. Ufftt... Adam menghela nafasnya.
"Lo kenapa?" Tanya Anisa.
Adam menggelengkan kepalanya. "Ih... lo kenapa kayak gitu sih?" Ucap Anisa lalu memukul bahuku.
"Sakit bego!" Ketus Adam.
Anisa menghela nafasnya kasar. Dia melihat semua murid di kelas ini bahkan dia keluar untuk melihat semua murid. Tapi sama saja dengan yang tadi, semua murid memandangnya seperti memandang seorang pembunuh.
Anisa mendengus kesal. "Isshh.. kenapa mereka semua kayak gitu sih?" Tanya Anisa sambil melirik Adam yang masih diam dan tidak memperdulikan apa-apa.
"Adam..." Ucap Anisa sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya Adam.
"Hm."
"Kenapa mereka semua kayak gitu sama kita?" Tanya Anisa.
"Gue nggak tau, Nisa."
Anisa mendengus kesal. "Ah! Adam! Udah nggak seru lo. Lo pasti tahu." Ucap Anisa.
"Tahu?" Tanya Adam.
"Tahu ah gelap!" Ketus Anisa dan meninggalkan Adam sendiri.
"Hai! Della, ke kantin yuk. Gue traktir deh." Ucap Anisa.
"Maaf, Nis. Kita udah nggak bisa temanan lagi. Sorry!" Ucap Della lalu pergi meninggalkan Anisa.
Anisa berlari sambil menahan air matanya. Dia tidak menyangka kalau teman yang selalu ada di sampingnya sekarang memusuhinya tanpa ada alasan yang jelas. Ohh!! Hidup ini memang rumit.
"Adaaammm..." Ucap Anisa sambil memeluk Adam dan menangis.
Adam kaget dan membulatkan matanya. Semua murid memperhatikan mereka berdua.
"Adam.. lo h-harus je-jelasin semua. Gue ng-nggak m-mau kehilangan teman-teman gue." Ucap Anisa yang terbatah-batah karena isakannya.
Adam mengangkat alisnya satu. "Siapa yang ninggalin lo, hah?" Tanya Adam.
"Mereka." Jawab Anisa dengan suara manjanya yang membuat Adam mau muntah ketika mendengarnya.
Adam melepaskan pelukan dari Anisa dan memandang mata Anisa dalam. "Gue ada disini. Disamping lo. Semuanya nggak ninggalin lo kok. Semunya hanya salah paham. Gue akan terus ada di samping lo." Ucap Adam lalu membuang pandangannya dan dia berhasil membuat pipi Anisa merah merona.
*******