8

1025 Kata
Adam menghempaskan dirinya ke tempat tidur. Rasa capek memenuhi dirinya. Masalah yang dia hadapi sudah cukup banyak dan membuatnya penat. Adam menghela nafasnya. Membayangkan semua masalahnya menjadi sangat berantakan. Membayangkan bagaimana dia akan menghadapi semua cobaan yang Tuhan kasih kepadanya. Membayangkan bagaimana nantinya kedepan. Membayangkan bagaimana cara dia menyelesaikan penelusurannya. Dan banyak lainnya. Berdiam diri. Menyendiri dikamar adalah salah satu cara untuk membuat perasaan mejadi seperti semula. Sejak penuduhan itu, Ashlyn dan Adam jadi tidak akrab lagi, bahkan dia sudah tidak mau lagi berbicara ataupun senyum kepada Ashlyn. Tuutt.... tuuuttt... tuuutt... handphone Adam berdering tanda ada panggilan masuk. Dengan malas Adam mengangkat panggilan itu. "Ha.." "Halo Dam? Lo dimana?" Tanya Anisa yang memotong pembicaraan Adam. "At home. Ada apa?" Anisa menghela nafasnya lega. "Gue kira lo belum pulang karena dari tadi di sekolah ada banyak polisi." Adam langsung bangkit dari tempat tidurnya. "Lo dimana? Lo nggak apa-apa kan?" Tanya Adam dengan nada panik. "Slow down, Dam. Gue udah di rumah kok. Pas gue keluar sekolah, polisi datang dan nyari gue sama lo. Gue sembunyi terus pas udah deket dengan parkiran gue langsung masuk dan tancap gas." "Buat apa polisi itu nyari kita? Perasaan kita nggak pernah berbuat kriminal sama sekali." "Gue tahu.. polisi datang untuk nuntasin kasus Taylor." "Taylor? Ohh... jadi orang tuanya masih menuduh kita juga ya? Baiklah besok gue datang dan ngejelasin semuanya. Biar semua orang tahu kalau bukan kita pembunuhnya." Anisa mengangkat satu alisnya. "Caranya?" Adam senyum yang susah dijelaskan. "Lihat aja besok." Adam langsung memutuskan panggilan lalu mengacak rambutnya. "Sekarang kau puas mempermainkanku nenek jelek? Tunggu saja kau! Akan kumasukkan kau di neraka dan kau tidak akan bisa keluar lagi dari sana." *** Tok.. tok... tok... suara ketukan pintu menggangu tidur Adam yang sangat pulas. Tidur siang adalah waktu yang terbaik untuk menghilangkan semua rasa capek dalam melakukan aktivitas selama setengah hari. "Adam.. buka pintunya sayang.. mama mau bicara." Ucap Ashlyn dengan nada memohon. Adam mendengus kesal ketika mendengar suara Ashlyn. Adam mengacak rambutnya. Dia belum siap untuk bertemu, bertatapan langsung ataupun berbicara 4 mata. "Sudahlah ma! Gue lagi malas bicara!" Teriak Adam dari dalam kamarnya dan yang membuat Ashlyn kaget adalah ketika mendengar kata 'gue' yang keluar dari mulut Adam. Tidak pernah dia dengar sebelumnya Adam berbicara dengan kata 'gue' kepada semua orang yang tua darinya, mungkin dirinya lah yang pertama mendengar Adam mengucapkan kata itu kepada orang yang lebih tua. "Mama cuma mau bilang kalau pak Damian datang. Dia tunggu kamu dibawah. Mama mau ke k-kamar. Kalau kamu ada apa-apa bicara sama mama ya." Ucap Ashlyn yang menahan tangisannya lalu pergi masuk ke kamarnya. Lagi-lagi Adam mengacak rambutnya. Entah sudah berapa kali dia mengacak rambutnya sampai kelihatan sangat berantakan tapi tetap cool. Dia keluar dari kamarnya dan turun ke ruang tamu. Dia melihat Damian yang sedang melihat-lihat foto keluarga William yang terpajang besar di dinding ruang tamu. "Kau ternyata lucu juga di foto ini." Ucap Damian lalu menatap Adam yang sedang berdiri di dekat tembok. Adam mengangguk. "Itu waktu ayah saya belum meninggal." Ucap Adam lalu mengisyaratkan Damian untuk duduk. "Ada apa?" Tanya Adam yang sadar kalau dia tidak punya janji untuk bertemu dengan Damian. "To the point saja ya.." Ucap Damian yang dijawab dengan anggukan Adam. "Saya mendapatkan suatu tarikan dari kamu. Tarikan itu memberitahu kalau kamu mau melanjutkan penelusuran dari kakakmu, Alexandra. Dan kamu juga mau menelusuri misteri sekolah kamu. Betul begitu?" Lanjut Damian. Adam langsung tercengang mendengarnya lalu mengangguk pelan. "Kenapa?" Tanya Damian. Adam menunduk. "K-karena aku marah. Marah dengan dia. Marah dengan semuanya." Jawab Adam. "Kenapa?" Tanya Damian lagi. Adam menghela nafasnya. "Saya marah karena gara-gara saya pak Santos dan Taylor meninggal. Sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa." Damian pindah duduk menjadi di samping Adam lalu memegang bahu Adam. "Ini bukan salah kamu. Tidak ada hubungannya dengan kamu. Semuanya itu karena hantu itu. Kita bisa atasi ini bersama kalau kamu mau." Ucap Damian. Adam menatap Damian lalu tersenyum. Harapannya terkabul. Harapan mencari bantuan dari orang untuk membantunya menelusuri semua. "T-terima kasih." Ucap Adam. Tak beberapa lama diam, akhirnya Damian memecahkan keheningan dengan memperlihatkan bagaimana cara menangkap hantu. Semuanya tertulis di dalam handphone Damian dengan padat, singkat, dan jelas, bahkan gampang untuk dimengerti. Damian bercerita tentang semua pengalamannya bahkan dia pernah hampir mati gara-gara salah perkiraan. Sama dengan Alexandra, dia salah pengiraan ketika menelusuri dalam penangkapan hantu. Adam jadi sedikit takut dan khawatir ketika nanti dia melakukan penelusuran dan penangkapan hantu. "Jadi... apa kau bersedia?" Tanya Damian akhirnya. Adam diam dan berpikir. "Hmm.. saya tidak tau." Damian menghela nafas. "Tidak apa-apa. Telepon aku kalau kau sudah siap. Oh... jangan lupa untuk tanya temanmu yang cewek itu untuk ikut." Ucap Damian lalu berpamitan untuk pulang karena ada laporan yang harus di urusnya. "Hmm.. om Damian." Panggil Adam dengan suara pelan ketika di luar rumah. Damian menoleh. "Ya?" Adam menghela nafas perlahan. "Boleh om datang besok ke sekolah? Ada sesuatu yang harus om jelaskan kepada mereka." Jawab Adam. Damian mengernyitkan dahinya. "Mereka? Mereka siapa maksud kamu?" "Saya dan Anisa di tuduh membunuh Taylor. Saya minta tolong sama om untuk bantu saya sebagai saksi. Karena hanya om yang saya tahu akan sangat bisa membantu saya dan Anisa." Jawab Adam. Damian mengernyitkan dahinya lalu mengangkat satu alisnya karena tidak mengerti apa maksud Adam. "Mamamu? Dia bisa membantumu." Ucap Damian. Adam menghela nafas. "Dia bahkan tidak percaya dengan semua penjelasanku. Tidak apa-apa kalau om tidak mau membantu." Ucap Adam. Damian tersenyum lalu maju beberapa langkah. "Hey.. aku akan membantu mu setiap saat. Aku janji itu. Kita satu tim!" Ucap Damian dan membuat Adam tersenyum lebar. "T-terima kasih om." Ucap Adam lalu memeluk Damian erat. Damian terus tersenyum lalu melepaskan pelukan erat dari Adam. Damian tahu apa yang harus dia lakukan untuk Adam. Adam adalah anak yang harus terus dilindungi karena dia memiliki sifat tertutup dan susah untuk di ajak berkomunikasi. Mungkin dengan cara mendekatkan diri dan membantu dia adalah hal yang terbaik untuk membuat Adam kembali seperti anak seumurannya yang terus mencari teman dan bergaul dengan teman-temannya, bukan dirumah, mengurung diri di kamar berjam-jam. *** Damian menghela nafasnya dan melaju mobilnya dengan kecepatan normal. Tak beberapa lama ada sesuatu yang masuk kedalam kepala Damian dan dia langsung tersentak kaget. "Oh.. tidak.." *******************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN